MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
70. IT'S NOT FUNNY "PART 2"


__ADS_3

...IT'S NOT FUNNY "PART 2"...


...(INI TIDAK LUCU "BAGIAN 2")...


...●...


...●...


...●...


DI depan pintu bercat putih Bagas memperhatikan sekitarnya. Baru saja pria itu mencondongkan badan ke depan. Kedua telapak tangan miliknya mendarat di bagian tempurung lutut. Bagas mengatur sedemikian rupa agar embusan napasnya kembali ke mode normal. Jujur saja dia banyak menghabiskan energi karena berlari dari lantai bawah menuju ke tempat ini.


Oh iya. Aurel ke mana? Seingatnya Danial bilang padanya bahwa Aurel menunggu pria itu di gudang yang bersebelahan dengan UKS. Bagas menoleh ke kanan, lalu ke kiri mencari kemungkinan adanya Aurel di sana. Namun nihil. Kondisi koridor dalam keadaan sepi yang justru ditemukan oleh Bagas. "Apa jangan-jangan Aurel udah ada di dalam?"


Tangan milik pria itu terulur menggenggam kenop pintu. Bunyi derit yang diakibatkan oleh engsel yang sudah berkarat terdengar. Pintu gudang dalam keadaan tidak terkunci. Itu artinya masih ada kemungkinan Aurel udah ada di dalam.


"Rel? Lo di mana?" sambil memasuki ruangan yang gelap itu Bagas turut serta menyebut nama Aurel beberapa kali. Tidak ada jawaban. "Rel lo di mana sih?" sambungnya sambil meraba-raba tembok di sekitarnya.


"Aurel? Lo di mana sih? Denger suara gue gak?"

__ADS_1


Masih belum ada jawaban. Tapi syukurlah karena tangan Bagas tak sengaja menemukan saklar. Menekan bagian atasnya, dan lampu yang tertanam di langit-langit pun menyala. Memang sih, tidak seterang ruangan pada umumnya karena lampu yang menggantung itu adalah sejenis lampu bohlam berdaya lima watt. Jelas hal itu tidak sebanding dengan kondisi ruangan yang lumayan luas ini.


Bruk!


Bagas terpelonjak kaget di tempatnya. Kedua bola matanya melebar hampir sempurna ke arah pintu tempat dia masuk sebelumnya. Cuaca di luar sana sedang cerah. Tidak mungkin ada angin kencang yang membuat pintu menutup dengan sendirinya. Perasaan Bagas mulai tidak enak. Dia curiga akan adanya campur tangan makhluk tak kasat mata pada kejadian pintu tertutup tadi.


Bagas memaksa agar dirinya tetap tenang meski perasaan tak enak telah menguasai dirinya. "Gue harus keluar dari tempat ini sekarang juga," bisiknya pelan yang tentu saja ditujukan buat dirinya sendiri. Menghampiri pintu tempatnya masuk sebelumnya, pria itu memasang tampang panik. Pintu tidak bisa terbuka. Padahal kenyataannya Bagas telah menggenggam kenop dan mengerahkan seluruh tenaganya hendak membuka pintu.


"Kok gak bisa kebuka sih pintunya," Bagas mencoba kembali menarik pintu tersebut dengan segenap kekuatannya. Namun tetap saja pintu itu seolah sedang terkunci. "Tolong buat siapa saja yang ada di luar, buka pintunya! Sumpah demi apa ini gak lucu sama sekali. Becanda boleh tapi jangan berlebihan kayak begini," ucap Bagas bertingkah seolah-olah ada yang sengaja mengunci pintunya dari luar. Padahal tidak ada seorang pun di luar sana. Memang sih ada beberapa yang lalu lalang, namun tak seorang pun di antara mereka yang menjadi dalang dibalik kejadian ini.


Pria itu menggeliat saat suara benda jatuh terdengar dari arah belakangnya. Saat membalikkan badannya ia melihat ada cahaya seperti api, yang ukurannya kira-kira sebesar bola. Benda berwarna jingga tersebut sedang mengudara ke arahnya. Bagas bergerak dengan gesit menghindari pintu. Ia berlari segera menjauhi benda aneh itu.


Sosok itu sangat menyeramkan. Hanya ada kepala dengan rambut panjang berantakan yang mempertegas bahwa sosok itu berjenis kelamin perempuan. Sementara saat Bagas menurunkan sedikit pandangannya ia tak menemukan badan seperti hantu yang biasa dia temui di sekitar SMA Angkasa Raya. Hanya ada organ dalam yang menempel mengikut kepala si sosok tersebut. Mengembalikan penglihatannya di wajah sosok tersebut Bagas menemukan mata melotot berwarna merah. Hanya beberapa detik bertatap muka, Bagas pun membuang muka karena rasa takut semakin menguasai dirinya.


Bau yang sebelumnya tercium samar sekarang malah semakin tajam. Bau amis itu menyeruak memasuki hidung milik Bagas. Barangkali bau yang lebih mirip dengan bau bangkai itu asalnya dari makhluk menyeramkan di depannya.


Bagas menutup kelopak matanya. Pria itu berharap apa yang disaksikannya saat ini hanyalah sebuah ilusi. Dia berharap dirinya sedang terjebak dalam dunia mimpi. Namun saat membuka mata sosok tersebut masih ada di tempat yang sama alih-alih menghilang sesuai harapan pria itu.


"Maaf," ucapnya dibarengi oleh tangan yang saling bertaut di depan dadanya. "Saya gak bermaksud buat ganggu Anda. Tujuan saya ke sini semata-mata buat nyari teman saya," meski kenyataannya dia sedang berinteraksi dengan sosok hantunya namun Bagas tak melakukan kontak mata dengannya. Alasannya bukan karena pria itu memperlihatkan sikap tak sopan, dia melakukannya karena takut bertatap muka dengannya. Menurutnya tingkat menyeramkan dari sosok tersebut berlipat-lipat kali dibanding sosok hantu yang pernah ditemui Bagas di sekitar SMA Angkasa Raya.

__ADS_1


Alasan Bagas mengambil langkah mundur saat ini semata-mata karena ingin menghindari makhluk menyeramkan yang saat itu terbang ke arahnya. mendadak saja pria itu merasa pijakan kakinya di lantai penuh debu itu jadi melemah. Ketakutan berlebihan mungkin adalah jawaban dari pertanyaan kenapa pijakan kaki pria itu secara mendadak jadi melemah.


...●●●●●...


DANIAL belum sampai ke kantin saat langkahnya terhenti. Mendadak ia menghawatirkan kondisi Bagas. Banyak rentetan ketakutan yang bersarang di kepalanya saat ini. Hantu yang menetap di gudang wujudnya sangat menyeramkan. Untuk mereka yang baru bisa melihat hantu pasti akan merasa takut saat pertama kali melihatnya.


"Bagaimana kalau misalkan Bagas sampai pingsan di gudang? Bagaimana kalau misalkan Bagas sampai serangan jantung pas nanti dia ketemu sama hantunya?" Danial bergumam. Pria itu membagikan ketakutan yang sedang bermain di kepalanya.


Di waktu yang bersamaan Danial teringat kejadian saat pertama kali dirinya bertemu dengan sosok kuyang yang mendiami gudang. Alam bawah sadar membuat pria itu menerbitkan sebuah senyuman. Adegan yang berputar di kepalanya saat ini adalah kejadian ketika dia bergerak refleks memeluk tubuh Aurel yang datang hendak mengecek kondisinya.


"Lah kenapa juga pikiran gue malah flashback segala?" kata Danial begitu dia tersadar dari lamunannya. "Sekarang kan gue udah punya Maurine. Dari pada mikirin mantan mulu mendingan gue mulai belajar mencintai Maurine."


Danial mengembuskan napas. Walau bagaimana pun tujuannya cuma mengerjai Bagas. Danial tak memiliki niat sedikit pun tuk menjahati Bagas lebih dari batas sewajarnya. "Sial," cercah pria itu terhadap dirinya sendiri. "Gue yang rencana nakut-nakutin dia, eh sekarang malah gue juga yang repot ngecek kondisi dia."


Jarak dari tempat Danial berdiri sudah sangat dekat dengan kantin. Namun pria itu memilih memutar tubuhnya. Dia kepingin ke lantai dua untuk mengecek kondisi Bagas di sana. Paling tidak dia juga sekalian akan meminta maaf dengan Bagas atas ulah kejahilannya ini.


...●●●●●...


...-To be Continued-...

__ADS_1


__ADS_2