MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
29. SOMETHING UNKNOWN


__ADS_3

...SOMETHING UNKNOWN...


...(SESUATU YANG TAK DIKETAHUI)...


...●...


...●...


...●...


“PERASAAN BARU SEBULAN YANG LALU DIA NGELAHIRIN, KOK BISA HAMIL LAGI?” Vernon berdecak, kemudian menggeleng dengan tempo agak cepat.


“Siapa yang hamil?” pertanyaan itu membuat ketiganya menoleh secara serempak. Danial baru saja tiba dan langsung mengernyit menuntut jawaban dari ketiganya.


“Si Jablay.” Haris menjawab.


“Sialan lu pade, gue kira siapa yang hamil. Tau-tau cuma kucing.” Danial baru saja turut serta mendudukkan tubuhnya di kursi. “Ck, emangnya kalian gak punya bahan untuk dibicarain selain kucing?” Danial membawa tatapannya kepada mereka bertiga secara bertahap.


“Gue mah jadi tim nyimak aja!” jawab Haris.


Jablay adalah sebutan untuk kucing kampung berwarna putih polos yang sering nongkrong di kantin sekolah. Vernon dan Irgi adalah orang yang menamainya demikian. Alasan menamainya Jablay karena kucing tersebut suka gonta-ganti pasangan yang berujung pada **** dan akhirnya hamil.


“Si Jablay mah kagak ada kapok-kapoknya, kemarin-kemarin udah gue bilangin jangan pacaran sama si kucing oren, ****** kan lu pas hamil ditinggalin. Mana anak lu masih pada kecil lagi.” Maki Vernon pada kucing yang masih betah mengeong di sebelah kakinya.


“Gue perhatiin makin hari lo makin akrab aja sama si Jabray,” Danial bersuara.


“Jablay, Danial!” koreksi Irgi dan Vernon secara bersamaan.


Dengan menyertakan muka iblisnya Danial angkat suara, “Cuma beda satu huruf doang, heboh bener lu.”


“Yang namanya kesalahan, walau itu secuil pun akan dicap sebagai kesalahan,” jawab Vernon, dalam mode sok bijak.


Danial mengibaskan tangannya tidak peduli, “Bodo amat! Mau namanya Jabray kek, Jablay kek. Gak ada urusannya sama gue.” Sensi Danial seperti punya dendam mendalam dengan kucing tersebut.


“Tunggu bentar, jangan-jangan elo lagi yang ngehamilin si Jablay?” Curiga Irgi, “Dari tadi sewot mulu lo, sama si Jablay.” Kali ini Irgi menunjuk Danial.

__ADS_1


“Enak aja! Gue aja gak pernah nyentuh dia sama sekali. Yang ada tuh elu sama Vernon yang patut dicurigai.” Danial balik menuduh.


“Kok malah nyeret-nyeret gue? Kan Irgi yang nuduh lo!” Vernon bersuara. Membawa tatapannya dari kucing kampung menuju wajah Danial. Ia tak terima saat namanya disebut-sebut.


“Pembahasan kucingnya sampai di sini aja dah!” celetuk Haris disertai gelengan kepala. Ia merasa jengah dengan pembahasan kucing yang tidak berujung. “Aneh aja kalo kalian berantem terus masuk BK cuma karena permasalahin siapa bapak dari kucing yang hamil ini. Keren kagak, dibilang gila iya.”


“O ya ngomongin soal BK, gue tadi gak sengaja liat Aurel di sana. Dia punya masalah apa sampai masuk ke ruangan sakral itu?” tanya Irgi. Ucapan Haris sebelumnya berhasil mengubah topik pembicaraan dari kucing yang sedang hamil.


“Dia gak ada masalah, cuma demam doang. Dia masuk BK karena minta ijin pulang cepet.” Danial menjawab.


“Lo gak nganterin dia pulang?” Haris bertanya.


“Tadi sih udah nawarin tapi dianya pengin pulang pake taksi aja.”


“Cinlok nih kayaknya.” Vernon mencoba memancing keributan.


Danial berdecih, “Gak ada sejarahnya gue suka sama gadis indigo itu.”


“Lo juga indigo kali, Dan.” Sambung Vernon cepat.


“Maksud gue gak ada sejarahnya gue suka sama musuh bebuyutan.” Danial mengoreksi kalimat setelah mendapat perlawanan dari Vernon.


Vernon dan Irgi sedang sibuk berdeham seakan tenggorokan mereka sedang bermasalah. Danial tidak sebodoh itu, ia bisa mengartikan dehaman kedua temannya sebagai ajang untuk membuatnya salah tingkah.


Nyatanya Danial masih memiliki kekuatan untuk menahan perasaan gugup setelah ketiga orang di sana menjadikannya sumber perhatian.


“Jangan ngaco! Gue cuma ngikutin perintah bu guru, kalau enggak mah mana sudi gue nganterin dia ke UKS.” Danial berdalih.


“Ati-ati, ntar kek di novel-novel, awalnya saling benci lama-lama jadi saling suka.” Vernon memperingati.


“Gue bisa ngejamin gak punya perasaan apa-apa sama Aurel.”


“Yakin?” sambung Haris. Bisa dibilang Haris tidak yakin dengan ungkapan dari bibir Danial. Waktu di kelas dia bisa merasakan ketulusan seorang Danial saat menawarkan diri mengantar Aurel ke UKS.


Anggukan Danial terlihat penuh keyakinan. “Bahkan waktu gue meluk dia, perasaan gue masih biasa aja tuh. Nothing special.”

__ADS_1


Irgi, Vernon, dan juga Haris saling menatap dan saling mengerjap satu sama lain. Ia tak mengira Danial akan sefrontal ini menyangkut perasaannya.


Hampir bersamaan ketiganya menoleh kaget dengan penegasan berupa mata memelotot, ketiganya menjadikan wajah Danial sebagai pusat perhatian. “Kalian sempat pelukan?” tanya salah seorang diantara mereka bertiga.


Danial baru saja tersadar telah melepaskan kalimat racun. Ia merasa sebodoh itu sampai salah satu tangannya naik dan berakhir di dahinya. Ia memukul-mukul kepalanya cukup keras, “Anjing gue kelepasan!” katanya hampir bergumam.


Sesal. Hanya kata itu yang bisa mewakilinya. Ibaratnya nasi sudah jadi bubur, dan ya… nasi yang sudah jadi bubur tak akan pernah kembali ke wujud nasi.


...●●●●●...


“SIAL!” Danial mengungkapkan kekesalannya melalui sebuah umpatan keras. Ia terkejut melihat Irgi, Vernon, dan juga Haris sedang berdiri di depannya saat pria itu baru saja menggunakan toilet. “Lu pade udah kayak hantu aja. Ngagetin tau gak.”


Rupanya mereka mengikuti Danial karena tingkat ke-kepo-an mereka masih tinggi usai mendengar pengakuan Danial tentang dirinya yang sempat berpelukan dengan Aurel—di mana mereka tahu betul bagaimana kedua manusia itu lebih cocok digambarkan sebagai kucing dan tikus dalam wujud manusia.


Tak tanggung mereka bertiga bahkan mengikuti Danial sampai ke depan toilet hanya karena kelewat penasaran.


Pada akhirnya Danial menyerah juga. Ia pun menceritakan kejadian waktu di gudang saat ia bergerak cepat memeluk tubuh Aurel karena ketakutan dengan sosok kuyang.


“Waktu lo abis meluk Aurel lo sempet minta maaf, kan?” tanya Irgi.


Danial menggeleng, kemudian setelah itu ia pun menjawab pertanyaan Irgi, “Pas si kuyangnya udah pergi gue langsung maki si Aurel. Gue yakin sekali kalau kuyang itu temennya dia.”


“Bener-bener lu Dan. Gak ada akhlak!” semprot Vernon. “Udah baek Aurelnya mau datang bantuin. Bukannya terima kasih lo malah maki dia.”


Haris diam usai Danial menceritakan kejadian waktu itu secara mendetail. Akalnya sedang merangkai asumsi yang sebentar lagi ia ungkapkan.


“Tunggu bentar! Gue baru ingat pas lo dihukum sama pak Fadli, Aurel juga kena marah karena minta ijin keluar dari kelas. Apa jangan-jangan dia keluar kelas karena mau bantuin lo?” Haris ingat sekali kejadian waktu itu. Tak salah jika bisa berpikir sampai sejauh itu.


“Bisa jadi,” sambung Irgi, “Secara kan si Aurel udah pengalaman banget sama hal-hal mistis. Kemungkinan dia tahu kalau di gudang ada sosok menyeramkan sehingga dia inisiatif datang ke sana untuk ngecek kondisi Danial.”


“Pas datang ke gudang bukannya dapat terima kasih, dianya malah kena maki sama monster,” Vernon menyambung lalu melirik Danial dengan ekor matanya.


Perasaan bersalah menyerang Danial. Seharusnya waktu itu ia mengucapkan terima kasih karena Aurel datang menenangkannya, bukannya memaki gadis itu sambil melayangkan tuduhan-tuduhan tak masuk akal.


“O ya, gue cabut duluan ya! Tapi sebelum itu gue pastiin kalian gak bakal nyebarin rumor ini, terutama elo Ris. Kalau sampai ada teman kelas yang tau gue gak bakal maafin lo.”

__ADS_1


“Iya deh rahasia lo aman selagi gue masih kagak khilaf,” kelakar Haris. Irgi dan Vernon cuma tersenyum menanggapinya.


...~To be Continued~...


__ADS_2