
...ALWAYS THINK ABOUT YOU...
...(SELALU MEMIKIRKAN TENTANGMU)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL mungkin merasa sangat lelah setelah pulang dari rumah Haris. Alih-alih langsung merebahkan badannya di kasur, pria itu malah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia menikmati setiap detik berharga di sana.
Perlahan namun pasti di detik selanjutnya Danial merasa rileks dengan mata yang dipejamkan. Hanya berselang lima detik saat Danial memilih mengistirahatkan rasa penatnya, sebuah senyuman manis mulai terlukis bertepatan dengan hadirnya sekelabat kenangan manis di imajinya.
Akhir-akhir ini ia merasa kepalanya sedang dipenuhi bayangan tentang Aurel. Semuanya tentang gadis itu! Tak tahu kenapa rasanya Danial ingin terus berada di dekat dengan gadis itu bagaimana pun caranya. Padahal orang-orang di sekitarnya tahu betul bagaimana cara takdir mempertemukan mereka sebagai dua sosok yang sulit untuk disatukan.
Kucing dan tikus, air dan api, air dan minyak adalah beberapa diantara julukan yang sering diberikan orang terdekatnya saat menyinggung nama Danial dan Aurel.
Bisa dibilang penyesalan tengah dirasakan Danial saat ini. Seharusnya sudah dari dulu ia mengenal baik seorang Aurel, yang kebetulan anak dari sahabat ayahnya.
Danial memperbaiki posisi duduknya. Ia bergerak mengambil ponsel untuk memeriksa sesuatu. Cukup lama ia menggeser layar ponsel sebelum menekan ikon galeri.
Isi folder kamera di ponsel Danial cuma ada beberapa. Lagipula dia bukan tipikal pria yang sering mengambil gambar selfie dan memamerkannya ke akun sosial media.
Selain ada hasil selfie adiknya, di sana juga ada gambar milik Aurel yang diambil saat keduanya makan di restoran. Memang benar, bahwa semalam Aurel memerintahkan untuk menghapus tetapi Danial tetap saja menyimpannya sebagai kenangan.
Sekarang gambar di ponselnya sedang jadi pusat perhatiannya. Terlalu naif jika ia masih berani menegaskan bahwa Aurel tidak memiliki visual yang mampu membuatnya terperangah. Justru sebaliknya, ia merasa pompa jantungnya terlalu bersemangat kali ini.
Binar matanya tak mampu membohongi siapa pun, yang melihatnya pasti akan menyimpulkan betapa bahagianya Danial hanya karena melihat gambar Aurel.
Danial masih menerbitkan senyuman. Kali ini ia memilih beberapa opsi sebelum jempolnya menempel pada tulisan atur sebagai wallpaper. Baru saja pria itu menjadikan gambar Aurel sebagai layar utama ponselnya.
...
...
“Cie,” suara Davina membuat Danial bergerak cepat menekan tombol kunci sehingga layar ponselnya jadi gelap. Sayang, Davina telanjur menyaksikan kakaknya menjadikan gambar Aurel sebagai layar utama.
“Ngapain?” tanya Danial mencoba bersikap tenang.
__ADS_1
Davina terlalu cerdas untuk sekadar mengetahui rasa salah tingkah yang menyerang kakaknya. “Udahlah Kak, jujur aja sama Davina! Lagipula di ruangan ini gak ada siapa-siapa kok,” godanya sebagai pengiring pergerakannya mengambil posisi duduk, bersisian dengan kakaknya.
“Apaan sih, anak kecil mau tau aja urusan orang dewasa!”
“Ayolah Kak, lagipula Davina ngedukung kok kalo Kak Danial suka sama Kak Aurel.”
“Iya, iya.” Danial menyerah. Ia tahu betul bagaimana adiknya akan berusaha untuk membujuknya jika ia memilih membungkam. Percuma juga menyembunyikan, toh Davina baru saja menyaksikannya mengganti layar utama dengan gambar Aurel.
“Jadi bener dong kalau Kak Danial suka sama Kak Aurel?” Davina memekik gemas.
Danial mengangguk, “Menurut lo aneh gak sih kalo gue tiba-tiba suka sama Aurel?”
“Hmmm,” Davina bergumam memikirkan jawaban terbaik untuk disampaikan kepada kakaknya, “Mula benci jadi rindu sih udah biasa Kak dalam dunia novel dan juga dunia drama.”
Kedua bahu Danial turun secara drastis, ia mengernyit merasa jawaban adiknya terlalu bertele, “Kakak kan lagi ngebahas masalah perasaan, kok disangkutin ke hal-hal berbau fiksi?”
“Karena kisah Kakak mirip sama drama korea yang pernah Davina nonton. Ceritanya tuh kek gini, ada cewek yang bekerja sebagai aktris terus si cewek ini ketemu sama cowok, tapi si cowok ini alien…”
Davina masih sibuk bercerita ketika Danial menginterupsi seenaknya, “Kok topiknya malah merembet ke mana-mana. Kan lagi ngebahas Kak Danial kok malah nyinggung Alien?”
“Elah, makanya jangan dipotong dulu!” ujar Davina menyipitkan matanya sementara Danial hanya menyengir.
“Aliennya tampan? Lebih tampan mana dibanding Kak Danial?” Potong Danial membuat adiknya semakin geram.
“Kalau dipotong terus, sampai lebaran monyet pun gak bakal kelar-kelar ceritanya,” serang Davina mulai naik pitam.
“Hehehe, iya deh maaf. Lanjutin gih ceritanya!” Danial mempersilakan adiknya dengan hormat.
“Alien ini tuh sering berantem sama si cewek karena sifat keduanya yang berbanding 180 derajat. Tapi lama kelamaan sikap saling benci mereka jadi boomerang. Keduanya malah saling rindu.”
“Terus, gimana endingnya?”
“Kakak gak perlu tahu endingnya kek gimana. Yang mau Davina garis bawahi cuman permasalahan benci yang kemungkinan jadi rindu seiring waktu berjalan. Apalagi Kak Danial satu kelas sama Kak Aurel. Setahu Davina, keseringan bertemu bisa jadi salah satu faktor yang mampu menghadirkan rasa rindu bagi mereka yang sering berantem.”
“Jadi gue harus gimana?” tanya Danial.
Davina mengedikkan bahunya, “Segala keputusan ada di tangan Kakak! Kalau memang Kak Danial gak mau kehilangan Kak Aurel maka yang harus dilakukan adalah menjadi pelindungnya. Kakak harus ada tiap kali Kak Aurel membutuhkan bantuan.”
“Gimana mau jadi pelindung, waktu liat hantu aja gue bergerak refleks meluk dia.”
__ADS_1
Davina cengo. Sumpah demi apa pun ia tak mengira kakaknya akan bertingkah sekonyol itu. “Kakak cowok atau bukan sih, masa berlindung sama Kak Aurel.”
“Lo belum tau aja Vin gimana seremnya hantu di sekolah Kakak,” dalih Danial.
“Tapi gak gitu juga kali Kak. Oiya, Vina harap Kakak gak ngulangin kesalahan itu lagi!” Davina memperingati.
Hening selama beberapa saat.
“Oh iya, jadi kedepannya gue harus gimana? Nembak dia?” tanya Danial.
“Yap,” Davina menjawab singkat.
“Kalau gue ditolak?”
“Setiap perbuatan pasti ada risikonya Kak.”
Davina bangkit, ia tak mau mengganggu kakaknya yang kala itu memikirkan langkah yang akan diambilnya. Walau bagaimana pun ini urusan kakaknya, Davina merasa tak berhak untuk mencampuri.
“Vin!”
“Ya,” Davina memutar arah badannya, memusatkan kembali perhatiannya di wajah sang kakak.
“Judul drama alien itu, apaan?”
Davina terkekeh singkat, “Tumben, biasanya ogah-ogahan kalau Davina ngajakin nonton bareng drama korea.”
“Gue gak ada rencana mau nonton dramanya.”
Alis Davina nyaris bertautan mendengar pengakuan kakaknya, “Lah, terus ngapain nanya-nanya judul dramanya?”
“Kakak cuma penasaran sama pemeran prianya, pasti lebih gantengan Danial Wirawan daripada dia.”
Davina memutar bola matanya, “Gini nih kalau punya Kakak yang narsistik,” gumamnya.
“Apa kata lo barusan?”
“Enggak ada kok, Davina cuma bilang ngantuk dan pengin tidur.”
...~To be Continued~...
__ADS_1