MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
58. STILL CARE


__ADS_3

...STILL CARE...


...(MASIH PEDULI)...


...●...


...●...


...●...


"KAMU PUTUS SAMA DANIAL?" Akash menatap putrinya saat memberikan pertanyaan. Dia tahu kabar itu dari anak sulungnya, Nakula. Nakula cerita kalau Danial dan Aurel sudah tidak terikat dalam hubungan pacaran seperti yang mereka ketahui.


"Papa tahu dari mana soal itu?" bukan menjawab. Aurel malah balik memberikan pertanyaan pada ayahnya. Seingatnya dia belum pernah sekali pun menceritakan perihal putusnya dia dengan Danial kepada anggota keluarga kecuali... Ya, cuma Nakula yang tahu soal itu.


"Maaf," ucap Nakula sembari mengangkat telunjuk dan jari tengah secara bersamaan memperlihatkan simbol perdamaian.


"Kakak mah ember mulutnya."


"Kemarin Papa nanya, kenapa aku yang nganterin kamu berangkat ke sekolah, ya aku jawab dong kalau kamu sama Danial udah putus."


"Tau ah," baper Aurel.


"Kapan putusnya?" Sarah menceletuk. Dengan kerutan di dahi wanita itu memberi perhatian penuh kepada putri dan putranya secara bergantian.


"Kemarin dulu, Mah," Aurel menjawab sang mama tanpa membalas kontak mata.


"Tapi kok kemarin sore Mama malah ngeliat kamu dianterin pulang sama Danial."


"Itu aku yang nyuruh Mah. Sebenarnya kemarin tuh Aurel nyuruh aku yang jemput, tapi karena aku lagi ada urusan, makanya aku minta tolong sama Danial aja."


"Lain kali gak usah janji-janji lagi deh Kak kalau memang gak bisa ditepati. Tahu gitu kan kemarin Aurel pulang bareng Leana aja."


"Memangnya ada masalah apa sama Danial? Kedengarannya kamu gak suka dianterin pulang sama dia."


"Bukan gak suka, tapi malas aja."


"Hmmm, kamu takut terbawa perasaan lagi dan akhirnya balikan, kan?" tebak Nakula.


"Dih, sorry ya, yang namanya mantan tuh udah mantan aja."


"Bilang aja kalau perasaan kamu masih ada ke Danial."


"Andai kata ada hukum yang gak ngebolehin pasangan yang udah putus balikan lagi, pasti kalian berdua gak bakal lahir di dunia ini," yang disampaikan oleh Sarah membuat dirinya jadi sumber perhatian Nakula dan Aurel.


"Maksud Mama?" Aurel bersuara melalui sebuah pertanyaan. Secara tidak langsung dia mewakili Nakula yang sebenarnya hendak menanyakan hal yang sama.


"Maksud Mama, kalau memang kamu dan Danial berjodoh, pasti bakalan disatukan sama Tuhan. Mama sama Papa aja beberapa kali putus-nyambung-putus-nyambung, tapi pada akhirnya nikahnya sama dia juga," tampak kedua permukaan pipi milik wanita itu bersemu merah tak ubahnya tomat baru matang, ketika kepalanya menyinggung momen-momen manisnya sewaktu masih muda dulu.


"Kalau gak salah hitung sampai tujuh kali ya Mah, kita putus-nyambung," Akash ikut bersuara.


"Bukan Pah, ada delapan kali bahkan."


"Emang iya?" satu alis milik Akash terangkat.


"Iya, Pah." Sarah menjawabnya.


Nakula melirik adiknya melalui ekor mata. Senyum yang mengarah ke ejekan pun terlihat di bibirnya, "Berarti ada kemungkinan dong Aurel balikan lagi sama Danial?"


"Enggaklah. Gue gak bakalan balikan sama tuh manusia menyebalkan."

__ADS_1


"Hati mana ada yang tahu. Dulu aja lo sama dia musuhan kek tikus sama kucing. Tapi akhirnya pacaran kan?"


"Anggap aja waktu itu gue lagi khilaf. Tapi buat balikan lagi kayaknya gak mungkin. Gue bisa ngejamin itu."


...●●●●●...


"NIH, UANG YANG GUE PINJEM KEMARIN!" Aurel mengulurkan tangannya yang menggenggam uang lima puluh ribu.


"Lo ngelewatin garis batasnya!" seru Danial.


"Ups, sorry," refleks gadis itu menarik kembali tangannya. "Gue taruh di sini ya!"


"Nanti aja lo kasih ke gue, pas pelajaran olahraga kelar," Danial merogoh ransel mengambil kantong plastik berisikan pakaian olahraganya di dalam sana.


Meninggalkan Aurel. Danial menghampiri meja tempat Leana dan Haris terduduk. "Ris, ke toilet bareng yuk!" ajak Danial terdengar santai. "Kenapa lo ngeliatin gue sampe segitunya?" melihat Leana melebarkan mata serta membuka mulutnya terkejut tentu saja hal itu mengandung tanda tanya besar di benak Danial. "Gue emang ganteng tapi biasa aja dong ngeliatnya."


Ah sial! Danial telah paham sekarang usai memaksa otaknya berpikir lebih jauh. Pastinya Leana merasa terusik dengan kenyataan bahwa sebelumnya dia mengajak Haris alias pacar dari Leana ke toilet barengan.


"Ini gak seperti yang lo bayangin. Sumpah demi apa pun gue gak ada niat macam-macam sama pacar lo. Maksudnya gue nyuruh Haris buat nemenin gue doang ke toilet, dia di luar ngejaga pintu dan gue di dalam ganti baju. Gue harap lo gak berpikir terlalu jauh An. Dan asal lo tahu, sampai saat ini gue masih normal kok," jelas Danial panjang kali lebar. Setidaknya dia harus menjelaskan keraguan yang menyerang diri Leana.


"Huh," Leana menarik dilanjutkan mengembuskan napasnya, "Syukurlah kalau lu pade masih normal, gue kira..."


Danial memperlihatkan telapak tangannya, "Cukup, An. Gue udah tahu yang lo maksud apaan. Ya udah Ris, gue tunggu lo di depan toilet ya!"


"Ho-oh," sahut Haris yang sedang mencari baju olahraga miliknya dari dalam ransel.


Seperti sudah jadi kebiasaan tiap kali hendak mengganti pakaian, pria itu selalunya akan memandang ke segala penjuru untuk mengecek apakah makhluk dari dimensi lain ada di sana atau tidak. Walau bagaimana pun juga Danial akan menjaga barang berharga miliknya dari jangkauan mata jelalatan para hantu-hantu.


"Awas aja ya kalau salah satu di antara kalian muncul dan coba-coba ngintipin gue!" peringat Danial direspon tawa oleh Haris yang berjaga di depan pintu toilet.


"Intipin aja setan, anggap aja dikasi bonus bisa ngeliat anu-nya Danial secara gratis," tak tanggung Haris mengakhiri kalimatnya dengan sebuah tawa renyah yang dianggap Danial sebagai tawa intimidasi.


"Oke, gue diem!"


Danial memandang sekitarnya lagi. Dia sudah tak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan tempat sempit itu. Namun ketika pria itu hendak menanggalkan celana. Sosok hantu pria malah muncul di hadapannya.


Brek! Saat Danial mengayunkan kakinya, sosok hantu itu lenyap seperti asap yang tertiup angin. "Berani-beraninya lo mau ngintipin gue. Gila ya, setan jaman sekarang rata-rata gak punya akhlak."


"Udahlah, Dan," teriak Haris dari luar, "Kasi liat aja, biar hantunya bisa tidur nyenyak pas udah ngeliat anu lo. Kayaknya dia penasaran."


"Diem bisa gak sih lo?" tanya Danial kepada Haris yang kini terkikik geli.


...●●●●●...


"LO NGELIAT HANTU APA TADI DI TOILET?" kedua pria dengan setelan pakaian olahraga sedang berjalan menuju ke lapangan basket. Haris sebagai seseorang yang memberi pertanyaan tetap fokus memperhatikan langkah menunggu jawaban dari Danial yang berjalan bersisian dengannya.


Danial tertawa selama beberapa saat membayangkan kejadian pas di toilet tadi. Baru setelah tawanya telah reda, dia pun menjawab pertanyaan yang digulirkan Haris sebelumnya. "Gue diintipin sama hantu wujud laki-laki. Gila gak tuh?"


Haris mengedikkan bahunya, "Makhluk halus juga ada yang belok?"


"Entahlah."


"Terus dia sempat ngeliat masa depan lo?"


"Enggak sempat, karena dia munculnya sebelum gue pelorotin celana. Gak kebayang sih kalau misalnya dia sempet ngeliat punya gue lalu kabur."


"Ceritanya lo lanjutin nanti aja ya, Dan."


Seraya mengerutkan kening Danial memberikan pertanyaan, "Lo mau ke mana emangnya?"

__ADS_1


"Gue pengin balik ke kelas, lupa ambil dompet." Haris mengudarakan tangannya digunakan menepuk punggung milik sahabatnya itu, "Bro, lu duluan aja ke lapangan basket. Nanti gue nyusul kok," sebelum Danial menjawab, Haris telah pergi dengan terburu-buru.


Tanpa Haris. Danial melanjutkan langkah menuju lapangan basket. Di sana sudah terlihat ramai karena beberapa teman sekelasnya lebih dulu memijakkan kakinya di tempat ini. Memanfaatkan pak guru yang belum datang, Danial memilih mengistirahatkan tubuhnya dengan mengambil posisi duduk di tribune. Awalnya dia cuma sendiran namun di menit selanjutnya Maurine datang ikut terduduk di sebelahnya.


"Kenapa duduk sendirian? Haris mana?" tanya Maurine.


"Balik ke kelas," jawab Danial.


Di depan sana, Danial melihat dengan jelas mantan pacarnya sedang asyik bercanda dengan Leana dan beberapa murid perempuan lainnya. Tidak tampak sedikit pun raut sedih bahkan setelah diserang oleh kenyataan bahwa hubungannya dengan Danial telah berakhir.


Apa gue gak se-spesial itu bagi Aurel? Lah, ngapain juga peduli? Kan udah mantan. Batin Danial.


Kadang-kadang perasaan aneh itu akan datang meracuki pikirannya. Dia tidak mengerti, apakah putus dengan Aurel adalah langkah tepat atau justru sebuah kesalahan. Sesungguhnya Danial masih bingung dengan apa yang dirinya inginkan.


"Leana! Lempar bolanya ke gue!" Aurel berseru dengan semangat. Tak peduli bahwa sebagian permukaan wajahnya telah dibuat basah oleh tetesan keringat. "Leana ayo kasih ke gue bolanya."


Bruk!


Seseorang entah dari arah mana langsung menubruk tubuh lemah Aurel. Dalam waktu sesingkat itu tubuh lemah gadis itu berakhir di lantai.


Danial tersadar dari lamunannya. Hampir saja dia menghampiri Aurel jika tangannya tak dicekal oleh Maurine yang duduk bersebelahan dengannya. Tidak mengatakan sepata kata Danial menoleh dan menurunkan pandangan kepada tangannya yang dicekal Maurine.


"Gak usah ke sana. Lo gak ada hubungan apa-apa lagi sama Aurel."


"Tapi..."


"Danial, dengerin gue! Gue yakin kok Aurel juga gak bakal senang kalau misalkan ngeliat lo datang bantuin dia." Maurine telah bangkit meninggalkan posisi duduknya. Dia berdiri di depan Danial tanpa melepaskan kurungan tangannya. "Trust me, Danial," ujar Maurine bermaksud menambah keyakinan diri Danial yang masih memperlihatkan tampang ragu.


"Lo gak apa-apa?" panik Aurel. Padahal dalam masalah ini dia juga jadi korban, tetapi bukannya memeriksa lukanya sendiri dia malah lebih peduli pada pria yang sedang meringis itu.


"Awww, kayaknya cuma lecet dikit," ujar pria itu. "Maafin gue ya sampai nabrak elo."


"Eh, lo punya mata gak sih," Leana tiba-tiba meneriaki pria yang telah menubruk sahabatnya.


"Udah, An, kasian dianya," bela Aurel. "Lagian gue gak kenapa-napa kok, malah dia tuh yang kasian karena tangannya sampai berdarah."


Terlihat kesulitan pria itu mencoba berdiri. "Maafin gue ya."


"Iya gue maafin kok, tapi apa yang bikin lo lari kayak tadi?"


Pria itu menggaruk kulit kepalanya. Dia ingin jujur menceritakan bahwa dia baru saja dikejar oleh sebuah bayangan putih.


"Kok diem?"


"Kedengarannya emang gak logis sih. Tapi gue berani bersumpah. Barusan gue ngeliat dengan mata kepala gue sendiri ada bayangan putih yang ngejar gue sambil ketawa gak jelas."


"Serius?"


"Seratus rius," sambung pria itu.


Awalnya Aurel sempat merasa ragu. Sambil berbicara dengan pria itu Aurel kiranya terus mengamati pancaran kebohongan yang mungkin saja tertuang lewat air mukanya. Namun nihil, melihatnya bercerita dengan suara panik serta keringat mengucur Aurel bisa menjamin bahwa pria itu berbicara jujur tentang melihat makhluk halus itu.


"Istirahat nanti lo cari gue ya, soalnya ada hal yang mau gue bicarain sama lo."


"Mau ngebahas apa ya?" penasaran pria itu.


"Pokoknya nanti gue jelasin! Guru penjas udah datang soalnya."


...-To be Continued-...

__ADS_1


__ADS_2