MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
52. BEING SICK


__ADS_3

...BEING SICK...


...(AKU SEDANG SAKIT)...


...●...


...●...


...●...


DANIAL mengikuti Aurel dari belakang. Aurel yang sadar sedang diikuti pun menghentikan langkah kakinya. Membalikkan badan, dilihatnya sang pacar sedang menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Rel, maaf gue salah."


Aurel mengembuskan napas panjang. Ia bahkan lupa berapa jumlah kata maaf yang diucapkan oleh Danial saking seringnya dia mengatakan itu. Bahkan saat di kelas tadi fokus Aurel bercabang karena di sebelahnya Danial terus saja membisikkan permohonan maaf. Aurel bahkan tak menangkap pelajaran terakhir yang berlangsung di kelas tadi.


"Kita pulang sama-sama yuk!" ajak Danial meski yakin tawarannya bakal ditolak oleh yang bersangkutan. "Kamu boleh marah asalkan kamu pulangnya tetep aku yang nganterin. Aku khawatir kalau kamu pulang sendirian."


"Aku gak pulang sendirian kok, nanti aku nebeng sama Leana aja. Kebetulan hari ini dia juga dijemput sama sopirnya."


"Ayolah Rel, aku ngaku salah. Aku gak akan maksa kamu untuk maafin aku sekarang tapi setidaknya kamu pulang dianterin sama aku aja, biar beban pikiranku sedikit ringan."


"Dari awal aku udah bilang sama kamu kalo aku itu paling gak suka dibohongin. Apa susahnya sih bicara jujur kalau kamu mau ke rumahnya Haris?"


"Dan sekarang aku nyesel Rel. Semalam aku memang bohong sama kamu." Danial mengaku. "Bahkan waktu kamu nelpon pun, aku memang masih di rumahnya Haris. Aku, Irgi, dan Vernon lagi makan seblak di sana."


"Kalau memang begitu kenapa kamu gak jujur aja sama aku? Kenapa kamu harus bohong dengan bilang kalau malam itu kamu gak keluar rumah dan milih tidur cepet?"


"Maaf," sahut Danial cukup singkat.


Aurel maju beberapa langkah, dia baru berhenti melakukannya setelah jaraknya dengan Danial sisa semeter lebih. "Sekarang aku tanya sama kamu. Pernah gak aku ngelarang kamu untuk ketemu sama teman-teman kamu?"


"Enggak," jawabnya begitu singkat diekori oleh sebuah gerakan kepala geleng-geleng. Memang benar, selama ini tak pernah sekali pun Aurel membatasi segala aktivitas pacarnya itu. Bagaimana pun juga status mereka cuma sekadar pacaran. Berpacaran dengan Danial bukan berarti Aurel memiliki hak sepenuhnya dengan pacarnya. Aurel tahu di mana batasannya.


"Apa pernah aku ngebatasin pertemanan kamu?"


Danial yang menjadi sumber perhatian Aurel menggerakkan lagi kepalanya ke kanan, lalu ke kiri, menggeleng. "Enggak."


"Apa pernah aku ngelarang kamu gelutin hobi kamu main game?"


"Enggak Rel. Intinya aku yang salah. Harusnya aku jujur sama kamu, bukannya berbohong dengan mengatakan kalau malam itu aku ada di rumah. Sekali lagi aku minta maaf, Rel," seraya memohon pria itu menangkupkan kedua telapaknya di depan dada.


Usai merapikan poni yang menutup sebagian wajahnya Aurel melipat tangannya di depan dada, "Kira-kira kalau misalkan aku maafin, kamu janji gak bakal ngulang kesalahan yang sama?"


"Aku janji, gak bakal ngebohongin kamu lagi Rel," dengan nada penuh keyakinan dia menjawabnya.


"Janji?" tangan milik Aurel terulur memperlihatkan jari kelingkingnya.


Melakukan hal yang sama Danial menautkan kelingkingnya dengan kelingking milik Aurel, "Aku janji," jawabnya dengan dada membusung pertanda kalau dia terlalu bersemangat.


"Kesalahan kamu kali ini aku maafin."


"Thanks ya, Rel!"


"Aku gak butuh ucapan terima kasih doang Dan."


Satu alis Danial terangkat meninggalkan tempatnya. Setidaknya dia sedang menunggu lanjutan dari ucapan yang didengarnya langsung dari bibir gadisnya.


"Yang aku mau cuma pembuktian, bukan omongan belaka."


"Siap. Aku bakal ngebuktin sama kamu kalau aku gak akan bohong lagi. Yang kemarin adalah pertama sekaligus terakhir kalinya aku ngelakuin kesalahan itu. Ya udah, kita pulang sekarang."

__ADS_1


Lewat sebuah anggukan Aurel memberikan jawabannya.


Di sepanjang perjalanan dari koridor menuju parkiran sempat terbesit tanda tanya di dalam diri Aurel. Apakah mengampuni kesalahan Danial kali ini adalah pilihan yang terbaik atau bukan. Sekuat apa pun usahanya untuk membuat pikirannya positif tetap saja ada secuil pemikiran negatif yang mencoba meracuki isi kepalanya. Ada ketakutan bahwa Danial akan mengulang kesalahan yang sama dikemudian hari.


...●●●●●...


DI sepanjang jalan pulang tidak ada sepatah kata yang dikatakan oleh Aurel. Pria yang sedang mengemudikan motor dengan lambat sempat merasa aneh karena itu. Biasanya pertanyaan-pertanyaan seringkali dilayangkan oleh Aurel tiap kali mereka pulang sekolah. Tapi tumben gadis di belakangnya lebih memilih diam ketimbang mengajaknya berinteraksi verbal.


"Sayang, mau mampir dulu gak sebelum aku nganterin kamu pulang?"


Tidak ada jawaban dari Aurel. Padahal Danial merasa bahwa dirinya sudah bersuara dengan volume yang cukup kencang.


"Sayang, kamu gak denger pertanyaan aku."


"Kenapa?" Aurel telah tersadar dari lamunannya. "Kamu ngomong apa barusan? Aku gak denger soalnya aku kurang begitu fokus."


Motor yang dikemudikan oleh Danial melambat dan akhirnya berhenti di tepi jalan. Berbalik, dia menemukan pacarnya tampak pucat. "Loh, kok muka kamu pucat kayak gini sih?" Kepanikan terpatri jelas di wajah Danial sekarang ini. Tangannya dengan cepat terulur, dia menempelkan punggung tangannya di dahi milik Aurel.


"Kamu demam sayang," Danial membulatkan matanya hampir sempurna. Kadar kecemasan dalam dirinya kian bertambah saat ini. "Aku telepon Nakula ya biar dia ngabarin Mama sama Papa kamu supaya kamu bisa dibawa ke rumah sakit."


Aurel menggeleng lemah. Sorot mata milik gadis itu tampak sayu seperti halnya orang yang baru bangun. "Anterin aku ke rumah aja. Setelah istirahat dan minum obat aku yakin demamnya bakal ilang kok," untuk menguarangi rasa khawatir yang tersemat di wajah pacarnya, dengan sangat terpaksa Aurel memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. "Kamu mau ngapain? Kenapa jaketnya dibuka?"


Danial tidak menjawab. Usai melepaskan jaket yang membungkus tubuhnya, benda berwarna navy tersebut dipasangkan ke tubuh pacarnya.


...●●●●●...


"KENAPA? PUCET GITU MUKANYA," Nakula yang kebetulan ada di depan pelataran rumah berkomentar saat tersadar dengan kondisi Aurel yang tampak kurang baik. Ia menyipitkan mata melihat wajah adiknya yang pucat seakan tak ada darah yang mengalir di tubuhnya.


"Gapapa, aku cuma demam aja," jawab Aurel lemah.


"Aku anterin masuk ya," tawar Danial.


"Gak perlu, gak usah ngambil kesempatan dalam kesempitan lu Nyet. Biar gue yang nganterin adek gue masuk," sambung Nakula memberikan tatapan sinis kepada Danial.


"Gue tampol ya, Dan, mulut lo! Gak sopan lu sama orang yang lebih tua."


"Ampun Kek."


"Etdah nih bocah lama-lama ngeselin juga."


"Kok ngeselin. Kan barusan lo sendiri yang ngaku diri lo tua, sah-sah aja dong kalau sekarang gue manggil lo dengan sebutan Kakek. Atau...." Danial membela dirinya sendiri lalu sengaja pria itu menggantung kalimat supaya lawannya penasaran.


"Atau apa Nyet, jangan bikin gua penasaran," sambung Nakula.


"Cie, nungguin ya...." Danial menggoda.


"Ngeselin lo."


"Kalian berdua kenapa sih, kalau ketemu kerjaannya berantem mulu kayak kucing dan tikus." Aurel menceletuk.


"Noh salahin pacar kamu!" telunjuk Nakula mengarah ke dada bidang milik Danial.


Tampak di wajah Danial kalau dia tidak menerima Nakula melayangkan tuduhan untuknya. Sedetik berikutnya pria itu telah menggerakkan sudut bibirnya, "Kok jadi gue yang salah. Kan lo duluan yang mulai."


"Eh anak monyet, pembunuhan lebih kejam dari fitnah ya..."


"Kebalik bego," sambung Danial mengoreksi.


"Oh iya gue lupa. Maksudnya fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan."


"Nah baru bener," kata Danial.

__ADS_1


"Udah ah, aku mau masuk duluan. Bukannya sembuh yang ada tambah pening kepalaku denger kalian berdua ribut mulu kayak emak-emak."


"Tunggu sebentar," kata Danial. Bukan hanya dengan suara pria itu juga menggunakan telapak tangannya untuk menghentikan pergerakan kaki Aurel yang hendak masuk ke rumah.


"Ehem," Nakula membuat dehaman dibuat-buat. Karena Danial tidak mengacuhkannya, dia pun terpaksa maju beberapa langkah menyingkirkan tangan milik Danial dari pergelangan milik adiknya, "Modus terus. Kalau mau bicara, bicara aja! Gak usah pake megang tangan segala!" imbaunya.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Aurel pada Danial.


"Cuma mau bilang GWS sayang," ucap Danial yang segera mendapat jitakan pelan dari Nakula yang kebetulan berdiri di sebelahnya, "Awww, sakit gilak," aduh Danial merespon rasa sakit yang bersarang di kepalanya. Salah satu tangannya segera terangkat dan mendarat mulus di sumber rasa sakitnya.


"Nama adek gue tuh Aurel, bukan sayang. Manggilnya biasa aja, gak usah lebay!"


"IRI? BILANG BOS!"


"Wah nyari masalah nih bocah," Nakula menyingsingkan lengan bajunya segera.


"Ampun bang jago," nyali Danial menciut seketika. Kedua telapak tangannya yang saling bertaut dipersembahkannya pada Nakula yang telah bersiap memasang kuda-kuda. "Gue gak mau ya kalau misalkan wajah ganteng gue ini lo hancurin." Bagaimana pun juga Danial akan berpikir ulang untuk melawan Nakula. Sabuk hitam yang didapatkan oleh Nakula dua tahun yang lalu cukup untuk membungkamnya.


"Ya sudah, lo anterin gue ke kampus, gue lagi ada urusan di sana!" titah Nakula.


"Motor lu ke mana emangnya?"


"Motor gue ada di bengkel. Bannya kempes."


"Ya udah, gue anterin, tapi dengan satu syarat."


"Perhitungan banget sih lo sama calon kakak ipar sendiri," Nakula mengungkapkan kekesalannya diikuti sebuah gelengan tak habis pikir.


"Giliran lo butuh aja, baru sudi lo ngakuin gue sebagai adek ipar."


"Baru calon woy," koreksi Nakula.


"Iya, iya, maksud gue gitu. Tapi lo ingat gak kejadian tadi pagi? Apa perlu gue ingetin kalau tadi pagi lo teriak-teriak bilang gak sudi punya adek ipar kek gue? Kenapa sekarang lo tiba-tiba berubah pikiran? Kesambet jin tomang lo?"


"Elah," Nakula menepuk punggung milik Danial pelan. "Dendeman amat lo sama gue. Ntar gue beliin bensin deh sepuluh rebu."


"Gak usah beliin bensin gapapa, gue ikhlas tapi lu harus nyebutin password dulu."


Nakula mengerutkan keningnya bingung, "Password?" ulangnya sembari berpikir kritis, kata password terlalu asing di kepalanya, "Password apa yang lo maksud? Gue gak ngerti sama sekali."


"Lo cuma harus bilang, Danial Wirawan orang yang paling ganteng, paling kece, dan paling baik yang pernah gue temui!"


Nakula merespon dengan kedikan bahu, "Ogah. Mending gue beliin motor lo bensin sampai tankinya full ketimbang harus ngakuin kalau lu ganteng."


"Ya sudah, jalan aja ke kampus kalau gitu."


Danial menurunkan kaca helmnya. Hampir saja dia menyalakan mesin saat tangannya dicekal oleh Nakula. "Oke deh," sahut Nakula berubah pikiran.


"Buruan sebutin password-nya!!!"


"Wirawan orang yang paling ganteng..."


"Yang ikhlas ngomongnya," potong Danial.


"Udah ikhlas Danial..."


"Ulang!" perintah Danial disambut embusan napas panjang oleh Nakula.


"Danial Wirawan orang yang paling ganteng, paling kece, dan paling baik yang pernah gue temui!" ucap Nakula, "Puas lo?" sorot mata Nakula begitu tajam. Dia seakan terlihat layaknya monster yang bersiap menerkam mangsanya hidup-hidup.


"Puas banget malah!" sahut Danial dengan wajah berseri karena merasa bahagia usai menjahili calon kakak iparnya.

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2