MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
40. DIFFERENT


__ADS_3

...DIFFERENT...


...(BERBEDA)...


...●...


...●...


...●...


AUREL menoleh bingung. Tentu saja demikian karena kursi yang biasa diduduki oleh Danial sekarang malah diduduki oleh Haris.


"Danial yang minta gue tukeran tempat duduk, dia juga udah lapor sama wali kelas." Haris menjelaskan keraguan yang tergambar melalui ekspresi Aurel.


"Oh gitu." Aurel menoleh ke belakang, ke tempat di mana Haris biasanya duduk. Tidak ada Danial di sana, hanya ransel milik pria itu yang disimpan secara acak di atas meja.


Haris menyaksikan sekitar. Memastikan tidak ada satu pun murid yang sedang memperhatikan mereka. Merasa sudah aman, Haris akhirnya menggerakkan sudut bibirnya. "Bukannya mau ikut campur, tapi kayaknya lo lagi ada masalah deh sama Danial."


Raut sendu yang diperlihatkan oleh Aurel memudar dalam hitungan detik. Perubahan itu sangatlah cepat. Dari raut sendu menjadi raut semringah. Perlu diakui bahwa Aurel sangat berbakat menyembunyikan perasaannya. "Heh? Gue sama Danial baik-baik aja kok." Aurel menjawab keraguan Haris, lalu memaksa bibirnya untuk tetap melukiskan sebuah garis lurus yang sedikit melengkung.


"Lo nolak Danial?"


Aurel mendesah pelan. Upayanya berpura-pura bahagia tidak membuahkan hasil. Ia tak menyangka Haris akan bertanya sampai sejauh itu.


"Iya."


"Loh, kenapa?" Haris terkejut. Sejak pagi tadi ia menanyakan itu pada Danial namun Danial tetap saja menghindar. "Bukannya lo juga suka sama dia."


Aurel mengedikkan bahunya kemudian menggeleng-geleng. Kemungkinan terbesar Aurel merasa malu untuk sekadar mengakui perasaannya pada Danial di depan Haris.


Haris terkekeh. Membuat Aurel menatapnya dan raut yang sulit ditebak maksudnya. "Gue lagi gak ngelawak, gak perlu ketawa!" sinis Aurel.


"Lo sama Danial, gak ada bedanya tau gak! Sama-sama suka nyembunyiin perasaan."


"Maksud lo?" tatapan gadis itu semakin meredup.


"Gini ya Rel, gue mungkin gak sepintar lo yang bisa ngerjain soal matematika hanya dalam kurun waktu beberapa detik. Otak gue gak mampu untuk itu. Tetapi yang perlu lo tau bahwa otak gue gak selamban itu menyangkut perasaan. Gue bisa melihat rasa cinta saat lo ngeliat Danial."


"Apaan sih, Ris. Ngaco amat." Aurel menyangkal sambil memukul lengan pria di sebelahnya.


...●●●●● ...


"MAAF," Aurel sedikit terkejut karena badannya baru saja menabrak seseorang. Lebih mengejutkan lagi saat mendongakkan kepala sehingga matanya beradu dengan iris si pemilik alis tebal. Orang itu adalah Danial. "Danial," ujarnya refleks.


Selama beberapa saat keduanya saling tatap muka mengadu matanya. Untuk sesaat Aurel tertegun menyaksikan binar di mata Danial yang sarat akan rasa kesal. Danial tak pernah semengerikan ini sebelum-sebelumnya.

__ADS_1


"Minggir!" Danial menggunakan nada tak suka.


Aurel mengambil langkah ke samping, memberi akses untuk Danial masuk ke kelas.


Sebenarnya tujuan Aurel keluar kelas hanya untuk membeli minum di kantin. Hari ini ia membawa bekal dengan dalih tidak mau bertemu Danial. Selain alasan itu, Aurel juga memutuskan membawa bekal karena Leana tak sudi lagi mengajaknya untuk makan bersama.


"Bisa gak sih lo minggir dari pintu kelas? Ini bukan tempat umum!" Danial membuat Aurel menyentak kaget. Setelah respon dingin Danial sebelumnya, gadis bernama Aurel itu masih berdiri di pintu kelas sembari menatap nanar ke arah pot bunga yang berjejer di depan kelas.


Suara Danial yang terlalu keras ketika menegur gadis itu membuatnya jadi sumber perhatian. Beberapa murid yang masih ada di sekitar kelas pun sontak menoleh sebelum akhirnya mereka memilih membuang muka. Mereka sudah tahu bagaimana hubungan Aurel dan Danial, beberapa hari terakhir keduanya memang tampak akrab tetapi hari ini keduanya bertingkah seperti biasa-sebelum kecelakaan menimpa Danial.


Aurel termangu. Danial berhasil mengubah karakternya seperti biasa. Bahkan karakternya hari ini berlipat-lipat kali lebih kejam dari yang Aurel tahu.


Danial mengendus pelan, matanya bergerak tampaknya jengah. Pria itu pergi meninggalkan kelas.


Tatapan Haris yang baru muncul setelah kepergian Danial dapat diartikan sebagai tatapan prihatin. Dari lubuk hatinya yang terdalam pria itu merasa kasihan melihat Aurel mendapat gertakan dari Danial. "Maafin ya! Mungkin dia lagi banyak pikiran," hibur Haris lalu mengekori Danial yang semakin menjauh.


Aurel baru saja memaksakan senyum. Entah kenapa rasanya berat sekali untuk melanjutkan langkahnya menuju kantin. Tiba-tiba saja kakinya melemah untuk sekadar memijak ubin lebih lama lagi. Alhasil gadis itu memutar badan dan kembali duduk di kursi miliknya.


Tanpa air minum, Aurel menyendoki mulutnya dengan nasi beserta beberapa potong sosis hasil racikan mamanya. Aurel sedang duduk di kelas tetapi pikirannya sedang terbang entah ke mana.


"Uhuk," Aurel terbatuk. Ia butuh minum setidaknya untuk saat ini.


Gadis itu keluar kelas untuk memuntahkan isi mulutnya.


Aurel mendongak, dalam hitungan detik senyumnya lenyap digantikan oleh raut datar. Jujur dia berharap Leana atau mungkin Danial yang memberikan minuman itu. Supertinya sulit bagi semesta untuk memihak Aurel bahkan untuk kali ini saja.


"Ambil aja Rel, gue ikhlas kok." Netta-salah satu teman kelasnya-semakin menyodorkan minuman yang dibelinya di kantin.


Aurel bangkit meninggalkan posisi jongkoknya, "Thanks ya Net." Aurel hendak masuk ke kelas saat Netta menahannya, "Kenapa Net?" satu alisnya terangkat.


"Lo ada masalah ya sama Leana? Gue perhatiin udah dua hari kalian saling diem-dieman." Netta adalah teman duduk Leana, wajar jika ia menaruh curiga saat menyaksikan keduanya bertingkah seperti orang asing.


"Cuma salah paham doang kok."


Tiba-tiba saja Netta mengangkat kedua tangan, menggenggam bahu milik Aurel. Ia memberi tatapan empati, "Cepetan diselesain ya masalahnya! Gue ikut sedih lho liat kalian diem-dieman kayak gitu. Secara kan kalian berdua udah kayak perangko, di mana ada Aurel di situ ada Leana, begitupun sebaliknya."


"Bentar lagi baikan kok."


"Tenang aja, gue siap bantuin kok kalau misalnya lo butuh bantuan!" Netta menawarkan diri.


"Makasih, tapi gue bisa nyelesain ini semua kok."


...●●●●● ...


SEBUAH mobil hitam berhenti di depan Aurel. Tak lama berselang kaca mobil pun turun sehingga Aurel melihat dengan jelas Wirawan alias ayahnya Danial di depan kemudi. "Eh, om Wira."

__ADS_1


"Aurel nunggu jemputan?" Wirawan lalu menerbitkan senyum.


Aurel merapikan poni yang sedikit menghalangi pandangannya, "Iya Om. Aurel lagi nunggu Kak Nakula." Aurel sempat mencuri pandang ke arah kursi belakang. Danial ada di sana, menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Kepalanya menyender, sementara matanya memejam menikmati lagu yang sedang mengalun di telinganya.


"Naik gih! Biar Om yang nganterin kamu pulang."


Aurel sebenarnya ingin duduk di depan bersisian dengan Wira yang bertugas mengemudikan mobil, hanya saja kursi di sebelah pria itu sedang dipenuhi beberapa peralatan kantor yang tentunya akan membuat Aurel tidak nyaman.


"Duduk di belakang, gapapa kan?" Wira bertanya.


"Gapapa kok, Om."


Aurel membuka pintu dan duduk di sebelah Danial yang masih saja memejamkan matanya.


"Kira-kira di sekitar sini ada mini market, gak?" sambil menyetir Wira mengangkat sedikit dagunya melihat Aurel melalui spion dalam.


Aurel berpikir sesaat sebelum menengadah dari kursi yang menghalangi pandangannya. Tak kalah cepat tangannya terangkat menunjuk salah satu arah, "Lima puluh meter dari tugu di depan sana, Om."


Mobil kembali berhenti setelah tiba di tempat yang dimaksud Aurel. "Om tinggal bentar ya, mau beli titipan tante kamu dulu." Wira melepas seatbelt dan meninggalkan mobil.


Sepeninggal Wirawan tentunya di dalam mobil itu hanya ada Aurel dan juga Danial. Di detik pertama Aurel mengakui perasaan canggung sedang bersemayam di tubuhnya. Tak berangsur karena di detik selanjutnya ia mulai meyakini bahwa pria di sebelahnya memang sedang tertidur.


Aurel bahkan belum sempat mengirimi Nakula pesan ketika ia merasa beban di pundak kanannya bertambah. Sepertinya Danial terlalu lelap sampai tak sadar menjadikan pundak Aurel sebagai bantal.


Suasana hening membuat Aurel mampu mendengar bunyi hentakan jantungnya sendiri. Dag-dig-dug. Kira-kira seperti itulah bunyinya saat dituliskan melalui kata-kata.


Aurel menghela napas mencoba menyikapinya dengan tenang. Dalam situasi seperti ini yang dibutuhkan hanyalah sikap hati-hati. Jika gegabah kemungkinan terburuknya adalah mendapat gertakan dari seorang Danial.


Jujur, Aurel bahkan lebih memilih bertemu ibu-ibu weser kanan belok kiri ketimbang menyaksikan kemurkaan seorang Danial. Danial terlalu menyeramkan saat marah. Amukan Ibu kos kalah sama dia.


Lo pasti bisa Rel! ujarnya dalam hati.


Aurel meneguk salivanya kuat. Mencoba menenangkan rasa gugupnya. Perlahan ia mengangkat kepala Danial dari pundaknya. Ia berencana mengembalikan posisi kepala pria itu kembali ke tempat sebelumnya. Tetapi sial, takdir kembali membuat Aurel melakukan kesalahan.


Bruk!


Kepala Danial menubruk jendela. "Awww," Danial meringis sambil memegangi kepalanya. Matanya terbuka secara perlahan. Tampilan yang sempat blur kembali fokus. "Ngapain lo di dalam mobil gue?" hanya butuh sepersekian detik bagi Danial untuk mengubah tatapannya jadi mengerikan layaknya monster.


"Jadi gini, pas lo tidur bokap lo minta gue naik ke mobil. Gue udah coba nolak tapi bokap lo bersikeras." Aurel menjawab tanpa melakukan adu mata dengan pria di depannya. Dia terlalu takut untuk melakukannya.


"Terus bokap gue ke mana? O ya kenapa gue sampai kejedot kek tadi? Lo sengaja kan mau nyelakain gue?" Danial mencecar Aurel dengan pertanyaan.


Aurel berdecak, "Pertama, bokap lo lagi beli barang di mini market. Kedua, lo kejedot pada saat gue pengin balikin posisi kepala lo seperti semula. Sebelum nyalahin gue, lo harus tahu kalau sebelumnya lo yang lebih dulu jadiin pundak gue sebagai bantal. Ketiga, gue gak serendah itu sampai sengaja nyelakain orang." Aurel menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Danial secara terperinci.


...~To be Continued~...

__ADS_1


__ADS_2