
...KILL THIS LOVE, AGAIN?...
...(MEMBUNUH CINTA INI, LAGI?)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL telah rapi. Kaos berwarna abu-abu melekat di tubuh atletisnya. Tak lupa mengolesi sedikit gel di rambut pria tambun itu bergegas keluar menghampiri motornya. Belum sempat memasang helm. Bunyi notifikasi tanda seseorang menelpon terdengar dari ponsel Danial. Sempat mengerutkan keningnya bingung tapi tak berangsur. Saat mengambil ponsel, dilihatnya nama salah satu sahabatnya tertera di sana.
"Ini kenapa Vernon malah nelpon lagi sih?" katanya mengikut sertakan sebuah decakan lebih ke arah kesal, "Kan udah gue bilang sama dia kalau gue gak bisa datang karena dilarang sama Maurine," lanjutnya masih dengan nada kesalnya. Bahkan setelah Danial mengangkat telepon dari sahabatnya itu dia masih mengeluarkan nada suara tanda sedang kesal.
"Apaan?" tanyanya dengan sesingkat mungkin.
"Kenapa lo gak datang ke kafe?"
Danial memasang tampang bingung. Ponsel di depan telinga bagian kanannya diperhatikan kembali. Ia melihat nama Vernon di sana. Lantas kenapa yang dia dapati justru suara Haris? Mengembalikan ponselnya ke depan telinga lagi. "Gue kan udah bilang sama Vernon sebelumnya kalau gue gak bisa datang."
"Alasannya?" Haris bertanya. "Tumben-tumbenan juga lo gak ikut gabung. Apalagi tadi sore pas pulang sekolah lo sendiri yang ngajakin kita buat kumpul di kafe. Giliran kita semua udah nyampe justru lo sendiri yang batalin rencananya." Jelas sekali bahwa kekesalan sedang menguasai diri Haris saat ini.
"Ngertiin gue lah Bro!"
"Gue bakal ngerti kalo misalkan lo ngasih jawaban yang logis."
"Kurang logis apa jawaban gue sama Vernon. Atau Vernon belum nyampein ke kalian alasannya?" tanya Danial. "Gue gak diijinin datang sama Maurine. Maurine juga kepingin ditemenin shopping."
"Serius karena alasan Maurine lagi? Gue pikir penjelasan Vernon cuma becanda doang. Ternyata lo bisa sebucin ini juga?"
"Maksud lo gimana ya?"
"Gue gak nyangka aja kalau lo bisa sebucin ini sampai-sampai lo dikekang sama pacar lo sendiri. Ini udah kesekian kalinya loh Dan, Maurine ngelarang lo untuk ngumpul sama kita. Kemarin pun sama, dia ngelarang lo buat ketemu kita, dan kemarin dulu pun sama aja kan?"
"Udah deh Ris, gue gak mau ribut."
"Ah elah, Dan. Gue juga punya pacar, tapi gak sebucin ini juga kali. Leana bahkan tahu batasannya. Meskipun kita pacaran tapi gak pernah tuh dia ngelarang gue buat ngelakuin hal-hal yang gue suka selama itu masih dalam batas wajar. O ya, waktu pacaran sama Aurel pun dia gak pernah tuh ngekang lo sampai segininya."
"Maksud lo apa ya banding-bandingin Aurel sama Maurine?" nada suara Danial terdengar terkontaminasi dengan perasaan kesal dan juga perasaan marah.
"Gue gak ada maksud apa-apa."
"Gue tutup teleponnya sekarang!" dan sambungan telepon pun terputus. Usai memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku, pria itu lantas membawa kedua telapak tangan ke bagian muka. Dia mengucek-ucek mukanya sambil meringis kesal. "Ah sialan!" cercah pria itu kepada dirinya sendiri. Tak tahu kenapa semenjak mengakhiri hubungan dengan Aurel, ada banyak sekali permasalahan yang menyerang dirinya. Danial hanya tak ingin jika hubungan pertemanannya ikut merenggang. Itu saja.
Danial memasang helm. Dia lalu menunggangi motornya. Dengan kecepatan yang lumayan pria itu mengemudikan motornya menuju ke salah satu mall di dekat sini. Belum sampai ke tempat tujuannya pria itu terpaksa menepikan motornya dulu. Ada beberapa panggilan masuk tak terjawab serta beberapa pesan. Danial mengeceknya. Isi pesan itu memberi perintah agar Danial tak perlu ke mall. Maurine juga telah mengirim lokasi keberadaannya saat ini agar Danial menemuinya di sana.
Setelah memakirkan motor. Danial bergegas memasuki bangunan yang diketahuinya sebagai restaurant Thailand yang cukup terkenal di kota ini. Beberapa kali Danial sempat ke tempat ini bersama adiknya. Dan menurutnya makanan di tempat ini memang sangat lezat.
__ADS_1
Sesaat setelah masuk, Danial celingak-celinguk dengan mata meredup. Di meja dua belas terlihat Maurine—yang menggunakan setelan halter dress bermotifkan bunga-bunga—sedang sibuk memainkan ponsel, dia mungkin tak menyadari kehadiran Danial.
"Kok malah nyuruh aku datang ke sini?" bingung Danial. Pria itu mengambil posisi duduk berseberangan dengan kursi yang diduduki oleh sang pacar. Dia memperhatikan wajah sang pacar yang seolah tak sudi balas menatapnya. Ada apa ini? Danial merasa tidak melakukan kesalahan. "Bukannya kamu ngajakin aku keluar buat nemenin kamu ke mall? Kenapa mendadak kamu berubah pikiran?" Danial cukup dibuat bingung dengan kejadian itu. Pasalnya sebelum berangkat yang ia tahu Maurine mengajaknya ke mall dengan dalih mau ditemenin belanja. Kenapa dalam waktu singkat gadis itu malah berubah pikiran?
"Kamu tahu? Aku kesel sama kamu. Really really annoyed with you!"
"Kok bisa?" tentu saja Danial akan langsung merasa bingung mendengar pengakuan pacarnya.
"Iya soalnya kamu telat lima menit nemuin aku di mall. Makanya aku malas buat belanja."
Danial memijit pangkal hidungnya. "Astaga, cuma lima menit doang sampai marah gitu kamu."
"Kan aku kesel dibuat nunggu sendirian."
"Ya udah," Danial mengambil tangan milik Maurine. Ia memilin-milinnya seraya tersenyum. "Aku minta maaf."
Maurine mengembuskan napas. "Aku maafin. Tapi you must to promise kalau kamu gak bakal repeat kejadian kek gini lagi. I don't like this!"
"Aku gak bakal ngulang ini lagi."
"Promise?" satu alis Maurine terangkat meninggalkan tempat semestinya. Lalu tangannya yang memperlihatkan jari kelingkingnya terulur di hadapan sang pacar.
"I promise," jawab Danial seraya menautkan kelingkingnya dengan kelingking milik Maurine yang lebih dulu mengudara di hadapannya. Tak lupa Danial turut serta memberikan senyumannya. Kenyataannya memang kita pernah pacaran dulu. Tapi maaf Rin. Sampai detik ini perasaan itu masih belum kembali. Tapi gue janji, gue bakal belajar lupain Aurel sekaligus gue juga bakal janji akan belajar buat suka sama lo! Batin Danial kepada Maurine yang sedang membentuk garis lurus di bibirnya.
"Mau pesan apa Mbak?" pelayan datang setelah Maurine memanggilnya dengan gestur tangan. Pelayan itu pun sedang berdiri sambil bersiap mencatat pesanan di note kecil yang dia bawa.
"Minumannya apa Mbak?" tanya si pelayan usai menuliskan makanan pesanan Maurine.
"Minumnya thai tea aja."
Selesai dengan Maurine. Kini pelayan itu menghadap ke Danial yang telah selesai membaca-baca buku menunya. "Kalau Mas, pesan apa?"
"Makanannya tom yum dan minumannya thai tea aja," jawab Danial.
...●●●●●...
DIBANDING Maurine, Danial sekiranya menjadi orang pertama yang lebih dulu menghabiskan makanan di mangkuknya. Mungkin kodratnya memang seperti itu. Pria sedikit lebih cepat dalam melakukan beberapa hal dibanding perempuan. Selesai dengan makannya Danial menyeruput thai tea pesanannya sampai menyisakan setengahnya saja. Seperti biasanya. Tiap kali selesai makan pasti pria itu akan merasa kegerahan. Tak puas hanya dengan mengelap peluh di dahi, pria itu lantas membuka jaket hijau army-nya memperlihatkan kemeja cokelat yang melekat di tubuhnya.
"Kok pakai kemeja cokelat sih, aku kan udah nyuruh kamu buat pakai kemeja warna putih biar kayak couple-an gitu pakaian kita. Padahal aku udah ada rencana loh buat foto sama kamu terus aku masukin ke media sosial," cerocos Maurine. Karena kejadian itu nafsu makannya seketika menghilang.
Danial melirik lewat ekor matanya. Beberapa pengunjung sedang memperhatikan ke arahnya. Danial merasa malu saat itu juga. Terlebih karena suara yang terlepas dari bibir sang pacar terlalu besar sehingga menjadikan mereka fokus penglihatan para pengunjung. "Oke aku minta maaf. Tapi aku minta pelanin suara kamu! Gak enak diliatin banyak orang," Danial mencoba menyikapinya dengan kepala dingin. Dia memperlihatkan sisi baiknya dengan mencoba meredam emosi seraya bernegosiasi dengan gadis itu. Danial mengakui kesalahannya. Tetapi Danial merasa bahwa Maurine seharusnya tahu situasi dan kondisi. Sekarang ini mereka sedang di tempat umum.
"Pertama kamu telat datang, kedua kamu gak dengerin omongan aku."
Danial mengangkupkan tangannya. "Plis. Kamu boleh marahin aku, tapi jangan sekarang! Nanti saja kalau kita udah keluar. Aku malu diliatin banyak orang," katanya dengan nada suara memohon menuntut belas kasihan dari pacarnya.
"Kenapa aku harus ngomong pelan? Kesalahannya ada sama kamu kok. Kamu gak mau dengerin omongan aku."
__ADS_1
Danial habis kesabaran. Tindakan Maurine sudah melebihi ambang batas kewajaran. Cukup sudah bagi Danial mencoba bernegosiasi dengannya.
"Aku tahu aku salah." Danial bangkit dari duduknya. Bukan hanya suaranya yang meninggi dan membuat Maurine menyentak kaget. Bahkan pria itu menggebrak meja sehingga kali ini semua mata pengunjung mengarah kepada dua sejoli itu.
Maurine gugup. Dia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Lalu kemudian tatapannya dikembalikan lagi pada wajah Danial yang tampak memerah setelah pria itu menggertaknya. "Malu Dan diliatin banyak orang. Mendingan kamu duduk deh dan tenangin pikiran kamu!"
Danial mengibaskan tangannya yang digenggam oleh pergelangan Maurine. Andai saja sejak awal Maurine menuruti ucapan Danial. Niscaya adegan menyentak meja tidak bakal terjadi. "Aku juga punya batas kesabaran Rin. Aku juga bisa memperlihatkan kemarahan sama seperti yang kamu lakukan sebelumnya," tanpa pamit Danial membawa langkah kakinya menuju ke kasir untuk membayar makanannya dan makanan Maurine. Danial berusaha tak acuh dengan tatapan intimidasi yang dilayangkan oleh beberapa pengunjung.
Setelah bersusah payah mengejar. Maurine pun berhasil menangkap pergelangan milik Danial. Danial yang kebetulan berjalan menuju ke parkiran seketika menepis tangan Maurine. "Lepasin tangan kamu!"
"Kamu ini kenapa sih? Kamu yang salah tapi kamu juga yang pergi."
Danial memutar badannya. Dia dan gadis berambut ombre cokelat itu saling hadap-hadapan mengadu mata satu sama lain. "Bahkan sekarang pun kamu masih nyalahin aku tanpa peduli sama kesalahan kamu sendiri?"
"Whats wrong with me?"
"Kamu itu terlalu berlebihan. Dan sepertinya kita harus putus!"
Rahang milik Maurine terjatuh. Ia tak mengira hal sesepele ini akan menghancurkan hubungannya dengan Danial. "Aku gak mau!" Maurine terang-terangan tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Danial.
"Apa alasan kamu sampai gak mau putus?"
"I think masalah ini cukup sepele buat kamu jadiin reason for end this love!"
"Apa? Sepele?"
Maurine mengangguk pelan-pelan.
"Aku bahkan masih diam setelah kamu dengan seenaknya ngatur-ngatur aku. Kamu bahkan selalu ngelarang aku untuk datang semisal ada acara kumpul-kumpul sama Haris, Vernon, dan Irgi."
"Aku ngelakuin itu karena aku sayang sama kamu...."
"Bukan sayang namanya. Itu artinya kamu egois. Kamu mentingin kebahagiaan kamu sendiri tanpa peduli yang pasangan kamu rasakan."
"Aku tetep gak mau putus sama kamu."
"Asal kamu tahu, tujuan aku nembak kamu malam itu semata-mata karena aku cuma kepingin ngebuat Aurel cemburu. Lagian sampai sekarang aku juga belum ada perasaan sama kamu," semprot Danial.
"Are you crazy?" kata Maurine.
"Aku tahu aku salah karena ngelibatin kamu," suara milik pria itu melembut dan tak setinggi sebelumnya. "Tapi aku udah janji sama diri aku sendiri buat belajar untuk suka sama kamu. Tapi lihat apa yang kamu lakukan? Kamu bahkan cuma peduli pada kebahagiaanmu sendiri."
"Tapi Dan..."
Kalimat Maurine terjeda saat melihat salah satu tangan milik Danial terangkat memperlihatkan bagian telapaknya.
...●●●●●...
__ADS_1
...-To be Continued-...