
...SEIZE THE LIGHT...
...(MENGGAPAI CAHAYA)...
...●...
...●...
...●...
DI lorong sekolah Leana tiba-tiba merasa aneh saat tatapannya mengarah kepada seorang pria di ujung sana. Tumben Haris datang pagi-pagi sekali. Setidaknya itulah yang terlintas dalam benaknya sewaktu pertama kali melihat Haris dijam segini.
"Ayo mikir An!" Leana bergumam mencari ide yang paling tepat agar ia bisa menghindari pria yang berandil dalam masa lalunya.
Tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya untuk mengambil benda dari dalam ranselnya. Lebih dulu gadis itu merogoh sebelum akhirnya mengambil benda itu dari dalam sana.
Jaraknya dengan Haris kurang dari sepuluh meter. Sementara itu Leana menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Tujuannya hanya untuk menghindari Haris.
"Gue mau bicara sama lo!" Haris berhenti pada langkahnya saat berada di depan Leana.
"Gue gak denger, gue pake earphone." Leana menyumpal telinganya dengan tangan, menyingkirkan fakta kalau earphone sedang menempel menutup telinganya.
Haris berdecih. Selama beberapa sekon ia membuang muka, tetapi tak berlarut. Pria itu segera mengembalikan perhatiannya menuju wajah Leana. "Lo cuma pura-pura denger musik. Gue tahu itu!" Haris menuduh. Bukan tanpa alasan. Dengan mata kepalanya sendiri pria itu melihat earphone yang menyumpal telinga Leana tidak terhubung pada sebuah Ipod ataupun ponsel.
Leana menarik tangannya tetapi sulit terlepas. Tenaga milik Haris tentu saja tidak sebanding dengan tenaga gadis itu.
"Gue datang pagi-pagi karena ada sesuatu yang mau gue sampein ke elo," secara tidak sadar Haris baru saja menjelaskan pada gadis di hadapannya terkait alasannya sampai datang ke sekolah sepagi ini.
Sekuat apa pun ia memberi penolakan dalam bentuk perlawanan, semuanya akan berakhir sia-sia. Leana mengenal Haris sudah sangat lama. Ia mengenal karakter pria itu.
"Apa sih yang mau lo omongin ke gue?" pertanyaan itu diungkapkan oleh Leana. Haris telah melepaskan cekalannya saat tiba di depan tribune yang menghadap lapangan basket.
"Katanya lo suka sama Danial?" Haris berdecak saat berhasil menyudahi kalimatnya.
"Kalau iya kenapa? Masalahnya sama lo apaan? Hah!" semprot Leana tak tanggung-tanggung. Sambil melayangkan kalimat menohok gadis itu juga bersedekap memperlihatkan gestur tak suka.
"Kenapa harus Danial?" Haris bertanya. Dari ratusan murid pria SMA Angkasa Raya kenapa Leana harus suka sama Danial?
"Memangnya hati ada yang tahu."
"I know, tapi kenapa harus sama Danial?"
"Gini deh Ris. Sebenarnya apa sih yang mau lo omongin sama gue! Lebih baik to the point aja, gak usah berbelit-belit!" tegas Leana.
"Gue cuma mau ngasih tahu kalau Danial sukanya sama Aurel."
Leana tertawa, "Udah telat, gue udah keburu tahu soal itu. Lagipula saat ini Danial udah pacaran sama Aurel."
__ADS_1
"Mereka udah pacaran?" Haris memasang raut terkejut.
Leana mencebik lalu menjawab singkat, "Ho-oh. Semalam Aurel yang ngabarin gue soal itu."
"Lo gapapa," Haris mengubah tampang terkejutnya dengan tampang empati. Tatapannya mengandung arti bahwa dia bisa memaklumi rasa sakit yang pasti dirasakan oleh Leana.
"Gak perlu khawatirin gue. Lagipula perasaan gue ke Danial udah gak ada lagi."
"Jangan bohong."
"Terus gue harus nangis-nangis depan lo? Plis deh Ris, jangan egois! Lo pikir cuma lo doang yang bisa deket sama cewek lain?"
"Maksudnya?"
"Gue muak dengan sikap lo! Lebih baik lo jauhin gue!" Leana memperlihatkan kedua telapak tangannya yang tertaut di depan dada. Gadis itu memohon.
"Gak bisa."
"Kenapa?" penasaran Leana.
"Karena gue mau hubungan kita balik kayak dulu. Asal lo tahu, alasan gue masih menjomblo hingga detik ini karena gue masih sayang sama lo."
Leana tertawa sementara Haris mengerutkan kening, bingung dengan maksud pekikan yang berasal dari bibir Leana.
"Kok malah ketawa, gue gak ngelucu loh padahal."
Spontan Haris menganggukkan kepalanya.
"Gue bahkan masih ingat saat lo ngelabelin gue sebagai teman di depan sahabat-sahabat lo. Dan sekarang lo masih berani nyebut itu sebagai hubungan?" Leana mengakhiri ucapannya dengan pertanyaan retorik.
Haris mengakuinya. Ia juga sadar akan dirinya yang tak suka menjadi sorotan. Alasan itulah yang membuatnya memperkenalkan Leana sebagai seorang teman alih-alih sebagai pacarnya. Haris menghindari cibiran sahabat-sahabatnya.
"Gue bahkan gak nyangka kalau lo malu untuk sekadar ngakuin gue sebagai pacar lo."
"Gue bakal berubah demi lo!"
"Terserah," balas Leana acuh tak acuh. Gadis itu memutuskan untuk pergi saat merasa tak ada lagi yang perlu disampaikan pada Haris.
...●●●●●...
SAMPAI sekolah berakhir pun muka Leana masih saja kusut tak ubahnya pakaian yang lupa disetrika. Di sebelahnya Aurel masih menatapnya bimbang. Aurel bukannya tak peduli, hanya saja Leana tidak mau membagikan itu padanya. Tiap kali Aurel bertanya, Leana selalunya menjawab dengan kalimat, "Gak apa-apa."
"Leana!"
Aurel mendapati pekikan seseorang menyerukan nama sahabatnya.
"Ada yang manggil lo, An." Aurel memberitahu gadis di sebelahnya.
__ADS_1
"Salah denger kali lo," Leana sadar akan panggilan yang tertuju padanya. Ia juga sadar kalau panggilan tersebut dilayangkan oleh Haris. Gadis itu hanya pura-pura tidak mendengarnya.
Aurel mengecek ke belakang. "Bener An. Si Haris manggil lo tuh."
Leana memelas dan menghentikan langkah kakinya. Sekali embusan napas panjang mengiringinya saat ia memutar tumit menghadap Haris di ujung sana.
"Mau ngapain lagi sih tuh manusia," gumam Leana.
"Samperin gih, kayaknya ada hal penting yang mau dia sampein ke lo," suruh Aurel. Ia menepuk-nepuk punggung milik sahabatnya pelan.
Leana mengedikkan bahu menggubris perintah Aurel, "Kan dia yang butuh, kok malah gue yang harus nyamperin," ujarnya tidak terima dengan saran Aurel. Leana masih punya harga diri.
Dengan tampang datar Leana melihat Haris yang belum ada tanda-tanda akan menghampirinya. Pria itu justru memperlihatkan gestur aneh di menit selanjutnya ketika kedua tangannya yang telah membentuk corong berakhir di depan bibirnya.
"Leana gue sayang sama lo! Gue mau lo jadi pacar gue!" ucapnya enteng dengan volume suara yang tak bisa dikategorikan pelan.
Aurel dan Leana saling menatap selama beberapa saat. Mereka mengadu mata yang telah membulat secara sempurna. Apa yang dilakukan Haris barusan tentu saja mengambil perhatian murid-murid yang masih lalu lalang di pelataran sekolah. Mereka yang tadinya acuh tak acuh memilih memokuskan perhatiannya pada Haris dan Leana secara bergantian.
"Haris nembak lo, An." Aurel memberi tahu.
"Gue juga denger kali Rel."
"Leana gue sayang sama lo, gue mau lo jadi pacar gue!" Haris mengulang kalimat yang sama. Pengakuannya kali ini membuat orang di sekitarnya memekik heboh.
Melalui ekor matanya Leana bisa melihat tatapan orang di sekitarnya sedang mengarah padanya. Leana meneguk ludahnya sebentar. Bersama degup jantungnya gadis beransel abu-abu itu membawa langkah kakinya sampai ke depan Haris.
"Apa-apaan ini?" tuntut Leana.
"Gue cuma pengin ngebuktiin kalau gue udah berubah!"
Leana tidak mengucapkan sepatah kata pun. Memang benar bahwa dia sendirilah yang menantang pria itu bertindak sejauh ini.
"Gimana, An. Lo mau kan balikan sama gue?" penuh keragu-raguan Haris menanyakannya.
"Jujur gue sebenarnya masih mikirin lo sampai detik ini. Dan asal lo tahu, gue bener nyesel karena waktu itu gue mutusin lo," kata Leana.
"Kalau masih mikirin gue, kenapa sampai ada rumor kalo lo suka sama Danial?"
"Lo juga gitu kok, cari perhatian melulu sama Netta. Wajar dong kalau gue juga usaha untuk cari yang baru," secara tidak langsung Leana mengungkapkan kecemburuannya melihat kedekatan diantara Haris dan Netta.
"Dih, berarti selama ini lo cemburu ya liat gue deket sama Netta?" Haris menunjuk wajah Leana yang sedang memperlihatkan pipi merona.
"Siapa yang cemburu," elak gadis itu bersamaan dengan tangannya merapikan poni yang sedikit menghalang pandangannya.
Leana membelakangi Haris sebab tak kuasa menahan malu. Baru saja dua langkah menjauh namun tangannya ditarik secara paksa oleh Haris. Akibatnya tubuh lemah gadis itu berakhir dalam pelukan hangat si pria yang telah meresmikan dirinya sebagai seorang pacar. Haris memeluk Leana dengan erat. Tak peduli dengan kenyataan dirinya menjadi pusat pekikan kata 'ciye' yang menyerang dari beberapa penjuru.
...~To be Continued~...
__ADS_1