
...WHEN THE GHOST FALL IN LOVE...
...(KETIKA HANTU JATUH CINTA)...
...●...
...●...
...●...
CUACA sedang cerah saat ini. Saat mendongak ke atas langit tentunya siapa pun itu akan mendapati keadaan langit yang cerah. Langit berwarna biru cerah sementara awan seputih salju tampak beriringan di sekitarnya. Tak ada sedikit pun tanda-tanda akan turun hujan. Kondisi langit seolah sedang tersenyum saat ini.
Hanya ada Aurel di kelas. Yang lainnya sedang di lapangan menikmati pelajaran olahraga. Sempat merasa kesal awalnya karena dia lupa memasukkan seragamnya ke ransel sehingga dia tidak diperkenankan untuk mengikuti pelajaran olahraga hari ini. Sempat menghubungi Nakula namun yang ada kekesalan pada diri gadis itu malah memuncak karena nomor Nakula tidak aktif.
Sekarang, gadis itu sudah menyerah. Tidak apa-apa kalau misalkan hari ini dia tidak bisa berpartisipasi di pelajaran olahraga. Toh sekarang dia juga bisa melanjutkan bacaan novelnya sebelum teman-temannya yang lain kembali dari lapangan.
Novel Midnight Sun dari seri Twilight karya Stephenie Meyer berhasil menjadi obat penghilang kesuntukan seorang Aurel. Setidaknya membaca sebuah buku jauh lebih baik ketimbang harus berdiam diri saja di tengah kelas kosong. Bukan kosong sih, sebenarnya Aurel masih sempat melihat makhluk penghuni kelas yang terkadang muncul sesekali.
Saat asyik-asyiknya membaca tiba-tiba Aurel mendapati suara desisan mirip dengan suara ular. Awalnya gadis itu tidak bereaksi dan tetap memaku perhatian di buku. Namun lama kelamaan suara desisan itu semakin jelas dan mengganggu indra pendengaran. Lebih dulu menutup bukunya gadis itu pun menggerakkan muka ke arah kanan untuk mengecek suara barusan.
Yang Aurel temukan adalah sosok hantu menyebalkan yang dikenalnya bernama Sisil sedang menyengir.
"Gue masih kesal sama lo!" kata Aurel mengingat beberapa hari yang lalu sosok Sisil sempat membuatnya kesal.
"Maaf, Kak Aurel yang cantik."
"Gak usah sok baik dengan coba manggil gue dengan embel-embel cantik segala."
"Kakak lagi ngapain sih? Baca buku ya?"
"Enggak. Gue lagi latihan berenang," jawabnya cepat. "Udah tahu kalau gue lagi baca buku, lo masih aja nanya," kesal Aurel.
"Gitu aja marah. Nanti cantiknya ilang loh, Kak."
"Bodo amat!"
"Kemarin aku gak sengaja loh liat kakak pulang dibonceng sama cowok. Itu pacar barunya Kakak?"
"Yang mana?"
"Itu yang kemarin nganterin Kakak pulang."
"Oh itu, dia anak kelas sebelah."
"Pacar baru Kakak?" tanya Sisil.
"Ya kali gue langsung udah dapet pacar baru. Putus sama Danial aja belum sampai seminggu."
"Kak Danial aja udah punya pacar baru. Masa kak Aurel yang cantiknya udah paripurna kek gini kalah sama kak Danial sih."
"Lo pikir pacaran itu kayak perlombaan yang ada menang kalahnya. Enggak kali Sil. Untuk apa juga gue buru-buru punya pacar baru."
"Iya juga, sih, Kak. Oh iya kalau boleh tahu, cowok yang kemarin nganterin kakak pulang namanya siapa?"
"Namanya Bagas."
Mata Sisil membulat dengan sempurna. "Jangan bilang kalau yang kak Aurel maksud itu adalah kak Bagas yang anak basket itu?"
"Bener. Dia anak basket."
Sisil memekik dengan keras-keras. Dia sangat senang dengan kabar ini. Semasa hidup dulu dia seringkali mengagumi figur seorang Bagas. Tak jarang dia bahkan menghabiskan waktu di tribune tiap kali anak basket sedang melakukan latihan rutin. Sayangnya waktu itu Sisil terlalu takut menyampaikan isi hatinya sehingga sampai akhirnya dia meninggal pun cuma dia yang tahu perasaan itu.
__ADS_1
"Lo suka sama Bagas?" tanya Aurel. Aurel berani menarik kesimpulan itu setelah melihat rona bahagia di wajah Sisil saat membahas tentang Bagas.
Sisil menganggukkan kepalanya bersemangat. "Dulu nih Kak, aku itu sering diem-diem nonton kak Bagas kalau lagi latihan rutin sama anak basket lainnya. Itung-itung sekalian cuci mata aku di sana."
"Sampai sekarang lo masih suka sama dia?" Aurel bertanya lagi.
Lagi. Sisil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa lo gak coba ngomong ke dia secara langsung kalau sampai sekarang lo masih suka sama dia."
"Gimana ceritanya. Kan dia gak bisa liat Sisil lagi."
"Bisa kok. Sekarang dia udah bisa ngeliat makhluk dari dimensi lain kayak lo."
"Demi apa Kak?"
"Gue gak bohong sama lo. Kenyataannya emang kek gitu Sil. Baru-baru ini indra keenam Bagas terbuka tanpa sebab yang jelas. Dia aja masih kaget-kaget kalau ada hantu yang tiba-tiba nongol di depan dia."
"Tau gak sih Kak. Selain kak Danial, nama kak Bagas juga popular banget di kalangan para hantu. Bahkan nih Kak, aku sering denger nama kak Bagas tuh digosipin sama hantu-hantu penjaga toilet belakang. Pokoknya banyak yang muji, katanya kak Bagas punya kharisma yang mematikan."
"Oh ya?"
"Iya Kak."
"Eh selama lo tinggal di sini, pernah gak sih lo denger cerita tentang Jasmine? Sumpah, gue penasaran banget loh pengin tahu tentang latar belakang dia kek gimana."
"Jasmine?" ulang Sisil agak bingung. Nama itu terlalu asing di dalam ingatannya. "Yang mana ya Kak. Aku gak kenal hantu yang namanya Jasmine."
"Serius kamu gak kenal sama Jasmine? Hantu belanda yang pakai gaun pengantin."
"Aku emang kenal sama salah hantu Belanda di sini. Dia ngehuni koridor tepat di samping UKS. Tapi bukan Jasmine namanya, melainkan Janneke. Selain itu pakaian yang dia kenakan warnanya kuning, bukan putih seperti yang kak Aurel jelasin ke Sisil."
"Serius lo gak kenal sama Jasmine?"
"Itu yang di depan gerbang. Yang aroma tubuhnya melati."
Sisil ber "Oh" panjang lalu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Aku udah ngerti siapa yang Kakak maksud. Ternyata si bisu?"
"Bisu?" ulang Aurel. Keningnya berlipat-lipat sementara kedua alisnya terlihat nyaris bertautan satu sama lain.
"Aku denger, hantu-hantu di sini nyebut dia si bisu karena dari dulu katanya dia cuma diam dan enggak mau berinteraksi sama hantu-hantu lainnya. Lagian kak Aurel tahu dari mana soal namanya? Aku baru tahu loh kalau nama dia tuh Jasmine."
"Jasmine itu nama panggilan yang gue bikin sendiri. Gue ngambil patokan sama bau badannya yang beraroma melati."
...●●●●●...
JAM pelajaran bahasa inggris berlangsung di kelas. Tetapi Bagas memutuskan untuk ijin keluar sebentar dengan dalih kepingin buang air kecil. Saat mengecek jam tangannya di kelas tadi, Bagas menyadari bahwa masih ada sekitar lima belas menit sebelum jam pelajaran berakhir sementara air seni Bagas sudah di ujung tanduk. Dari pada menahan pipis yang jelas tidak baik buat kesehatan, pria itu pun memilih untuk ijin.
Ada sebuah aturan yang disepakati di dalam kelas. Pokoknya tiap kali pelajaran bahasa inggris berlangsung maka semuanya dilarang untuk menggunakan bahasa Indonesia. Hal itu tentu saja dilakukan untuk melatih speaking murid di kelas.
"Excuse me, Sir," lembut Bagas tatkala dia telah berdiri di depan meja guru.
"What?" jawab sang guru sembari menghentikan aktivitasnya mengetik sesuatu pada laptopnya.
"May I go to the toilet?"
"Sure!"
Setelah mendapat ijin dari guru. Kedua kaki milik Bagas terangkat secara bertahap mengambil langkah buru-buru meninggalkan kelas.
Deg!
__ADS_1
Hitungan dimulainya ketegangan terjadi lagi. Lambat laun suara hentakan di dadanya terdengar sampai ke telinganya. Kira-kira sekitar dua puluh meter di depan sana ada seorang perempuan berseragam khas SMA Angkasa Raya. Hanya saja Bagas yakin seyakin-yakinnya kalau sosok perempuan di ujung sana bukanlah manusia. Setidaknya saat ini Bagas sudah mampu melihat perbedaan di antara hantu dan manusia.
"Tenang Gas!" ujarnya pelan-pelan. Pria itu sedang mengatur embusan napasnya. "Pura-pura aja lo gak bisa ngeliat mereka!" lanjut Bagas lebih kepada menambah semangat untuk dirinya sendiri. "Tapi kan kata Aurel insting mereka terlalu kuat untuk sekadar mengetahui kalau orang bisa ngeliat mereka?" pikir Bagas. "Udahlah, dicoba aja dulu," sambungnya masih bergumam.
Disaat jaraknya dengan hantu itu semakin dekat, hentakan yang berpusat di dada sebelah kirinya pun semakin terasa.
"Halo, Kak Bagas!" sapa Sisil yang sengaja diabaikan oleh yang bersangkutan.
Dia kenal gue ternyata? Kaget Bagas yang tertuang melalui batinnya. Pria itu fokus pada langkah kakinya seolah tidak melihat apa pun di sekitarnya.
"Kakak bisa liat aku, kan?"
Bagas bersiul kali ini. Dia melakukannya agar tidak terpancing dengan pertanyaan yang ditujukan si hantu padanya. Kalau misalkan dia menjawab pertanyaan dari makhluk tersebut pasti rencananya untuk berpura-pura tidak melihatnya bakal ambyar.
"Ngomong-ngomong Kakak jago juga ya acting-nya. Aku udah tahu loh padahal kalau Kakak bisa ngeliat aku."
Bagas terus berjalan menuju ke toilet. Dia masih keukeh untuk berpura-pura tidak melihat makhluk di sekitarnya.
"Kakak beneran gak kenal sama aku?"
"Enggak." Ah, sial. Kenapa Bagas harus menjawab pertanyaan dari hantu itu.
"Kecoplosan ya Kak?"
"Bisa diem gak?" pria itu berhenti jalan. Mendengus pelan pria itu menolehkan muka menatap Sisil dengan tajam. Sisil menampilkan ekspresi seolah kaget di detik itu juga.
"Tau gak sih Kak. Aku itu kayak gak ada harga dirinya banget jadi hantu. Harusnya tuh kakak yang takut sama aku. Eh ini mah malak sebaliknya."
"Maksud lo apa barusan? Lo ngatain muka gue lebih serem dari pada hantu? Gitu maksud lo?" cecar Bagas melalui tiga buah jumlah pertanyaan.
"Ih bukan begitu maksud Sisil. Lagian kata siapa mukanya kak Bagas lebih serem dari Hantu? Malah nih ya, muka kakak tuh ganteng. Ganteng banget malah. Kalau diibaratkan mah muka kakak tuh sebelas dua belas dengan Zayn Malik. Tapi Kakak tahu kan Zayn Malik?"
Bagas berpikir sebentar, "Zayn Malik mantan personel One Direction maksud lu?"
Perempuan berwajah putih pucat itu menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Gak salah lagi. Oh iya, asal kak Bagas tahu aja. Di dunia hantu pun Kakak sering digosipin loh."
"Emang iya? Kok bisa? Gara-gara apa gue digosipin sama makhluk sebangsa lo?" cecar Bagas. Saking penasarannya sampai pria itu memperlihatkan lipatan kecil di dahi serta alis yang tampak hampir bertautan sebagai penegasannya.
"Karena muka ganteng kakak lah."
Bagas membuang muka. Dia lantas tersenyum bersama rona merah di pipinya usai mendengar pujian dari makhluk bernama Sisil itu.
"Cie yang senyum-senyum setelah dibilang ganteng," goda Sisil.
"Apasih lu, siapa juga yang senyum-senyum."
"Aku liat kok barusan kak Bagas senyum-senyum."
Bagas melanjutkan perjalanannya yang terjeda karena kehadiran Sisil. Namun pria itu berhenti saat menyadari Sisil yang sedang mengikutinya. Pria itu memutar tumit sehingga posisinya dengan Sisil saling berhadap-hadapan. "Lo mau ke mana?"
"Mau ikut kak Bagas."
Bagas membulatkan matanya. Gerakan tangannya yang terangkat menutup bagian selangkangannya bisa dibilang sebagai gerakan refleks.
"Kenapa anu-nya ditutup pakai tangan? Takut nanti anu-nya terbang ya?" tanya Sisil mengekori ucapannya dengan bibir bawah yang dikulum dengan tujuan agar sebuah senyuman tak terbit dari sana.
"Udah sana!" usir Bagas mengibaskan tangannya, "Jangan ngikutin gue lagi. Gue mau ke toilet soalnya."
"Ikut!"
"Gak. Ntar yang ada lo menang banyak. Udah sana pergi!" usir Bagas. Sebelum benar-benar menghilang wujud Sisil masih sempat-sempatnya menjulurkan lidahnya ke arah Bagas.
__ADS_1
...-To be Continued-...