MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
32. FOLLOWING


__ADS_3

...FOLLOWING...


...(PENGIKUT)...


...●...


...●...


...●...


PONSEL yang sengaja ditaruh oleh Aurel di atas ranjang sedang berbunyi, pertanda ada sambungan telepon entah dari siapa.


Tak langsung mengecek. Aurel membereskan terlebih dahulu barang-barangnya usai mengerjakan tugas makalah mengenai Bioteknologi.


Baru setelah itu, ia mulai bangkit dari kursi di meja balajar mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.


“Halo… Kenapa An. Gue baru aja nyelesain tugas biologi. O ya, gimana dengan tugas lo? Udah selesai kan?”


“Udah kok.”


“Terus ngapain telepon tengah malam?”


“Biasa Rel. Insomnia.”


Aurel mengambil posisi terbaik, merasa capek terusan berdiri di sebelah ranjang. Setelah mendudukkan tubuhnya di kasur, tangan yang satunya lagi bergerak mengambil guling dan menyimpan benda tersebut di atas pangkuannya.


“Lo punya masalah apa? Cerita deh sama gue kali aja dengan begitu lo bisa tenang.” Aurel sudah tahu jalan hidup sahabatnya. Kalau udah insomnia, berarti ada hal yang sedang terjebak di dalam pikirannya.


“Hmmm… Ini tentang Danial Rel.”


“Danial?” ulang Aurel, “Kenapa sama dia?”


Gadis di seberang sana sedang tersipu, tersenyum, pipinya juga memerah. Tampaknya dia sedang bahagia, “Sejauh ini gue sangat yakin Rel, kalau gue emang suka sama dia.”


Aurel tidak yakin dengan perasaan yang tiba-tiba menyerangnya. Ucapan yang sama pernah tergulir dari bibir Leana saat mengunjungi rumahnya tetapi pengakuannya kali ini benar-benar menusuk hati terdalamnya.


Aurel hanya menyengir meski sadar Leana tak dapat melihat deretan giginya. Sejujurnya dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa.

__ADS_1


“Rel, kok elo diam sih.”


“Eh iya gue lagi baca-baca tugas biologi gue nih, takutnya ada kesalahan.” Aurel memilih berdusta.


“Kalau gitu teleponnya gue tutup dulu ya, soalnya udah larut. See you tomorrow!” kemudian setelahnya sambungan telepon pun terputus.


Baru saja desahan panjang terdengar dari bibir Aurel, tiba-tiba ponselnya kembali berdering.


Bukan Leana, justru nama Danial lah yang tertulis di sana.


“Ngapain dia nelpon gue malam-malam?” gumamnya sembari menilik ponsel di tangan.


Sempat ada niatan untuk tidak mengacuhkan teleponnya, tetapi asumsi yang dibuat kepalanya membuat gadis itu urung melakukannya. Aurel takut telepon itu penting.


“Ya,” Aurel mulai berbicara saat ponsel ditaruhnya ke depan telinga kanannya.


“Lo sibuk gak?” tanya pria di seberang sana.


“Enggak juga,” jawab Aurel dengan kernyitan. “Kenapa emang?” imbuhnya penasaran.


“Gue ke rumah lo ya?”


“Ya udah, gue cerita di telepon aja ya!”


“Ho-oh.”


“Jadi gini, beberapa waktu lalu ada hantu yang ngikutin gue. Mukanya serem pokoknya. Dia sejenis kuntilanak tapi bajunya warna merah, beda dari kuntilanak pada umumnya.”


“Kok bisa ngikutin?”


“Enggak tau juga. Mungkin dia ngefans kali ama gue, kan gantengnya gue udah ada sejak jaman orok,” kata Danial belagu. Ia masih sempat bercanda. “Ahhhhh!” mendadak pria di seberang sana malah memekik. Dan setelah itu sambungan telepon terputus.


Hening. Hanya menyisakan raut khawatir di muka Aurel. Tanpa pikir panjang Aurel balik menelpon Danial.


Nomor yang anda tuju sedang…


“Ah sial, Danial malah bikin gue khawatir,” sesaat setelah menyimpan ponsel di sisinya, Aurel lalu mengangkat tangan menggigit kuku jarinya—sudah jadi kebiasaan tiap kali dirinya merasa khawatir.

__ADS_1


...●●●●●...


“SEMALAM LO KENAPA SAMPAI TERIAK? TERUS PAS GUE NELPON BALIK KENAPA PONSEL LO GAK AKTIF? LO GAPAPA KAN?” Danial baru saja duduk di sebelahnya saat pertanyaan tersebut terlepas dari bibir Aurel. Alih-alih dengan satu buah pertanyaan, Aurel malah melempar tiga buah pertanyaan.


Tentu saja kejadian semalam membuat Aurel kesulitan untuk terlelap. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Danial. “Gue lagi nanya bege! Dijawab kek, malah nyengir lu.”


“Lucu aja tiba-tiba lo khawatir sama gue. Jangan-jangan lo mulai ada rasa ya sama gue.”


“Jangan kepedean! Gue cuma penasaran doang kok, gak lebih,” dalih Aurel. Tak tahu kenapa tetapi ucapan Danial membuat kedua pipinya memanas, kalau dijelaskan mungkin rasanya akan menyamai waktu Aurel mulai jatuh cinta dengan pria bernama Denis.


Danial tersenyum miring menolehkan mukanya pada Aurel. Jarak diantara mereka hanya terpaut beberapa senti. Aurel bisa merasakan aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh pria itu, “Penasaran adalah awal dari hadirnya rasa cinta. Oh jadi ini alasan sampai lo nyuruh gue datang sepagi ini ke sekolah?”


Aurel tidak sanggup menahan diri berlama-lama duduk di sebelah Danial. Ia sungguh menyesal menelpon Davina subuh-subuh, meminta bantuannya untuk menyuruh Danial berangkat lebih pagi ke sekolah.


Aurel bangkit, rencananya ingin meninggalkan kelas. Tapi sayang pergerakan Danial tak kalah cepat menarik lengannya sehingga gadis itu kembali dalam posisi duduknya. “Duduk dulu! Jadi, semalam ponsel gue jatuh pas kebetulan liat hantunya. Makanya pas lo nelpon balik nomor gue…”


“Siapa juga yang nelpon balik elo!” gengsi Aurel untuk mengakuinya. Tak tanggung ia menginterupsi seakan tak rela Danial menyudahi ucapannya.


“Kan lo sendiri yang bilang kalau hape gue udah gak aktif pas lo nelpon balik,” bingung Danial. Belum juga genap enam puluh menit sejak Aurel mengucapkannya, sekarang ia sudah lupa.


“Gue? Nelpon balik? Mimpi kali lo.” Aurel masih keras kepala. Ia tak mau mengakuinya. “Gue mau ke toilet dulu.”


Tangan Danial kembali menahannya.


“Kenapa?”


“Hantu yang ngikutin gue lagi berdiri di pintu Rel.” Danial menutup matanya dengan tangan yang satunya lagi. Dia tidak mau melihat objek menyeramkan tersebut.


Aurel baru saja mengadu matanya dengan sosok kuntilanak dengan pakaian berwarna merah di pintu kelas. “Cemen banget sih lo Dan, gitu aja dibilang serem.”


“Emang serem gilak! Lo perhatiin aja tuh matanya yang melebar!”


“Tunggu di sini, gue mau nanya sama hantunya kenapa dia bisa buntutin lo.”


“Percuma, gue udah coba!” sela Danial, “Hantunya mungkin bisu.”


“Kali aja dia gak mau ngomong sama lo,” jawab Aurel.

__ADS_1


...~To be Continued~...


__ADS_2