
...HAPPINESS...
...(KEBAHAGIAAN)...
...●...
...●...
...●...
KATA orang kebahagiaan itu sangatlah sederhana. Tetapi anehnya masih ada beberapa orang yang merasa dirinya tak memiliki kesempatan untuk mendapatkannya. Sebenarnya bukan tak memiliki sisi bahagia, bisa jadi orang yang merasa seperti itu tidak pandai dalam mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan.
Aurel tentu saja merasa sangat senang. Sekarang hidupnya telah melewati fase di mana dia terjebak dalam kondisi dilema—harus memilih antara teman dan orang yang dicintainya.
Sekarang Aurel percaya bahwa setiap kesedihan akan berakhir dengan sebuah kebahagiaan. Belajar dari alam, tiap kali awan gelap muncul dan mejatuhkan hujan, pasti tak lama kemudian hujan akan berhenti kemudian pelangi akan muncul melukiskan sebuah senyuman penuh warna.
"Sayang, kok bengong sih."
Aurel tersentak, "Gapapa kok."
"Sebelum berangkat ke sekolah aku mampir ke rumah kamu, tapi Nakula bilang kalau kamu udah berangkat duluan."
"Aduh, maaf ya. Kirain hari ini kamu belum masuk sekolah," Aurel merasa sedikit bersalah mendengar Danial datang ke rumahnya disaat gadis itu berangkat dengan ojek online tadi pagi.
Kemarin lebih tepatnya Danial tidak masuk sekolah. Alasannya karena pria itu sedang demam. Oleh karena itu Aurel tak pernah kepikiran kalo Danial sudah balik ke sekolah hari ini juga.
"Oh iya," sambil mengucapkannya pria itu juga mengambil sesuatu dari dalam ranselnya. "Nih ada titipan dari calon adek ipar kamu," Danial menyerahkan novel ke tangan pacarnya dengan lembut, "Davina nitip pesan katanya buku itu recommended banget untuk kamu baca."
"Wah aslinya setebel ini ya?" Aurel menerka berat novel yang sedang diudarakan depan wajah.
"Sebelum baca novel, kamu harusnya baca hati aku dulu," gombal Danial. Dampaknya membuat Aurel menatapnya sambil mesem-mesem.
"Udah mulai gombal-gombal, diajarin siapa kamu?"
Setelah mendudukkan tubuhnya di kursi kosong sebelah pacarnya, pria itu pun menggerakkan sudut bibirnya. "Aku aslinya romantis kali."
"Iya deh, semerdeka kamu aja."
"Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga ya. Kemarin kita berdua masih berantem, dan hari ini kita udah jadian aja."
"Iya. Hati memang kagak ada yang tau," sambung Aurel.
"Waktu itu aku inget banget gimana bencinya aku sama kamu. Tapi liat sekarang? Alih-alih membenci, kamu justru jadi prioritas dalam kepalaku."
"Lebay ah!"
"Serius sayang." Danial bersikeras.
"Oh ya, kemarin satu sekolah heboh loh!" Aurel terdengar antusias saat mulai bercerita. Ia mengalihkan topik dengan dalih menghindari ucapan Danial yang justru membuatnya melting.
Tatapan Danial meredup dalam rentan waktu sepersekian sekon, "Heboh karena kita pacaran?" sambung Danial sambil menerka-nerka.
Aurel menggeleng. Sementara Danial masih saja meredupkan tatapan padanya.
__ADS_1
"Kemarin Haris nembak Leana."
"Terus kenapa bisa sampai bikin heboh?" heran Danial. Nyatanya, baik Leana ataupun Haris tidak termasuk dalam list primadona sekolah. Lantas apa yang membuatnya sampai heboh?
"Haris bener-bener keren ya! Aku aja gak nyangka kalau dia akan berbuat nekat dengan menembak Leana di depan orang banyak."
"Mereka jadian?"
"Ho-oh," jawab Aurel.
...●●●●●...
PERPADUAN antara jijik dan kesal terpampang nyata lewat ekspresi yang diperlihatkan oleh Irgi dan juga Vernon. Keduanya sangat menyesal duduk di meja yang sama dengan yang diduduki oleh pasangan baru jadian.
"Nih sayang, yang terakhir." Leana berhasil menyendokkan potongan bakso terakhir ke dalam mulut sang pacar.
"Cringe banget dah liatnya," Vernon mengedikkan bahunya begitu kalimat tergulir dari bibirnya.
"Duain," sambung Irgi, membenarkan yang dikatakan oleh Vernon.
Lebih dulu menenggak minuman pemberian Leana sebelum akhirnya Haris menatap teman-temannya secara bertahap. Sebuah senyum remeh lahir dari bibirnya. "Iri bilang, gak usah pada misuh-misuh."
Leana mengelap sisa makanan di bibir Haris dengan selembar tisu yang baru ia ambil dari atas meja.
"Nyesel gue duduk di mari. Liatin hal gak berfaedah kayak gini bikin mata sakit tau gak," ucap Vernon mengaduh.
"Enak aja ngatain gak faedah. Gini ya, ini tuh namanya romantis. Makanya pacaran sana, supaya lo bisa bedain." Leana memberi protes menggunakan kalimat setajam belati.
"Romantis? Gini lo bilang romantis?" tanya Vernon.
"Ini mah gak ada romantis-romantisnya. Di mata gue kalian berdua gak kayak couple sama sekali. Malah, jatohnya kayak emak-emak yang lagi nyuapin anaknya." Vernon tertawa puas.
"Kayak lo gak gitu aja sama Naila," ujar Leana lalu menarik bibirnya ke samping.
"Naila?" ulang Irgi dan Haris kompak. Kalimat yang tergulir dari bibir Leana mengandung tanda tanya besar. Apalagi nama Naila terlalu asing bagi keduanya.
Siapa Naila? Setidaknya kalimat itulah yang sedang terjebak dalam batin Irgi dan juga Haris.
Rahang Vernon terjatuh bersamaan dengan bahunya merosot ke bawah. Ia tak mengira Leana tahu rahasianya.
"Tahu dari mana lo soal Naila?" tanya Vernon. Pria itu merasa sedikit aneh. Pasalnya Naila bukanlah murid dari SMA Angkasa Raya. Sah-sah saja pria itu memasang tampang terkejut saat Leana mengungkapkan tentang ketahuannya soal hubungan yang terjalin antara Vernon dan Naila.
"Naila sepupu gue. Makanya gue bisa tahu hubungan yang terjalin diantara kalian. Gue bahkan tahu kok kalau lo sering bawain dia makanan, sering nganterin dia ke tempat les, bahkan gue juga tahu kalau lo sering nganterin dia ke salon."
"Ck," Haris berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak habis pikir.
"Ngatain orang, padahal situ lebih cringe," sambung Irgi, mengembalikan label cringe yang sempat dipersembahkan Vernon kepada Haris dan Leana.
Pria bernama Vernon itu memilih menunduk setelah mengambil ponsel dari dalam saku. Ia bertingkah seolah-olah sibuk dengan ponsel—padahal kenyataannya ponsel di genggamannya sedang dalam keadaan mati alias low battery.
...●●●●●...
AUREL sangat terburu-buru menuju ke tempat ini setelah Leana mengiriminya gambar. Di gambar tersebut terlihat sepasang insan sedang duduk bersisian di kursi taman.
__ADS_1
Memang benar bahwa posisi keduanya sedang membelakangi kamera, tetapi Aurel sudah sangat yakin jika pria itu memang Danial. Terbukti dari hair cut dan juga jaket denim yang sering dikenakan olehnya.
"Danial!"
Danial bergerak cepat mengambil posisi berdiri meninggalkan gadis yang sebelumnya ia rangkul. Setengah berlari pria itu membawa langkah kakinya sampai jaraknya dengan sang pacar tersisa semeter.
"Jadi gini kelakuan kamu di belakang aku?" Aurel memandang arah lain saat memberikan pertanyaan. Mendadak ia merasa tak sudi menatap lawan bicaranya.
"Aku bisa jelasin!" jawab Danial.
"Pantas aja ya, dari tadi nomor kamu gak aktif. Ternyata kek gini kelakuan kamu," tanpa dikomando, air mata telah berderet dari setiap sudut matanya. Perasaan Aurel saat ini tak ubahnya gelas yang baru saja dipecahkan. Ia tak menyangka Danial akan berbuat seperti ini.
"Ini gak seperti yang kamu bayangin," Danial masih mengelak meskipun semuanya telah jelas.
"Cukup Danial, kamu udah bikin aku kecewa. Harusnya kamu bilang kalau memang kamu gak suka lagi sama aku, supaya kita bisa akhirin semuanya secara baik-baik. Bukan selingkuh di belakang aku kayak begini!"
"Happy birthday," Danial baru saja menerbitkan senyuman. Tak lama berselang ia mengambil cokelat dari dalam saku, lalu tangan yang menggenggam cokelat itu terulur.
Aurel mengelap air matanya, ia menepis pergerakan tangan Danial yang hendak memberikannya sebuah cokelat, "Jangan ngaco! Hari ini aku gak ulang tahun."
Aurel berjalan. Ia ingin menemui gadis yang sebelumnya dirangkul oleh pacarnya.
"Davina!"
Tidak sesuai harapan. Gadis yang sebelumnya dirangkul oleh Danial tak lain adalah Davina, adik kandungnya sendiri.
Happy birthday to you, happy birthday to you...
Davina bangkit membawa cake dengan lilin masih menyala. Bibir Davina saat itu sedang menyanyikan lagu khas ulang tahun. Tak lama berselang, Danial pun datang sambil merangkul Aurel yang masih bergeming tidak bisa berkata apa-apa.
"Make a wish dulu Kak, sebelum lilinnya ditiup!"
"Tapi kan ulang tahun aku udah lewat beberapa hari..." ujar Aurel tetapi tertahan.
"Udah tiup aja!" celetuk Leana yang baru saja datang bersama Haris. Leana menatap Aurel sambil menerbitkan senyuman yang dapat diartikan sebagai senyum ejekan.
Setelah meniup lilin, Aurel langsung menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Jangan bilang kalau gambar yang lo kirim ke gue cuma bagian dari rencana ini," tuntut Aurel memamerkan ponsel yang memperlihatkan gambar kiriman Leana.
"Maaf," Leana menyengir memperlihatkan simbol perdamaian lewat jari tengah, juga telunjuk yang terangkat diwaktu bersamaan.
"Oh iya," baru saja Aurel membawa fokus perhatiannya ke Danial. "Aku minta maaf ya karena sempat misuh-misuh sama kamu."
"No problem, sayangku," jawab Danial dengan nada suara selembut mungkin. "Aku juga mau minta maaf, karena telat rayain ulang tahun kamu. Kalau bukan Leana yang nyampein, kemungkinan aku bakal lupa. Tapi janji deh, tahun berikutnya, dan tahun berikutnya lagi aku akan selalu di samping kamu."
"Gak ada ucapan makasih nih untuk calon adek iparnya?" goda Davina mengambil perhatian. Segera tawa renyah menyambutnya saat gadis itu menandaskan kalimatnya.
...~To be Continued~...
...●●●●●...
...Siapa nih yang ngira Danial bakal selingkuh???...
__ADS_1
...Maaf ya... selama ini saya selalu bikin kalian greget tiap BAB nya. Maaf juga kalau masih banyak kesalahan-kesalahan...