MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
19. PLAYING WITH THE GHOST


__ADS_3

......PLAYING WITH THE GHOST......


...(BERMAIN DENGAN HANTU)...


...●...


...●...


...●...


“GAK ADA YANG KELUPAAN, KAN?” tanya Akash ketika pintu mobil ditutupnya lalu membawa kedua tangan sampai tertaut di setir.


“Gak ada kok Om,” jawab Davina.


“Eh tunggu bentar Pah,” potong Aurel cepat setengah panik membulatkan matanya. “Aurel lupa bawa baju ganti Pah.” Gadis dengan tubuh yang dibalut pakaian olahraga keluar dari mobil untuk mengambil baju ganti di kamarnya.


“Kakak gak lupa kan sama baju gantinya?” Davina menoleh ke arah sang kakak yang kebetulan duduk di sebelahnya.


“Lupa juga hehehe,” Danial menyengir sebelum ikutan turun dari mobil menuju kamarnya di lantai atas.


Aurel dan Danial yang sebenarnya hendak ke lantai dua dicegat oleh Sarah yang kala itu datang membawa dua buah paper bag.


“Nih baju batik kalian, habis olahraga kalian wajib ganti baju lagi kan.” Sarah memberikan paper bag bawaannya untuk Danial dan Aurel.


“Maaf ya Tan, Danial jadi ngerepotin.” Ucap Danial merasa tidak enak.


“Gapapa, kamu kan udah dianggap keluarga di sini.” Sarah mengumbar senyuman ramahnya, “Ya sudah sana, ntar kalian malah telat lagi.”


Hari ini Danial, Aurel, dan Davina berangkat lebih pagi dari biasanya. Itu karena kondisi Nakula sedang kurang fit sehingga kewajibannya mengantar mereka ke sekolah terpaksa diserahkan kepada sang ayah. Berhubung hari ini Akash harus tiba di kantor lebih cepat membuat ketiganya turut serta datang ke sekolah lebih pagi dari yang seharusnya.


...●●●●●...


WAJAH Danial tampak berseri dari biasanya. Maklum, semalam ia numpang tidur di kamar Nakula, sehingga makhluk dari dimensi lain tak banyak yang mengganggunya.


Kedua kaki miliknya masih terangkat menapaki setiap anak tangga yang menghubungkan lantai satu menuju ke lantai dua tempat di mana kelasnya berada. Belum juga sampai ke lantai dua langkah kakinya pun terhenti. Tak lama berselang pria tersebut memutar badannya sehingga matanya beradu dengan mata milik Aurel yang justru balas menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti maksudnya.


“Setelah olahraga, pelajaran selanjutnya apaan?” tanya si pria.


“Serius lo bahkan gak tau jadwal pelajaran hari ini.”


Danial berdecak mulai kesal. “Jawab aja!”


“Bahasa inggris,” jawab Aurel dengan nada malas.


“Ada tugas gak?” tanyanya mengangkat salah satu alisnya.


“Ada,” singkat Aurel.


“Lo udah selesai?”


Aurel mengangguk.


“Gue pinjam buku lo ya?”

__ADS_1


Aurel menggeleng cepat. “Enak aja, gue yang capek-capek kerja lo malah enak tinggal nyontek.”


“Pelit!” ledek Danial. Cukup singkat namun dampaknya membuat gadis di depannya mengembuskan napas pertanda kesal.


“Ingat ya,” Aurel mengarahkan telunjuknya hampir mencolok bola mata milik si pria menyebalkan, “Bukan gue yang pelit, lo nya aja yang tukang minta-minta.”


Aurel sempat memperlihatkan ekspresi iblis saat menandaskan kalimat penuh cibirannya kepada pria yang memang pantas mendapatkannya. Tak mau lama di sisinya membuat kakinya lanjut menapaki tangga.


Sial. Sosok bayangan putih membuat jantung Aurel nyaris copot. Hanya sekadar lewat tapi bayangan itu jadi alasan Aurel mengambil langkah mundur. Naas ujung sepatunya yang salah pijak membuatnya hilang keseimbangan.


Hap.


Mudah bagi Danial untuk menangkap tubuh mungil milik Aurel yang saat itu hampir menubruk ubin jika saja pergerakannya tak sigap menangkap tubuhnya.


“Gue kasi dua pilihan. Lo kasi gue tugas bahasa inggrisnya atau tubuh lo gue biarin nubruk ubin!” lebih dulu senyum remeh diperlihatkan sebelum kalimat berisi ancaman terlepas dari bibirnya.


“Bener-bener lo ya!” kata Aurel tidak habis pikir dengan Danial yang justru mengambil kesempatan dalam kesempitan.


“Ah,” Aurel memekik keras juga menutup matanya kuat-kuat saat Danial coba melepaskan tangannya.


Danial tersenyum puas, “Gimana?”


“Iya deh, gue bakal pinjamin lo buku gue.” pasrah Aurel.


“Janji?”


“Iya, percaya deh sama gue!”


...●●●●● ...


“Nih liat tugas gue!” dengan sombongnya Danial membuang buku catatannya di depan meja Haris yang kala itu sedang sibuk mencari contekan.


Haris mendongakkan kepala. Membawa tatapannya itu agar berfokus di wajah Danial. “Tumben gercep, biasanya juga lo nyontek tugas gue.”


“Mau gak?” tanya Danial, “Kalau gak mau ya sudah…”


Haris secepat kilat menyambar buku di depannya mendahului pergerakan Danial, “Iya deh, daripada gak ada sama sekali.”


Sementara Haris menyalin catatan bahasa inggris milik Danial. Danial justru memilih keluar kelas bersama paper bag berisikan baju ganti pemberian tante Sarah.


Kebetulan saat di koridor Danial bertemu dengan Vernon.


“Ver!” pekik Danial.


Disaat yang bersangkutan menolehkan mukanya Danial pun memperlihatkan gestur memanggil menggunakan telapak tangannya. “Lo mau ke mana?” tanya Danial saat jaraknya dengan pria itu semakin dekat.


“Mau ke lantai tiga,” jawab Vernon menunjuk arah atas alias tempat di mana kelasnya berada.


“Pelajaran lo yang pertama apaan?”


“Agama,” singkatnya.


“Habis agama apaan?”

__ADS_1


“Olahraga.”


“Kebetulan,” Danial membuat Vernon melukiskan tampang bingung dengan perkataannya barusan.


“Kebetulan apa?” tanya Vernon lebih lanjut daripada larut dengan rasa penasaran.


“Hari ini pak Hapid gak masuk jadi jam olahraga kosong. Daripada lo diem di kelas kayak orang idiot lebih baik lo temenin gue ke toilet. Gue pengin ganti baju.”


“Harus ditemenin?”


“Iya.”


“Kenapa gak di kelas aja. Gue kalau abis olahraga ganti bajunya di kelas kok, gak dibikin ribet sampai ke toilet segala,” Vernon menjelaskan.


“Kita beda Bro!” sanggah Danial.


“Beda gimana? Kita berdua kan sama-sama pakai batangan. Emang lo abis operasi ganti kelamin.”


“Barang gue tuh lebih berharga daripada harga diri lo!” ucap Danial menyudutkan.


“Astagfirullah Danial.”


...●●●●● ...


DISAAT-SAAT seperti ini Danial baru ingat Tuhan. Sejak awal masuk sampai detik ini bibirnya masih berkomat-kamit memanjatkan doa agar dirinya dilindungi dari segala aktivitas makhluk dari alam lain.


Sekali-kali ia mendongak mencari tanda-tanda mereka. Tapi beruntung karena belum ada satu pun makhluk aneh yang didapatinya.


“Danial,” iringan suara Vernon disertai bunyi gedoran di pintu membuat Danial tersentak kaget, “Lama amat sih lu ganti baju doang, udah kayak nyokap gue pas lagi ke kondangan,” rutuk Vernon dari luar.


“Sabar *******!” jawab Danial.


Danial mencoba fokus pada tujuannya datang ke toilet. Pria itu mulai melepas baju olahraga yang sedari tadi menutup tubuh atletisnya. Nampaklah perut kotak-kotaknya dari cermin yang bertautan dengan tembok toilet.


“Menjauh lu setan *******!” semprot Danial tak tanggung-tanggung setelah sosok wanita berambut panjang berdiri di sebelahnya. Bahkan sebelum sosok menyeramkan tersebut muncul, Danial telah merasakan aura kurang sedap dengan penegasan berupa bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang.


Untungnya Danial belum sempat menurunkan celananya sehingga setan menyebalkan itu belum sempat menyaksikan masa depannya yang berharga.


“Jangan cabul jadi setan! Gue emang ganteng tapi gak gini juga sampe nyuri kesempatan liatin tubuh gue,” Danial bertingkah seperti diambang batas kesadarannya. Dia bahkan menceramahi sosok menyebalkan itu sampai benar-benar lenyap tak berbekas.


“Ngomong sama siapa lo?” pertanyaan itu diterima Danial saat pintu toilet dibukanya dan menampilkan sosok Vernon sedang berdiri dengan kening mengkerut. Sekarang tubuh Danial telah dibalut seragam batik seperti yang digunakan oleh Vernon saat ini.


“Sama setan,” jawabnya dengan muka yang masih sarat akan rasa kesal.


“Lo diapain sama setannya? Gak sampai dicabulin kan?” ejek Vernon lalu menahan gelak tawanya yang sudah diujung tanduk.


“Mata lo yang dicabulin!” kesal Danial. Pria itu meninggalkan toilet dengan langkah seribu.


“Cie, diintip sama setan,” lanjut Vernon menggoda.


“Gue jambak ya mulut lo!” ancam Danial.


“Oke, gue diam!”

__ADS_1


...~To be Continued~...


...●●●●●...


__ADS_2