MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
66. TRUTH OR DARE


__ADS_3

...TRUTH OR DARE...


...(JUJUR ATAU TANTANGAN)...


...●...


...●...


...●...


KALAU saja Aurel tahu dari awal jika Danial akan bergabung mungkin gadis itu akan berpikir ulang dalam hal mengiyakan ajakan Leana. Masalahnya sekarang ini gadis itu sedang tidak tahu harus melakukan apa-apa selain terdiam sambil memainkan hapenya. Sementara yang lainnya asyik tertawa merespon lawakan Vernon dan Irgi.


"Bosan gue ngelawak," eluh Vernon kepada semuanya. "Ternyata ngelawak juga butuh banyak energi, gue sampe keringetan njir," sambungnya. Tangan miliknya terulur meraih selembar tisu dan segera digunakannya sebagai alat untuk menghapus deretan keringatnya yang memenuhi pangkal hidung serta area dahinya.


"Cari permainan yang lebih seru!" saran Haris.


"Gimana kalau kita main boneka-boneka aja," usul Vernon yang segera mendapatkan pelototan dari Haris, Irgi, begitu juga dengan Danial.


"Yeh itumah mainan lo sejak kecil," pedas Danial terhadap Vernon.


"Enak aja main asal tuduh, mainan favorite gue sejak kecil mah masak-masak, kalau main boneka itu mah nomor dua."


"Kampret lu!" kesal Danial yang segera diikut tabokan di bagian punggung Vernon. Bukannya meringis Vernon malah tertawa meresponnya.


"Dari pada dengerin saran kagak jelas dari Vernon, mendingan lo pade dengerin saran gue. Seenggaknya saran gue jauh lebih berfaedah dibanding saran si Vernon," Leana baru saja bersuara dan segera memborong perhatian. Bahkan Aurel yang sibuk dengan ponsel memilih meletakkan benda pipih miliknya itu ke pangkuan lalu menanam fokus mata ke Leana.


"Apa saran lo, coba sini gue denger!" Vernon tersenyum remeh di seberang sana.


"Gimana kalau kita main truth or Dare?"


"Lo kate kita semua anak SMP, sampai lo ajakin main truth or dare. Kayak gak ada permainan lain aja. Mendingan ngikutin saran gue sebelumnya dari saran lo ini," cerocos Vernon terang-terangan tidak mendukung ide Leana.


"Aku setuju kok sayang sama ide kamu barusan," sambung Haris.


"Ah elah palingan Haris ngedukung lo cuma karena alasan kalian berdua pacaran aja. Coba kalau enggak, pasti dia gak bakal setuju sama ide lo barusan."


"Hmmm.... Tapi gue setuju sih sama ide lo An. Cukup menarik sih main truth or dare," Irgi membagikan pendapatnya. Dari pada ide ngaco Vernon, Irgi kiranya lebih setuju dengan ide Leana.


"Gue juga setuju," jawab Danial.


"I also," Maurine tak ketinggalan ikut memberikan suara.


Dan sekarang semua mata tertuju kepada Aurel selaku orang yang belum ikut andil memberikan suara.


"Lo gimana Rel? Setuju kan sama idenya Leana?" tanya Haris.


"Gue setuju kok," Aurel menjawab tak lupa memberikan sebuah anggukan.


Segera Haris menuju dapur. Cukup lama pria itu meninggalkan teman-temannya sebelum dia kembali membawa sebuah botol kosong. "Pokoknya siapa pun yang kena tunjuk sama tutup botolnya, berarti orang itulah yang akan memulai permainan. Gue yang muter ya."


Semua mengangguk serempak. Botol di tangan Haris kini diputar. Botol bening yang tadinya berotasi dengan cepat kini melambat seiring berjalannya waktu. Semuanya tampak menegang dalam diam. Beberapa bahkan tak rela jika botolnya menunjuk diri sendiri.


Rupanya dewi fortuna sedang tidak memihak Haris. Tutup botolnya mengarah tepat di hadapan pria itu. "Ya elah, malah nunjuk gue lagi nih tutup botol."


"TRUTH OR DARE?" pertanyaan itu diucapkan secara serempak oleh Leana, Maurine, dan juga Irgi.

__ADS_1


"Truth aja dah," setelah lama berpikir akhirnya pria yang statusnya sebagai pacar dari Leana itu menjatuhkan pilihan pada truth ketimbang dare.


"Menurut lo di SMA Angkasa Raya, ada gak sih cewek yang lebih cantik dari Leana?" tanya Vernon. Pria itu mengulum senyum setelah pertanyaannya digulirkan.


"Ih gak adil woi, kok pertanyaannya kek gini?" protes Haris. "Awas aja ya Ver kalau misalkan hubungan gue sama Leana merenggang setelah permainan ini."


"Jawab aja udah!" Danial bersuara.


"Oke, jawaban gue banyak. Gue gak munafik. Di sekolah banyak kok cewek yang cantiknya lebih dari Leana. Tapi hati gue milih Leana karena dia udah buat gue nyaman."


"Nyaman?" potong Irgi dengan alis berkedut dan mata meredup. "Nyaman yang lo maksud tuh kek gimana sih? Jangan bikin otak gue travelling!"


"Itu mah otak lo aja yang bermasalah. Nyaman yang gue maksud di sini bukan bersifat negatif ya," ujarnya menjelaskan dengan penuh penekanan.


"Oh.... Kirain ke mana arahnya."


Vernon mengambil alih botol di meja. Sekarang dia yang ingin mencoba membuat benda tersebut berotasi. "Giliran gue yang muter botolnya."


"Ih katanya ide gue gak menarik, kok sekarang ikutan main," Leana mencibir.


"Diem lu anak ayam!" semprot Vernon menatap Leana dengan tidak suka.


"Sayang, liat deh si Vernon, aku dikatain anak ayam," rengek Leana manja.


"Vernon," tegur Haris.


"Iya deh gue salah," jawab Vernon.


Permainan berlanjut. Vernon adalah orang yang memutar botolnya kali ini. Dag dig dug. Kira-kira kalau dijelaskan dengan kata-kata seperti itulah bunyi detakan jantung mereka saat ini. Botol yang tadinya berotasi dengan cukup kencang kini berubah pelan sebelum akhirnya berhenti.


Sial! Kesal Aurel yang tertuang lewat batinnya. Kenapa harus dirinya yang ditunjuk oleh botol sialan itu?


"Truth or Dare?" tanya Vernon bersemangat.


"Truth," jawab Aurel.


Leana bisa melihat pergerakan sederhana di sudut bibir Danial yang kebetulan duduk berseberangan dengannya. Entah kenapa Leana begitu yakin bahwa Danial hendak menyudutkan Aurel lewat kalimatnya. Bukan tanpa alasan, Leana bisa menarik kesimpulan seperti itu lantaran Danial sempat menerbitkan senyum kejahilan beberapa detik sebelumnya.


"Apasih hal-hal yang lo gak sukai dari gue?" Leana memilih bertanya sebelum akhirnya Danial mendahuluinya. Dia tidak mau melihat sahabatnya diintimidasi oleh Danial. Terlebih lagi dengan kenyataan kalau Maurine—si gadis menyebalkan juga ada di tempat yang sama.


"Banyaklah pasti. Gue aja yang bukan temen lo punya banyak uneg-uneg buat lo," cibir Vernon.


"Topeng monyet diam aja ya, gue lagi gak ngomong sama lo," Leana membalas cibiran dari Vernon lewat kalimat menohok yang menusuk sampai ke tulang-tulang.


Danial merasa kesal. Sungguh dia tak mengira Leana akan mendahuluinya dalam hal memberikan pertanyaan pada Aurel. Padahal Danial telah menyiapkan sebuah pertanyaan yang mengarah pada perasaan Aurel saat ini terhadapnya. Untuk saat ini terpaksa Danial meredam kekesalannya yang sudah diubun-ubun lewat embusan napas ringan.


"Paling gue cuma gak suka aja kalau misalkan lo tiba-tiba ngagetin. Itu aja sih hal yang gue gak suka dari lo," Aurel menjawab pertanyaan dari Leana.


Permainan kembali berlanjut. Giliran Danial yang mengambil alih botolnya. Pria itu tak membuang banyak waktu. Segera dia memutar botolnya dengan harapan bahwa tutup botolnya nanti bakal mengarah pada Aurel. Setidaknya Danial ingin bertanya soal perasaan Aurel saat ini terhadapnya.


"Truth or Dare?" suara itu milik Haris. Dia dan yang lainnya sedang memberi perhatian kepada Maurine selaku orang yang ditunjuk oleh tutup botolnya.


"Truth?" Maurine menjawab sambil merapikan poninya.


"Ada gak sih cowok yang lo suka di kelas lo?" tanya Irgi.

__ADS_1


Semburat merah terlihat di kedua sisi pipi milik gadis itu. Hal itu diperparah oleh tatapan yang menyerangnya dari segala penjuru. Maurine merasa malu dan gugup disaat yang bersamaan.


"Ayo dong jawab!" seru Vernon.


"Ada," jawab Maurine. Suaranya sedikit pelan karena malu tengah menguasai dirinya.


"Siapa?" antusias Vernon ingin tahu orang yang katanya telah mengambil sebagian hati Maurine.


"Danial," jawaban dari Maurine sukses mengejutkan Irgi dan Vernon. Sementara Haris, Leana, dan Aurel tak begitu terkejut karena mereka mengetahui fakta bahwa Maurine dan Danial pernah terikat dalam hubungan asmara saat SMP dulu.


"Ayo loh, Dan. Udah dikasih kode tuh sama Maurine," goda Vernon.


Danial melirik Aurel diam-diam. Tampaknya gadis di sana sedang terdiam seolah tidak terusik. Atau jangan-jangan dia hanya sedang ber-acting seolah tak terjadi apa-apa? Danial juga tidak mengerti yang dirasakan oleh mantan kekasihnya itu.


"Hari ini tanggal berapa sih, Rin?" tanya Danial.


Pertanyaan dari Danial disambut lipatan dahi dan alis berkedut oleh Maurine sebagai objek yang ditujukan pertanyaan. Mengambil ponselnya yang tertelungkup di meja Maurine menekan tombol kunci. Dia mengecek tanggal di ponselnya. "Hari ini tanggal 17," benda berbentuk pipih yang ada di genggaman Maurine diarahkan dengan jarak beberapa senti ke depan wajah Danial. "Memangnya ada apa, kok nanya-nanya tanggal?" bingung Maurine. Menurutnya pertanyaan Danial terlalu random.


"Gue suka tanggal tujuh belas."


"Maksudnya?" penasaran Maurine.


"Tanggal tujuh belas adalah tanggal jadian kita."


"Bisa jelasin gak? Soalnya gue beneran gak ngerti maksud lo," bukannya berpura-pura bodoh. Maurine hanya ingin memastikan. Takutnya yang ada di pikirannya saat ini tidak sejalan dengan yang dimaksud oleh Danial.


"Barusan gue nembak lo."


"Serius?"


Danial tersenyum dan mengangguk.


"Berarti saat ini juga kita udah resmi jadian?"


"Iya," jawab Danial singkat.


Sebuah senyum miring diperlihatkan oleh Leana saat matanya melihat Maurine yang bergerak lincah memeluk tubuh Danial yang kala itu duduk di sebelahnya. Sementara Aurel sedang merasa sedikit kesulitan bernapas karena Danial menembak Maurine tepat di depan matanya. Kenyataannya tidak ada hubungan yang mengikat di antara dirinya dengan Danial, namun tetap saja hati kecil Aurel terasa berat tuk menerimanya.


"Ris, toilet di sebelah mana ya?" tanya Aurel kepada Haris selaku pemilik rumah.


Tangan Haris terulur maju menunjuk salah satu arah, "Tuh di sana, di sebelah tangga."


"Gue pamit ke toilet bentar ya," Aurel bangkit dari duduknya. Kepalanya menunduk melihat Leana yang justru mendongakkan kepala. "An, gue titip ponsel gue," Aurel menyerahkan ponsel miliknya ke tangan Leana. Lalu setelah itu dia mempercepat langkah menuju ke toilet.


Di toilet Aurel memandangi lekat kedua bola matanya yang dilapisi oleh cairan bening melalui cermin berukuran sedang yang menempel di tembok. Yakin sekali sebentar lagi cairan bening itu akan luruh dari setiap sudut matanya.


"Ngapa sih Rel pakek nangis segala lo. Dasar cengeng. Buat apa juga lo nangisin orang yang udah nyakitin lo? Lagi pun lo gak punya hubungan lagi sama dia. Wajar kalau dia membuka hati buat orang baru," ujarnya bermonolog seakan menyayangkan dirinya untuk menangisi seorang Danial Wirawan.


Sepertinya terhitung saat ini Aurel sudah menghabiskan tujuh menit di toilet. Hanya mengelap air matanya dengan punggung tangan, gadis itu pun bergegas meninggalkan toilet.


Klik! Begitu membuka pintu Aurel hampir memekik karena Danial sedang ada di depannya dalam posisi menyenderkan punggung ke tembok. Tersenyum miring pria itu mengulurkan tangan yang menggenggam tisu, "Nih, buat bersihin air mata lo."


"Siapa yang nangis?"


"Kelihat jelas di muka lo," tisu di genggaman Danial berakhir di genggaman Aurel sekarang ini. "Belum bisa move on dari gue ya?" bisik pria itu sebelum akhirnya dia masuk ke toilet. Tak lupa pria itu menutup pintunya dengan kekuatan penuh menyisakan suara berisik yang sudah jelas memekakkan telinga.

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2