MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
28. NEXT PAGE


__ADS_3

...NEXT PAGE...


...(LEMBAR SELANJUTNYA)...


...●...


...●...


...●...


“AUREL!” pekikan itu. Rasanya tak ada satupun manusia di SMA Angkasa Raya yang memiliki suara secempreng itu. Hanya Leana, Aurel sangat meyakininya.


Iringan langkah kaki terdengar semakin mendekat.


Aurel jadi bingung saat membalikkan badan dan melihat Leana tiba-tiba memeluknya, “Gue turut berduka ya Rel atas kepergian nenek lo!” erat sekali pelukan Leana sehingga menimbulkan efek sesak selama beberapa saat. “Oh ya, lo kapan baliknya dari Bandung?” Aurel tidak tahu harus menjawab apa. Saat melepas pelukannya, gadis bernama Leana itu sedang menatap sahabatnya seraya menanti jawaban.


“Maksudnya?” bingung. Setidaknya satu kata itu cukup mewakili perasaan Aurel kala itu.


“Danial bilang lo lagi ke Bandung, nenek lo meninggal katanya.”


Sialan si Danial. Aurel membatin.


“Lo duluan aja ya ke kelas, gue mau balik ke parkiran dulu, masih ada urusan!” Aurel bergegas pergi meninggalkan Leana yang masih sarat akan rasa bingung.


Dari kejauhan Aurel menyaksikan Danial masih menunggangi motor yang sebelumnya mereka kendarai ke sekolah. Pria menyebalkan itu terlihat khidmat memainkan ponsel. Saking seriusnya dengan benda pipihnya sampai tak menyadari Aurel telah berdiri di sebelahnya dengan tangan terlipat di depan dada.


“Ah sial,” Danial mengumpat. Ketenangan hidupnya sudah tak ada lagi setelah kecelakaan yang menimpanya. Bedanya mungkin terletak pada siapa yang mengagetkan. Kalau biasanya sosok hantu, sekarang ia dikagetkan oleh Aurel.


“Salam dulu kek, bikin sport jantung aja pagi-pagi.” Danial baru saja mengelus dadanya. Meski dentuman keras sedang berporos di dadanya tetapi dia menahan agar tampilannya tetap cool.


“Lo bilang apa ke Leana?” Aurel langsung pada tujuan utamanya balik lagi ke parkiran.


“Gue gak pernah cerita apa-apa sama dia? Emang kenapa?” Danial mengerutkan keningnya. Yakin sekali ia tak pernah berinteraksi verbal dengan Leana sewaktu Aurel absen selama dua hari.


“Aneh aja tiba-tiba dia meluk gue terus bilang turut berduka cita, dia juga sempet bilang kalau lo yang nyampein kabar itu.”

__ADS_1


Danial menyengir. Sekarang ia sudah memahami pokok permasalahannya. “Oh itu… kemarin pas pak guru lagi ngabsen, tak ada satupun temen sekelas yang tau kondisi lo. Jadi gue inisiatif deh bilang kalau lo lagi ke Bandung karena nenek lo meninggal.”


“Astaga Danial, lo pengin kualat ngatain nenek gue meninggal?”


“Bukannya emang udah meninggal ya? Kan beberapa bulan yang lalu nyokap sama bokap gue juga berangkat ke sana sama orangtua lo!”


“Iya sih, tapi…”


Danial berdecak. “Gini ya Rel. Daripada lo marah-marah kagak jelas, lebih baik bilang makasih deh sama gue! Udah baek gue gak jujur dan bilang lo gak ke sekolah karena cinta lo bertepuk sebelah tangan.”


“Hush!” Aurel panik dan segera membungkam bibir Danial dengan tangannya.


...●●●●●...


PERHATIAN bu guru tak henti menembak Aurel. Sepertinya kondisi gadis itu sedang tidak baik hari ini. Biologi adalah pelajaran favoritnya. Tak jarang Aurel bahkan mengajukan beberapa pertanyaan saat tak memahami materi. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya.


Berulang kali Aurel mencoba fokus pada buku paket di depannya. Akan tetapi huruf-huruf di sana seakan bergerak. Sepertinya tidak bergerak, hanya saja Aurel sedikit pening sehingga apa yang ia lihat seakan melawan hukumnya.


“Danial, Ibu minta tolong anterin Aurel ke UKS!”


Danial menoleh menghadap gadis di sebelahnya. “Lo sakit Rel?”


“Ya udah, yuk ke UKS. Gue anterin.” Heningnya kelas membuat murid lainnya mendengar ungkapan manis dari bibir Danial.


“Ehem. Bentar lagi ada yang cinlok nih.” Haris bersuara. Seperti dikomando, siswa lainnya pun meneriakkan kata ‘ciye,' secara serempak layaknya paduan suara.


Entah itu karena efek demam atau memang karena efek dari kata ‘ciye,’ yang pasti Aurel merasakan perubahan signifikan terhadap suhu di sekitaran pipinya.


Berbanding terbalik dengan Aurel. Danial justru menyikapi guyonan teman sekelas dengan tenang. Nyaris tak ada perlawanan darinya.


...●●●●●...


DANIAL meneguk salivanya kuat. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan.


Sangat disayangkan beberapa ruangan di sekolahnya seakan disetel dengan tampilan menyeramkan khas film horor. Hal itulah yang membuat Danial merasa sedikit terbebani. Apalagi saat ini ia sudah dikategorikan ke dalam list murid yang memiliki kelebihan melihat makhluk dimensi lain.

__ADS_1


“Takut?” Aurel mulai bersuara dengan nada lemah. Melihat Danial enggan melanjutkan langkah membuat gadis itu berani menyimpulkan asumsinya sendiri.


“Enggak,” dada Danial sedikit membusung. Sepertinya rasa gengsi untuk mengakui jadi alasan baginya untuk pura-pura berani. “Yuk masuk, lo gak perlu takut gue jalannya di depan kok.”


Aurel mengangguk sekali, tetap mengekor seraya menatap punggung Danial. Langkah pria itu terarah menuju salah satu ranjang yang ada di sana.


Danial bergerak cepat membalikkan tubuhnya. Tangannya tak kalah cepat menarik tubuh lemah milik Aurel sehingga gadis itu tenggelam dalam peluknya. “L-Lo G-Gak Per-lu takut! Ada gue!” suaranya bergetar mencoba menenangkan gadis dalam pelukannya.


“Danial!” tegur Aurel.


“Lo tenang aja! Gue bakal lindungin lo, gak perlu takut!”


Aurel nyaris biasa-biasa saja menyangkut hantu. Justru Danial lah yang terlihat begitu gusar setelah saling pandang dengan hantu penjaga UKS. Aurel bahkan bisa merasakan getaran tubuh si pria, yang mungkin saja berasal dari rasa takut yang menyerangnya.


“Danial.” Panggil Aurel sekali lagi. Gadis itu berusaha melepas tubuh Danial dengan tenaga seadanya.


“Jangan liat ke arah belakang gue! Dia bener-bener serem, sumpah!”


“Danial, kayaknya elo deh yang ketakutan, bukan gue!”


“Gue gak takut kok!” dalih Danial masih sempat-sempat meninggikan gengsi meski beberapa bukti telah terpampang jelas pada dirinya. Bibirnya yang terlihat berkomat-kamit membaca doa, peluh yang telah membanjiri permukaan wajahnya, belum lagi dengan getaran badannya. Bukankah semuanya sudah jelas? Bahkan anak TK pun tau kalau dia lagi ketakutan.


“Kalo gak takut, coba lo balikin badan dan tatap sosok itu selama sepuluh detik.”


Heningnya ruangan membuat suara ketika Danial meneguk salivanya terdengar jelas sampai ke telinga Aurel. “Kebanyakan, lima detik deh.” Danial menawar.


“Oke, lima detik!”


Tiba-tiba Danial memegangi perutnya saat terlintas dalam pikirnya untuk membuat alasan, “Aduh…. Perut gue sakit banget nih Rel, kebelet. Gue pamit duluan ya!” pria itu setengah berlari meninggalkan Aurel sendirian di dalam ruangan itu.


Aurel menerbitkan senyum. Lucu juga melihat Danial bertingkah seolah berani di hadapannya tetapi aslinya sangat ketakutan. “Danial, ternyata badan lu doang segede gaban, ciut juga lu sama hantu.”


Aurel lantas membawa tatapannya pada hantu yang sebelumnya menakuti Danial. Keduanya saling menatap selama beberapa detik.


“Minggir gak lu!” Aurel meneriaki sosok hantu berperawakan laki-laki tersebut. Ajaib, hanya berbekal teriakan, Aurel berhasil membuat sosok itu lenyap.

__ADS_1


Gak salah Nakula nyebut gue harimau betina. Jangankan manusia, bahkan setan pun takut sama gue. Batin Aurel. Ia lalu mengistirahatkan tubuhnya di ranjang.


...~To be Continued~...


__ADS_2