
...I'M JEALOUS?...
...(SAYA CEMBURU?)...
...●...
...●...
...●...
HUJAN jadi alasan kuat kenapa Danial batal memenuhi ajakan teman-temannya untuk ke kafe. Sempat merasa kesal sebelumnya karena hujan turun bersamaan ketika Danial telah membuka pintu rumah hendak pergi. Pria itu kesal bukan main karena hujan telah membatalkan rencananya. Dengan wajah kusut pria berambut klimis itu terpaksa membawa langkah kakinya menuju kamar. Di sana ia langsung saja menumbangkan tubuhnya ke ranjang tanpa membuka lebih dulu jaket denim yang menutup kaos oblongnya.
"Hujannya kenapa harus turun sekarang sih?" sepanjang jalan menuju ke kamarnya Danial tak henti mengutuk hujan yang seenaknya datang dan berdampak pada batalnya rencana yang dibuat. Padahal, tujuan utama ia pengin keluar adalah untuk mengurangi beban di kepalanya.
Sebuah embusan napas panjang terdengar. Sambil menatap langit-langit kamarnya yang bercat putih, pria itu memikirkan kembali kejadian tadi pas di sekolah. Apakah rasa cemburu itu masih ada? Danial berusaha untuk menanyakan hal itu pada dirinya. Meski pada akhirnya rasa gengsi di dalam dirinya mengalahkan apa yang hati kecilnya rasakan.
Drrt...
Tergesa-gesa Danial bergerak meraih ponselnya yang ada di dalam saku. Ia memeriksa pesannya. Pesan itu dari Maurine. Sebut saja sekarang Danial tidak punya pendirian. Tak bisa dipungkiri bahwa dia sempat berharap penuh bahwa pesan barusan dikirim oleh Aurel untuknya. Dan setelah mengetahui pesannya dari Maurine, saat itu juga pria itu diserang kekecewaan.
Ah sial!
Ponsel milik Danial yang masih menampilkan pesan dari Maurine telah berakhir di kasur. Sedikit pun tak ada niat membalas pesan dari Maurine yang cuma menanyakan yang Danial lakukan saat ini. Danial menganggap hal itu cuma sekadar basa-basi dan tidak ada unsur pentingnya sama sekali.
"Ternyata berpisah dengan lo gak semudah yang gue bayangin Rel," Danial bermonolog sambil mendengus. Dia pikir bakal mudah menjalani hari-harinya tanpa Aurel. Namun yang terjadi sekarang di luar konteks. Malah Danial semakin frustasi tanpa kehadiran gadis itu.
Kenangan-kenangan manis bersamanya kembali datang menyergap seakan tak ingin memberikan ruang bagi Danial untuk bernapas. Ada banyak sekali hal-hal sederhana yang membuat Danial sulit melupakan Aurel. Kadangkala hanya dengan melihat senyuman gadis itu Danial akan lupa dengan permasalahan yang sedang dialaminya.
Sampai sekarang pun dia belum menemukan jawaban kenapa senyuman yang terbit di bibir indah Aurel sangatlah mujarab. Mungkin itulah yang membuat Danial kesulitan melupakan Aurel sampai detik ini.
...●●●●●...
BAGAS menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuh bagian bawah pria itu dililit oleh handuk berwarna putih. Sementara tubuh bagian atasnya belum sempat ditutupi oleh kaos oblong. Kondisi rumah milik keluarga Bagas sepi. Kedua orangtuanya sedang keluar. Katanya mereka pergi untuk menjenguk kakaknya yang kebetulan kuliah di luar kota.
Bagas tidak pernah sepenakut ini sebelum-sebelumnya saat sendiri di rumah. Bukan takut akan pencuri sih, Bagas justru takut makhluk dari dimensi lain akan menampakkan dirinya mengingat apa yang dikatakan Aurel sewaktu di sekolah tadi.
"Siapa pun kalian, apa pun wujud kalian, saya harap jangan pernah menampakkan diri di hadapan saya!" ucap Bagas, suaranya bergetar bersamaan dengan kepalanya berputar ke segala penjuru untuk memastikan tidak ada satu pun makhluk halus yang hadir memperlihatkan wujudnya. "Tolong ya, jangan pernah berani-berani ngagetin saya. Saya kalau dikagetin biasanya bakal refleks ngasih tendangan. Buat kalian yang punya niatan untuk ngagetin saya lebih baik dibatalkan niatnya!" peringat Bagas dengan nada gagah nan tegas. Padahal dalam hati pria sok berani itu tak henti memanjatkan doa meminta pertolongan dari Tuhan.
Bagas melepaskan handuk yang menutup badannya dilanjutkan memasang piyama. Di luar sedang hujan. Makanya janji yang dibuat Bagas dengan teman sekelasnya terpaksa dibatalkan. Selain alasan hujan pun, Bagas sudah pasti tidak akan bergabung. Mama sama Papanya telah menghimbau supaya Bagas tidak keluar membiarkan rumah kosong demi untuk terhindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti biasa, sebelum tidur pria itu akan memainkan ponselnya membuka akun media sosial.
__ADS_1
"Ah sial," kontan pria itu memekik antara kesal dan kaget karena sumber penerangan di rumahnya tiba-tiba mati. "Apa jangan-jangan Mama lupa bayar listrik?" pikirnya. Tidak lama kemudian pria itu menyalakan flash ponselnya. Ia membawa langkah keluar rumah untuk memastikan apakah lampu tetangga juga padam atau justru tidak.
Saat membuka pintu utama rumahnya Bagas disambut oleh kilatan cahaya yang disusul oleh suara gemuruh dari petir. Hujan juga masih turun, bahkan jauh lebih deras dari sebelumnya. Tampaknya cuaca sedang buruk saat ini.
Mata Bagas meredup sedetik setelah kilatan cahaya membuat suasana jadi terang sesaat. Flash ponsel di genggaman segera di arahkan ke depan, menyenter tempat di mana pria itu menemukan kejanggalan. Nihil, dia tidak menemukan apa-apa di tempat yang sama. "Apa gue yang salah liat?" pikirnya. Saat kilatan yang berlangsung selama beberapa sekon itu muncul sebenarnya Bagas melihat ada sosok wanita berambut panjang berdiri di hadapannya. Anehnya bayangan itu ikut lenyap bersama sambaran kilat tadi.
Perasaan Bagas mulai tidak enak. Begitu dia berbalik badan, sosok perempuan berambut panjang itu kembali datang bersama kehadiran kilatan. Sayangnya Bagas lebih dulu berbalik sehingga indra penglihatannya tak lagi menjumpai makhluk seram tersebut.
Saat masuk di kamar. Kejanggalan lain muncul. Samar-samar suara tangisan terdengar dikeheningan ruangan kamar itu.
Bagas memaksa otaknya berpikir positif. Tetapi nihil. Suara yang tadinya samar semakin jelas seiring waktu berjalan. Jika diperkenankan menebak, yang terpikirkan oleh Bagas saat mendengar suara itu adalah sosok kuntilanak.
...●●●●●...
AUREL duduk di pinggir ranjang setelah menyalakan lilin sebagai pengganti sumber penerangan pasca sumber penerangan di rumahnya padam. Cuaca di luar sedang buruk. Hujan beserta petir menyambar-nyambar. Untungnya Aurel telah menikmati makan malamnya sebelum akhirnya lampu padam.
"Aurel, buka pintunya!" ketukan di pintu yang disusul oleh suara Nakula terdengar.
Setelah membuka pintu. Nakula mengatakan tujuannya datang ke kamar milik adiknya. "Kamu masih ada lilin gak? Barusan Kakak nyari di dapur tapi gak ada, malah Kakak cuma nemu ponsel kamu yang bunyi terus dari tadi," pria itu berbicara sambil mengarahkan flash ponselnya yang menyala ke depan, sementara tangannya yang satu lagi terlihat menggenggam ponsel milik adiknya yang ditemukan di dapur.
Mengerutkan keningnya Aurel merampas ponselnya bahkan sebelum Nakula mengulurkan tangannya. Dia tidak langsung mengecek siapa yang menelpon. Ponsel itu diambil dan dimasukkan ke dalam saku piyamanya.
"Tunggu sebentar. Aku ambilin dulu."
Dia menghampiri nakas mengambil lilin untuk diberikan kepada Nakula. "Nih, sekalian sama koreknya aku kasih."
"Makasih."
"Sama-sama," jawab Aurel. Nakula pun membalikkan badan dan pergi meninggalkannya.
Begitu Nakula bergegas pergi, pintu kamar pun ditutup oleh Aurel. Sebelum akhirnya ia mengambil langkah menghampiri ranjang mendadak saja ia kepikiran tentang perkataan Nakula sebelumnya. Buru-buru merogoh sakunya Aurel mengeluarkan benda berbentuk pipih kesayangannya. Diperhatikannya dengan lekat layar ponsel yang menampilkan panggilan tidak terjawab sebanyak enam belas dari nomor baru.
Aurel menekan tombol hijau balik menghubungi orang itu. Tidak lama berselang, sambungan teleponnya pun terhubung.
"Halo..."
"Ini gue, Bagas."
"Kenapa Gas, kedengarannya panik gitu suara lo."
__ADS_1
"Gue lagi diterror sama hantu Rel. Dari tadi gue udah coba hubungin lo tapi gak keangkat."
"Sorry, hape gue ketinggalan di dapur tadi, jadi gak denger kalau ada yang nelpon. Tapi sekarang lo udah gak digangguin, kan?"
"Masih Rel. Suara nangis kuntinya, malah makin kenceng sekarang. Dan asal lo tahu aja, sekarang gue lagi sembunyi dibalik selimut saking takutnya sama tuh makhluk."
"Jangan panik! Lo dengerin gue ya! Tarik napas lo dalam-dalam, lalu embuskan secara perlahan...." Aurel belum menyelesaikan kalimatnya dan pria di seberang sana telah menggerakkan sudut bibirnya sudah tak sabar menginterupsi yang Aurel ucapkan.
"Ayolah Rel, hal kayak gitu gak bakal ngebantu. Gue tuh lagi ketakutan, bukannya pengin ngelahirin sampai disuruh narik napas segala."
"Kalau gitu panggil anggota keluarga lo buat nemenin!" saran Aurel.
"Cuma ada gue sendirian di rumah. Bokap sama Nyokap gue lagi keluar kota."
"Terus gue harus ngelakuin apa lagi?" Aurel merasa bingung harus melakukan apa. Menggigit kuku jarinya sudah jadi kebiasaan tiap kali gadis itu sedang memaksa otaknya berpikir lebih jauh.
Aurel bisa merasakan yang Bagas rasakan saat ini. Awalnya memang tidak mudah bisa hidup berdampingan dengan makhluk tak kasat mata. Aurel saja yang sudah mampu melihat mereka dari lahir terkadang masih kaget tiap kali makhluk menyeramkan itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Bagaimana dengan Bagas yang kasusnya hampir sama dengan Danial?
"Gas!"
"Apa Rel?"
"Kuntilanaknya masih ada?"
"Masih. Tapi sekarang udah gak nangis-nangis lagi kayak sebelumnya. Sekarang ini dia lagi bahagia banget sampai-sampai ketawa gak jelas. Kayaknya sih kuntilanaknya bipolar. Soalnya belum beberapa detik dia nangis-nangis, sekarang malah ketawa kagak jelas."
Aurel jelas tertawa meresponnya. Bahkan disaat suasana setegang ini pria itu masih sempat-sempatnya mengatakan kemungkinan kuntilanaknya mengidap bipolar alias gangguan mental.
"Kok malah ketawa lu Rel. Memangnya apa yang lucu?" respon Bagas kepada Aurel.
"Gak ada kok," jawabnya saat tawanya telah reda. "Lebih baik lo kirimin lokasi lo sekarang."
Hanya selang beberapa detik setelah sambungan telepon terputus Aurel menerima pesan lokasi dari Bagas.
"Lah, kok," ponsel miliknya didekatkan, salah satu tangannya yang tersampir perlahan terangkat merapikan poni yang sedikit menghalangi pandangannya. "Lokasi ini kan deket sama rumahnya Danial?" lipatan-lipatan samar di dahi milik Aurel semakin nyata seiring berjalannya waktu, "Iya. Gue yakin ini deket sama rumahnya Danial," sambung gadis itu menyertakan satu buah anggukan .
"Tapi apa mungkin Danial bakalan ngebantu kalau misalkan gue minta tolong ke dia? Di sekolah aja gue sama dia diem-dieman. Ya kali gue minta bantuannya. Ntar dikira datang bila butuh doang. Tapi gak mungkin juga gue yang datang ke rumah Bagas. Apalagi orangtuanya gak ada di rumah. Ntar kalau orang lain mikir yang enggak-enggak?"
...-To be Continued-...
__ADS_1