
...AWKWARD...
...(CANGGUNG)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL membawa tatapannya ke arah sang adik yang baru saja membuat kegaduhan. Kalau saja Davina tak sengaja menjatuhkan kunci motor saat berjalan di ruang tamu, kemungkinan Danial tak akan sadar saking khidmatnya pria itu menggeluti game di ponsel.
Davina memunguti kunci motor yang tak sengaja ia jatuhkan. Saat mengembalikan posisinya jadi berdiri, gadis itu lantas menemukan sang kakak sedang memberi tatapan penuh selidik.
"Mau ke mana malem-malem?" Danial bertanya. Baru saja si pemilik alis tebal itu meninggalkan sofa beserta ponselnya demi untuk menghampiri sang adik.
Orang yang ditujukan pertanyaan sedang menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga, "Mau ke toko buku, Kak."
"Mau Kakak anterin?" Danial menawarkan diri.
"Davina bisa berangkat sendiri kok."
Danial menurunkan tatapannya, ia melihat kunci motor di genggaman sang adik.
"Bahaya naik motor sendirian dijam segini. Kalo nggak keberatan mending kakak yang nganterin pake mobil. Keburu tutup toko bukunya."
Davina mengedikkan bahunya, "Ya sudah, kakak siap-siap gih!"
"Lo tunggu di luar! Kakak mau ke kamar dulu, pengin ngambil jaket sama dompet," ujar Danial sambil berlalu menuju kamarnya.
Sementara kakaknya sedang bergegas ke kamar, Davina justru membawa langkah kakinya menuju beranda rumah. Sembari menunggu kakaknya berbenah Davina memainkan ponsel memeriksa daftar buku yang akan dibelinya.
"Yuk!" Danial muncul dari pintu utama. Pria itu terlihat rapi dengan setelan celana jeans berwarna navy blue, bagian atas tubuhnya ditutupi oleh kaos oblong putih yang ditutupinya lagi dengan jaket denim yang sepadan dengan warna sepatunya. Label keren tengah melekat pada diri Danial setidaknya untuk saat ini.
...●●●●●...
DIBANDING dengan motor, menggunakan mobil tentu saja membuang banyak waktu. Jika dengan motor waktu tempuh seharusnya hanya lima belas menit, maka dengan mobil waktu yang dibutuhkan adalah tiga puluh menit. Jika ditanya alasan, tentu kemacetan kota Jakarta sebagai jawabannya.
"Lo masuk duluan, kakak mau markir mobil sekaligus nyari minum. Oh ya, lo mau minuman rasa apa?"
Davina mengambil tas kecil berisikan dompet serta ponsel yang sebelumnya dia taruh di atas dasbor. Terlihat gadis itu tengah berpikir.
"Davina mau greentea aja deh, Kak."
Setelah menyampaikan itu, Davina segera turun dari mobil membiarkan kakaknya menuju tempat parkir.
__ADS_1
Saat pintu terdorong olehnya, saat itu juga bau khas buku menyeruak menusuk hidungnya. Sesaat ia termangu merasa sangat senang memijakkan kakinya di tempat ini. Toko buku adalah surga bagi seorang Davina. Ia bahkan berharap suatu saat salah satu novel karyanya terpajang di sana.
Davina menyisiri rak demi rak mencari novel rekomendasi teman sekelasnya. Sebenarnya Davina bukanlah tipikal pembaca yang cuma suka sama satu genre. Selain romance, gadis tersebut juga suka novel bergenre horror, mystery, humor, bahkan science fiction yang terkenal berat, menjadi bacaannya.
"Davina!"
Yang bersangkutan menolehkan muka, "Eh, kak Aurel," saat menurunkan tatapannya Davina menemukan tiga buah novel di genggaman Aurel, "Ngeborong nih, Kak" godanya.
"Bisa dibilang begitu."
"Kakak beli novel apa aja?"
"Awalnya mau nyari novel terjemahan bertema horror tapi pas sampai malah kepincut novel romance."
"Kebetulan," Davina menggamit lengan Aurel, "Kak Aurel harus bantuin Davina nyari novel!"
Sesuai permintaan Aurel membantu mencarikan novel. Ia memilih beberapa buku terjemahan bergenre romance, "Buku ini keren loh, Vin. Meskipun terbitnya udah dua tahun yang lalu tapi gak kalah loh sama novel-novel best seller saat ini."
Davina menggerakkan tangannya. Ia mengambil novel yang diperlihatkan oleh Aurel di detik sebelumnya. Sambil mencebik, mata gadis itu meredup, "Judul novelnya kayak gak asing Kak. Kalau gak salah judulnya sama persis sama film yang pernah Davina nonton."
"Emang udah difilmkan."
Davina melebarkan matanya, "Serius Kak?"
"Ho-oh."
"Pokoknya novel ini recommended banget untuk dibaca!" Aurel mengudarakan jempolnya menegaskan perasaan sukanya pada novel itu, "Memang sih novelnya lumayan tebal, tapi percaya deh kalo ceritanya bener-bener menarik sampai kamu greget pengin cepetan nyelesain."
"Tapi jujur nih Kak, sebenarnya Davina kurang puas sama filmnya, emosinya kurang dapet aja."
"Mungkin karena durasi yang singkat bikin beberapa adegan menarik di versi novel justru gak dimasukin ke dalam versi filmnya."
"Udah selesai?" Danial menceletuk.
Davina dan Aurel memutar tumit menghadap Danial yang baru saja datang sambil menenteng kresek berisi minuman. Selama beberapa saat Aurel dan Danial saling menatap sebelum akhirnya aksi saling tatap-tatapan itu berakhir setelah Davina mengeluarkan suara dehaman.
"Nih minuman pesenan lo!" Danial menyerahkan greentea pesanan adiknya. "Kalau udah selesai milih bukunya lebih baik cepetan ke kasir, terus pulang!" Mendengar ucapan Danial membuat Aurel berasumsi berlebihan. Pikirnya Danial merasa risi tatkala matanya menjumpai figur Aurel di tempat yang sama.
"Kak Aurel naik apa ke sini?" tiba-tiba Davina bertanya.
"Tadi..." Aurel menjeda apa yang hendak disampaikan. Lewat ekor matanya ia melihat Danial yang segera membuang muka saat gadis itu mulai melantunkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Davina, "Aku naik taksi online," lanjutnya dengan jujur.
"Kalau gitu, pulang bareng kita aja," jawab Davina secara asal berhasil membuat kakaknya terhenyak.
"Gak perlu Vin, aku bisa naik taksi online kok." Aurel hanya merasa tidak enak pada Danial.
__ADS_1
"Jangan Kak, bahaya naik taksi malem-malem. Mending pulang bareng kita aja!" Davina bersikeras pada kemauannya sekuat apa pun Aurel memberikan penolakan. "Iya, kan, Kak?" Davina menoleh, sedikit mendongak ia memperhatikan raut datar yang diperlihatkan Danial.
Danial membungkam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika menolak mengantar Aurel pastinya Davina akan melaporkan itu pada papa dan mamanya. Danial bahkan tak rela jika uang jajannya dipotong cuma karena masalah sesepeleh itu.
...●●●●●...
"SEANDAINYA KITA BERTIGA IKUT LOMBA DIEM-DIEMAN, UDAH PASTI KITA YANG BAKAL JADI PEMENANGNYA," Davina membawa tatapannya menuju dua orang dihadapannya. Davina menatapnya secara bergantian.
Danial sepertinya enggan membalas cibiran adiknya, sementara Aurel hanya tersenyum hambar alih-alih menyambung ucapan Davina.
"Ngapain mampir di restoran segala sih, kan bisa makan di rumah aja," Danial mulai mengoceh. Tentu saja ditujukan kepada sang adik yang bersikeras ingin mampir ke restoran yang berseberangan dengan kantor Wirawan, ayahnya.
"Gak usah bawel! Oh ya Davina mau langsung ke kantor papa, Kak Danial pulang berdua aja sama kak Aurel setelah makan malam."
"Lah, bukannya mau makan bareng dulu?" Danial memberikan kalimat tanya.
"Davina makan malem bareng papa aja," ujar Davina.
Rahang kuat milik Danial terjatuh. Kedua bahunya juga merosot mendengar pengakuan Davina. Danial tak bisa membayangkan kecanggungan yang bakal terjadi ketika ia dan Aurel duduk berduaan di dalam mobil nantinya.
"Aku bisa pulang sendiri kok," Aurel bersuara saat pergerakan Davina meninggalkan kursi tertangkap oleh matanya. Tanpa sepengetahuan Danial atau pun Davina saat itu Aurel sedang menetralkan perasaan cemasnya dengan memainkan jemarinya.
Lebih dulu Davina meraih tas kecil yang tergeletak di meja. Ia melihat wajah Aurel. "Gapapa Kak, biar Kak Danial aja yang sekalian nganterin pulang!" perintah Davina sebelum ia bergegas pergi menggunakan langkah yang dipercepat.
Persetan sama Davina! Umpat Danial dalam batinnya. Sejauh ini ia sudah mampu membaca rencana buatan adiknya. Tentu saja ia ingin hubungan kakaknya dengan Aurel jadi lebih baik.
Detik kecanggungan yang dibuat oleh Davina mulai terasa bersamaan dengan menghilangnya punggung gadis itu dari ambang pintu.
"Ini Mas, pesenannya, ini Mbak pesenannya. Selamat menikmati!" seorang pelayan dengan ramahnya meletakkan pesanan keduanya.
"Makasih," ujar Aurel. Gadis itu tersenyum kepada si pelayan sambil menyembunyikan perasaan awkward-nya terhadap Danial yang mulai menyantap makanan di seberangnya.
Setelah selesai menyantap sekaligus membayar, Danial lantas mengambil kunci mobil beserta ponsel yang ditaruh secara acak di atas meja.
"Dan," panggil Aurel. Gadis itu mengurung pergelangan tangan si pria.
Danial bukannya tidak suka saat Aurel mengurung pergelangan tangannya, lagi pun perasaannya ke gadis itu masih sama hingga detik ini. Danial hanya tidak mau dicap belum bisa move on setelah perintah Aurel yang menyuruhnya bertingkah seperti halnya orang asing.
Decakan tanda tak suka terdengar. Kepala Danial bergerak menunduk, menatap pergelangannya yang dikurung oleh Aurel. Pria itu berdeham sekali, membuat Aurel melepaskan cekalannya dalam hitungan sekon.
"Kalo lo nggak mau anterin..."
"Kapan gue bilang kayak gitu?" Sambung Danial pedas tanpa lupa menggambar senyum remehnya yang khas, "Gue nganterin lo karena Davina yang nyuruh. Gak usah cemas sama kenyataan gue pernah suka sama lo, lagipula gue udah berusaha untuk ngelupain lo, kok."
"Lo salah paham, Dan. Bukan gitu maksud gue!" ujar Aurel bermaksud membela dirinya sendiri. Gadis itu hanya mencemaskan Danial yang mungkin merasa tidak enak mengantarnya pulang. Tetapi Danial memposisikannya seolah-olah gadis itulah yang tidak senang dengan fakta bahwa Danial akan mengantarnya sampai rumah.
__ADS_1
Danial mengibaskan tangannya, "Udahlah Rel, gue bahkan gak ada niat untuk berdebat sama lo!"
...~To be Continued~...