MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
24. WHEN THE WEATHER IS BAD


__ADS_3

...WHEN THE WEATHER IS BAD...


...(KETIKA CUACA SEDANG BURUK)...


...●...


...●...


...●...


HUJAN jadi alasan kuat bagi Aurel untuk berteduh di pos piket yang kebetulan tak jauh dari gerbang sekolah. Rintik yang semakin deras membuat aksesnya menuju kelas seketika terputus. Hari itu senin, tetapi aktivitas upacara bendera terpaksa dibatalkan karena SMA Angkasa Raya tak memiliki lapangan indoor yang mampu digunakan sebagai lapangan cadangan saat cuaca sedang tak bersahabat.


Danial baru saja turun dari mobil yang dikendarai ayahnya. Hanya menjadikan tangan sebagai tameng dari serangan hujan. Pria itu buru-buru cari tempat aman untuk berlindung.


"Eh anak setan, lo ngapain di sini?" tanya Danial retorik, bukankah sudah jelas bahwa Aurel juga sedang berlindung dari serangan hujan.


"Barusan lo ngomong sama gue?"


Kening Danial mengerut, "Lo pikir gue lagi bicara sama siapa?" pria itu mengembalikan dengan pertanyaan retorik.


"Kenalin nama gue Aurel, lengkapnya Aurelia Stephanie Akash." Gadis itu mengulurkan tangan maksudnya melakukan salam perkenalan. Ia tak terima Danial memanggilnya dengan nama lain.


"Oh udah berubah, gue pikir nama lo masih Anak Setan."


"Bercanda lo gak lucu!" semprot Aurel lalu menjulurkan lidahnya.


"Lo ngapain di sini?" tanya Danial.


"Lagi hitung rintik hujan yang jatuh ke bumi," katanya cepat memakai nada tak suka.


"Selow! Dan ya, ati-ati ntar bola mata lo malah menggelinding ke lantai. Biasa aja melototnya!"


Setelah menoleh dan memperlihatkan tatapan tajam, kini Aurel membawa tatapannya kembali ke depan. Aurel melihat hujan yang menghantam rerumputan yang tersebar di sepanjang lapangan sekolah.


"Semalam lo gak kangen kan sama gue?" tiba-tiba Danial menanyakannya.


Secepat yang ia bisa Aurel menolehkan mukanya kembali ke wajah si kunyuk. Hingga dengan jelas Danial mendapati raut tak suka bersemayam di wajah Aurel. "Lo pikir gue udah gila sampai mikirin manusia kunyuk kayak lo!" semprot Aurel tak tanggung-tanggung.


Seandainya Aurel tak takut basah pastinya dia bakalan lari menuju kelas meninggalkan si kunyuk yang selalunya menyebalkan.


"Emosian amat sih lu. Bener kata Nakula, kelamaan jomblo bisa bikin orang jadi gampang tersulut emosi."

__ADS_1


"Emangnya lo gak jomblo ya?" Aurel baru sempat membalas si kunyuk setelah berpikir lama.


Tanpa sebab yang jelas Danial mendekatkan mukanya mengendus aroma tubuh gadis di sebelahnya.


"Lo mau ngapain?" tanya Aurel mencoba menghindari pria itu dengan mengambil beberapa langkah mundur.


"Lo pake parfum melati?" Sejujurnya Danial sengaja mengalihkan topik pembicaraan setelah Aurel balik menanyakan statusnya. Tidak mungkin ia menjawab jujur bahwa statusnya sampai detik ini masih jomblo. Pastinya Aurel akan melabelinya "Jomblo teriak jomblo," Beruntung ia menemukan topik baru yang bisa mengalihkannya dari pertanyaan sensitif Aurel beberapa detik sebelumnya.


"Gak. Gue emang pake parfum, tapi aromanya bukan melati."


"Oh ya?" satu alis milik Danial terangkat. "Terus asal aroma melati yang kuat ini dari mana?" lanjutnya bertanya. Aroma itu pertama kali tercium pada saat Danial berdiri di sebelah Aurel. Sebelumnya ia mengira aroma tersebut berasal dari tubuh Aurel.


"Oh itu..." ujarnya menimbang-nimbang.


"Jawab, jangan digantungin. Pakaian aja kalau kelamaan digantung bakal digondol maling."


Aurel memijit dahinya sembari menghela napas. Selain menyebalkan Danial juga memiliki sifat tak sabaran.


"Sekarang lo liat ke arah jam sembilan!"


Bukannya melihat arah yang dimaksud oleh Aurel, Danial justru memperhatikan jam yang ada di dinding pos piket.


"Kenapa sama jamnya?"


Danial malah tertawa. Dan itu membuat Aurel semakin kesal.


"Dih malah ketawa lagi. Udah gila?"


"Bukan gitu," sahut Danial.


"Terus kenapa malah ketawa pas gue ngatain lo ****?" tanya Aurel penuh selidik.


"Gue ketawa karena lo baru aja ngakuin kalau gue sebenarnya ganteng."


Ah sialan, gue kebawa suasana! Sesal Aurel tentunya melalui batinnya.


"Salah denger kali lo."


"Gak. Telinga gue masih tajam."


"Serah," jawab Aurel acuh tak acuh.

__ADS_1


Saat diam menguasai, Danial lantas menengok untuk memeriksa asal dari bau melati yang semakin tajam seiring waktu berjalan. Di gerbang sekolah terlihat penampakan seorang perempuan dengan gaun putih. Rambut pirangnya disanggul. Mukanya pucat tapi sedikit terselamatkan dengan gincu merah yang membuatnya terlihat menawan. Sekilas Danial bisa melihat bahwa wanita itu adalah seorang pengantin wanita.


Ada satu hal yang membuat Danial menggerakkan kepala sambil menyipitkan mata. Kalau memang dia seorang pengantin wanita lalu kenapa mukanya tampak tak bahagia?


"Namanya Jasmine! Dia keturunan Belanda."


Danial sedikit kaget saat Aurel angkat suara di tengah-tengah gemuruh hujan yang masih terdengar. Pantas saja Danial tak melihat raut wajah lokal di muka hantu tersebut, ternyata rambut pirangnya adalah penegasan bahwa dia keturunan Belanda.


"Lo kenal sama hantunya?" meski pertanyaan itu meluncur mulus dari bibirnya tapi tak sampai membuat mata Danial berhenti menatap hantu di ujung gerbang. Sampai detik ini ia masih saja penasaran dan hendak menggali lebih dalam terkait pancaran raut sendu yang terlukis di wajahnya.


"Gak." Cukup singkat jawaban dari Aurel.


"Kalo gak kenal lantas dari mana lo tahu kalau namanya Jasmine?" kini Danial dan Aurel sedang saling tatap-tatapan mengadu matanya.


"Nebak aja soalnya aroma tubuhnya kan bau melati."


"Btw dia matinya kenapa?"


"Kata Chelsea sih dia itu meninggal saat menghindar dari pernikahan. Dia dijodohin sama orangtuanya."


"Tunggu sebentar," potong Danial. "Chelsea siapa?"


"Oh si Chelsea tuh hantu yang tinggal di bawah pohon beringin."


"Hantu yang pernah ketemu sama gue beberapa hari yang lalu?" sambung Danial cepat.


Aurel mengangguk cepat, "Ho-oh."


"Ngomong-ngomong hantu bisa nge-ghibah juga ya," Danial mengutarakan hal yang mengganggu pikirannya.


"Kedengaran aneh sih, tapi beberapa hantu yang gue temui kadang-kadang ngajakin gue nge-ghibah." Ungkap Aurel lalu tersenyum sebentar. "Kadang-kadang mereka juga curhat tentang kisah mereka sewaktu masih hidup."


"Hati-hati dosa lu ngomongin orang," peringat Danial.


"Orang? gue kan ngomongin hantu jadi sah-sah aja dong."


"Sama aja, tetap dosa namanya!"


"Beda, Danial!"


"Terserah lo!" tandas Danial menyerah.

__ADS_1


...~To be Continued~...


...●●●●●...


__ADS_2