
...STILL LOVE YOU?...
...(TETAP MENCINTAIMU?)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL baru saja datang memarkirkan motornya di parkiran SMA Angkasa Raya. Membuka kaca helm, pria itu mengedarkan perhatian sehingga menemukan kondisi sekolah terlihat belum terlalu ramai—meski di parkiran sudah ada beberapa deret motor siswa. Danial lalu turun dari motornya. Hal yang dilakukan pria ber-hoodie abu-abu itu selanjutnya adalah membuka helm sehingga tampaklah rambut hitamnya yang masih tertata rapi berkat bantuan gel.
Cuaca terlihat cerah. Jika seseorang membawa kepalanya mendongak menatap langit. Tentu saja yang mereka dapati adalah kondisi langit yang cerah. Sedikit pun tak tertangkap oleh mata adanya tanda-tanda hujan akan turun.
Berbanding terbalik dengan cuaca yang terbilang cerah, di wajah Danial justru terlukis perpaduan antara rasa kecewa dan marah merespon apa yang dijumpai oleh bola matanya. "Belum juga sampai kelas, udah rusak aja mood gue," menyusul langkahnya yang mendadak terhenti di satu titik, sebuah gumaman yang mengandung umpatan terlepas dari bibirnya.
Bagaimana bisa hatinya jadi tenang setelah indra penglihatannya menemukan pemandangan yang membuat pijakan kakinya di tanah jadi melemah. Jauh di ujung sana terlihat Aurel yang sedang menggamit lengan milik Bagas—membantu pria itu mengambil posisi berdiri meninggalkan posisi jongkoknya.
"Kenapa perasaan gue jadi aneh sih," eluh Danial masih di tempat yang sama. "Enggak. Perasaan ini bukan karena lo cemburu ngeliat kedekatan mereka," saat ini Danial sedang meyakinkan dirinya bahwa perasaannya terhadap Aurel sudah hilang sejak mereka putus. Namun sekuat apa pun usahanya, hati kecilnya tak bisa berbohong—bahwa sebenarnya dia masih memiliki perasaan lebih terhadap Aurel.
"Astagfirullah anak setan ngagetin aja lu, assalamu alaikum dulu kek," salah satu tangan milik Danial telah terangkat mengelus dadanya—yang menjadi sumber kehadiran hentakan tak keruan.
Arwah Sisil baru saja menyeringai kepada Danial. "Sante dong, Kak Danial. Heboh bener baru liat cewek secantik Sisil yah?" Danial merasa bahwa kadar kepedean dari arwah bernama Sisil itu makin meningkat seiring berjalannya waktu.
Terdengar sebuah decakan yang lebih mengarah pada kekesalan. Danial adalah orang yang melakukan itu. "Bahkan dalam wujud hantu pun lo tetep aja nyebelin."
"Lo gak apa-apa kan?" pertanyaan bernada panik dilepaskan oleh Aurel kepada Bagas.
"Gak apa-apa kok." Bagas memberikan jawabannya. Meski ketakutan masih terlihat jelas melalui air mukanya namun pria itu tetap memperlihatkan senyuman dipaksakan untuk Aurel. "Gue cuma sedikit kaget aja karena tadi hantunya muncul secara tiba-tiba. Gue yang gak siap pun akhirnya hilang keseimbangan dan jatuh."
"Duduk dulu yuk!" ajak Aurel yang disetujui oleh Bagas melalui gerakan kepala manggut-manggut. Dan setelah keduanya duduk di kursi taman saling bersisian, Aurel pun menyibukkan diri merogoh ranselnya. Sebuah botol berwarna merah muda diambilnya dari sana. Lalu kemudian ia mengulurkan tangannya yang menggenggam botol itu ke arah Bagas yang terlihat ragu menyambutnya.
__ADS_1
"Ayo diambil. Itung-itung air ini bisa buat kamu tenang." Aurel semakin mengulurkan tangannya.
"Gak usah repot-repot kek gini, Rel. Yang ada gue makin kagak enak sama lo."
"Gak apa-apa. Gue ikhlas kok ngelakuinnya. Sedikit pun gue gak ngerasa direpotkan sama lo."
"Thanks ya, Rel," katanya disusul gerakan meneguk air pemberian Aurel.
"Ada yang panas tapi bukan api," Sisil menceletuk. Tak hanya mencibir Danial lewat kalimatnya, arwah Sisil pun tengah menahan senyum yang hampir terbit lewat bibirnya.
"Apaan sih lu, anak setan," balas Danial dengan nada emosi.
"Kak Danial masih sayang 'kan sama kak Aurel," tanya Sisil namun nada suaranya seakan sedang memberi tuduhan. Sisil seakan tidak acuh pada ekspresi Danial yang sudah menyiratkan raut monster.
"Bukan urusan lo."
"Bilang aja kalau masih sayang."
"Nyebelin banget sih lo. Udah jadi hantu juga, tapi masih aja nyebelin." Sorot mata tajam menjadi pengiring kepergian Danial meninggalkan Sisil menuju ke kelas.
...●●●●●...
Meski sempat terkejut, namun tak berangsur karena sekarang Maurine telah memasang tampang belagu. Lagian ia sudah menanti ini bakalan terjadi mengingat tujuan utamanya memang untuk menghancurkan Leana yang sudah berani menentangnya.
"Its show time," Maurine mengucapkannya dalam hati dengan semangat penuh. Akhirnya apa yang dia nantikan telah terwujudkan.
"Eh, bule celup binti Margarine," panggil Leana dengan sebutan asal-asalan kepada Maurine yang selalunya tampak menyebalkan. Tak hanya memanggil dengan volume suara kencang, Leana turut serta menggebrak meja sekali lagi membuat suara menggelegar.
Maurine menautkan anak rambutnya ke atas daun telinga, dia sedang dalam mode sok cantik saat ini. "Ada apa? Can I help you?"
"Gak usah sok inggris lu."
__ADS_1
"Where is the problem if I using English?"
"Gue kagak ngerti gilak," jawab Leana terang-terangan. "Nih ya, gue kasih tau sama lo. Sebaiknya berhenti untuk keganjenan sama pacar gue!"
"Keganjenan?" ulang Maurine seakan-akan dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Leana. "What do you mean?" tanyanya tentu saja sambil memasang tampang bingung melalui kening mengerut.
"Eh, Margarine, gak usah pura-pura bego deh lu. Semalam gue liat lo nge-post foto sama Haris di sosial media. Pakek megang-megang cowok gue segala lagi," Leana bergidik jijik sewaktu mengatakannya. "Gue gak sebego yang lo pikirin! Gue juga tahu kok niat busuk lo ngelakuin itu demi untuk manas-manasin gue, kan?"
"Bagus deh kalau lo ngerti sama maksud gue," sebuah senyum meremehkan terlihat di bibir Maurine setelah ia menandaskan kalimatnya. "Dengan begitu kan gue gak perlu ngabisin banyak waktu buat kasih penjelasan sama lo."
"Awas aja ya kalau lo masih aja kegatelan sama pacar gue!" telunjuk milik Leana mengudara, lantas di arahkannya beberapa senti dari wajah Maurine. "Gue gak bakal segan-segan ngasih perhitungan sama lo," ancamnya tidak main-main.
Maurine menurunkan telunjuk yang mengarah ke wajahnya secara paksa menggunakan tangan kanannya. Lagi-lagi senyum miring tanda meremehkan terbit melalui bibirnya. "Sedikit pun gue gak ngerasa takut dengan ancaman lo barusan. Malah sebaliknya gue makin bersemangat buat ngerecokin kehidupan lo," imbuhnya.
"Apa maksud lo?" mata milik Leana melebar dengan sempurna. "Lo jangan macam-macam ya sama gue!"
"Waktu itu 'kan gue udah ngasih warning ke lo. Tapi lo malah nantangin gue."
"Bener-bener kegatelan lo MAURINE!!!"
"I don't care lo mau bilang apa. Intinya gue cuma kepingin balas dendam sama lo."
"Lo mau balas dendam pakek Haris? Gitu?" tanya Leana.
"Yap, bener banget." Maurine membenarkan sambil menggerakkan kepalanya naik-turun-naik-turun, mengangguk. "Lo liat aja nanti gimana usaha gue buat bikin your relationship hancur."
"Lo pikir mudah buat ngehancurin hubungan gue sama Haris?"
"Liat aja nanti siapa yang bakal jadi pemenangnya. Gue atau lo!"
...●●●●●...
__ADS_1
...POKOKNYA RAMEIN KOLOM KOMENTAR! KALAU BISA, KASIH IDE UNTUK BAGIAN SELANJUTNYA!!!...
...-To be Continued-...