
...ANNOYING GHOST IS BACK...
...(HANTU MENYEBALKAN TELAH KEMBALI)...
...●...
...●...
...●...
DANIAL menggigit rotinya dengan malas. Andai saja dia tak takut dengan risiko sakit perut karena tak mengisi perut kosongnya, mungkin dia tidak akan menyantap roti berselai cokelat yang dibelinya di kantin. Jika ditanya alasan yang membuat pikirannya tak keruan, tentu saja jawabannya akan merujuk pada kejadian tadi—saat kedua bola matanya menyaksikan Aurel terduduk dengan pria lain.
Bukannya tidak terima kenyataan. Danial bahkan sudah memikirkannya baik-baik saat putus bahwa suatu saat dirinya pasti akan melihat mantannya itu jalan dengan pria lain. Akan tetapi Danial merasa ini terlalu dini bagi Aurel tuk melanjutkan hidupnya pasca putus. Danial saja kadang-kadang masih kepikiran dengan gadis itu. Bagaimana bisa dia move on dalam waktu sesingkat itu?
Lagi-lagi Danial menggigit rotinya sedikit. Tatapannya tetap menjurus ke salah satu arah.
"Kak Danial!"
Belum ada reaksi dari orang yang dipanggil. Nyatanya pria itu masih tenggelam dengan isi kepalanya sehingga tak terusik dengan apa saja yang ada di sekitarnya. Memang, dia tipikal orang seperti itu. Tiap kali ada yang mengganjal di pikirannya dia akan menanam fokus ke satu titik sambil bergeming tak ubahnya manekin yang ada di toko.
"Kak Danial!"
Kali ini Danial terusik. Kepalanya bergeser sedikit melakukan kontak mata dengan pemilik suara lembut yang baru saja memanggil namanya.
"Ada ..." niatnya menyempurnakan kalimat dengan nada lembut terjeda. Lanjutan kalimatnya tertahan di kerongkongan begitu tersadar bahwa yang menyapanya barusan bukanlah sosok manusia, melainkan mereka yang berasal dari dimensi lain.
"Halo, Kak Danial? Kamu gak kangen sama aku ya?" pede hantu berseragam sama dengannya itu.
Danial meletakkan rotinya di atas meja. Salah satu tangannya terangkat digunakan untuk mengucek-ucek matanya. Danial berharap sosok itu lenyap setelah membuka matanya nanti. Akan tetapi sosok tersebut masih ada di tempat yang sama.
"Gue gak mimpi, kan?" Danial bermonolog. Untung saja hanya ada dirinya di dalam kelas. Jika tidak, sudah jelas bahwa orang yang mendapatinya akan menganggapnya sudah tidak waras.
"Enggak mimpi kok," sosok dikenal dengan sebutan 'hantu' itu menjawab Danial.
Sudah lama sekali Danial tidak menjumpai makhluk halus bernama Sisil itu. Saking lamanya sampai Danial lupa kapan terakhir kali hantu centil itu menampakkan batang hidung di depan Danial.
"Kenapa lo bisa balik ke sini lagi sih?" tanya Danial.
"Emang apa sih yang gak boleh?" hantu menyebalkan itu mengembalikan dengan sebuah pertanyaan bukannya menjawab seperti yang diharapkan oleh pria itu.
"Gue kira lo udah nyemplung di neraka."
"Astaga, kak Danial mulutnya kalau ngomong," hantu bernama Sisil itu membekap mulutnya. Sebelumnya ia mengira bahwa Danial akan sedikit berubah setelah lama tak berjumpa dengannya. Namun anggapannya itu nol besar. Tidak ada yang berubah. Danial tetaplah Danial yang dulu. Yang kadang pemilihan katanya lebih pedas dari sambalado dan lebih tajam dari pada keris. "Kak, Danial sekate-kate banget elah kalau ngomong. Gak ada akhlak tau gak, untung ganteng, kalau enggak udah Sisil cium, eh salah maksudnya Sisil tabok," gadis itu memberunggut seolah sedang sedih.
"Sudah lama loh gue gak ngeliat lo berkeliaran di sekitaran sekolah."
"Ternyata kak Danial nyariin Sisil juga, kalau boleh tahu kenapa nyariin Sisil? Kangen ya? Pengin minta tanda tangan Sisil ya?" bahkan hantu menyebalkan itu masih belum tobat juga. Sosok Sisil masih saja menyebalkan di mata Danial.
Danial berdecih, "Lo udah bisa ngalahin imutnya Nayeon TWICE kah?"
Sisil menggeleng.
"Atau lo udah ngerasa lebih cantik dari Jennie BLACKPINK?"
Lagi. Sisil menggelengkan kepalanya. "Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Kalau lo belum bisa ngalahin mereka berdua, berarti lo belum sespesial itu sampai bisa nangkring di ingatan gue," sahut Danial lewat pemilihan kata yang menohok.
"Kalau gak kangen kenapa malah nyariin? Rasa suka berasal dari nyariin loh, Kak."
"Jangan sok tahu lo."
"Dulu juga gitu kok. Kak Danial sama kak Aurel awalnya musuhan, tapi lama-lama bisa pacaran, kan?"
"Beda konteks gilak. Ya kali gue demen sama hantu. Megang lo aja gak bisa."
"Berarti kalau misalkan Sisil masih idup, ada kemungkinan kak Danial suka sama Sisil?"
"Udah deh, Sil, gak usah ngehalu. Mending lo kasih tau ke gue hal-hal yang bikin lo nemuin gue!"
"Sisil datang ke sini karena ada yang mau Sisil tanyain ke kak Danial."
Kerutan di dahi Danial kelihatan samar sekarang ini. Sepertinya ada hal penting yang hendak ditanyakan oleh Sisil padanya. Sampai-sampai sosok yang selama ini tidak pernah terlihat kembali menampakkan dirinya.
"Apaan?"
"Cie, yang penasaran," goda Sisil.
"Idih, siapa juga yang penasaran. Biasa aja kok."
"Udahlah, bilang aja kalau kak Danial penasaran."
"Iya deh, gue ngaku penasaran. Sekarang lo sampein apa yang mau lo tanyain ke gue," kesal Danial pada akhirnya.
"Memangnya beneran ya kalau kak Danial sama kak Aurel udah putus? Atau kabar ini cuma hoax semata?"
"Bukan."
"Terus lo tahu dari mana soal itu?"
"Aku denger gosip itu dari Janneke," jawab Sisil sementara Danial tampak berpikir begitu keras.
Danial terdiam sekarang ini karena pria itu sedang berpikir kritis. Setidaknya nama Janneke yang barusan tergulir dari bibir Sisil terlalu asing baginya. Setahunya tidak ada satu pun teman seangkatannya yang memiliki nama Janneke. Bahkan Danial pun merasa ragu bahwa salah satu adek kelasnya memiliki nama seaneh itu.
"Emang ada ya yang namanya Janneke? Kok aneh bener namanya?"
"Janneke itu hantu belanda yang tinggal di koridor samping UKS. Dia temen aku."
"Oh, lo bicara soal hantu, gue kira lo gak sengaja ngedenger siswi sini lagi ngegosip soal hubungan gue. Makanya gue sempet bingung karena gue gak pernah denger tuh ada siswi SMA Angkasa Raya punya nama Janneke, menurut gue aneh aja sih kalau ada yang make nama itu."
Danial sebenarnya penasaran dengan satu hal. Mumpung Sisil masih ada di sana dia pun menggerakkan sudut bibirnya bertanya, "Kata lo barusan, si Janneke ini hantu belanda. Terus gimana cara lo berkomunikasi satu sama lain?"
"Dia memang lahir di belanda, tapi besarnya di Indonesia. Makanya bahasa Indonesia dia juga lumayan lancar."
"Danial? What are you doing here?" suara itu membuat sosok Sisil menghilang entah ke mana, "Gue cariin lo di kantin tapi gak ketemu," sambung Maurine yang baru saja datang dan segera menghampiri meja Danial. "Bye the way, lo ngobrol sama siapa sebelumnya?"
"Gak ngobrol sama siapa-siapa kok."
"Lo kenapa gak makan siang di kantin?" Maurine kembali ke topik awal.
"Gak laper, makanya gue ke kantin cuma beli roti dan air mineral doang," jawab Danial tersenyum kaku.
__ADS_1
"Ayolah, nanti lo malah sakit kalau gak makan," Maurine bersuara dengan nada cemas, "Gue temenin deh," sambung Maurine seraya menggamit lengan kekar milik Danial.
"Lepasin Rin, gak enak kalau sampai ada yang ngeliat lo megang tangan gue."
Ada kekecewaan yang menghantam diri Maurine saat menerima penolakan dari Danial. Meski demikian gadis itu tidak memperlihatkannya lebih jelas. "Sorry, gue gak sengaja. Mungkin karena di Australia pegangan tangan kayak gini dianggap lumrah."
"Lain kali hati-hati. Gue gak mau aja orang lain sampai salah menafsirkan apa yang mereka lihat," Danial berujar.
Apa barusan gue dapet penolakan? Come on, Danial. Aurel bahkan gak bisa dibandingin sama gue. Everybody knew, Maurine better than Aurel! Maurine membatin memuji dirinya sendiri.
"Maaf ya, gue gak ada maksud apa-apa. Gue cume ngerasa nggak enak aja kalo...."
"Ayolah, Danial! Gue bisa ngerti kok. Apalagi karena baru-baru ini lo baru putus sama pacar lo," tangan milik gadis itu mendarat menepuk-nepuk punggung Danial bermaksud memberi support. "Asal lo tahu, gue bakal selalu ada di sini," melihat perubahan air muka Danial, Maurine pun mengoreksi kalimatnya barusan, "Maksudnya gue bakal ada di samping lo sebagai teman kalau misalkan lo butuh teman ngobrol."
...●●●●●...
JIKA biasanya hujan diartikan berkah oleh Aurel, khusus hari ini gadis itu menganggap hujan sebagai sebuah bencana. Bagaimana tidak, hujan adalah alasan kenapa dirinya terjebak bersama dengan Danial dan juga Maurine di pos piket. Seharusnya Leana juga ada bersamanya, tetapi sebelum hujan mengguyur gadis itu kembali dulu ke kelas karena ada barangnya yang kelupaan.
Suasana di pos piket tentu saja canggung. Danial tidak ada niatan memulai pembicaraan. Hal yang sama berlaku pada Aurel yang tidak ingin memulai percakapan meski hanya sekadar kalimat sapa.
Kenyataan bahwa mereka masih duduk bersisian di kelas pun tak menjamin keduanya ngobrol bareng seperti biasanya.
"Eh, Rel, lo belum pulang juga," Bagas entah dari mana baru saja datang setelah membelah hujan dengan menjadikan jaket miliknya sebagai tameng pelindung agar badannya tidak basah.
"Belum soalnya masih hujan dan kakak gue belum datang ngejemput."
"Kalau lo gak keberatan biar gue yang nganterin lo balik. Tapi ya gitu, lo harus nunggu sampai hujannya reda dulu karena gue cuma bawa motor ke sekolah."
"Gak perlu repot-repot, bentar lagi kakak gue bakal datang jemput kok. Lebih baik tawaran lo barusan disimpen aja! Siapa tahu besok atau mungkin lusa gue butuh tumpangan lo."
Bagas menganggukkan kepalanya lalu tersenyum manis memperlihatkan sepasang lesung pipitnya.
"Oh iya, lo hapal nomor hape lo gak?" tanya Bagas random.
"Hapal. Kenapa emangnya?"
Bagas merogoh ponsel dari sakunya. Lalu tangan yang menggenggam ponsel tersebut terulur, "Kalau gak keberatan gue mau minta nomor hape lo. Kali aja ada sesuatu yang mau gue tanyain sama lo."
Aurel menyambut ponsel dari tangan Bagas. Tak butuh waktu lama dia mengetik nomor ponselnya. Selesai, dia pun mengembalikannya. "Nih, ponsel lo."
Hujan telah reda. Meski belum reda secara sempurna. Setidaknya sudah tidak separah sebelumnya. Bisa saja Danial menunggu sedikit lagi sampai tidak ada lagi setetes pun hujan yang jatuh dari langit. Hanya saja Danial sudah tidak tahan berdiri di sana lebih lama lagi. Dia tak tahan dengan kenyataan melihat keakraban Aurel dengan pria lain.
"Lo pulang sama siapa Rin?" tanya Danial. Tentu kepada Maurine yang duduk bersebelahan dengannya.
"Gue pulang naik taksi."
"Dari pada naik taksi mendingan lo pulang bareng gue aja! Kebetulan gue gak ada boncengan."
Raut Maurine berubah antusias, "Are you serious?"
"Gimana? Mau?" tanya Danial.
"Mau," bahkan tanpa ditanya pun sebetulnya Maurine akan langsung setuju dengan ajakan itu. Sejujurnya saja dia masih memiliki perasaan lebih kepada Danial bahkan sampai detik ini.
...-To be Continued-...
__ADS_1