
...RUMOR "PART 2"...
...(DESAS-DESUS "BAGIAN 2")...
...●...
...●...
...●...
VERNON, Irgi, serta Danial sedang di kantin. Ketiganya masih menunggu sampai makanan pesanan siap sambil sekalian menunggu kehadiran Haris yang sebelumnya menyuruh Danial untuk ke kantin duluan.
"Haris ke mana sih, Dan?" Irgi adalah orang yang menanyakannya. Rasanya sudah cukup lama dan dia tak kunjung datang seperti yang dikatakannya pada Danial.
"Dia ke parkiran. Katanya kepingin ngambil dompet."
Kali ini Irgi mengangguk. "Tapi emang bener ya kalau dia sama Leana udah putus? Gue dapat kabar itu dari temen kelas gue kemarin."
"Gue juga gak sempat nanya sih. Soalnya tadi pas di kelas gue belum sempat nanya karena guru yang ngajar keburu datang. Tapi dari gelagatnya sih udah putus. Soalnya gue ngeliat mereka saling diem-dieman. Dan semalam gue sempet ngeliat Maurine posting foto bareng sama Haris pakek caption emotikon lope-lope."
"Maksud lo si Haris jadian sama Maurine?"
Danial memperlihatkan kedikan bahu. Dia juga belum yakin dengan pertanyaan yang diajukan oleh Irgi. "Kalau soal itu gue gak yakin. Karena kemungkinannya lima puluh banding lima puluh. Nanti aja gue tanyain pas Harisnya udah datang."
"Eh, sambil nunggu makanan pesanan kita siap, gue ada tebak-tebakan nih buat lu pade," heboh Vernon. Jarak antara wajah dengan ponselnya sekitar sepuluh senti. Lalu ketika Irgi dan Danial telah mengarahkan fokus kepadanya, Vernon lantas melanjutkan yang hendak dikatakan. "Coba tebak! Ikan, ikan apa yang gak bisa maju tapi juga gak bisa mundur?" senyum mengejek mengekori pertanyaan yang tersampaikan oleh Vernon. Sangat yakin kedua sahabatanya tidak akan tahu jawaban dari tebakannya.
"Gue tahu," sahut Irgi di beberapa sekon setelah Vernon menandaskan kalimatnya, "Pasti ikan Pause, soalnya lagi kejeda, jadi kagak bisa ngapa-ngapain selain diam di tempat," di sana Irgi—selaku orang yang menjawab teka-teki Vernon telah memasang tampang jumawa. Tak sampai di sana bibirnya yang tipis telah memberikan senyum miring tanda mengejek.
"Kok lo bisa tahu sih?" takjub Vernon.
"Lagian elonya juga sih," celetuk Danial. Namun sebelum itu lebih dulu terdengar suara decakan dari bibirnya. "Teka-teki lo kelewat jadul tahu enggak. Bahkan gue curiganya teka-teki lo itu udah ada sejak jaman purba."
"Bener banget. Teka-teki lo itu udah gue denger sejak jaman gue masih SD." Irgi menyampaikan membenarkan yang Danial ucapkan.
"Sekarang giliran gue deh," kali ini Danial yang menjadi pusat perhatian kedua sahabatnya. Danial tampak berpikir. "Gue ngasih teka-teki yang menurut gue mudah aja. Supaya otak lo berdua gak kena mental pas lagi mikirin jawabannya."
"Udah buruan," kesal Vernon.
"Dengerin baik-baik ya! Kenapa pohon kelapa yang tumbuh di depan rumah harus di tebang?" tanya Danial. Fokus matanya mengarah kepada sahabatnya satu persatu. Tampak raut berpikir tengah bersemayam di wajah Vernon dan juga Irgi.
__ADS_1
"Ya, kalau gak ditebang, bakal ngalangin pandangan," jawab Irgi.
"Bukan," Danial menjawabnya tanpa lupa menyertakan gelengan kepala di akhir kalimatnya.
"Lah, bukannya pohon bakalan ditebang kalau udah ngalangin pandangan?" Irgi memprotes. Dia tidak terima jawabannya dicap salah oleh Danial si pemberi pertanyaan.
"Gimana? Lo pade udah nyerah?" tanya Danial. Memperhatikan teman-temannya satu persatu.
"Nyerah," kompak Vernon dan Irgi.
"Ya kalau dicabut susah, makanya ditebang," jawab Danial lalu kemudian menerbitkan senyum mengejek.
"Giliran gue yang ngasih lo pade pertanyaan." Kali ini giliran Irgi yang mengambil alih perhatian. Sepertinya dia punya teka-teki yang dia yakini susah untuk ditebak oleh kedua temennya. "Gue yakin lo berdua gak bakal tahu jawabannya," pede cowok itu.
"Gak usah banyak bacot. Langsung aja!" lanjut Vernon sudah tidak sabaran.
"Burung, burung apa yang hobi nangkring ke toilet?" tanya Irgi.
Vernon unjuk tangan. "Gua tahu."
"Apa?" Irgi menyahuti.
Mendengar namanya dijadikan objek lelucon membuat perubahan pada ekspresi Danial. Ia menatap tajam ke arah Vernon.
Vernon menyengir. Tatapan tajam yang dilayangkan oleh Danial menciutkan nyalinya. "Canda doang Dan," ujarnya sambil menepuk-nepuk punggung lebar sahabatnya yang telah menampilkan muka tak bersahabat.
"Gue nyerah," kata Danial.
"Gue juga nyerah. Takut bibir gue salah bicara lagi," sambung Vernon.
"Jawabannya burung pipit." Jawab Irgi.
"Lah kok burung pipit?" protes Danial. Cowok itu menganggap pertanyaan yang dilayangkan oleh Irgi sebelumnya tidak memiliki kaitan dengan jawabannya.
"Sudah bertahun-tahun gue idup di dunia ini, dan gue belum pernah ketemu burung pipit di toilet. Kalau burung Danial sih gue sering nemu di toilet," ucap Vernon. Namun hanya selang beberapa detik saja sebelum dia membekap mulutnya sendiri, "Maaf ya Dan. Kadang-kadang bibir gue lepas kontrol," katanya kepada Danial.
"Tunggu bentar deh, kok bisa jawabannya burung pipit?" rupanya Danial masih dibelenggu oleh rasa penasaran. Dia sampai mengabaikan Vernon yang mencoba mengejeknya karena terlalu penasaran dengan jawaban Irgi.
"Burung pipit kan hobinya ke toilet," jawab Irgi semakin menambah kadar kebingungan yang ada pada diri Danial.
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Kebelet pipit," jawab Irgi diikuti senyuman jahil pada saat menandaskan kalimatnya.
"Kebelet pipis bego," emosi Danial.
"Pada ngapain sih lu pada? Heboh bener kayak lagi ngadain pembagian sembako aja," Haris yang baru datang dari parkiran mengambil dompetnya yang kelupaan menampilkan muka penasaran saat membawa bokongnya terduduk pada kursi.
"Kita lagi main tebak-tebakan," Vernon adalah orang yang menjawab keraguan Haris yang kebetulan baru bergabung.
"Kirain lagi apa, soalnya dari jarak jauh udah kedengeran suara lo pade."
"Ke parkiran lama amat sih," kata Danial. "Perasaan jarak dari parkiran ke kantin gak jauh-jauh amat."
"Gue mampir dulu soalnya di ruang guru sempet heboh."
"Heboh kenapa?"
"Katanya ada anak kelas sepuluh yang hilang."
"Diculik?" potong Danial lewat sebuah pertanyaan.
"Belum diketahui secara pasti kejadiannya seperti apa. Yang jelas si murid kelas sepuluh itu udah sekitar tiga hari gak balik ke rumah."
"Siapa tahu si murid yang hilang itu lagi ada masalah sama teman sekelasnya. Tahu sendiri kan jaman sekarang ada aja yang namanya kasus perpeloncohan di antara teman sekelas," celetuk Irgi menduga-duga kemungkinan yang cukup logis. "Tapi kalau memang ada masalah dengan teman sekelas, kayaknya gak logis juga kalau dia sampai minggat dari rumah. Ya, kecuali kalau dia bermasalahnya sama keluarga," sambung Irgi mematahkan asumsinya yang pertama.
"Kalau masalah kemungkinan sih ada banyak yang logis. Apalagi jaman sekarang juga pergaulan gak tanggung-tanggung. Siapa tahu dibawa lari sama cowoknya sendiri. Who knows?" giliran Irgi yang menyampaikan kemungkinan yang sedikit mengarah ke hal negatif.
"Ngomong-ngomong siapa nama murid yang hilang itu?" tanya Danial.
"Gue sih gak tahu namanya. Tapi yang gue denger sih, murid itu yang ngeraih posisi pertama tes masuk SMA Angkasa Raya."
"Gue tahu orangnya," ujar Irgi. Berbekal ciri yang disebutkan oleh Haris, dia jadi tahu siapa orangnya. "Kalau gak salah inget namanya Wulan, kalau nama lengkapnya sih gue juga kurang tahu," Irgi mengatakannya. "Setahu gue dia itu anaknya ambisius banget. Ke mana-mana dia sering bawa buku."
"Maksud lo anak kelas sepuluh yang waktu itu ketemu sama kita di toko buku?" Vernon mengajukan pertanyaan kepada Irgi. Barangkali orang yang dia maksud saat ini adalah orang yang sama dengan yang pernah bertemu dengannya.
"Bener," Irgi membenarkan dugaan Vernon.
...●●●●●...
__ADS_1
...MAKASIH YA UDAH MAU NUNGGU CERITA INI *EMOTIKON LOVE*...