
...DIFFERENT FEELINGS...
...(PERASAAN YANG BERBEDA)...
...●...
...●...
...●...
LEANA berjalan sambil memainkan tali ranselnya. Diiringi siulan gadis itu berjalan santai membelah koridor menuju ke kelas. Saat asyiknya menikmati langkah demi langkah matanya malah menemukan seorang perempuan beransel pink berjalan dengan jarak yang lumayan jauh di depannya. Tidak salah lagi, ransel dan caranya berjalan menyadarkan Leana bahwa gadis itu Maurine.
"Margarin!" alih-alih memanggil dengan nama panggilannya Leana malah memanggil dia dengan nama yang dibuatnya sendiri. "Woi, Margarin." Teriaknya sekali lagi.
Gadis bernama Maurine sempat mengerutkan kening, namun dia memilih untuk tidak membalikkan badannya ke sumber suara. Nama panggilannya adalah Maurine, sementara yang didapati oleh indra pendengarannya adalah Margarin. Memang hampir mirip, namun tetap saja ada perbedaan di antara keduanya.
"Woi Margarin?" Leana berteriak sekali lagi. Namun hasilnya tetap saja sama. Gadis di depan sana tetap melanjutkan langkah tanpa peduli dengan orang yang memanggilnya di belakang. "Maurine, tunggu sebentar!"
Mendengar namanya disebut. Maurine memutar tumit. Di ujung sana terlihat salah satu teman sekelasnya sedang berlari menghampirinya.
"Lain kali kalau habis makan sushi, sumpitnya jangan dibuang. Sebaiknya lo korek dulu kuping lu biar kotorannya gak numpuk dan bikin lo budek. Dari tadi gue panggil gak nyahut-nyahut lu," cerocos Leana seperti biasanya. Efek setelah berlari menjadikan embusan napasnya terdengar memburu.
"Salahin diri lo! Siapa suruh call my name dengan sebutan Margarin. Orang jelas-jelas nama gue Maurine, M-A-U-R-I-N-E."
"Bodo amat lah. Intinya gue mau nanya satu hal sama lo."
"Buruan deh, don't waste my time!"
"Dih sok ngartis lo sok-sokan kek orang sibuk, pakek don't waste my time segala lo," Leana mengedikkan bahunya secara bersamaan. Seandainya saja dia tidak ingin membahas sesuatu dengan gadis ini, dia mana sudi mendekatinya.
"Ya udah, lo mau bilang apa?"
"Kenapa lo kecentilan banget sih jadi cewek? Bisa-bisanya lo deketin Danial mulu sementara lo tahu kalau dia dan Aurel pacaran."
"Suka-suka gue dong mau deket sama siapa aja. Kenapa kesannya malah lo mau ngatur hidup gue," songong Maurine diekori dengan sebuah senyum miring yang mengintimidasi.
"Kalau gitu sih emang dasarnya aja lo yang cabe! Bukannya bertanggung jawab dengan memperbaiki hubungan Danial dan Aurel, lo malah tambah bikin kacau dengan berangkat ke sekolah bareng Danial. Lo punya hati gak sih? Apa lo gak sadar kalau penyebab mereka putus tuh karena ngeliat lo berdua sama Danial di mini market semalam."
"What? Gue gak salah denger? Lo nuduh gue yang ngebuat mereka putus?"
"Selama kuping lo masih berfungsi dengan baik sih gua yakin lo gak bakal salah denger."
Maurine mengubah gayanya. Kedua tangan yang sebelumnya tersampir di bagian pinggang, kini terangkat secara perlahan. Maurine sedang mengambil gaya tolok pinggang. "Hello? Kenapa lo malah nyalahin gue? Lagian yah, putusnya mereka tuh none of your business! Sebaiknya urus aja urusan lo sendiri."
"Kata siapa bukan urusan gue? Gue tegasin sama lo. Aurel sahabat gue, dan apa pun yang menyangkut dia bakal jadi urusan gue."
Maurine tertawa mengintimidasi. "Gue lupa, elo kan babunya Aurel. Wajar kalau lo belain dia sampai sejauh ini."
"Jaga ya omongan lo!" peringat Leana mulai naik pitam.
"That's true, right?" katanya seraya menepuk punggung milik Leana pelan-pelan yang segera ditepis oleh Leana.
__ADS_1
"Susah sih ngejelasin sama orang kayak lo apa itu arti dari persahabatan. Orang lo aja gak punya temen. Palingan waktu di Australia lo ada temennya karena lo lahir dari keluarga kaya doang. Gue yakin seratus persen bahwa gak bakal ada orang yang mau temenan sama lo secara tulus. Kelakuan lo aja kayak dajal."
"Shut up!" Maurine menunjuk wajah Leana. "Gue harap lo gak ngelewatin batasan ya An. Walau bagaimana pun gue juga punya batas kesabaran. Jangan sampai gue ngacak-ngacak muka lo itu!" ancamnya tidak main-main.
"Why you so mad, that's true right?" dengan cara yang sama Leana mengikuti gestur Maurine saat mengungkapkan kekesalan sebelumnya.
Gaya Maurine berubah lagi. Tidak lagi dengan gaya bertolok pinggang, kini gadis itu mengubahnya jadi bersedikap, "Oh iya, gue ngaku salah. Gue terlalu cantik buat jadi saingannya Aurel. Maka dari itu jangan salahin gue kalau misalkan Danial tertarik lagi sama gue. Gue pikir Danial cukup andal dalam membedakan, mana mutira imitasi kayak Aurel, dan mana mutiara asli kayak gue."
"Tunggu sebentar. Berarti bener dong kalau lo masih suka sama Danial?"
"Kalau iya, kenapa? Masalah buat lo?"
Sudah Leana duga. Maurine memang punya niatan buruk pada Aurel. Dari awal Leana telah menaruh curiga bahwa Maurine masih mengharapkan cinta dari Danial. Terbukti dari gelagatnya ketika di sebelah Danial, dan ketika gadis itu memandang Danial.
"Why are you quiet? Kehabisan kata-kata kah?" kata Maurine terdengar sangat puas karena mengira dirinya berhasil membungkam Leana sampai gadis itu tak mampu berkutip lagi, "Mana keberanian lo? Ciut ya nyali lo?" imbuhnya tentu saja dengan nada mencibir.
Leana berdecih, "Eh bule celup! Gue gak kehabisan kata-kata..."
"Lantas kenapa lo diam aja?" potong Maurine dengan raut muka yang membuat siapa saja akan merasa sebal ketika mendapatinya.
" Lebih tepatnya gue ngerasa gak habis pikir aja pas denger lo ngambil perumpaan Aurel sebagai mutiara imitasi. Heh, cabe, udah secantik Ariana Grande lo sampai ngehina-hina sahabat gue?"
"Tapi kan faktanya emang begitu sayang. My visual better than your best friend yang namanya Aurel itu."
Disertai sebuah gelengan dan senyum tipis-tipis Leana membuang muka memandang arah lain selain wajah gadis songong di hadapannya. "Padahal mah dibanding Aurel lo gak ada apa-apanya Maurine. Aurel cantiknya tuh luar dalam, beda sama lo yang cuma cantik dengan bantuan make up super tebal," saat mengembalikan fokusnya ke wajah Maurine, Leana kiranya menarik bibir ke samping memperlihatkan senyum meremehkan, "Dan yang terpenting Aurel gak punya hati yang busuk kayak lo."
Maurine melebarkan matanya. Sudah cukup baginya untuk mendengar cemoohan dari seorang gadis bernama Leana ini. Dalam waktu singkat dia mengangkat tangan hendak menampar Leana. Namun tangannya tertahan di udara karena Aurel datang di waktu yang tepat.
"Gue gak bakal tinggal diam kalau lo coba nyakitin sahabat gue!" kata Aurel.
"Gue bilang lepasin, atau..."
"Atau apa?" potong Aurel. "Lo mau ngaduin gue ke Danial? Aduin aja! Gue gak takut," sambungnya seraya melepaskan tangan milik Maurine dari kurungan tangannya. Tidak mau berlama-lama di koridor, Aurel mengambil tangan sahabatnya. Keduanya bergegas mempercepat langkah menuju ke kelas.
Maurine yang masih berdiri di tempat yang sama memperhatikan punggung Aurel dan Leana dengan sebuah kilatan di bola mata tanda sedang marah sekaligus kesal. Di detik selanjutnya gadis itu meninju udara bebas di sekitarnya menuangkan amarah di dalam dirinya.
...●●●●●...
HARIS menoleh lalu mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Danial sedang menenteng ranselnya. Selama beberapa saat Haris mengerutkan kening berdampak pada alisnya yang tiba-tiba berkedut.
"Mulai hari ini dan seterusnya gue bakal duduk bareng lo. Lo gak keberatan, kan?" tanya Danial memastikan.
Haris berpikir sebentar. Sedikit pun dia tidak merasa keberatan jika Danial duduk di sebelahnya.
"Gue sih gak keberatan sama sekali. Tapi kalau misalkan lo duduk di deket gue, ntar pacar gue duduk di mana?" tanya Haris.
"Leana bisa duduk sama Aurel. Mereka berdua kan sahabatan."
"Itu pun kalau dia setuju, kalau misalkan enggak, gue harus gimana?"
Danial duduk setelah mengambil dan meletakkan ransel milik Leana yang ada di kursi ke atas meja. Danial saat itu sedang memangku ransel miliknya sendiri. "Ntar biar gue yang jelasin ke dia secara baik-baik."
__ADS_1
Tak lama berselang. Leana yang tadinya meminta izin ke kantin pun telah kembali. Sembari menenteng botol air mineral gadis itu menghampiri kursi miliknya yang tak lagi kosong seperti saat dia meninggalkannya tadi.
"Ngapa lu duduk di kursi gue, Dan? Pakek bawa tas segala lagi. Jangan bilang kalau lo mau tukeran tempat duduk sama gue?" protes Leana memberondong Danial dengan pertanyaan.
"Mulai hari ini gue yang bakal duduk di kursi lo, dan lo bisa duduk di kursi gue bersebelahan dengan sahabat lo, si Aurel."
Leana menggelengkan kepalanya, diikuti dengan kalimat penolakan dari bibirnya, "Enggak, enggak, enggak. Pokoknya gue gak terima kalau kita tukeran tempat duduk."
"Udahlah, sekali-kali ngertiin gue lah."
"Enggak!" Leana bersikeras. Keputusannya telah bulat dan tak terbantahkan, "Kalian yang putus, tapi kok gue sama Haris ikutan dipisahin tempat duduknya? Ya kali gara-gara putus aja lo sampai bertindak berlebihan kayak gini. Atau jangan-jangan lo takut susah move on kan kalo misalkan duduk berdua mulu sama Aurel?"
"Hati-hati kalau ngomong, jangan fitnah!"
"Kalau memang bukan karena itu alasannya, lantas apa dong?"
"Adalah pokoknya. Intinya lo gak perlu tahu."
"Bilang aja kalau lo belum bisa ngelupain Aurel."
Danial mendengus sebal. Pria itu bangkit meninggalkan kursi milik Leana. Dia melangkah cepat-cepat kembali ke tempat duduknya semula, yaitu di dekat Aurel. Sesampai di sana dia langsung memberi batas pemisah antara meja miliknya dengan meja milik Aurel.
"Apa liat-liat, apa jangan-jangan lo gak bisa move on ya dari gue," komentar Danial pedas, main asal tuduh terhadap Aurel yang memang diam-diam meliriknya melalui ekor mata.
"Terserah gue dong mau ngeliat apa dan siapa. Mata-mata gue, kenapa lu yang sewot!" sengit Aurel. "Ngomong-ngomong lo lagi buat apaan sampai nyoret-nyoret meja segala pakai pulpen."
"Dengerin baik-baik ya, garis ini tuh batas..."
"Batas apaan?"
Devil face yang sudah lama sekali tak terlihat di wajah Danial telah kembali. Aurel bahkan lupa kapan terakhir kali dia menyaksikan tampang menyeramkan itu. "Bisa gak sih kalau gue lagi bicara didengerin dulu, jangan langsung nyerocos kayak kereta api," pedas Danial. "Jadi, ini itu batas. Pokoknya lo gak boleh sampai ngelewatin ini! Hal yang sama berlaku buat gue. Gue juga gak boleh ngelewatin batasnya."
"Lebay banget sih lo pakek pembatas segala," cibir Aurel.
"Biar lo gak modus nyentuh-nyentuh gue," sahut Danial.
"Enak aja, elo kali yang suka modus."
"Gue gak modus. Lagian perasaan gue sama lo udah hilang sejak semalam gue mutusin lo!"
"Eh, tutup botol," kata Aurel. Gerakan tangannya tak kalah cepat menabok punggung pria itu.
"Ih modus lo pegang-pegang gue."
"Denger ya, bukan lo yang mutusin gue. Sebaliknya gue yang mutusin lo!"
"Terserah siapa yang mutusin, yang pastinya semalam pasti lu nangis-nangis pas sampai di rumah. Bilang aja kalau sebenarnya tuh lo belum bisa ngejauh dari gue."
"Gue gak naif, gue berani jujur semalam gue emang nangis, bukan nangisin lo tapi. Gue nangis karena nyesel sama kenyataan kalau gue sempet pacaran sama manusia kayak lo."
"Lo pikir lo doang yang nyesel? Gue juga nyesel kali pacaran sama lo."
__ADS_1
...-To be Continued-...