
...STILL LOVE?...
...(MASIH CINTA?)...
...●...
...●...
...●...
AUREL duduk di tribune paling atas. Dia menikmati tim basket SMA Angkasa Raya sedang berlatih di lapangan. Tidak sendirian. Ada banyak murid perempuan yang kian memadati tribune tempatnya mengambil posisi duduk saat ini.
Di tengah lapangan tampak seorang Bagas sedang berlatih memasukkan bola ke keranjang dengan diawasi oleh seorang pria dengan sebuah peluit berwarna kuning menggantung di lengannya. Aurel menebak pria itu sebagai seorang pelatih.
Pria bernama Bagas itu tampak serius sampai tak menyadari bahwa di salah satu kursi penonton Aurel sedang memperhatikannya lekat sambil tersenyum sesekali. Masih teringat ucapan Bagas sebelumnya tentang dirinya yang katanya kurang mahir, tetapi saat melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian di lapangan, kali ini Aurel bisa melihat dan akhirnya menyimpulkan kalau pria itu andal, sangat andal bahkan.
Drrtttt.
Aurel menurunkan pandangan sesaat setelah dirasakannya getaran di saku. Benda pipi miliknya diambil segera dari dalam sana. Saat tombol kunci ditekan olehnya, terlihatlah ada satu buah pesan masuk dari Nakula.
Kamu kok gak ada di rumah? Masih di sekolah?
^^^Iya nih Kak, Aurel masih di sekolah.^^^
Belum genap enam puluh detik Aurel mengirim balasan pesan untuk Nakula dan sekarang getaran sama dirasakannya lagi. Aurel yang sebetulnya akan memasukkan ponselnya ke saku pun memilih urung melakukannya. Dia mengecek ponselnya.
Perlu aku jemput. Kebetulan sekarang kakak lagi punya urusan di luar.
^^^Gak perlu Kak. Aurel udah keburu bikin janji sama Bagas^^^
Bagas? Siapa dia?
^^^Temen Aurel.^^^
Ya udah deh kalau gak mau dijemput.
Hati-hati di jalan ya! Kakak nitip pesan sama si Bagas itu. Suruh dia jangan ngebut!
^^^Nanti bakal aku sampein!^^^
Aurel menyimpan ponsel miliknya di ransel. Sejauh mata memandang di depan sana ia melihat Bagas yang sesekali menyeka keringatnya dengan punggung tangan. Dia begitu bersemangat mencoba merebut bola dari lawan mainnya.
Tak terasa tiga puluh menit telah berlalu dengan begitu cepat. Aurel menolehkan muka memperhatikan sekitarnya. Kondisi tribune tak seramai saat awal-awal latihan ini berlangsung. Beberapa murid perempuan yang hobi cuci mata melihat cogan-cogan sedang latihan telah meninggalkan tribune.
__ADS_1
Orang biasa tentu melihat tribune tak lagi ramai. Namun bagi mereka yang memiliki kelebihan akan melihat tribune dalam keadaan sesak karena makhluk tak kasat mata berkumpul di sana. Berusaha acuh tak acuh pada hantunya, Aurel mengembalikan perhatian ke depan. Bahkan setelah latihan berakhir pun Bagas tak kunjung tersadar dengan kehadiran Aurel di kursi penonton. Bagas sedang asyik berbincang dengan salah satu temannya sambil meluruskan kakinya.
"Bagas!!!"
Bagas menolehkan muka. Tepat di depan tribune Aurel tengah berdiri sembari melambaikan tangan—memberi kode kepada Bagas agar pria itu menghampirinya.
"Lo gak sadar kan kalau dari tadi gue ada di kursi penonton."
"Enggak. Bahkan gue mikirnya lo udah balik duluan karena kelamaan nunggu gue latihan. Sejak kapan lo ada di sana?" dengan dagunya Bagas menunjuk tribune tempat Aurel duduk sebelumnya.
"Gue kan udah bilang dari awal kalau gue bakal nunggu sampai latihannya selesai. O ya, nih buat lo. Kelamaan latihan pasti bikin lo haus," botol mineral yang dibeli Aurel sebelum ke lapangan diserahkan ke tangan Bagas.
"Gak ada minuman dingin?"
"Gak ada. Lagi pula lo baru aja selesai olahraga. Dari pada minum air dingin mending minum air biasa aja. Lebih sehat juga," jelas Aurel.
Tidak ada bantahan dari pria bernama Bagas itu. Dia meneguk minuman pemberian Aurel sampai bener-bener habis. "Thanks ya!"
"Haus, Bang?" komentar Aurel. Gadis itu tertawa kemudian.
"Haus banget malah," jawab Bagas dilanjutkan oleh sebuah senyuman.
"Ya udah deh, mendingan lo balik ke kelas ambil barang. Keburu makin gelap nantinya kalau kita lama-lama di sini."
Aurel berjalan lambat-lambat. Matanya menatap lurus ke depan, memperhatikan secara saksama punggung milik Bagas yang kian menjauh. Bagas berlari meninggalkannya karena pria itu sedang terburu-buru ke kelasnya untuk mengganti baju sekaligus mengambil ranselnya di sana.
Saat sedang menunggu di gerbang sekolah, secara tak sengaja Aurel mendapati sosok Jasmine sedang muncul di tempat biasa. Sekali lagi dorongan untuk berbicara dengan perempuan itu dirasakan oleh Aurel. Melihat wajahnya yang senantiasa tampak murung justru membangkitkan rasa empati di dalam diri Aurel. Aurel ingin berbagi banyak dengan perempuan, bahkan sekali saja kalau bisa.
"Rel, kenapa lo belum pulang?"
Aurel menoleh. Berhenti memandangi Jasmine, kini fokusnya sedang tertanam di wajah Danial yang sedang menunggangi motor tepat di hadapannya. "Gue lagi nunggu seseorang, Dan!" jawabnya dengan menyertakan sebuah senyuman di akhir kalimatnya.
"Dari pada lo nunggu Nakula mendingan lo pulangnya bareng gue aja," usul Danial.
"Makasih sebelumnya, tapi gue udah keburu ada janji sama Bagas."
Ada percikan api yang tumbuh di hati Danial saat ini. Pria itu sedikit terganggu dengan apa yang Aurel sampaikan. "Lo lebih milih pulang bareng orang asing dibanding gue yang statusnya mantan pacar lo?" emosi Danial. Terlihat jelas dari ekspresi yang ditampilkannya kini.
"Kok lo malah marah-marah sih? Kan gue udah ngejawab lo dengan pemilihan kata sesopan mungkin. Kenapa kesannya lo malah gak suka gue jalan sama Bagas?"
"Karena lo baru kenal dia beberapa hari ini. Dan lo juga belum tahu betul selak beluk dari pria itu. Gimana kalau misalkan dia ada niatan gak baik sama lo?"
Aurel pikir kalimat Danial barusan sudah melewati ambang batas kewajaran. Baru kenal bukan berarti Bagas memiliki niatan buruk seperti tuduhannya. "Gue rasa lo udah berlebihan deh. Barusan lo udah ngerendahin seseorang. Dan yah, apa gue harus ngingetin tentang hubungan di antara kita yang udah selesai?"
__ADS_1
Danial mendengus. Bibirnya ditarik ke samping memperlihatkan senyum meremehkan. "Kalau lo pikir gue ngingetin lo kek gini karena gue masih ada rasa, lo salah besar Rel. Lagian perasaan gue sama lo udah hilang di hari saat lo mengakhiri hubungan ini."
"Harusnya lo sadar Dan. Pas kita putus berarti lo udah kehilangan hak buat ngelarang gue untuk jalan sama siapa aja. Lagian gue heran aja kenapa lo ngelarang gue jalan sama Bagas padahal lo juga bebas tuh jalan sama Maurine."
"Kenapa jadi sangkut pautin Maurine," ucap Danial dengan nada tak terima.
"Lo aja marah sewaktu gue nyangkut pautin Maurine, berarti gue juga berhak marah dong saat lo mikir yang aneh-aneh tentang Bagas."
Danial turun dari motor usai menurunkan standar motornya. Helm yang membungkus kepalanya dibuka lantas diletakkan di atas spion sebelah kanan. Lanjut pria itu berjalan pelan-pelan menghampiri Aurel yang justru menegang mendapati pria itu berjalan mendekatinya dengan raut muka yang membuat nyali lawannya menciut.
Aurel yang mengambil langkah mundur tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuh bagian belakangnya menempel dengan tembok gerbang sekolah. "M-Mau apa lo, Dan? Jangan coba macam-macam ya sama gue!" Aurel memperingatinya.
Langkah demi langkah digeluti oleh pria itu. Secara tidak langsung dia semakin memangkas jarak dengan Aurel. "Gue gak ada niatan untuk macam-macam sama lo, gue penasaran aja."
"Penasaran sama apa?" Aurel menjawabnya dengan nada gugup. Oh iya satu hal yang pasti. Meskipun Aurel menjawab yang dikatakan oleh Danial, namun gadis itu sama sekali tak mengadu mata dengan lawan bicaranya. Aurel terlalu takut dengan mimik muka yang Danial tampilkan.
Aurel mendorong tubuh kekar Danial menggunakan kedua tangannya. Aurel sudah tidak tahan berada dalam jarak sedekat itu dengannya. Saking dekatnya jarak dia dengan Danial sampai dia mampu merasakan aroma maskulin dan aroma parfum yang berpadu, menyeruak dari tubuh pria itu.
"Menyingkir dari gue!" begitulah yang Aurel katakan saat menggunakan segenap tenaganya dalam memangkas jaraknya dengan sang mantan.
"Kenapa?" masih dengan mimik muka yang sama Danial bertanya. Bukankah sudah jelas alasannya karena Aurel tidak suka?
"Gak enak aja diliatin orang banyak," dalih Aurel. Sejauh ini gadis berambut panjang tersebut masih saja enggan mengadu mata dengan Danial yang sedari tadi menanam fokus pada wajahnya.
"Enggak enak diliatin orang atau lo belum bisa move on dari gue?" tebak Danial. Pria itu masih sempat-sempatnya menerbitkan senyuman intimidasi disaat-saat seperti ini.
"Ngaco!"
"Kok ngaco sih. Kan emang bener lo belum bisa beralih dari gue. Kan?" satu alis miliknya terangkat meninggalkan tempatnya.
"Plis Danial, berhenti mojokin gue kayak gini!" ujar Aurel mulai naik pitam. "Jangan bertingkah seakan-akan lo masih jadi prioritas di hati gue."
Danial memijit-mijit pangkal hidungnya. Hanya selang beberapa detik sebuah gerakan sederhana terlihat di sudut bibirnya. Mungkin sebentar lagi sebuah kalimat akan tergulir dari bibirnya. "Kalau memang gue bukan lagi prioritas, lalu kenapa lo nyeret-nyeret Maurine di percakapan kita sebelumnya?" Danial menatap lekat lawan bicaranya yang masih bergeming memikirkan jawaban atas pertanyaan Danial. "Koreksi kalau salah, tapi gue masih ngeliat kecemburuan di mata lo. Apa mungkin lo cemburu sama Maurine?"
"Jangan ngaco deh, gue gak ada cemburu-cemburunya sama sekali."
"Are you serious? Kok gue gak yakin ya...... Entah kenapa gue ngerasa kalau sebenarnya lo masih naruh cemburu ngeliat gue bonceng Maurine tempo hari. Sadar sih gue, emang sulit sih move on dari orang sekeren gue."
Aurel mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sulit sih, gue ngaku soal itu. Tapi lama-lama gue bersyukur juga. Sekarang gue udah sadar kalau ninggalin lo merupakan jalan yang tepat." Aurel berjalan meninggalkan Danial. Dengan sengaja Aurel menabarak bahu milik pria itu untuk menjelaskan perasaan marahnya saat ini. Dalam hati Aurel menyumpahserapahi Danial yang seenaknya datang mengganggunya.
Gue gak sebodoh itu kali, Rel! gue masih yakin lo masih suka sama gue. Buktinya dari awal lo gak punya keberanian untuk balas natap gue! Pikir Danial yang masih berdiri di tempatnya menatap punggung sang mantan yang kian menjauh meninggalkannya.
...-To be Continued-...
__ADS_1