MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
34. WHAT'S WRONG WITH DANIAL?


__ADS_3

...WHAT'S WRONG WITH DANIAL?...


...(ADA APA DENGAN DANIAL?)...


...●...


...●...


...●...


“BARENG GUE AJA!” Leana menawarkan bantuan pada sahabatnya. “Mungkin Kak Nakula lagi sibuk jadi gak bisa jemput lo,” sambungnya menakut-nakuti.


“Nakula pasti dateng kok.” Aurel menjawab penuh percaya diri.


“Dibilangin kagak percaya. Sekarang udah jam lima loh Rel, bentar lagi maghrib. Lo emangnya kagak takut kalo didatengin hantu,” Leana tetap saja menakut-nakuti sahabatnya dengan maksud terselubung supaya Aurel menerima tawarannya pulang bareng.


“Dih, lo salah orang kali An. Bukannya sombong, tapi kalo urusan hantu udah jadi makanan sehari-hari gue mah.”


Leana menyengir merasa bodoh. “Gue lupa, lo kan indihome.”


“Indigo, Leana.” Koreksi Aurel.


“Iya, iya, becanda doang itu mah.”


“Udah sana!” usir Aurel.


“Plis deh Rel. Lo ikut mobil gue aja! Gue janji deh pas di jalan nanti gue bakal ngasih tau lo bahan ghibahan kelas sebelah yang gue denger tadi pagi,” Leana masih mencoba membujuk, kali ini dengan iming-iming bahan gosip.


Senyuman manis lebih dulu tercetak di wajah Aurel, “Gak usah An. Bentar lagi Kak Nakula jemput kok. Lagipula kan rumah kita gak searah,” tolak Aurel.


“Gapapa lagi Rel. Yuk!” Leana menggamit lengan sahabatnya.


“Enggak usah An. Lo pulang aja, kasian bokap lo nungguin di luar!”


“Ya sudah, bye…” Leana melambaikan tangannya sebelum berlalu.


“Gue pengin bicara sama lo!” seseorang baru saja membuka topik dengan Aurel.


“Bicara aja!” jawab Aurel acuh tak acuh. Matanya belum memeriksa tetapi suara tadi berhasil meyakinkannya bahwa pemilik suara tersebut adalah Danial Wirawan.

__ADS_1


Perubahan signifikan terjadi pada sikap Aurel. Hal itu membuat Danial merasa sedikit aneh sekaligus bertanya-tanya. Aurel terus mengabaikannya. Waktu di kelas Aurel sengaja membuang muka saat Danial membuka topik dengannya.


“Rel lo kenapa sih ngehindarin gue?” Danial memegangi lengan Aurel cukup kuat saat gadis bersangkutan mulai mengangkat kaki mencoba menghindar.


“Gue gak mau lagi berurusan sama lo!” Aurel berdecak saat hendak menarik tangannya keluar dari kurungan tangan Danial, “Lepasin gue!” lanjutnya kedengaran menuntut.


“Gue gak bakal lepasin tangan lo sebelum ada alasan yang lo ungkapin!” Danial bersikeras. Tangannya bahkan semakin erat melingkari pergelangan Aurel. Ia tak peduli pada rasa sakit yang akan dirasakan gadis itu akibat dari cengkeramannya yang super kuat.


“Gue kecewa sama lo!” tutur Aurel tak tanggung-tanggung.


“Cuma karena gue bohong soal penyebab hantunya ngikutin gue? Atau karena gue udah bilang ke teman-teman gue kejadian pas di gudang?” tanya Danial menerka-nerka.


“Iya,” singkat Aurel tetapi mampu menjatuhkan rahang kuat milik pria di hadapannya.


“Maaf.” Danial menangkupkan tangannya memohon belas kasihan Aurel.


“Dan, gue tahu kata maaf gak ada dalam kamus lo. Gue juga mau bilang makasih karena waktu itu lo pernah ngucapin maaf sama gue. Tapi, Dan. Lo juga gak bisa terus-terusan berlindung dengan kata maaf.”


“Tunggu bentar!” ekspresi Danial tampak berpikir kritis saat kedua tangannya terangkat, mengisyaratkan supaya gadis di depannya berhenti berbicara, “Entah kenapa gue ngerasa kalo lo cuma nyari celah supaya bisa ngehindar dari gue.”


Aurel sempat meneguk ludahnya. Ia tak menyangka Danial bakalan berpikir sampai sejauh itu.


“Yakin?” Danial lalu tersenyum meremehkan.


Kerutan samar sedang terlukis di dahi Aurel. Satu kata yang diucapkan Danial terlalu menghadirkan tanda tanya besar.


“Maksud lo?”


“Lo yakin gak bakal bantuin gue lagi?”


Sebetulnya keraguan sedang menjalar di kepala Aurel. Tetapi gadis itu tetap saja mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan si pria pemilik alis tebal.


“Kita liat aja nanti, gue pegang kata-kata lo.” Danial bergegas pergi menuju parkiran. Meninggalkan Aurel yang masih menatap punggungnya semakin menjauh.


“Sebenarnya apa sih maksudnya?” Aurel diam memikirkan perkataan Danial.


...●●●●● ...


SEKARANG masih jam delapan. Rencananya Aurel akan tidur lebih awal. Selain karena tak ada tugas sekolah, Aurel juga sedang banyak pikiran. Bisa dibilang pikirannya saat ini sedang bercabang. Di satu sisi ia memikirkan sahabatnya dan di sisi lain ia kepikiran tentang Danial. Dan ya… Aurel belum bisa menerima kenyataan bahwa dia mulai menyukai Danial. Terlalu sulit untuk mengakuinya, mengingat dirinya dan Danial lebih pantas disebut kucing dan tikus yang hobi berantem tiap kali bertemu.

__ADS_1


Tepat setelah mengikat rambut panjangnya dengan karet gelang, Aurel pun bangkit membawa langkah kakinya menuju ranjang.


Ia bahkan belum sempat memejamkan matanya setelah menumbangkan badannya di kasur empuk, tetapi dering ponsel mengharuskannya merentangkan tangan untuk mengambil benda pipih yang ditaruhnya di atas nakas.


Nama Danial tertera di sana. Itu membuat Aurel mengernyit. Apakah Danial lupa dengan perjanjiannya untuk bertingkah layaknya orang asing?


Cukup lama Aurel menimbang-nimbang bergelut dengan akalnya. Apakah ia harus menerima teleponnya atau justru sebaliknya.


Dan pada akhirnya ia dikalahkan oleh asumsi yang dibuat kepalanya. Setelah menekan tombol hijau, ponsel itu pun diposisikan ke depan telinganya.


“Halo…” Aurel meredupkan matanya saat tersadar tak ada respon dari pria di seberang sana. “Dan…” panggilnya sekali lagi terdengar penuh kehati-hatian.


“Rel tolongin gue!” kata Danial, suaranya serak sementara nadanya terdengar memohon.


Mata yang tadinya meredup mendadak memelotot. Pompa jantungnya mulai berdetak tak seirama. Aurel panik. Ia bangkit lalu mendudukkan tubuh mungilnya di tepian ranjang. “Lo ada di mana?” tanya Aurel.


“T-tolongin Ggu-e Rel!” ucap Danial terbata-bata.


“Iya gue bakal nolongin lo. Tapi jawab dulu, sekarang lo ada di mana?”


Saat ini kepanikan sedang menghantam kepala Aurel. Sudah pasti ia menghawatirkan kondisi Danial. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan pria itu? Gadis itu bahkan masih tidak enak setelah menghindari Danial dengan alasan tak masuk akal.


Sambungan telepon yang terputus secara sepihak semakin membuat Aurel gusar. Ia tidak tahu harus bertindak bagaimana. Apalagi ia tidak tahu keberadaan Danial saat ini. Mencoba menelpon kembali, tetapi sudah tidak aktif.


“Ya Tuhan, gue harus minta tolong sama siapa ya?” gumam Aurel di sela-sela kepanikannya.


Aurel bergegas turun dari kamarnya mengunjungi kamar Nakula. Sial, kali ini semesta tak mau berpihak padanya. Kamar Nakula sedang dalam keadaan kosong saat Aurel tiba di sana. Dengan perasaan kecewa ia menutup kembali pintu kamar Nakula sambil memikirkan langkah selanjutnya.


“Oh ya gue harus nelpon Haris,” untungnya akal Aurel tak sebuntu itu meski sedang dilanda kepanikan. Secepat kilat ia melepaskan tangannya dari gagang pintu. Ia mengambil ponsel dari saku, menghubungi Haris.


“Ah sial,” lagi-lagi semesta tak mau berpihak padanya. Nomor Haris tidak aktif, “Gue harus gimana lagi?” satu-satunya teman dekat Danial yang nomornya ada sama Aurel cuma Haris, itupun karena mereka sekelas. Aurel tak punya nomor telepon Irgi dan juga Vernon.


Dalam diamnya gadis itu dikejutkan oleh getaran di ponselnya, pertanda satu buah pesan masuk.


Tolongin gue! Sekarang gue lagi di tikungan sebelum rumah lo! Gue lagi di atas mobil, cuma lo yang bisa nolongin gue!


Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya begitu bibirnya bergerak membaca pesan yang dikirim oleh Danial. Tanpa berpikir panjang Aurel memasukkan ponselnya ke saku piamanya.


Setengah berlari gadis itu meninggalkan rumahnya menuju tikungan yang dimaksud oleh Danial. “Tuhan gue mohon, lindungi Danial!” fokus Aurel saat ini hanya tertuju pada Danial.

__ADS_1


...~To be Continued~...


__ADS_2