MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
53. SOMETHING NEW


__ADS_3

...SOMETHING NEW...


...(SESUATU YANG BARU)...


...●...


...●...


...●...


NAKULA sedang bersantai dalam posisi duduk di sebelah ranjang tempat adiknya tertidur. Tadinya pria itu hendak beristirahat di kamarnya ketika sang mama datang menyuruhnya untuk menemani adiknya sebentar karena beliau hendak keluar untuk belanja bulanan.


Sembari menjaga adiknya. Nakula turut serta memainkan ponselnya. Sampai akhirnya suasana sunyi di ruangan kecil itu dipecahkan oleh pekikan yang dilayangkan oleh sang adik. Tidak tanggung suara menggelegar itu sempat menghadirkan sentakan di tubuh Nakula sebagai umpan baliknya.


"Berisik woi!" pekik Aurel. Nakula merespon dengan raut muka kaget. "Jangan naikin tensi gua woy!" sambungnya dengan nada suara yang naik sampai setengah oktav.


"Ada apa?" tanya pria itu. Fokus miliknya telah dikembalikan ke layar ponselnya. Nakula tidak ingin kehilangan setiap detik berharga yang bakal terlewatkan dari film animasi yang terputar di ponsel seandainya ia menanam fokus perhatian di wajah adiknya lebih lama lagi. "Kamu keganggu sama suara ponsel Kakak? Perlu kukecilin volumenya?"


"Bukan. Bukan karena suara ponsel Kakak. Tapi karena suara si onoh," sambil menunjuk salah satu arah. Lebih tepatnya ke sudut kamar di sebelah lemari berwarna cokelat.


Dengan sangat terpaksa Nakula menekan layar ponsel menggunakan telunjuk. Setelah menjeda tayangan film animasinya terlihatlah pergerakan kepalanya menghadap adiknya sebentar sebelum bola matanya bergerak menjama setiap sudut ruangan. Pria itu lantas meneguk ludahnya susah payah meredam ketakutannya. Hanya ada dirinya dan sang adik di ruangan ini. Lantas siapa yang dianggap Aurel mengganggu ketenangannya?


"Kalau misalkan kamu gak keganggu sama suara ponsel Kakak, terus kamu keganggu sama suara siapa? Dari tadi Kakak justru gak denger sama sekali suara ribut yang mengganggu."


"Itu Kak, aku lagi negur kuntilanak di pojokan. Dari tadi kerjanya nyanyi mulu bikin kuping Aurel panas ngedengernya, mana suaranya fales lagi."


Nakula menegang di tempat duduknya. Bulu kuduknya meremang dalam sekejap. Ia bersumpah bahwa yang dikatakan oleh adiknya tidak lucu sama sekali. Entah mengapa dia justru takut kuntilanaknya marah mendengar Aurel yang mencibir dengan melabeli suaranya fals.


Tidak banyak waktu yang terbuang bagi Danial tuk menghamburkan diri ke sebelah adiknya di atas ranjang,"Kamu kenapa bilang sih kalau kamu lagi negur kuntilanak, selain itu kenapa kamu ngatain suaranya fals? Ntar kalau dia marah dan ngejambak kamu?"


"Kan Kakak yang nanya makanya aku jawab. Ntar kalau gak dijawab malah dibilang gak sopan, eh giliran dijawab kena marah juga. Intinya mah Aurel serba salah di mata Kakak."


"Kan bisa difilter, gak perlu to the point dengan nyebut nama hantu yang lo liat."


"Kakak aja yang penakut, kok malah nyalahin Aurel."


"Idih, kata siapa kakak penakut?" Nakula memberi pandangan seakan menuntut atas kesimpulan yang diambil oleh Aurel di detik sebelumnya.


"Elah, pakek gak mau ngakuin segala lagi."


"Kan emang bener Kakak gak penakut," sengit Nakula tidak mau kalah.


"Kalau gak penakut terus apa namanya?"


"Bukan penakut, tapi gak berani aja."


"Sama aja!"


"Beda Aurel."


"Iya deh, terserah Kakak aja. Aurel malas debat, kepala Aurel tambah pusing yang ada kalau ngeladenin kakak mulu."


"Oh iya Rel, kakak minta tolong dong!"

__ADS_1


"Kakak liat kondisi juga dong kalau mau minta tolong. Ya kali mau minta tolong sama adeknya yang lagi sakit."


"Tapi sumpah kebelet banget, kakak mau pipis."


"Lah, terus apa hubungannya sama Aurel?"


"Kakak mau pakai toilet di kamar kamu, tapi sebelum itu kamu kasih tahu dulu ke temen-temen hantu kamu supaya dia gak gangguin kakak."


"Ya elah, penakut amat! Hantu juga milih-milih kali mau ngeganggu orang. Lagi pula Kakak gak sepopuler itu di dunia mereka."


"Oh iya kalau misalkan Kakak minta tolong kamu langsung bantuin ya..." Nakula bangkit dari ranjang menuju toilet.


"Lebay banget sih pengin pipis doang udah kayak mau ikut perang."


...●●●●●...


SENYUM tipis-tipis terlihat jelas di bibir Aurel. Gadis itu datang ke sekolah pagi-pagi. Sengaja dia ingin memberi kejutan pada Danial.


Semalam lebih tepatnya Danial sempat menghubunginya. Pria itu bertanya apakah kondisi Aurel sudah membaik dan apakah Aurel sudah siap berangkat ke sekolah besok atau belum. Hanya saja Aurel membalas pesan itu dengan mengatakan bahwa dia belum siap berangkat ke sekolah dengan dalih masih belum terlalu vit dan masih butuh istirahat.


"Seneng banget, setelah kekurung di kamar hampir seminggu akhirnya bisa masuk sekolah lagi," Aurel lantas menghirup udara bebas di sepanjang lorong menuju ke kelas, lalu mengembuskannya pelan. Kelihatannya gadis itu terlihat sangat bahagia. Terbukti karena dia menyapa hantu-hantu yang ditemuinya di sepanjang jalan. Mulai dari yang wujudnya biasa saja sampai yang hancur tak ketulungan tak luput dari sapaannya.


Seminggu terakhir ini Aurel menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di kamar saja. Dia tidak sendirian. Beberapa makhluk tak kasat mata yang menghuni kamarnya tak jarang memperlihatkan wujud padanya. Tapi sekarang tidak lagi, kondisinya sudah jauh lebih membaik dibanding sebelumnya. Saat ini Aurel telah kembali pada aktivitasnya sebagai seorang pelajar.


"AUREL!!!!" begitu membuka pintu kelas Aurel disambut dengan suara cempreng yang khas. Suara itu milik salah satu teman sekelasnya yang bernama Leana. "Lo tahu gak kalau gue tuh kangen banget sama lo," lebih dulu dia melingkarkan tangan di pinggang Aurel sebelum akhirnya ia mengikutsertakan pekikan kuat yang membuat indra pendengaran lawannya auto sakit.


"Bisa gak An, kalau bicara tuh pelan-pelan. Kuping gue sakit tau gak," eluh Aurel. Secara perlahan dia menjauhkan tubuh sahabatnya.


"Ups sorry Rel. Gue kelewat excited pas ngeliat lo datang. Oh iya, gue mau nanya sesuatu sama lo."


"Kemarin kenapa lo ngelarang gue buat datang ngejengukin lo?"


"Salah lo sendiri, tujuan lo datang bukan buat jengukin gue, tapi buat ngehabisin cokelat yang dikirim sama Danial."


Leana menyengir. Memang, soal cokelat gadis bernama Leana itu tidak bisa menahan diri. Tiga hari yang lalu saja saat dia menjenguk Aurel, dia menghabiskan dua batang cokelat milik sahabatnya yang sedang sakit itu.


Leana melihat ke arah pintu. Dia sedang menunggu kehadiran seseorang. Aurel yang tersadar ikut membalikkan badan ke arah pintu kelas. Tidak mendapati siapa-siapa di sana, Aurel mengembalikan fokus penglihatannya kepada Leana.


"Nunggu siapa sih lo?"


Leana diam.


"An, lo nunggu siapa sih?" tanya Aurel lagi, "Nungguin Haris?"


Leana menggeleng disertai sebuah jawaban, "Enggak."


"Kalau bukan Haris, lo nunggu siapa yang datang?"


"Danial."


"Lah, kok?"


"Iya. Biasanya kan lo sama Danial sepaket, datangnya barengan. Tumben pagi ini lo dateng sendiri? Hubungan kalian berdua baik-baik aja kan? Maksud gue..." ucap Leana sengaja memenggal kalimatnya karena tidak mau asal menyimpulkan hanya karena Aurel datang sendirian ke sekolah. Toh, bisa jadi Danial sedang berhalangan hadir ke sekolah sehingga dengan sangat terpaksa Aurel datang sendirian.

__ADS_1


"Gak ada masalah apa-apa kok," potong Aurel sebelum pikiran Leana semakin ngaco. "Gue sengaja berangkat ke sekolah bareng kak Nakula karena mau ngasih kejutan ke Danial."


Leana ber "Oh" panjang mengelus dadanya kemudian. "Syukurlah kalau gitu. Kirain kalian berdua ada masalah."


"Ya kali gue ada masalah tanpa cerita sama lo."


Bunyi sepatu kets terdengar. Secara tidak langsung menjadi alasan berakhirnya interaksi verbal antara Leana dan Aurel. Keduanya secara serempak menolehkan muka ke pintu, mengecek siapa yang baru datang.


Orang yang baru memijakkan kakinya di kelas setidaknya terlihat asing bagi Aurel. Rasanya dia tak pernah sekali pun bertatap muka dengan perempuan itu. Perempuan berambut ombre cokelat dengan mata birunya yang terang.


"Bule celup datang," gumam Leana.


"Siapa dia?" penasaran Aurel. Terlebih karena melihat perempuan itu mengambil posisi duduk di salah satu kursi yang ada di kelas.


"Murid baru."


"Oh ya? Masuknya kapan? Kok lo gak pernah cerita sama gue?"


"Hari pertama lo sakit dia masuk sekolah di sini."


Aurel mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Namanya Maurine Christopher, kalo singkatnya Maurine," tanpa diminta pun Leana menjelaskan tentang anak baru itu pada Aurel.


"Gue perhatiin dari tadi lo kayak gak suka sama dia? Ada apa sih? Lo punya masalah apa sama dia," berondong Aurel. Tampak alis miliknya berkedut bersama dengan terlepasnya sebuah pertanyaan dari bibirnya. Dan ya... Sejak awal Maurine memijakkan kakinya di kelas, Aurel bisa melihat perubahan raut muka sahabatnya itu.


"Kesel gue sama si bule celup. Rasanya pengen gue bejek-bejek mulutnya pakek sambel terasi."


"Sabar."


"Gimana mau sabar ngeliat dia kegatelan deketin pacar lo."


"Demi apa?" kaget Aurel.


"Iya Rel. Bahkan nih, dia tuh sering ngegodain Danial, padahal dia udah tahu kalau Danial udah punya pacar. Lagi nih bukan bermaksud buat ngomporin, tapi gue perhatiin mereka berdua tuh udah kayak orang pacaran, berduaan mulu selama lo gak masuk."


"Sampai segitunya?"


"Karena alasan itulah sampai gue gedek banget sama tuh manusia. Giliran dibilangin malah ngeyel."


"Gue kok ngerasa heran. Yang gue tahu Danial bukan tipikal orang yang gampang akrab sama orang baru. Tapi kata lo mereka berdua kelihatan akrab pas gue gak masuk."


"Gimana gak akrab, Maurine itu mantan pacarnya Danial."


"Tahu dari mana lo?"


"Haris yang cerita. Dulu pas SMP Danial sempet pacaran sama Maurine, tapi hubungan dia kandas di tengah jalan karena Maurine pindah ke Australia sama keluarganya. Gue tahu soal itu dari Haris. Dua hari yang lalu dia nyeritainnya."


"Udahlah, kan faktanya sekarang mereka udah mantan."


"I know, tapi ngeliat gimana tingkah Maurine entah kenapa gue ngerasa kalau dia masih ada rasa sama pacar lo. Semoga aja sih dugaan gue salah Rel, tapi gak ada salahnya juga lo harus waspada sama cewek gatal itu."


"Hush," salah satu tangan milik Aurel yang memperlihatkan bagian telunjuk berakhir di depan bibir milik Leana. "Ga boleh ngomong gitu An, gak baek. Gue gak mau ya kalau misalkan dia denger lo ngatain dia cewek gatel dan akhirnya kalian berdua saling jambak-jambakan. Gue gak mau sahabat gue menderita gara-gara masalah gue."

__ADS_1


"Hati lo terbuat dari apa sih Rel bisa sebaik ini? Andai kata gue jadi lo, udah gue samperin tuh si Maurine yang udah coba deketin pacar gue." Leana tidak bisa berkata banyak. Dia heran sekaligus takjub pada waktu yang bersamaan. Sahabatnya seakan memiliki sifat yang berkebalikan dengannya, dan Leana bersyukur memiliki sahabat seperti Aurel.


...-To be Continued-...


__ADS_2