
...I WISH I NEVER MET YOU AGAIN...
...(BERHARAP TIDAK BERTEMU DENGANMU LAGI)...
...●...
...●...
...●...
SUDAH seminggu sejak pertemuan Aurel dan juga Denis. Memang sih belum ada ikatan yang jelas tentang hubungannya, ibaratnya status mereka saat ini hanya sebatas teman yang sedang berharap adanya ikatan serius di hari kemudian.
Yang Aurel tahu akhir-akhir ini Denis sering menggodanya dengan gombalan mematikan. Belum lagi perlakuan manisnya yang membuat Aurel melting dan semakin menaruh rasa terhadapnya.
"Dicariin sama pacarnya di kantin." Kata Leana dengan gestur tak senang. Sudah hampir seminggu Denis datang menemui Aurel. Itu artinya sudah hampir seminggu pula Leana tak menikmati santap siang bersama Aurel di kantin.
"Belum resmi kali An," elak Aurel menautkan kedua sisi bibirnya kemudian.
"Tapi bentar lagi kan lo bakal ditembak juga sama dia."
Aurel tersenyum, dalam hati mengaminkan ucapan sahabatnya, "Lo gak mau ikut?"
Mengedikkan bahu lanjut mencebik, Leana segera menjawab sahabatnya. "Gak ah, lo duluan aja! Lagipula gue gak mau jadi obat nyamuk," alasannya selalu sama tiap kali Aurel mengajaknya.
"Kalo gitu gue ke kantin duluan ya!" pamitnya yang justru mendapat balasan anggukan beserta senyuman manis dari bibir sahabatnya.
Di kantin Aurel disambut senyuman manis dari Denis. Saat menyadari kehadiran Aurel, Denis bergegas cepat menarik satu kursi lalu mengisyaratkan agar Aurel mengambil posisi duduk di sana.
"Thanks," sambil terduduk, sebuah ucapan terima kasih meluncur mulus dari bibir mungilnya.
"Lo tahu gak Rel, kalo hari ini tuh gue bahagia banget." Kata si pria penuh penekanan. Sebenarnya walau tanpa penjelasan sekalipun, Aurel bisa melihat sendiri pancaran muka Denis yang memang tampak lebih semringah dari biasanya.
Aurel bergeming selama beberapa saat membiarkan fokus perhatiannya terpaku di wajah Denis. Tidak tahu kenapa, tapi hanya melihat pria itu mengumbar tampang semringah membuat Aurel juga ikut senang.
"Daripada bengong lebih baik lo minum jusnya!" Aurel menurunkan dagunya. Ditemukannya segelas jus jeruk di sana, padahal Aurel belum memesannya sama sekali.
"Minuman itu gue yang mesenin," Denis menjelaskan, "Gak ada racunnya kok, tenang aja!" kelakarnya lalu tersenyum.
__ADS_1
Sesuai arahan Aurel menyambar minuman di depannya.
"Rel ada hal penting yang mau gue kasi tau ke elo. Ini ada kaitannya sama perasaan gue!"
Dag.. Dig...Dug
Kira-kira seperti itulah bunyi hentakan yang berporos di jantungnya jika dituliskan dengan kata-kata.
Pengakuan Denis sepertinya terlalu terburu-buru, apalagi saat itu Aurel sedang menyeruput minumannya. Untungnya jus jeruk lebih duluan masuk ke tenggorokannya sehingga adegan batuk-batuk karena tersedak tidaklah kesampaian.
Aurel memainkan jari tentunya merasa was-was. Gadis itu berusaha keras menetralkan perasaan tak keruannya. Dia tidak siap, sungguh.
Seumur-umur ini kali pertama bagi Aurel merasa canggung di depan seorang pria. Sebut saja dia 'lebay' karena sudah kelewatan menafsirkan makna. Toh, belum tentu juga Denis akan menembaknya. Benar kata Nakula, efek samping menjomblo bisa berdampak pada pola pikir seseorang.
Tidak berkurang. Malah, saat ini kadar kecanggungannya semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Apalagi saat menyaksikan pergerakan di sudut bibir Denis. Sebentar lagi sebuah kalimat akan terlepas dari sana.
"Hari ini gue ngerasa jadi pria yang paling bahagia di dunia ini. Lo tau kenapa?" tanyanya dengan binar mata yang sarat akan rasa bahagia.
Otomatis Aurel menggerakkan kepalanya, meggeleng.
"Hari ini gue bakal ngomong hal penting sama lo," kalimat Denis semakin membuat ritme detak jantung Aurel kian tak keruan. Saat ini Aurel sedang dalam mode penuh harap, terlihat dari pancaran air mukanya saat menatap pria di depannya.
Terkejut, marah, dan kecewa. Semuanya menghantam diri Aurel dalam rentan waktu yang bersamaan.
Sedetik, dua detik, tiga detik, sampai akhirnya genap sepuluh detik dan Aurel masih bergeming layaknya maneken.
Tiba-tiba saja ia merasa speechless sehingga ia hanya menyambut undangan pernikahan dari tangan Denis seraya meneguk ludah merasakan getir yang menyerang kerongkongannya.
Aurel menatap nanar nama yang tercetak di bagian depan undangan. Nama Denis tertera di sana bersama nama seorang wanita.
Harusnya gue gak pernah berharap sampai sejauh ini! ujar si gadis, membatin.
Aurel mengakui kesalahannya yang terlalu berharap cintanya terbalas. Ia juga mengakui kesalahannya menafsirkan kebaikan Denis dengan dalih cinta.
Kadang-kadang realita memang lebih sadis ketimbang ekspektasi. Alih-alih membalas perasaannya, Denis nyatanya menganggap Aurel sebagai seorang adik, tidak lebih.
"Aku balik ke kelas dulu ya!" lapisan bening yang melapisi mata indahnya menjadi alasan terkuat bagi gadis itu untuk bangkit meninggalkan kursi. Aurel merasa tak pantas menampakkan perasaan kalutnya di depan Denis.
__ADS_1
Tanpa menunggu sepatah kata pun, Aurel mempercepat langkah meninggalkan kantin yang semakin dipadati oleh murid-murid kelaparan.
...●●●●●...
SEBELUM jam pulang Aurel sempat mengirimi Nakula pesan singkat bahwa ia hanya ingin pulang jika Nakula sendiri yang datang menjemputnya. Ia tidak mau jika kejadiannya seperti kemarin-kemarin saat Nakula meminta bantuan Denis. Aurel sudah muak melihat pria itu.
Sambil berjalan Aurel juga mengetuk ponsel lalu menghubungi kakaknya.
"Halo?" Aurel memulai percakapan saat sambungan telepon telah terhubung.
"Iya, kenapa?" tanya pria di seberang sana.
"Aurel cuma pengin mastiin, kalo misalnya Kakak lagi punya urusan di kampus, Aurel gapapa kok pulangnya naik kendaraan umum."
"Bisa kok, ini Kakak udah di depan SMA Angkasa Raya."
Aurel menaruh kembali ponselnya saat Danial datang memotong aksesnya. Seperti sudah jadi kebiasaan pria itu datang tanpa lupa menerbitkan senyuman jahil.
"Minggir!" Mood Aurel sedang dalam kondisi tidak baik. Meladeni Danial sama saja membuat tenaganya semakin terkuras.
"Cie ditinggal nikah."
Untuk sesaat Aurel dibuat terkejut. Bagaimana bisa rumornya menyebar secepat ini. Aurel bahkan belum menceritakan kejadian tadi pagi pada Leana, tetapi Danial telah mengetahuinya.
"Lo ngapain bengong. Kaget karena gue udah tau?" seperti jago dalam hal membaca pikiran, Danial coba menerka-nerka yang dirasakan Aurel saat ini.
"Tau ah."
"Cie yang lagi sakit hati."
"Lucu?" suara serak gadis itu terdengar. Air mata yang sedari tadi dibendungnya berakhir jatuh membasahi pipi dan juga pangkal hidungnya. "Gue juga manusia Dan, gue juga punya hati dan perasaan."
Untuk kali pertama Danial menyaksikan sisi baru dari seorang Aurel. Gadis periang sepertinya ternyata tak sekuat yang Danial bayangkan. Gadis itu bahkan menjatuhkan air mata hanya karena seorang pria.
Danial mengulurkan tangan bermaksud menghilangkan deretan air mata di pipi Aurel, tetapi itikad baiknya ditolak. Saat Danial mengulurkan tangan, Aurel tak kalah cepat menepis pergerakan pria itu. "Gak perlu, gue bisa lakuin itu sendiri." ucapnya menohok.
Melihat punggung gadis itu semakin menjauh membuat Danial berdecak sebal. Secepat kilat tangannya terangkat menjambaki rambutnya.
__ADS_1
"Sialan, ngapa gue malah nambah beban pikirannya sih? Danial, lo emang manusia paling ******* dan paling laknat yang pernah hidup di dunia ini." ujarnya mencibir dirinya sendiri.
...~To be Continued~...