MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
08. HELP ME!


__ADS_3

...HELP ME!...


...(TOLONG AKU!)...


...●...


...●...


...●...


DANIAL mengambil posisi duduk setelah kakinya menendang bantal gulingnya. Suasana kamarnya mungkin temaram tetapi ia meyakini jika bantal gulingnya berubah jadi sosok pocong beberapa waktu yang lalu.


Hela napasnya terdengar bahkan setelah ia menyalakan lampu kamarnya. Ia menengok, memeriksa bantal gulingnya di lantai. Diluar harapan semuanya tampak normal. Ada apa ini, kenapa semuanya jadi makin ruyam.


Raut frustasi tergambar jelas di wajah Danial. Akhir-akhir ini sebuah keanehan secara beruntun menghantamnya.


"Huh," di pinggir ranjang king size-nya Danial terduduk, ia lalu membawa tatapannya ke bawah sebelum kedua tangannya terangkat untuk mengacak-acak permukaan wajahnya. Di detik selanjutnya tangan yang digunakan Danial untuk mengacak-acak mukanya dialihfungsikan jadi alat untuk mengurut pelipisnya. Danial tidak tau, apakah harus bersyukur atau justru marah-marah dengan kenyataan ini.


Danial memiliki rahang yang tegas hingga siapapun akan melihatnya sebagai figur yang kuat. Namun tanpa sepengetahuan mereka Danial menyimpan ketakutan dengan segala sesuatu yang erat kaitannya dengan hantu dan sebagainya. Sedari kecil dia sudah terlatih untuk takut dengan mereka.


Bahkan di umurnya yang sekarang Danial masih takut menonton film horror. Dan kalaupun ia menonton pastinya ia akan banyak melakukan gerakan menutup mata dan telinga saking takutnya.


"Eh *****," kedua kakinya ditariknya ke atas ranjang. Terasa sekali betisnya dicengkeram lalu ditarik oleh sesuatu yang ada di bawah ranjang.


Danial tidak memedulikan rasa sakit yang membekas di betisnya. Sesuatu yang mengganjal pikirannya saat ini lebih berfokus tentang siapa yang melakukannya. Mengingat pintu kamarnya terkunci sehingga tidak mungkin ada orang yang menyelinap masuk.


Rasa takut dalam diri Danial mencuat ke permukaan, dimulai dengan pompa jantungnya yang kian tak keruan, dilanjutkan oleh tubuhnya mulai bergetar yang berdampak pada hadirnya barisan abstrak di sekitar dahi dan pangkal hidungnya.


"Please jangan ganggu gue!" gumam Danial dengan suara serak. Ragu-ragu pria itu mengedarkan perhatiannya ke sudut-sudut kamarnya.


Tiba-tiba sebuah buku jatuh dari meja belajar. Suara yang dihasilkannya membuat pria di atas ranjang tersentak kaget. "Jangan bikin kaget gila," cercah Danial tanpa sadarnya. Di detik berikutnya pria itu membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan.

__ADS_1


"Jangan baper ya, gue gak ada maksud ngegas!" Danial mengangkat kedua tangannya yang menampilkan simbol perdamaian, "Baek-baek ya kalian di kamar gue. Intinya kita jadi simbiosis mutualisme, gue gak ganggu lo, dan lo juga jangan ganggu gue!" harap-harapnya makhluk penghuni kamarnya bisa diajak kompromi.


Meski sempat bercanda, namun Danial tak bisa menutupi perasaan takut yang menyerangnya. Alhasil secepat kilat ia menyambar selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya.


...●●●●●...


TUBUHNYA berdiri kokoh menyender pada tembok. Sempat beberapa kali ia menilik arlojinya sambil tetap sabar menunggu kedatangan Aurel yang belum juga muncul.


Tak lama berselang mobil Nakula pun terlihat dan itu membuat Danial tersadar dari lamunannya.


Aurel turun dari mobil yang dikemudikan oleh Nakula. Melambaikan tangan tak lupa Aurel melemparkan senyum ketulusan untuk Nakula. Sampai ke titik di mana senyum itu lenyap saat tubuhnya berbalik dan mendapati Danial menatapnya seraya melipat kedua tangan di depan dada.


Ada dua hal yang paling dibenci Aurel saat kembali ke sekolah. Yang pertama sosok hantu, dan yang kedua sudah jelas Danial Wirawan.


Jika ada yang patut dipersalahkan, sudah pasti Aurel akan berteriak lantang menyalahkan takdir. Takdir membuatnya bisa melihat hantu, takdir membuat ayahnya dengan ayah Danial saling kenal, dan takdir pula yang membuat Aurel sekelas dengan pria menyebalkan itu.


Mengembuskan napas panjang Aurel mempercepat langkah memasuki gerbang sekolahnya. Sempat menatap Danial namun tak lama, kira-kira cuma sedetik sebelum ia memutuskan pergi.


Tidak berhenti, Aurel malah mempercepat langkah kakinya.


"Aurel!" panggil Danial sambil berlari-lari kecil.


"Apaan sih Dan," kesal Aurel menarik secara paksa lengannya dari cekalan Danial. Aurel mengernyit dalam, memperhatikan pria si pemilik alis tebal yang kelihatan aneh akhir-akhir ini.


"Gue butuh bantuan lo Rel!" baru pertama kali Aurel menyaksikan sisi lain dari Danial. Tak biasanya ia melihat pria itu meminta bantuan dengan muka memeles plus tangan tertangkup seperti yang saat ini dilakukannya.


Aneh! itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan tingkah Danial saat ini.


"Gak," tolak Aurel mengibaskan tangannya, dia bahkan belum mendengarkan permintaan Danial, tapi dengan tegas ia memberi penolakan.


"Tunggu dulu Rel. Dengerin dulu napa," cukup mudah bagi Danial untuk membuat Aurel tak kunjung melanjutkan langkah, cukup mencekal tangannya dan Aurel pun tak bisa melakukan apapun selain diam di tempat.

__ADS_1


Tenaga Danial kelewat kuat sehingga upaya Aurel membebaskan pergelangannya jadi sia-sia. Menyerah, Aurel pun memutar wajahnya kembali menghadap Danial.


"Apa mau lo?" tanya Aurel tentu saja dengan nada tak suka. Dia bisa melihat rahang kuat milik Danial bergerak sebelum akhirnya sebuah kalimat terlepas dari sana.


"Gue bisa liat hantu Rel!" ungkap Danial terbata-bata.


"Terus?" sahut Aurel seolah tak peduli dengan pengakuan Danial barusan. Respon juteknya barusan berakibat pada jatuhnya rahang milik pria itu.


"Lo harus bantuin gue!" masih dengan muka memelas Danial berharap uluran bantuan dari Aurel.


"Gak." Tolak Aurel keukeh. Keputusannya sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat.


Danial mengerutkan keningnya, bingung. "Kenapa?"


"Lo tanya kenapa? Apa perlu gue ingetin kalau selama ini lo ngatain gue cewek aneh yang bisanya nyari sensasi dengan pura-pura jadi indigo. Lo udah lupa?"


"G-Gue minta, minta..." sulit bagi Danial untuk meminta maaf, lagian kalimat maaf tidak pernah ada dalam kamusnya.


"Sesulit itu ya mau bilang maaf doang," Aurel menggeleng tidak habis pikir.


Danial diam, bingung harus bagaimana dan harus berbuat apa.


"Gak mudah untuk hidup berdampingan dengan mereka yang asalnya dari dimensi lain, tapi lo emang harus jalanin ini sendirian Dan."


"Tapi, Rel!"


Aurel menarik garis lurus di bibirnya, "Anggap aja yang lo rasain saat ini sebagai karma setelah apa yang lo lakuin ke gue beberapa tahun belakangan," tandas Aurel.


Melanjutkan langkah, Aurel pun meninggalkan Danial sendirian di lorong koridor.


...~To be Continued~...

__ADS_1


...●●●●●...


__ADS_2