
...ONE MORE STEP...
...(SATU LANGKAH LAGI)...
...●...
...●...
...●...
RENCANANYA sudah dipikirkan matang-matang. Saat bel istirahat, Danial mengajak gadis itu ke kantin dan setelah itu ia mengakui perasaannya.
Terdengar mudah, tapi nyatanya sulit untuk dilakukan. Sejauh ini ia bahkan masih bergeming sementara Aurel terus menantikan kalimat terlepas dari bibirnya. Danial tak pernah kepikiran mengakui perasaan akan sesulit ini.
“Dan, sebenarnya apa sih yang mau lo omongin sama gue?” Danial tak kunjung berbicara padahal jus jeruk di gelas Aurel nyaris ludes. Kalau dihitung sudah sepuluh menit mereka duduk di meja ini.
“Sebenarnya ada cewek yang akhir-akhir ini mangkal di pikiran gue Rel.” Danial mengakui.
Aurel terkekeh singkat.
“Dih malah ketawa, perasaan gue kagak ngelawak dah.” Danial menanggapinya sembari mengaduk-aduk jusnya dengan pipet. “Emang ada yang lucu?” tentunya Danial masih penasaran tentang alasan yang buat Aurel menertawainya.
“Pemilihan kata lo, Danial.”
Pria itu bergeming, “Kenapa sama pemilihan kata gua?” tanyanya.
“Nggak ada kata lain selain mangkal? Bahasa lo gitu amat, lu kira tuh cewek tukang ojek pake mangkal nungguin penumpang di kepala lo,” gelengan pertanda tak habis pikir diperlihatkan Aurel. “Syukur deh kalo lo sukanya sama cewek.”
“Maksudnya?”
“Kirain,” ujar Aurel diakhiri senyum jenaka.
“Kirain apa?” penasaran Danial sembari mengerutkan dahinya.
“Kirain lo homo,” Aurel baru saja tertawa puas.
“Astagfirullah,” ucap Danial, “Jangan becanda, gue lagi serius nih.”
“Iye, maaf. Omong-omong siapa yang udah berhasil nyuri hati lo, kok gue jadi penasaran.”
“Pengin liat?”
Gadis itu mengangguk cepat, kelewat semangat. “Mau dong!”
__ADS_1
Danial merogoh saku mengambil ponsel dari dalam sana. Selama beberapa saat ia mengetuk layar mencari ikon kamera.
“Buruan Danial, gue udah penasaran pengin liat,” rengek Aurel tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Danial mengarahkan ponselnya ke hadapan gadis cantik itu.
Aurel bergeming, sempat ia meneguk ludahnya kasar melihat pantulan dirinya di layar ponsel. “Kayaknya lo salah deh Dan, gue kan pengin liat foto cewek yang bikin lo jatuh cinta, tapi lo malah buka kamera depan.”
“Gak ada yang salah, cewek yang lo liat di ponsel gue saat ini, dia orangnya.”
“Maksudnya.” Aurel tak selamban itu, ia sudah tahu maksud dari ucapan Danial. Hanya saja ia belum bisa menerima pengakuan pria itu. Rasanya terlalu cepat.
“Gue emang suka…”
“Elah si Danial, dicariin keliling sekolah, tau-taunya udah di sini aja lo!” kehadiran Haris adalah alasan dari bibir Danial kembali terkatup menjeda pengakuan rasanya.
Selang beberapa saat setelah kedatangan Haris, Vernon dan Irgi pun ikut bergabung.
Perasaan awkward jelas dirasakan oleh Aurel. Apalagi saat melirik Vernon melalui ekor matanya, ia bisa merasakan tatapan Vernon yang sedang menilai.
“Kalian berdua, pacaran?” Vernon bertanya.
“Belum,” Aurel dan Danial mengucapkan kalimat itu secara bersamaan. Keduanya juga memperlihatkan raut keterkejutan dengan penegasan berupa mata memelotot saat tersadar dengan kata ambigu yang diucapkannya.
Aurel bangkit, pergerakannya berhasil menjadikannya pusat perhatian keempat pria di meja itu. “Gue balik duluan ya.”
“Kok buru-buru,” Irgi bersuara. “Kalo lo masih pengin ngebahas sesuatu sama Danial, kita bertiga bisa nyari meja lain kok.”
“Gak perlu! Gue baru inget belum ngerjain tugas bahasa Inggris,” Aurel membuat alasan untuk pergi dari tempat itu.
“Hari ini gak ada pelajaran bahasa Inggris, Rel.” Haris tampaknya kebingungan, walaupun ia tak termasuk dalam kategori murid pintar tetapi dia juga hapal sama jadwal pelajaran. Yakin sekali bahwa hari ini tidak ada pelajaran bahasa inggris.
Dalam hati Aurel memaki dirinya sendiri, ia merasa bodoh karena berbicara tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Dan pada akhirnya ia harus menahan malu di depan Danial dan juga teman-temannya.
“Gue salah ucap, maksudnya tugas Fisika.” Aurel menyengir saat menyudahi ucapannya.
“Fisika bukannya besok ya?” Haris merasa ada yang aneh dengan Aurel. Haris bisa merasakannya.
“Lagipula minuman di gelas gue udah kosong, jadi gak ada alasan untuk gue tinggal di sini,” Aurel menyengir.
“Di sini juga kosong Rel,” celetuk Vernon menunjuk ke arah hati Danial, “Lo gak ada niat mau ngisi?” sambungnya tanpa ampun.
Danial menjambaki rambut Vernon yang telah membuatnya salah tingkah di depan gadis yang mengambil sepotong hatinya.
__ADS_1
“Ampun Danial,” ringis Vernon.
Semuanya tertawa, bahkan Aurel sempat menerbitkan seulas senyum sebelum akhirnya memilih meninggalkan meja tersebut.
“Ver, lo pesen makan sama minum gih!” Danial baru saja melepaskan tangannya dari rambut halus milik Vernon ketika perintah terlepas dari bibir Haris.
“Sekalian deh, lo pesenin gue juga.” Irgi ikut bersuara, “Gue mau ke toilet dulu, kebelet,” dengan tangan melengket di bagian perut, pria itu bergegas mencari toilet di sekitaran kantin.
“Lo gak pengin nambah minum, Dan?” tanya Vernon pada Danial.
Danial mengangkat tangan, menolak tawaran Vernon.
“Apa lo liatin gue sambil senyum-senyum?” tuntut Danial dengan nada tak suka pada Haris. Sepeninggal Irgi dan juga Vernon, pria itu terus menatap Danial seperti sedang membaca sesuatu melalui mimik mukanya. Danial sempat mengabaikan, namun tatapan itu membuatnya risi seiring waktu berjalan.
Haris mengedikkan bahunya sambil mencebik, “Sudah sejauh mana hubungan kalian?”
“Hubungan? Maksud lo? Gue gak ngerti.”
“Dan, Dan. Lo beneran jago ya pura-pura bego di depan gue!” Haris baru saja menertawai kepiawaian Danial berakting di hadapannya. “Pertemanan kita udah lama, jelas kalo gue tahu banyak tentang diri lo.”
“Idih sok tau lo.” Danial baru saja menarik bibirnya ke samping, memperlihatkan senyum remeh.
“Gue aja tahu kalo hari ini lo pake daleman warna abu-abu,” enteng Haris.
Dalam hitungan detik perubahan terjadi di wajah Danial, pipinya memerah sementara matanya membulat secara sempurna, “Tau dari mana lo? Lo ngikutin gue ya pas pipis di toilet?”
“Sebaiknya lo jujur deh sama gue!” sama sekali tak ada niatan menjawab pertanyaan Danial. Untuk saat ini Haris merasa ada hal yang jauh lebih penting untuk Danial jawab. “Gue janji deh gak bakal ceritain ini sama siapa pun.”
Danial menurunkan dagunya. Tangan kanannya mengangkat ujung kain seperti mencari sesuatu di kolong meja, “Ngomong-ngomong si Jabray ke mana ya?”
“Jablay Danial,” koreksi Haris, “Lagipula sejak kapan lo peduli sama kucing kampung itu?” Haris tersenyum selama beberapa detik, “Danial, gue tahu kalo lo udah paham maksud gue! Sebaiknya jawab aja langsung, gak usah cari celah supaya bisa ganti topiknya!”
“Gue suka sama Aurel.” Danial menegaskan perasaannya.
Melihat Haris hanya bergeming mendengar pengakuannya membuat Danial menggerakkan kembali sudut bibirnya, “Kenapa? Aneh kan? Gue aja gak pernah kepikiran bisa suka sama Aurel, lagipula lo tau sendiri hubungan gue sama dia kek gimana.”
“Kalo lo suka, kenapa gak lu tembak? Gue perhatiin kayaknya Aurel juga suka sama lo.”
“Rencananya sih gue udah mau nembak, tapi momennya kurang pas.”
“Lo sama Aurel kan duduknya deketan, langsung aja nembak. Kagak usah dipersulit kali, Dan. Emangnya lo rela kalau sampai ketikung orang lain?”
Danial menggeleng.
__ADS_1
...~To be Continued~...