MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
07. I CAN SEE YOU


__ADS_3

...I CAN SEE YOU...


...(AKU BISA MELIHATMU)...


...●...


...●...


...●...


JAM pelajaran hari ini ditutup oleh bahasa inggris, setelah jam pulang diresmikan oleh bel sekolah barulah penghuni XII. IPA 6 berhamburan keluar dari kelas.


Tadi pagi Danial berangkat bersama ayahnya sebab motornya masih di bengkel, dan rencananya hari ini ia mau nebeng sama Haris, tapi sial karena temannya itu lagi punya urusan mendadak.


Melihat ke kanan, lalu ke kiri Danial tidak menemukan siapa pun yang rumahnya searah dengannya. Kecuali gadis di depan sana.


Mata Danial sempat meredup menilik ke arah gadis pemilik ransel abu-abu. Ia lalu berlari kecil sampai akhirnya ia berhasil mensejejerkan langkah dengannya.


"Ngapain lo deket-deket gue!" jutek Aurel begitu Danial berdiri di sisinya. "Lo ada maunya kan sampai-sampai deketin gue lagi," imbuh Aurel tidak menolehkan muka, juga tak menghentikan langkahnya menuju gerbang sekolah.


"Gue mau nebeng sama lo," terus terang Danial.


"Nah kan dugaan gue emang bener," kali ini Aurel berhenti mengambil langkah, gadis itu menatap Danial yang ikutan berhenti melanjutkan langkah. Adegan saling tatap-tatapan itu berakhir setelah Aurel memilih memutar bola matanya jengah.


"Gue mana sudi deket-deket sama lo kalo lagi gak butuh," kata Danial menohok.


"Nyebelin banget sih lo..." tangan terkepal Aurel barusan hendak didaratkan di lengan Danial. Tetapi pria itu lebih sigap menangkap pergelangan miliknya.


"Gak semudah itu, " Danial menurunkan secara lembut tangan terkepal Aurel yang sedang mengudara. Gadis itu menarik kembali tangannya sampai terlepas, disampirkannya tangan terkepal itu kembali ke posisi semestinya.


...●●●●●...


SEPANJANG perjalanan pulang, Danial dan Aurel yang kenyataannya duduk bersebelahan memilih membungkam mulutnya. Keduanya sama-sama menatap ke luar jendela dengan jalan pikirannya masing-masing.


Nakula sebagai orang yang mengemudikan mobil sempat melirik keduanya melalui spion dalam tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda mereka akan membuka mulut atau hanya sekadar mengangkat sudut bibirnya.


Nakula bahkan ragu, bagaimana bisa keduanya hidup seperti halnya pajangan toko. Apalagi dengan rentetan kenyataan bahwa keduanya sekelas sekaligus duduk bersebelahan.


Nakula menekan setir memperdengarkan bunyi klakson, tujuan melakukannya adalah untuk memberi kode supaya Danial menyadari bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya.


"Makasih ya Nakula, udah nganterin gue," Danial mengulurkan tangannya ke depan, di gunakannya tangan terulur itu untuk menepuk punggung Nakula yang sudah berbaik hati mengantarnya sampai rumah.


"Lama amat, bisa auto gatal badan gue lama-lama deket sama lo," sambung Aurel. Jelas sekali dari nadanya jika gadis itu sedang mencibir. Meskipun tidak menyebut satu nama, tapi Danial merasa jika bualan itu ditujukan untuknya.

__ADS_1


"Oh iya, La."


Nakula menolehkan muka, "Kenapa Dan?" satu alis milik Nakula terangkat.


"Bilangin sama adek lo, jadi manusia jangan suka marah-marah ntar cepet tua."


Marah mendengar kalimat intimidasi dari bibir Danial, Aurel segera angkat suara, "Kak bilangin sama dia kalo gue gak bakalan marah kalau dia gak mulai duluan!"


"Bilangin sama adek lo yang aneh itu, jangan suka nuduh-nuduh sembarangan..."


"Kak bilangin ke dia supaya nggak ngatain gue cewek aneh," interupsi Aurel, tidak mau menunggu sampai Danial menyudahi kalimatnya.


Nakula menjambak rambut miliknya sendiri lalu berdesis kesal, "Kalian berdua ribet amat sih. Kan bisa langsung saling tatap-tatapan dan ngeluarin uneg-uneg, kenapa musti gue yang dimasuk-masukin dalam masalah rumah tangga kalian?"


"Enak aja, gue gak sudi kali sama adek lo yang aneh ini," protes Danial kemudian berdecih.


"Gue juga gak sudi kali sama lo," sahut Aurel mengedikkan bahunya.


"Dih daripada sama lo, lebih baik gue nikah sama monyet," balas Danial.


"Sama. Gue juga lebih sudi nikah sama monyet daripada sama lo," Aurel tak mau kalah.


"Aminnn..." celetuk Nakula.


"NAKULA!!!" pekik Danial dan Aurel secara bersamaan.


Hari ini cukup melelahkan, dan Danial mengakuinya. Setelah turun dari mobil Nakula, ia lantas bergegas memasuki rumahnya. Membuka pintu utama Danial mendapati adiknya sedang khidmat menulis sesuatu di ruang tamu bersama temannya.


Kalau biasanya ia akan mengganggu Davina alias adiknya, hari ini ia tak melakukannya. Danial tidak mau mengganggu adiknya yang sedang belajar. Cukup dia saja yang punya IQ jongkok, jangan adiknya.


Tidak mau menjadi parasit membuat Danial mempercepat langkah menyusuri tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


...●●●●●...


TUBUH Danial masih dibungkus seragam sekolah ketika ketukan pintu didapati oleh indra pendengarannya.


"Kak, buka pintunya!" suara lembut Davina menjadi pengiring bunyi dor-doran di pintu kamar.


"Iya, bentar!!!" Danial mendudukkan tubuhnya, sempat pria itu mengucek-ngucek matanya hingga tampak memerah. Sebelum membuka pintu lebih dulu Danial meraba-raba tembok dan ia pun berhasil menyalakan lampu kamar. Tak lagi temaram, kini suasana kamarnya telah dibungkus cahaya.


"Kenapa?" kata itulah yang pertama kali diucapkan oleh Danial saat membukakan pintu untuk adiknya Davina.


"Mau pinjem pulpen, ada kan?"

__ADS_1


"Coba cari di tas!" Danial membuka pintu kamarnya lebar-lebar memudahkan Davina masuk untuk mencari sendiri sesuatu yang dicarinya.


Membiarkan pintu kamarnya dalam posisi terbuka, Danial mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang. Matanya difokuskan pada sang adik yang sedang merogoh ranselnya mencari sebatang pulpen.


"Gak ada ya?" tanya Danial.


"Eh ini udah nemu," Davina mengeluarkan pulpen tersebut dari dalam ransel.


"Tapi kok..." Davina menggantung kalimatnya begitu kejanggalan didapatinya, "Tapi kok nama yang tertulis bukan nama kakak," sambung Davina dengan fokus mata memperhatikan nama yang tertera di sisi pulpennya.


Danial mengedikkan bahunya. Dengan uang jajan yang lumayan sangat mudah baginya membeli sekardus pulpen pun, tetapi beberapa tahun belakangan Danial tidak pernah membeli pulpen, pria itu biasanya selalu meminjam pulpen milik teman sekelasnya.


Siklusnya selalu sama. Awalnya ia meminjam, lama kelamaan pulpen tersebut berubah jadi miliknya, Danial yakin bukan satu-satunya orang yang melakukan itu.


"Ini pulpennya kak Aurel kan?" tanya Davina.


"Ho-oh," sahut Danial.


"Kok bisa sama Kakak," Davina menilik curiga kakaknya.


"Pinjem," singkat Danial berdalih.


"Serius?" Davina bertanya diiringi senyum mengejek.


"Udah ah, lebih baik lo keluar dari kamar Kakak!" usir Danial menunjuk pintu kamar. "Kasian teman lo dibuat lama nunggu."


Bukannya pergi, Davina malah diam memperlihatkan raut bingung.


"Teman?" ulang Davina. "Maksud Kakak apaan?"


"Dia udah pulang emangnya?"


Davina semakin bingung saja mendengar ucapan kakaknya. Teman mana yang ia maksud?


"Jangan becanda Vina!"


"Davina gak becanda Kak." Danial refleks meneguk saliva saat menyadari tatapan adiknya sarat akan kejujuran. "Teman mana maksud Kakak?" imbuh Davina.


"Kakak liat sendiri loh Vin waktu kamu duduk di ruang tamu sambil nulis sesuatu di buku. Kakak ingat sekali kalian berdua duduk berseberangan," Danial mulai menjelaskan secara detail apa yang disaksikannya tadi sore di ruang tamu.


"Kok Vina jadi merinding sih," Davina bergidik seraya mengelus-elus lengannya, merasakan bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang. "Davina emang belajar di ruang tamu, tapi sendirian plus gak ada siapa pun di sana," ungkap Davina.


Danial mendadak termangu. Pikirannya sedang tertuju pada surat yang diberikan oleh si pendonor mata. Selain itu ia juga balik kepikiran dengan kejadian di sekolah, apakah gadis aneh yang mengikuti Aurel di sepanjang koridor adalah sosok dari dimensi lain?

__ADS_1


...~To be Continued~...


...●●●●●...


__ADS_2