
...GIVE ME A REASON!...
...(BERIKAN ALASAN!)...
...●...
...●...
...●...
AUREL menatap nanar kerikil di hadapannya. Pikirannya sedang kalut. Di satu sisi Aurel seharusnya bahagia karena Danial memiliki perasaan yang sama dengannya, tetapi di sisi lain ia menghawatirkan Leana.
Pastinya sulit bagi Leana untuk melihat Aurel dan juga Danial terikat dalam hubungan bernama pacaran. Terlebih dengan kenyataan bahwa mereka bertiga sekelas.
Terkadang Aurel merasa iri terhadap benda mati yang ada di sekitarnya. Mereka hanya diam, tak punya keresahan yang bisa membuat tangisnya pecah. Beda dengannya yang hampir tiap hari bergelut dengan masalah yang tak berujung.
Dalam diamnya Aurel dikejutkan oleh seseorang yang memamerkan ponsel di depan wajahnya. Aurel menoleh, ternyata orang itu Danial.
"Nih!" Danial menyodorkan ponsel miliknya.
Salah satu tangan Aurel terangkat meraih ponsel dari tangan Danial, "Kenapa lo ngasih gue ponsel lo?" kerutan samar telah tercetak di dahi gadis cantik itu.
"Dibaca pesannya!" perintah Danial.
Aurel menurunkan dagu membaca pesan yang dikirimkan oleh Nakula khusus untuk Danial. Hari ini Nakula tidak bisa menjemput Aurel karena urusan kampus yang sulit ditinggalkan. Makanya Nakula meminta bantuan Danial untuk mengajak Aurel pulang bareng.
Setelah mengembalikan ponsel Danial, Aurel pun memainkan tali ranselnya. Sejujurnya ia merasa sedikit canggung di dekat pria itu. "Gue pulang naik kendaraan umum aja ya." Aurel berbicara dengan posisi kepala tertunduk, keberanian untuk menautkan tatapannya dengan Danial tak lagi ada.
"Emang kenapa kalau gue yang nganterin?" Danial memimiringkan sedikit kepalanya.
"Gapapa sih, cuman..."
"Lo ngerasa canggung ya di deket gue?" tebak Danial, tanpa sengaja asumsinya membuatnya memotong ucapan Aurel.
Aurel mengangguk kencang.
"Waktu di kantin sebenarnya gue pengin bilang suka sama..."
"Gak perlu dilanjutin! Gue udah tau kok. Tapi gue gak bisa jawab sekarang."
"Gapapa, gue bakal nunggu kok."
...●●●●●...
__ADS_1
DANIAL mengambil pergelangan Aurel yang kala itu hendak melangkah masuk ke rumahnya. Otomatis Aurel membalikkan badannya, ia menatap Danial selama beberapa sekon.
Ada dorongan dalam dirinya untuk menatap mata itu lebih lama lagi, tetapi rasa malu yang bercampur gengsi memaksa Aurel memalingkan muka dari wajah si pria.
"Rel, nanti malam gue tunggu lo di taman."
Terpatri raut kebingungan di wajah Aurel. Mata yang tadinya berfokus ke arah lain, dikembalikan lagi ke wajah Danial. "Taman?"
"Taman di dekat halte bus. Gue mau lo temuin gue sekaligus ngejawab perasaan lo sama gue." Danial merasa kesulitan menyudahi ucapannya.
Aurel terlihat berpikir kritis, sepertinya sedang menimbang ajakan Danial.
"Gimana?" Danial memperlihatkan raut penuh harap.
"Jam 8 malam lo tungguin gue di sana!" suruh Aurel pada akhirnya.
Danial tak mampu mengendalikan diri lebih lama. Aurel baru saja membalikkan badan ketika pria itu menggeliat layaknya cacing kepanasan. Danial kelewat senang hanya karena Aurel mengiyakan ajakannya untuk bertemu.
"Danial sehat?" kedatangan Sarah sama sekali tak terpikirkan. Wajar Danial memasang tampang terkejut begitu sebuah tangan menyentuh pundaknya diikuti kalimat tanya.
"Eh Tante," Danial bertingkah sopan menyalami punggung tangan milik Sarah.
"Kamu ngapain joget-joget kayak gitu?" tanya Sarah. Wanita itu baru saja pulang dari mini market saat melihat Danial sedang tenggelam dalam euforianya.
"Nakula ke mana, kok kamu pulangnya bareng Aurel?"
"Nakula lagi ada urusan di kampus, Tan."
"Ya sudah, kamu mampir dulu gih, biar tante bikinin minum," ajak Sarah.
"Gak usah repot-repot! Ini Danial mau langsung pulang kok, Tan."
Sarah mengangguk, "Kalau gitu hati-hati di jalan, jangan ngebut. Tante juga nitip salam sama mama kamu."
"Siap."
...●●●●●...
AUREL mengucek-ucek matanya selama beberapa detik. Tadi sore setelah pulang sekolah Aurel hanya menaruh ranselnya di meja belajar. Dan setelah itu ia menumbangkan badannya di kasur.
Aurel merasa sangat lelah. Ia juga sedang banyak pikiran. Untungnya rasa sakit yang bersarang di kepalanya saat ini belum sampai ke tahap di mana gadis itu merasa kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Aurel yakin, setelah menelan aspirin rasa sakit itu akan hilang.
Aurel mengasihani pantulan dirinya melalui cermin. Tubuhnya saat itu masih dibalut oleh seragam sekolah.
__ADS_1
"Astaga," tangan yang sebenarnya hendak mengambil sisir tertahan di udara. Di detik selanjutnya tangan itu berakhir memukul dahinya pelan-pelan.
Gadis itu menyerongkan badannya, dagunya diangkat sedikit, matanya melihat jam yang telah menunjukkan pukul 7.30. Aurel baru ingat dengan janjinya akan menemui Danial di taman.
Aurel bersiap dengan sisa waktu yang tersisa. Mandi, mengeringkan rambut, memilih baju, dan beberapa hal lain yang biasa dilakukan anak gadis pada umumnya. Tidak mau dibikin ribet, Aurel hanya menggunakan kaos merah muda polos dipadukan dengan rok selutut.
...●●●●●...
SELAMA beberapa saat gadis itu hanya berdiam diri di samping air mancur sambil mengedarkan pandangannya.
Tak lama berselang, matanya mulai mengenali Danial. Pria itu sedang duduk di kursi taman memperhatikan beberapa anak kecil sedang bermain dengan orangtua mereka. Terlihat Danial begitu khidmat sampai tak menyadari kehadiran Aurel.
"Maaf, gue telat."
Danial menoleh cepat mengikuti sumber suara, "Gapapa, yuk duduk!" Danial bergeser lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya. Aurel tersenyum kaku kepadanya dan duduk sesuai perintah. "Lo pengin makan gulali gak? Atau mungkin martabak? Atau lolipop?" Danial mencoba berbasa-basi dengan mencecar Aurel dengan sebuah pertanyaan dengan maksud terselubung menyembunyikan perasaan canggungnya.
Aurel terdiam mengakibatkan Danial mengerut bingung hingga alisnya hampir bertautan, "Lo baik-baik aja kan Rel?"
"Gue mau langsung ke intinya," kata Aurel.
Tiba-tiba saja Danial tertegun, ia menjadi gugup tak keruan. Dia bahkan masih membutuhkan jeda sebelum mendengar jawaban dari bibir Aurel. "Gue gak pernah sekalipun suka sama lo Dan," bohong Aurel. Ia baru saja menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Kenapa?" Danial tidak mampu mengontrol supaya pertanyaannya tidak terlepas. Tanpa bertanya pun Danial juga menyadari kesalahannya selama ini. Sebelum kecelakaan itu Danial selalu mengejek Aurel dengan embel-embel gadis aneh karena kelebihannya bisa melihat makhluk dari dimensi yang berbeda. Danial juga menjadikan Aurel sebagai objek cibirannya. Dan setelah kecelakaan itu, Danial masih saja jadi benalu yang membayang-bayangi Aurel.
"Gak ada alasan, Dan."
Danial mengembuskan napas, sekarang pria itu sedang mencoba bernegosiasi dengan hatinya. Teringat ucapan Davina tempo hari bahwa ; setiap tindakan ada konsekuensinya. Mungkin rasa sakit ini bisa diartikan sebagai konsekuensi setelah tindakan Danial menyampaikan perasaannya.
"Setidaknya gue masih pengin lo ada di samping gue Rel! Meski tanpa embel-embel pacaran sekalipun!" ucap Danial.
Aurel tetap saja memandang arah lain. Aurel mengabaikan tatapan yang mengarah padanya, binar mata Danial sarat akan ketulusan saat menikmati wajah Aurel dari samping.
Aurel membendung air mata yang siap pecah. "Gue gak ngijinin itu, gue gak mau lo terlalu berharap sama gue. Dengan lo ada di dekat gue terus, artinya lo malah nyakitin perasaan lo sendiri."
"Gue gak peduli, yang jelas lo akan tetap di samping gue."
"Tapi itu bikin gue risi Danial!" tegas Aurel. Gadis itu menolehkan mukanya ke Danial. "Lebih baik hubungan kita seperti biasa, sebelum lo kecelakaan, dan sebelum lo bisa ngeliat makhluk dimensi lain!"
Susah payah Danial meneguk salivanya, "Oke Rel. Mulai besok gue bakal bertingkah seperti yang lo mau." Tanpa pamit, pertemuan itu diakhiri oleh Danial. Langkahnya begitu terburu-buru meninggalkan Aurel sendirian di kursi taman.
Sudut mata Aurel menjatuhkan butiran air mata. Sekarang Danial telah pergi, artinya tak ada alasan lagi bagi Aurel untuk membendung air mata.
...~To be Continued~...
__ADS_1