
...FINDING YOU...
...(MENEMUKAN KAMU)...
...●...
...●...
...●...
"CEPETAN!" suruh Danial mengiringi kegiatan Aurel yang tengah berbenah. "Ntar Nakula marah-marah lagi disuruh nunggu di luar gerbang." Danial menambahkan melihat Aurel masih betah berbenah.
"Bentar," singkat Aurel.
Danial membawa tatapannya ke bawah, sampai titik fokusnya tak sengaja bertemu dengan sebuah buku yang diyakininya sebagai diary.
"Idih," ejek Danial mengambil diary yang tergeletak di atas meja Aurel, "Ini buku diary lo ya?"
"Balikin Danial," suruh Aurel memperlihatkan telapak tangannya. Suara gadis itu masih dalam kategori wajar, belum sampai ke tahap nge-gas.
"Enggak."
"Danial," suara Aurel mulai naik setengah oktaf dari sebelumnya.
Danial tidak mengindahkan apa yang baru saja dititahkan oleh Aurel. Padahal dia bisa saja menghentikan tatapan sinis yang mengarah padanya dengan mengembalikan diary tersebut kepada sang pemilik. Tetapi seperti itulah Danial. Pria itu akan selalu mencari celah untuk membuat Aurel bersungut karena ulahnya.
Aurel semakin mempercepat membereskan barang-barang di meja. Tak tanggung ia langsung memasukkan semuanya ke dalam ransel tanpa mengatur lebih dulu sebagaimana mestinya. Danial benar-benar keterlaluan dan harus dikasi pelajaran.
Karena ulah pria itu mengambil buku berisikan hal berbau privasi sehingga Aurel tak punya alasan untuk tidak mengambil kembali barang miliknya dengan cara mengejar.
"Danial, balikin buku gue!" teriak Aurel. Dengan penuh kehati-hatian ia menuruni anak tangga, "Sialan si Danial!" cercahnya saat melihat punggung Danial semakin menjauhinya.
Seperti tidak ada kata menyerah dalam kamusnya, Aurel tetap mengejar pria itu dengan semangat empat lima.
Murid-murid yang telah kembali ke rumah masing-masing jadi alasan koridor tampak sepi. Bagi kalian mungkin sepi, tapi bagi si pemilik sixth sense kondisi koridor saat ini terlihat sesak dikarenakan makhluk dari dimensi lain sedang menampakkan wujud mereka.
Hantu-hantu yang berderet di sepanjang koridor seakan jadi penonton. Mereka memperhatikan Aurel yang masih berlari seakan sedang berada di turnamen lari maraton.
Bruk! Aurel baru saja menabrak seseorang.
Kejadian ketika Aurel menubruk badan seorang pria terjadi begitu cepat. Sekarang ia tak peduli pada rasa sakitnya. Aurel hanya memikirkan kondisi pria itu.
"Maaf," Aurel membantu pria itu merapikan kertas-kertas berserakan pasca ia menubruknya dari belakang.
"Gapapa," pria itu baru saja menolehkan mukanya.
__ADS_1
Saat matanya beradu, disaat itu pula Aurel menyadari sesuatu.
Kayaknya gue kenal sama cowok ini. ujarnya membatin.
Perlahan mata gadis itu menyipit. Otaknya serasa berputar mencoba memikirkan tentang siapa pria itu. Aurel yakin sekali bukan kali pertama saling menatap dengan pemilik mata indah itu. Rasanya ada satu momen di masa lalu yang terulang hari ini.
Atau mungkin yang dirasakan oleh Aurel saat ini hanyalah dejavu?
Butuh beberapa detik bagi Aurel untuk memikirkan sebelum akhirnya ia berhasil menemukan apa yang coba dia cari dalam imajinya.
"Kak Denis?" tebak Aurel penuh keragu-raguan.
"Lo kenal sama gue?" pria itu menyipitkan matanya melihat Aurel yang kini menganggukkan kepalanya.
"Masa iya sih aku bisa lupa sama kak Denis. Waktu pertama MOS kan, kakak yang nyelamatin hidupnya Aurel."
"Emang iya?" terlihat pria di hadapan Aurel mengernyitkan keningnya.
Untuk kesekian kalinya Aurel menganggukkan kepalanya.
FLASHBACK ON
"Aduh gimana nih?" Aurel menggigit kuku jarinya. Kebiasaan lamban Nakula menghabiskan sarapannya membuat adiknya harus menanggung risiko terlambat datang ke sekolah. Saat itu status Nakula masih sebagai seorang pelajar SMK tingkat akhir.
Nakula sempat menawarkan adiknya untuk sekolah di SMK Sriwijaya alias tempatnya bersekolah saat itu. Tetapi Aurel keukeh ingin di SMA Angkasa Raya. Tanpa sepengetahuan Nakula, Aurel sebenarnya tahu bahwa SMK Sriwijaya adalah bekas tempat pembantaian pada jamannya. Meski sekarang berubah wujud menjadi bangunan megah, tetapi bekasnya masih bisa disaksikan oleh sebagian orang yang memiliki indra keenam.
"Gue pulang aja kali ya?" ujarnya bergumam, menimbang-nimbang langkah yang hendak ia tempuh.
Bola matanya lalu bergerak mencari tanda-tanda kehadiran seseorang namun tidak ditemukan satu orang pun murid berseragam sama dengannya. Di sekitaran lapangan hanya ada beberapa makhluk yang biasa disebut dengan hantu.
"Lo peserta MOS kan?" pertanyaan yang didahului oleh suara mesin motor berhenti membuat Aurel terhenyak. Rasanya organ dalam tubuhnya telah bertukar-tukar posisi terlebih disaat pria yang menunggangi motor itu mulai membuka helm dan memperlihatkan tatapan tajamnya.
Aurel tertegun, tidak berani balas menatap pria tersebut. Sejujur-jujurnya Aurel tak tahu harus bagaimana dan menjawab seperti apa.
"Kenapa lo bisa telat?" pria itu memberikan pertanyaan lain.
"Anu Kak," gadis berkucir dua itu sedang dalam mode bingung. Jelas sekali dari suara bergetarnya saat mencoba menjawab pertanyaan dari kakak tingkatnya.
"Sebelum MOS udah dijelasin kan tentang hukuman bagi yang terlambat?" tegas si pria.
Sembari mengulum bibir bawahnya Aurel lantas menjawab pertanyaan pria itu melalui anggukan bertempo lambat.
"Sekarang lo bukain gerbang, abis itu lo ikut gue ke aula kumpul sama teman seangkatan lo!"
Tak ubahnya robot yang dipasangi baterai Aurel mengikuti perintah sang senior.
__ADS_1
Rasa gugup tak dapat lagi dibendung oleh Aurel. Berdiri di depan khalayak membuat kakinya gemetar tak keruan. Sulit baginya untuk balas menatap ratusan pasang mata yang menyerangnya.
"Tes.." senior yang tadi menemukan Aurel di depan gerbang meraih mic dan mendekatkan benda tersebut di depan bibirnya, "Perkenalkan nama saya Denis Adiguna. Saya juga bagian dari OSIS. Pertama-tama saya minta maaf karena kemarin gak bisa hadir."
"Nis, cewek di sebelah lo ngapain? Telat?" potong Arya si ketua OSIS.
Aurel meneguk ludahnya susah payah. Sekarang ia berharap hilang saja dari dunia ini. Sebentar lagi seluruh peserta dan anggota OSIS bakalan tahu identitas murid yang telat dihari pertama MOS dilaksanakan.
Terlihat Denis menjauhkan mic yang hampir bertautan dengan bibirnya. "Dia telat gara-gara gue," dusta Denis yang justru membuat Aurel menoleh kaget.
"Maksudnya?" tanya Arya lebih lanjut.
"Tadi bensin gue abis, terus cewek ini yang bantuin gue."
Aurel nampak cengo. Pikirnya ia akan berakhir dengan hukuman mengerikan. Nyatanya senior bernama Denis itu menyelamatkan hidupnya. Padahal sempat terbayang dalam imajinya perkataan yang sempat keluar dari bibir Arya si ketua OSIS tepat sebelum MOS berlangsung.
Kalian harus ingat! barangsiapa yang telat di hari pertama MOS, maka orang itu harus menanggung risiko hukuman dari kami. Ingat, kami tidak bisa menolerir lagi karena sejatinya kalian harus dilatih disiplin sejak dini.
Kira-kira seperti itulah kalimat Arya beberapa hari yang lalu sebagai bentuk peringatan pada setiap murid baru.
"Gak bisa gitu dong Nis, faktanya cewek ini udah telat."
"Tapi dia telat gara-gara bantuin gue. Kalau emang ada yang harus dipersalahkan, maka orang itu adalah gue!" Denis bersikeras, mati-matian membela Aurel.
"Ya sudah, kamu silakan bergabung dengan teman-teman kamu!" suruh Arya memberi arahan untuk Aurel agar mengambil posisi duduk bersama teman-temannya yang lain.
FLASHBACK OFF
"Omong-omong, Kak Denis ngapain di sekolah?" tanya Aurel setelah ia dan Denis bangkit dari posisi jongkok memunguti kertas berserakan.
"Gue abis legalisir fotocopy ijazah untuk keperluan kampus."
Tidak banyak yang berubah dari Denis yang dulu. Bahkan tampilannya yang sekarang makin kece. Dengan sepatu kets hitam, celana jeans, kaos oblong putih yang ditutupinya lagi dengan kemeja kotak-kotak justru menambah kesan keren pada diri Denis.
"O ya, gue balik duluan ya!" pamit Denis.
"Kak," cegat Aurel cepat.
"Kenapa?" satu alis miliknya terangkat.
"Sekali lagi maaf ya Kak, udah nabrak sampai bikin kertasnya berhamburan."
"Udah, gak usah dipikirin!" Denis mencetak sepasang lesung pipit ketika ia menarik senyum setelah lebih dulu mengakhiri kalimatnya.
...~To be Continued~...
__ADS_1
...●●●●●...