
...AFTER BEING HURT...
...(SETELAH RASA SAKIT)...
...●...
...●...
...●...
PADA dasarnya Tuhan mematahkan hati seseorang demi untuk menghindarkannya dari orang yang tidak tepat. Andai saja Aurel bisa berdamai dengan perasaannya kemungkinan ia tak menghabiskan banyak sekali lembaran tisu untuk mengelap air matanya.
Sudah hampir dua hari gadis itu absen dari sekolah. Sejak kejadian itu ia banyak mengurung diri di dalam kamarnya.
Bayangan tentang Denis tak enyah dalam pikirannya meski telah berusaha semaksimal mungkin.
“Rel. Kakak mau bicara!” tanpa mengetuk pintu Nakula langsung pada intinya.
“Aurel lagi pengin sendiri!” alih-alih langsung membukakan pintu, Aurel hanya menjawab Nakula. Bahkan tidak ada niat sama sekali untuk melakukannya. Terserah Nakula akan menganggapnya kurang ajar atau apalah, Aurel tak peduli karena hatinya sedang kacau.
“Tapi…”
“Harus diulang berapa kali sih supaya Kakak bisa paham kalimat Aurel?” teriak Aurel masih di posisi yang sama.
Hening. Mungkin Nakula telah menghilang dari depan kamarnya.
Tok…tok…tok…
Aurel mendesah lanjut bersuara, “Kakak gak punya kuping atau gimana sih?”
“Bukan Nakula, ini gue…”
Aurel bergeming saat mendengar si pemilik suara itu.
“Buka pintunya!” suruhnya seenak jidat.
“Enggak!”
“Gue hitung sampai sepuluh kalau lo tetep gak buka, terpaksa pintu kamar lo gue hancurin!”
“Coba aja kalau berani! Siap-siap aja lo kena bacok sama bokap gue setelah ngehancurin fasilitas rumah.” Aurel balik mengancam.
“Gue udah minta ijin kali sama om Akash, siap-siap gue mulai itung sekarang ya…”
Baru hitungan kelima tetapi pintu telah terbuka lebar menampilkan Aurel dengan perawakan acak-acakan. Matanya sembab sementara rambutnya bak singa.
“Ngapain lo datang ke rumah gue?” tangannya lebih dulu mendarat di depan dada sebelum pertanyaan sarkastik meluncur dari bibirnya.
“Mau jemput lo ke sekolah.” Enteng Danial.
Aurel tersenyum iblis. Sesaat ia merasa aneh. Sejak kapan Danial punya sisi baik?
__ADS_1
“Soal kemarin gue minta maaf!”
Apa lagi ini? Aurel merasa bahwa Danial yang kini berdiri di depannya bukanlah Danial yang selama ini ia kenal.
“Lo tau, kan kalau kata maaf gak pernah ada dalam kamus Danial Wirawan, tapi hari ini gue ngelakuin itu khusus untuk lo!”
“Kenapa?”
“Gak usah banyak tanya kek wartawan! Cepetan siap-siap, gue tunggu di bawah!” Danial berlalu meninggalkan kamar Aurel.
Sementara itu Aurel masih kepikiran tentang tingkah Danial yang sedikit aneh.
Setelah menutup kembali pintu kamarnya Aurel baru sadar akan satu hal.
Lah! Kok gue malah tunduk sih sama perintahnya si kunyuk? Batinnya disertai gerakan mengangkat tangan menepuk dahinya.
...●●●●●...
“LO KOK BISA SIH NENANGIN SI HARIMAU BETINA?” Nakula melempar pertanyaan yang tentu saja menghadirkan gelak emosi dalam diri Aurel. Pertanyaan barusan ditujukan pada Danial yang kebetulan duduk di seberangnya, bersisian dengan kursi yang diduduki Aurel saat itu.
Aurel berdeham dengan mimik muka monster.
“Lu dengar sendiri kan Rel? Barusan lo dikatain harimau betina sama Nakula.”
Nakula panik sendiri menyadari raut monster tengah bersemayam pada diri adik kandungnya. Ditengah kepanikannya, ia juga sempat melirik Danial yang baru saja tersenyum setelah menjadi seorang provokator.
“Gak gitu Rel.” Nakula tersenyum hambar.
“Gini ya Rel, kalau gue yang ada di posisi lo nih udah gue jambak mulutnya Nakula.” Danial semakin meracuki.
“Masa adek sendiri dikatain harimau betina, emang yah Nakula gak punya hati.” Danial terus menambah kadar kemarahan Aurel. Ia bahkan tak mengindahkan tatapan Nakula yang menyiratkan kemarahan.
Aurel nampaknya sangat kesal. Terlihat dari kilatan matanya saat mengadu pandangan dengan Nakula.
“Ayo Rel! Serang Nakula!!!” kata Danial dengan semangat penuh.
“Diam lo, berisik!” giliran Danial yang diberi pelototan tajam oleh Aurel.
“Mampus. Kena juga kan, lu!” sambar Nakula cepat. Ia kegirangan melihat Danial jadi sasaran amukan seorang Aurel.
“Lu juga!” ucapan Aurel membuat Nakula buru-buru merapatkan kedua sisi bibirnya. Sepertinya cuaca hati adiknya sedang mendung, eh sepertinya bukan mendung lagi, lebih ke arah badai sih menurut Nakula.
Sejak kemarin Nakula mencaritahu alasan dari sikap adiknya yang berubah drastis. Dia bahkan menanyakan alasannya pada sang ayah dan ibu tapi tak satu pun dari keduanya yang bisa memberi jawaban.
Ajaibnya Danial datang dan berhasil membuat Aurel keluar kamar.
Suara derit kursi terdengar. Aurel baru saja melakukan pergerakan bangkit meninggalkan meja makan. Langkahnya terarah, sepertinya ia hendak menuju lantai dua mengambil peralatan sekolahnya.
“Ngapa lu liatin gue?” tanya Danial setelah memasukkan potongan roti terakhir ke dalam mulutnya. Pria itu merasa aneh dipelototi oleh Nakula sehingga sebuah pertanyaan pun lepas landas dari bibirnya.
“Maksud lo apa ngompor-ngomporin? Lo mau bikin gue dicakar sama Aurel?” cecar Nakula tak lupa mengudarakan sebuah garpu.
__ADS_1
Danial meneguk ludah menjumpai garpu di tangan Nakula. Entahlah, tapi perasaan Danial sudah tak enak.
Seperti halnya bocah taman kanak-kanak keduanya berlari mengelilingi meja makan.
“Lo udah gila ya?” Danial masih berlari saat pertanyaan itu terlepas.
“Lo yang gila!” tuntut Nakula.
“Kalau lo ngebunuh gue, sama aja kalo lo ngurangin populasi orang ganteng yang hidup di dunia ini!”
“Bodo amat, yang penting populasi manusia yang suka ngebacot ilang satu," jawab Nakula acuh tak acuh.
Sampai ketika Aurel kembali ke lantai satu dan menyaksikan kakaknya dan Danial sedang bertingkah layaknya anak-anak.
“Ck,” Aurel berdecak. Tangannya terangkat naik merapikan poni. “Masa kecil kalian kurang bahagia atau gimana sih?”
Entah tidak mendengar atau pura-pura tuli keduanya masih saja berlarian tidak jelas. Danial bahkan masih sempat berlari menghampiri Aurel. Ia menjadikan tubuh gadis itu sebagai tameng agar terhindar dari Nakula.
“Bantuin gue Rel!” pinta Danial. Dan Aurel pun merentangkan kedua tangannya menghalangi Nakula.
“Minggir!” pinta Nakula.
“Enggak.” Aurel menolak.
“Cie ngelindungin pacarnya.” Nakula menggoda.
“Dih siapa juga yang pacaran sama si kunyuk.” Elak Aurel. Ia bergidik jijik.
“Kalau gitu lo minggir biar gue ngasih pelajaran sama nih bocah.”
Saat Aurel menghindar, secepat kilat Nakula membuang garpu di tangan lalu ia maju beberapa langkah dan menjewer telinga Danial sebagai bentuk hukuman atas perbuatannya beberapa waktu yang lalu.
“Tante Sarah, Om Akash!!!” pekik Danial, tentu saja mencari perlindungan.
Nakula tertawa puas, “Percuma, gak bakal ada yang ngebantuin lo. Bokap gue udah berangkat ke kantor sementara nyokap gue lagi ke pasar belanja bulanan.”
“Ampun Nakula!” ringis Danial.
“Lo harus muji gue dulu! Lo bilang Nakula ganteng!”
“Maaf tapi gue gak bisa boong!”
“Bangsat lu!” Nakula semakin menarik daun telinga milik Danial.
“Kalau gue bilang lo ganteng berarti gue boong dong? Lo kan tau sendiri kalo boong itu dosa!”
“Ya udah, terpaksa gue juga gak bakal lepasin telinga lo!” Nakula mengancam.
“Aww… iya deh gue minta maaf Nakula ganteng.”
“Yang ikhlas!” tuntut Nakula.
__ADS_1
“Maaf, NAKULA GANTENG!” Kata Danial dengan nada selembut mungkin. Baru setelahnya tangan Nakula pun bergerak lincah melepaskan daun telinga milik Danial yang kini memerah.
...~To be Continued~...