MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
41. I HATE MY SELF


__ADS_3

...I HATE MY SELF...


...(MEMBENCI DIRIKU SENDIRI)...


...●...


...●...


...●...


AUREL termangu tidak tahu harus berbuat apa. Besok hari minggu, dan sialnya minggu depan tidak ada tugas sekolah yang mesti dikumpulkan. Aurel berdecak, tak punya kesibukan hanya membuat pikirannya bercabang.


Kemasan cokelat dan juga keripik bertebaran di atas lantai, Aurel adalah pelakunya. Kadang-kadang gadis itu akan bertingkah aneh ketika sedang banyak pikiran. Aurel selalu melampiaskannya pada makanan.


Dan setelah makanannya habis, pikiran itu kembali mengusiknya.


Sempat terbesit ide lain dalam kepalanya untuk menghabiskan rasa suntuknya dengan menonton drama korea. Dengan begitu pikirannya yang sedang bercabang akan sedikit berkurang. Masalah hampir terselesaikan tetapi masalah lain muncul. Laptopnya sedang di kamar Nakula dan Aurel terlalu malas untuk mengambilnya. Jika di rumahnya ada lift mungkin tak masalah, tetapi jika harus melewati tangga? Sepertinya tidak. Aurel terlalu malas untuk melakukannya.


Satu buah tarikan napas sebagai pendorong semangatnya saat mengambil posisi berdiri meninggalkan pinggiran ranjang. Dia melihat sekitar, suasana kamarnya jadi lebih sunyi.


Sejak kepulangannya dari sekolah Aurel terus merasakan kejanggalan-kejanggalan. Pikirannya selalu tertuju pada Leana, dan anehnya ia merasa begitu khawatir.


Untuk kesekian kalinya ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, bersisian dengan gelas berisikan air putih. Aurel berharap sekali ada sebuah pesan masuk dari Leana. Dengan begitu ia akan merasa lega mengetahui kondisi Leana sedang baik-baik saja.


Tok... Tok... Tok


Di suasana sehening ini mudah sekali bagi Aurel mendapati ketukan pintu dari luar kamarnya.


"Iya bentar!" Aurel membuang ponselnya ke ranjang. Membawa langkahnya menuju pintu, dan akhirnya ia berhasil membuka sekaligus mengecek siapa gerangan.


Ternyata dugaannya salah besar. Bukan ayah, ibu, dan Nakula seperti yang tergambar di kepalanya saat masih menggenggam gagang pintu. Aurel bahkan tak kepikiran akan bertemu dengan orang itu.


"Leana," gadis itu berujar spontan sembari memelotot. Tak kalah cepat tangannya mulai mengudara dan berakhir membekap mulutnya. Tentu saja ia terkejut. Tidak ada angin, tidak ada hujan, mendadak Leana bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


"Lo ngapain..." kalimatnya bahkan belum sempurna saat rasa getir menyerang sewaktu gadis itu menetralkan perasaan cemasnya lewat tegukan saliva. Aurel merapatkan kedua sisi bibir kemudian, bola matanya kian membulat mengikuti detik yang menyempurnakan diri menjadi menit. Ada yang berbeda dari tampilan Leana saat ini, Aurel bahkan tidak berani mengatakannya. Pasti matanya sedang salah liat.


Apa yang diharapkan oleh Aurel rupanya berlawanan dengan apa yang disaksikan matanya. Sekuat apa pun hatinya menolak, faktanya memang seperti itu. Suka atau tidak, mau atau tidak, dia harus menerima dengan lapang dada.


Leana melangkah masuk sementara Aurel memilih mundur merenggangkan posisinya dari sahabatnya itu, "An, kok lo bisa..." Aurel tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Air mata baru saja berjatuhan dari setiap sudut matanya.


Leana menerbitkan senyum sehingga wajah pucatnya sedikit terselamatkan.


Cukup lama keheningan menghantam ruangan kecil tersebut, sampai-sampai suara jangkrik di luaran sana terdengar begitu jelas. Leana memilih mencairkan keheningannya. Dimulai dengan menggerakkan sudut bibirnya, Leana akhirnya bercerita.


"Sudah hampir tiga tahun kita temenan," Leana menjeda kalimatnya. Gadis itu sedang tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya, "Lo ingat, kan Rel. Waktu pertama sekolah gue ngemis-ngemis supaya lo mau jadi temen gue?" imbuhnya.


Aurel menyeka air matanya, "Dan hari itu gue jujur sama lo tentang kelebihan gue bisa liat hantu," jawabnya dengan suara sedikit serak.


"Awalnya gue ngira lo cuma becanda soal itu, tapi malam ini lo bisa liat gue. Itu artinya lo gak pernah bohong soal kelebihan lo yang bisa liat makhluk dimensi lain."


Butiran air mata semakin deras menggenangi pipi kenyal milik Aurel, membasahi pangkal hidungnya. Aurel belum bisa menerima kenyataan ini.


Aurel mengangguk kencang. Di detik pertama ketika mata mereka bertemu, Aurel sudah bisa menyimpulkan itu. Mudah bagi Aurel untuk membedakan sosok manusia dan sosok tak kasat mata. Sangat disayangkan, sosok Leana telah berubah wujud jadi arwah.


"Makasih ya Rel selama ini lo udah baik sama gue."


Aurel memberanikan diri untuk menatap Leana lebih lama. Mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya yang tak lagi memijak lantai. Aurel mengembalikannya lagi, melihat badan sahabatnya yang masih dibalut seragam sekolah. Ada beberapa bercak merah yang diyakini Aurel sebagai darah di sekujur tubuh sahabatnya.


"Pas pulang sekolah gue kecelakaan. Seseorang nabrak gue dari belakang. Gue gak bisa ingat dengan jelas kejadian itu. Yang pasti saat gue mulai siuman wujud gue udah jadi arwah Rel." Aurel bisa merasakan kesedihan yang tergambar melalui suara serak milik Leana. Hanya saja butiran air mata tak akan pernah lagi nampak di wajah gadis itu. Arwah berbeda dengan manusia. Jika diibaratkan arwah hanyalah sebatas bayangan yang hanya disadari oleh sebagian orang.


"Kenapa lo ninggalin gue secepat ini An?" piama yang dikenakan oleh Aurel basah karena air mata. Aurel sadar, tak sepatutnya ia memberikan kalimat yang hanya menambah kadar kesedihan pada Leana. Tetapi kalimat semacam itu terlepas begitu saja. Aurel kewalahan mengontrol emosinya.


"Maaf ya Rel kalo selama ini gue banyak salah sama lo."


Aurel menggeleng tidak terima, "Enggak, enggak An. Lo gak harus minta maaf!"


"Gue pamit Rel, gue pergi. Jaga diri lo baik-baik!" Seperti buih di lautan, wujud Leana menghilang dalam sekejap.

__ADS_1


Aurel kembali terisak. Posisinya berubah dari berdiri menjadi terduduk. Tak pernah sekalipun ia memikirkan tentang bagaimana sakitnya melihat sahabat pergi ke dimensi yang berbeda.


Sebuah dering membuat Aurel memeriksa ponselnya. Yohan-ketua kelasnya sedang menelpon.


"Iya?"


"Rel lo harus tabah ya! Gue barusan dapat kabar kalau Leana meninggal."


Aurel memilih memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Sejauh ini ia belum bisa menerima kata 'Meninggal' mengikuti nama sahabatnya, 'Leana.'


Disaat Aurel ingin mengembalikan ponsel ke tempat semula, panggilan lain datang.


Kali ini dari Netta. Meski sudah tahu apa yang hendak disampaikan, Aurel tetap saja mengangkat upaya sambungan telepon dari salah satu teman kelasnya itu.


"Rel? Lo udah denger kabar kan?" heboh Netta tepat setelah Aurel menekan tombol hijau lalu mendekatkan benda pipih miliknya ke depan telinga.


"Gue udah denger kok."


"Lo harus kuat ya!" sepertinya gadis di seberang sana sedang menangis, terbukti dari suaranya yang sedikit serak. "Kita semua ngerasa kehilangan Rel. Tapi gue yakin diantara kita lo yang paling ngerasa kehilangan."


"Makasih Net!"


Dan sambungan telepon pun terputus.


Kabar tentang kematian Leana menggemparkan obrolan grup. Bunyi notifikasi secara beruntun menghantam ponsel yang baru saja diletakkan Aurel ke atas nakas. Aurel tak memedulikan ponselnya sama sekali.


Sekelabat bayangan ketika Leana masih hidup menghantam imaji Aurel. Hal itu membuat tangisnya semakin menjadi-jadi. Gadis itu menggenggam erat sepreinya, kepalanya terus menggeleng, tidak terima "Enggak. Leana belum meninggal!"


Aurel sesegukan di tengah heningnya suasana malam. Untuk sesaat Aurel merasa semesta terlalu kejam padanya. Sejak kecil ia dibebani oleh kelebihannya melihat hantu, ia merasa kesulitan mencari teman yang bisa menerimanya dengan tulus. Disaat Aurel menemukan Leana, nyatanya semesta kembali memperlihatkan kekejamannya. Dalam sekejap Aurel kehilangan Leana.


Aurel belum sempat mengucapkan maaf atas keegoisannya dan Leana telah pergi untuk selama-lamanya.


...~To be Continued~...

__ADS_1


__ADS_2