MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
18. SOMETHING IN THE NIGHT


__ADS_3

...SOMETHING IN THE NIGHT...


...(SESUATU SAAT MALAM HARI)...


...●...


...●...


...●...


AUREL masih di depan meja rias usai melakukan ritual malamnya mengolesi permukaan mukanya dengan skincare.


Dengan tubuh berbalut piyama gadis itu mengangkat tangan mengucir rambut yang sebelumnya dibiarkan tergerai.


"Jangan ganggu dulu ya, Kakak lagi capek nih, pengin tidur!" mata milik Aurel memandang sosok anak kecil di belakangnya melalui cermin meja riasnya. Sosok yang dinamainya Angel seketika mengerucutkan bibir pucatnya mendengar peringatan dari Aurel.


Biasanya Aurel akan bercerita panjang kali lebar bersama gadis kecil itu, tak jarang ia bahkan menceritakan kisah masa kecilnya meski gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.


Sebagian hantu memang ada yang memilih membungkam. Aurel tak tahu apakah dia sengaja membungkam bibirnya atau memang mereka terlahir dalam kondisi seperti itu. Yang jelas Aurel merasa senang membagikan pengalaman masa kecilnya kepada gadis kecil itu.


Suara pintu lantas terdengar, segera membuat Aurel bergeming.


Berpikir sebentar, Aurel kemudian menurunkan kembali kedua tangan yang tadinya merapikan rambut berantakannya.


Sebelum bangkit membukakan pintu lebih dulu ia melihat cermin, dan ternyata sosok anak kecil tadi telah meninggalkan kamarnya.


Pintu kamar terbuka menampilkan sosok pria.


Aurel mengerjap heran. Bola matanya bergerak lincah menjamah tubuh si pria, mulai dari kepala hingga ke ujung kaki lalu dikembalikan lagi sampai matanya beradu dengan si pria pemilik alis tebal.


"Kenapa? Belum pernah liat cowok se-perfect gue!"


Rencananya Aurel ingin menutup kembali pintu kamarnya tepat setelah mendapati kalimat yang menegaskan kepongahan.


Tetapi sial gerakan cepatnya hendak menutup pintu kamar terbaca oleh Danial. Danial segera menahan pintu menggunakan kekuatan otot kekarnya.


"Gak semudah itu!" kata Danial diikuti senyum miring.


Tidak berhasil membuat pintu kamarnya tertutup rapat membuat Aurel menyentak kesal. Sekuat apapun usahanya untuk menjauh tidak bakalan berhasil karena tenaga Danial berlipat-lipat kali dibandingkan tenaga gadis itu.


Lambat laun kadar kekesalan dalam diri Aurel semakin bertambah saat membawa indra penglihatannya ke wajah si pria aneh bin menyebalkan itu. Senyum remeh yang diperlihatkan oleh Danial saat itu menyulutkan kobaran api pada diri Aurel.


"Biarin gue masuk!" sambil mengucapkannya, kaki Danial juga terangkat mengambil langkah memasuki ruangan kecil milik Aurel.


"Lo mau ngapain?" pertanyaan itu dilepaskan oleh Aurel saat menyaksikan gelagat aneh pria dengan setelan sheeveless shirt berwarna abu-abu itu. Kalaupun ia hendak masuk, lalu kenapa ia malah mengunci pintunya?


Sepertinya sah-sah saja jika Aurel berpikir yang bukan-bukan melihat gelagat aneh pria tersebut. Terlebih lagi disaat Danial mengambil lengannya dan memaksanya mengambil posisi duduk di pinggiran ranjang.


"Jangan coba macam-macam sama gue!" peringat Aurel tetapi tidak ada respon dari lawan bicaranya. "Lepas atau gue bakal teriak supaya bokap gue datang dan hancurin muka sok ganteng lo." Sambung Aurel kemudian berdecih.


Dengan mudahnya Danial membiarkan tangan milik gadis itu lepas dari kurungan tangannya. Menolehkan muka dan tertawa matanya tak sengaja mendapati susunan skincare di meja rias Aurel. Menormalkan raut mukanya pria itu mengembalikan fokus pandangnya di muka Aurel. "Besok-besok jangan cuma kulit lo yang dikasi makan, otak lo juga supaya lo gak gampang ngarahin pikiran ke hal-hal negatif."

__ADS_1


"Keluar dari kamar gue!" titah Aurel acuh tak acuh pada apa yang dikatakan Danial. "Gue gak mau ya kalo misalnya keluarga gue nge-gap kita berduaan dan maksa kita nikah. Kalau nikahnya sama Justin Bieber sih gapapa, eh ini malah sama si kunyuk."


"Lo pikir gue suka sama tipe cewek yang anu-nya kecil kayak lo!" serang Danial.


Plak!


Satu buah tamparan mendarat mulus di pipi kenyal milik Danial. Semuanya bahkan terjadi begitu saja tanpa direncanakan lebih dahulu. Begitu kalimat Danial selesai, tangan milik Aurel hilang kendali sehingga terangkat dan berakhir di wajah Danial.


"Lo udah gila ya?" tanyanya. Rasa sakit di pipinya jelas masih terasa sampai telapaknya terangkat memegangi bagian itu.


"Lo yang gila!" bahkan dalam keadaan rambut terkuncir pun Aurel masih merasakan hawa panas yang telah menghadirkan peluh di sekitaran tengkuk dan wajahnya. Ternyata berdebat dengan Danial butuh tenaga ekstra. Pendingin ruangan di dalam kamar seolah tak ada fungsinya. "Lagian gue heran ya sama lo," tak lagi dalam kondisi duduk sekarang dia telah bangkit bergaya tolok pinggang. "Tuhan udah ngasih lo kesempatan kedua dengan menghadirkan pendonor mata, tapi ucapan lo kek orang gak berpendidikan tau gak."


"Emang salah gue di mana?" dalih Danial.


"Pake nanya lagi? Lo gak sadar dengan kalimat cabul lo yang ngatain anu gue kecil?" tanya Aurel retorik.


"Yang gue maksud kan otak lo yang kecil, bukan sesuatu yang lain. Emang dasarnya aja pikiran lo yang udah cabul dari sononya." Kata Danial lebih untuk membela dirinya sendiri.


"Rel... buka pintunya." Suara Nakula yang diiringi ketukan pada pintu membuat dua manusia dalam ruangan menyentak kaget.


Saling tatap memperlihatkan muka kepanikan selama beberapa saat. Andai saja keduanya punya keahlian telepati mungkin keduanya telah berkomunikasi membagikan kepanikannya masing-masing.


"Rel, lo belum tidur kan?"


"Aduh gimana nih Dan. Ntar kalau Nakula mikir yang enggak-enggak gimana?" desis Aurel mulai panik, "Gue gak mau ya dinikahin sama lo," lanjutnya dengan kemungkinan paling buruk.


"Gue juga ogah kali sama lo."


"Kagak ah," gidik Danial menolak ide gila Aurel.


"Nurut aja sama gue!" Aurel menarik tangan lalu mendorong Danial ke arah lemarinya.


"Aurel." Nakula semakin tak sabaran menantikan pintu kamar dibuka.


"Iya Kak bentar." Aurel baru punya kesempatan menyahuti kakaknya.


"Lama amat sih bukanya," rutuk Nakula disaat pintu telah dibuka. "Oh ya, laptop kakak lagi bermasalah, pinjem laptop lo yah!"


"Ambil aja di lemari," baru setelah menjawab Aurel seketika melebarkan matanya. Dia lupa tentang Danial yang sedang bersembunyi di dalam lemarinya.


Shit! Batin Aurel. Gadis itu menggigiti kuku jarinya melihat Nakula mendekat ke lemari tempat di mana Danial bersembunyi.


Detik yang paling menegangkan akhirnya terjadi. Saat membuka pintu lemari Nakula dikagetkan oleh sosok pria. Sempat mundur beberapa langkah sebelum ia maju lagi untuk menarik lengan Danial keluar dari tempat persembunyiannya.


"Lo ngapain di kamar adek gue?" tanya Nakula. Matanya membulat sempurna menakuti lawan bicaranya.


Aurel mencoba menyumpal mulut Nakula dengan telapak tangannya. "Gue bisa jelasin. Tapi please jangan teriak-teriak dulu, takutnya Papa sama Mama datang dan bikin suasananya makin ambyar."


Nakula menghela napasnya mencoba untuk mengikuti kata adiknya.


"Sekarang jelasin kenapa kalian berdua bisa ada di kamar yang sama plus dalam keadaan kamar yang kekunci?" Nakula melipat kedua tangan di belakang badannya. Saat itu ia terlihat seperti seorang polisi yang menginterogasi pelaku kejahatan.

__ADS_1


Danial dan Aurel saling menatap.


"Ayo jawab!" suara Nakula semakin meninggi.


"Ada sesuatu yang mau gue sampein ke adek lo!" jawab Danial.


"Oh ya. Harus ya malam ini juga? Kenapa gak besok aja ceritanya? Terus kenapa kamarnya pake dikunci segala?" Nakula tidak mampu menahan diri untuk tidak mencecar Danial dengan pertanyaan. Tidak peduli apakah Danial akan merasa kesal dengan itu, yang jelas Nakula akan selalu mencoba bersikap tegas jika menyangkut adik perempuannya.


"Calm down!" ujar Danial. "Gue kesini karena mau ngebahas makhluk yang huni kamar tempat gue tidur."


"Lo ketemu sama pria bermata satu itu?" tanya Aurel menginterupsi interaksi verbal yang terjalin antara kakaknya dan Danial.


Sudah hal lumrah bagi Aurel untuk mengetahui makhluk yang menghuni setiap sudut rumahnya.


"Tunggu bentar," Nakula angkat suara tepat setelah Danial mempersembahkan sebuah anggukan sebagai respon atas ucapan Aurel. Baik Danial maupun Aurel menatap Nakula dengan tatapan tak dimengerti. "Maksudnya Danial juga bisa liat hantu?" Nakula menatap keduanya secara bertahap setelah membagikan asumsinya.


"Ya," jawab Danial singkat.


"Sejak kapan?" lanjut Nakula.


Danial mengedikkan bahunya, "Tepat setelah gue abis operasi mata."


"Serius lo datang ke kamar adek gue pengin bahas masalah hantu doang?" keningnya mengerut. Dampaknya sampai membuat kedua alisnya seperti akan menyatu jadi satu bagian. "Lo gak ada niat ngelakuin hal-hal nyeleneh kan?"


"Kagaklah Nakula."


"Ya sudah lo balik ke kamar lo!"


Danial menyengir. "Malam ini gue tidur di kamar lo ya!"


Nakula mengerutkan kening kemudian pria itu memberikan sebuah gidikan penolakan, "Kagak ah, jijik gue tidur bareng lo."


"Ya sudah kalo lo nolak, gue terpaksa tidur bareng adek lo."


Aurel membulatkan mata sementara Nakula berdeham mengudarakan tangan terkepalnya. Tidak ada kalimat ancaman dari bibirnya, namun tindakannya barusan berhasil menciutkan nyali seorang Danial.


Danial meneguk saliva membayangkan tinjuan Nakula mendarat di pipinya. Padahal jelas ia masih merasakan sakit setelah sebelumnya Aurel menamparnya dengan cukup keras.


"Kalo lo gak setuju gue tidur bareng adek lo maka lo harus setuju kalo gue tidur bareng sama lo."


"Ck. Malam ini doang ya. Dan ingat, jangan coba *****-***** gue pas lagi tidur."


"Cih," Danial berdecih, ia memutar bola matanya malas. "Gue gak belok. Masih normal lebih tepatnya. Gue gak suka batangan."


"Ihh," Aurel menyentak kesal mendengar percakapan kakaknya dengan Danial yang mulai ngawur. Pergerakan tangannya cukup cepat menutup telinganya. "Keluar! Gue masih polos untuk dengerin ucapan kalian."


Danial mencebik, "Ngaku polos tapi ngerti," ujarnya bergumam.


...~To be Continued~...


...●●●●●...

__ADS_1


__ADS_2