
...HAPPY BIRTHDAY...
...(SELAMAT ULANG TAHUN)...
...●...
...●...
...●...
KETUKAN di pintu kamar membangunkan gadis yang masih berlindung dibalik selimut tebal. "Iya, bentar!" Aurel menjawab sambil merenggangkan badannya. Gadis itu menoleh memperhatikan jam beker di atas nakas. Masih jam setengah tujuh.
Begitu pintu dibuka dari dalam, seseorang langsung menyelonong masuk.
Aurel bergeming memperhatikan lekat gadis yang sedang membawa kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Aurel!" Gadis itu tersenyum lebar meski Aurel masih tetap bergeming belum bisa menerima apa yang sedang dilihatnya.
"Make a wish, dan tiup lilinnya!" titahnya dengan nada antusias.
Aurel mulai menutup mata. Bibirnya mulai bergerak memohon doa. Setelah selesai, Aurel pun membuka matanya secara perlahan.
Menurunkan dagunya perlahan Aurel meniup lilin sehingga terdengar kata 'hore' diucapkan oleh orang yang membawa kue tersebut.
Biasanya setelah meniup lilin, orang yang sedang berulang tahun akan memotong kuenya. Tetapi yang dilakukan Aurel saat ini adalah merampas kue tersebut. Ia menyimpannya di atas meja belajar. Lalu kembali ke hadapan orang yang membawakan itu untuknya.
"Ini beneran elo kan An?" Aurel memastikan bersamaan dengan tangannya yang mulai terangkat meraba-raba muka gadis tersebut.
Gadis di depannya mengangguk. "Iyalah, lo pikir gue Ariana Grande," ucapnya disertai tawa renyah.
"Enggak! Gue pasti lagi mimpi." Aurel menggeleng sesaat.
Leana mengangkat tangannya. Digunakan untuk mencubit pangkal hidung milik sahabatnya.
"Aww, sakit An." Aurel baru saja mengaduh. Telapak tangannya mengudara dan berakhir di depan pangkal hidungnya.
Leana menerbitkan senyum sebelum kedua sisi bibirnya terangkat, "Kalau sakit berarti saat ini lo enggak..."
__ADS_1
"Gue gak mimpi dong!" Aurel memotong ucapan sahabatnya.
Leana hampir saja hilang keseimbangan begitu Aurel maju dan melingkarkan tangan di pinggangnya. Pelukan itu sangatlah erat sampai Leana merasa sedikit sesak karenanya.
"Sekangen itu ya lo sama gue?" Leana terkejut bukan main. Saat itu matanya sedikit memelotot. Disaat yang bersamaan setelah ia melepaskan pelukan, gadis itu menjumpai pipi Aurel telah basah karena air mata. "Kok lo nangis sih?" Leana membantu menyeka air mata sahabatnya. Ia juga mengubah ekspresinya jadi prihatin.
"Semalam gue mimpi lo ninggalin gue untuk selama-lamanya An."
Leana menerbitkan senyum. Ia lalu menarik lengan sahabatnya, membawanya untuk duduk di tepian ranjang. "Makanya Rel, sebelum tidur baca doa dulu, biar gak mimpi macem-macem."
"Gue minta maaf ya!" Leana menangkupkan tangannya.
"Maaf?" Aurel mengulang ucapan Leana. Aurel bingung sendiri, seharusnya dialah yang meminta maaf. "Untuk apa?" sambungnya disertai lipatan-lipatan kecil di dahinya.
"Karena kemarin gue udah pura-pura marah sama lo."
"Pura-pura?" ulang Aurel, "Berarti lo gak beneran marah sama gue?"
Leana mengangguk, "Jadi gini, gue emang marah sama lo. Tapi bukan karena lo jalan sama Danial. Gue marah karena malam itu lo bohongin gue..."
"Gue cuma gak mau bikin lo sakit hati, makanya gue sembunyiin. Tapi serius, waktu itu gue udah nyoba ngehindarin Danial." Aurel menginterupsi sambil menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Astaga An," Aurel tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Gadis itu hanya menggeleng tak habis pikir lalu menaruh tangannya di pelipis. Nyatanya beberapa hari terakhir dirinya hanya dikerjai oleh sahabatnya. "Gara-gara lo gue banyak nangis tau gak."
"Tapi diamafin kan?"
"Enggak." Aurel memasang tampang seolah marah, meski di detik selanjutnya ia mengubah raut masamnya dengan air muka kebahagiaan dengan pemanis senyum simpul. Aurel mana bisa hidup tanpa Leana. "Tapi sumpah An, lo kejam banget sama gue. Apalagi pas gue gak sengaja nabrak lo dan lo malah maki-maki gue," ungkapnya sambil mengingat-ingat kejadian waktu itu.
Leana menyengir, merasa sedikit bersalah. Leana lantas meraih lalu menggenggam tangan sahabatnya, "Maafin Leana ya..."
Didahului anggukan sebelum terlihat pergerakan di sudut bibirnya. Sebuah pertanyaan pun terucap dari sana. "Oh ya ngomongin soal Danial, lo gak serius kan suka sama dia?"
Senyuman yang tergambar di bibir Leana memudar. Rasa getir menyerang tenggorokannya dalam rentan waktu sepersekian detik setelah pertanyaan mengalun di telinganya.
"Kalau masalah itu gue emang serius Rel. Gue emang suka sama Danial. Tapi gue gak sebodoh itu Rel," kalimat gadis itu dijeda oleh seringaian lebar, "Gue juga tahu kalau Danial sukanya sama lo," sambungnya.
"Maaf." Aurel menunduk sembari memperlihatkan bibir yang telah mengerucut.
__ADS_1
"Lo gak perlu minta maaf kali Rel!"
Aurel menghela napas pendek. Kedua pundaknya turun, memelas. "Tetep aja An, gue ngerasa bersalah sama lo." Kemudian Aurel membawa tatapannya ke depan, menghindari adu mata dengan Leana. Satu embusan napas panjang mengikutinya. "Lagian gue heran, An. Kok gue bisa suka sih sama Danial. Padahal kan hubungan gue selama ini udah mirip kucing dan tikus yang hobi berantem."
"Udah ah ngebahas Danial, lebih baik lo ikut gue ke bawah!" Leana bangkit dengan tangan melingkar di pergelangan sahabatnya.
Kening Aurel mengerut, "Emang ada apa di bawah?"
Leana mengedikkan bahunya. Tidak mau memberitahu alias masih merahasiakan.
Leana mengajak Aurel untuk turun ke lantai bawah.
"Surprise!" kompak Akash, Sarah, dan juga Nakula. Ketiganya berdiri di samping meja makan menyambut kedatangan Leana dan juga Aurel dari lantai atas.
Pipi Aurel telah merona saat ini. Tak pernah gadis itu kepikiran bahwa keluarganya telah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuknya.
"Dih, malah nangis," ejek Nakula mendekati adik perempuannya, "Gak usah nangis, gak malu apa diliatin sama Leana," Nakula melirik Leana melalui ekor matanya. Saat itu Leana tengah mengumbar senyum melihat keakraban kakak beradik di hadapannya.
"Makasih ya, kejutannya." Aurel mengucapkan kalimat tersebut sambil menyeka air matanya. Nakula tersenyum singkat sebelum ia mengulurkan tangan dan menenggelamkan sang adik dalam pelukan hangatnya.
"Elah so sweet banget sih kalian berdua. Gue jadi iri tahu karena gak seberuntung lo yang punya kakak," Leana memekik gemas merasa iri karena Aurel memiliki kakak yang mampu menjaganya kapan pun.
"Gak usah sedih, sini gue peluk," Nakula melepaskan pelukan di tubuh adiknya, lalu ia merentangkan kedua tangan menghadap Leana.
"Awww," Nakula mengaduh karena Aurel memukul punggungnya cukup keras.
"Kak Nakula modus ih!" Aurel mengedikkan bahunya.
"Becanda doang elah." Nakula mengelak. Pria itu mengembalikan perhatian dari Aurel menuju Leana tanpa melupakan simbol perdamaian lewat telunjuk dan jari tengah yang diangkat secara bersamaan.
"An, hati-hati sama Nakula, efek kelamaan jomblo bikin dia jadi kagak waras."
"Dih, kek lo gak jomblo aja," serang Nakula tak tanggung-tanggung. Sehabis itu Nakula berlari berlindung di belakang sang ayah ketika Aurel mengejarnya sambil mengepalkan tangan ke udara.
"Pah, tolongin harimau betinanya lagi ngamuk."
Sarah, Akash, dan juga Leana hanya tertawa melihat tingkah keduanya yang terlihat seperti anak kecil.
__ADS_1
...~To be Continued~...
...Note : Jadi, kejadian pas Leana meninggal kemarin cuma mimpi ya.......😆🙃...