MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
42. SEE YOU AGAIN


__ADS_3

...SEE YOU AGAIN...


...(SAMPAI JUMPA LAGI)...


...●...


...●...


...●...


MATAHARI sedang berlindung dibalik awan. Saat mendongak, orang-orang bisa menyimpulkan bahwa kondisi langit tak secerah kemarin.


Sejak kabar kematian Leana mengudara. Banyak sekali kerabat yang mulai berdatangan membuat rumah duka semakin sesak. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian serba hitam, sementara selebihnya lebih nyaman dengan pakaian serba putih.


Rombongan kelas XII. IPA 6 baru saja tiba di rumah duka. Raut mereka memperlihatkan kesedihan yang teramat mendalam. Terlebih saat mereka mendapati karangan bunga bertuliskan nama Leana berjejer rapi di depan gerbang rumahnya. Tak satupun dari mereka yang pernah membayangkan gadis seceria Leana akan pergi secepat ini.


"Ngomong-ngomong kok yang datang cuma segini?" Yohan bersuara. Ia menatap temannya satu persatu. Tanpa sengaja Yohan membuyarkan lamunan beberapa teman sekelasnya yang menatap bendera kuning di depan pintu masuk.


"Udah lengkap ini mah."


"Enggak, masih kurang satu," Yohan mengernyit. Hitungannya tidak mungkin salah. Pria itu sangat yakin.


"Hitung ulang gih!" suruh Haris.


Yohan menghitung ulang, "Satu lagi ke mana woy?"


Semuanya saling menatap, mencari satu lagi murid yang tidak menyempatkan diri untuk hadir melihat Leana untuk kali terakhir.


"Aurel ke mana?" Netta bersuara lalu membawa tatapannya ke Yohan. Netta menatap dengan maksud terselubung menuntut jawaban.


Yohan mengedikkan bahunya sebagai jawaban bahwa dia tidak tahu soal itu. Semalam ia sudah mengabari Aurel.


"Lo belum ngabarin Aurel, Han?" tukas Haris.

__ADS_1


"Udah kok semalam." Yohan menjawab Haris.


"Semalam gue juga udah nelpon Aurel." Netta menceletuk.


"Terus Aurelnya ke mana?" tanya murid lainnya.


"Sebelum berangkat gue nelpon ke rumahnya. Kata kakaknya Aurel udah berangkat sejak tadi subuh." Danial yang biasanya acuh tak acuh mulai bersuara. Ia memberikan informasi saat melihat beberapa temannya sedang merogoh ponsel mencoba menghubungi Aurel.


"Ya sudah, kita langsung masuk aja!" Yohan mengambil alih. Seperti biasa si ketua kelas akan jalan duluan sementara yang lainnya mengekor di belakang.


Suasana di dalam lebih ramai lagi. Ada banyak orang yang merasa kehilangan dengan kepergian Leana. Netta baru saja mengedarkan pandangannya mencari kehadiran Aurel.


"Rel, lo harus sabar yah!" Netta segera memeluk Aurel yang tampak kacau di sebelah jenazah Leana. Matanya membengkak sementara rambutnya sedikit acak-acakan. Sekilas kehancuran sedang terpatri di wajah Aurel.


"Net, Leana udah ninggalin gue!" Aurel mengaduh dalam pelukan Netta. Ia tersedu menumpahkan butiran air matanya.


Netta ikut menangis sambil mengelus punggung Aurel. Gadis itu bisa memaklumi rasa sakit yang bersarang di hati Aurel saat ini. Beberapa tahun belakangan Aurel hanya dekat dengan Leana. Keakraban diantara mereka bahkan sudah menyamai hubungan persaudaraan. Wajar saja jika Aurel terlihat hancur ketika kabar kematian Leana mengudara.


Setahu Netta, hubungan diantara Aurel dan Leana beberapa hari terakhir sedikit merenggang. Netta tidak tahu pasti akar dari permasalahannya. Mungkin hal itulah yang memperparah rasa sakit yang dialami Aurel.


Netta melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Aurel yang tampak kacau. Dalam sekali tatapan yang diberikan oleh Netta. "Rel, lo gak perlu ngerasa sendiri. Kita semua ada kok!" tangan Netta menyeka air mata di pipi gadis cantik itu. "Kita semua ada untuk lo!"


"Lo kuat Rel, kita semua ada untuk lo!" Yohan menyemangati.


Aurel sesegukan sambil menggeleng pelan. Walau bagaimana pun tak akan pernah ada lagi figur yang mampu menggatikan posisi Leana di hatinya.


...●●●●●...


"LEANA!" suara ketika Aurel menyerukan nama sahabatnya membuat kerumunan menoleh dan menjadikannya fokus penglihatan. Aurel baru saja tiba di pemakaman bersama Nakula.


Pada saat jenazah Leana masih di rumah duka, Aurel sempat pingsan sehingga Akash tak punya pilihan selain menyuruh Nakula untuk datang menjemput sang adik kembali ke rumah. Kurang lebih setengah jam kemudian Aurel akhirnya sadar. Tanpa pikir panjang gadis itu kalang kabut memohon kepada Nakula untuk mengantarnya ke pemakaman.


Nakula sempat melarang. Hanya saja Aurel terus menangis dan memohon. Merasa kasihan, akhirnya Nakula memutuskan untuk mengantar adik kesayangannya ke pemakaman.

__ADS_1


Aurel berjalan duluan meninggalkan Nakula begitu mobil berhenti. Tanpa alas kaki gadis itu tergopoh membelah jalan kerikil dengan mata yang tentunya basah karena air mata.


"Aurel, kamu ke sini sama siapa, Nak?" tanya Akash sedikit khawatir melihat kondisi pucat pasi tergambar di wajah putrinya.


"Sama Nakula, Pah."


Tak lama berselang, Sarah pun ikut menghampiri putrinya mengikuti suaminya. "Yang sabar ya nak!" Sarah mencium kedua pipi putrinya kemudian memeluknya dengan sangat erat. "Mama yakin kalau Leana udah tenang di surga."


"Enggak Mah. Leana belum meninggal!" Aurel meronta melepaskan pelukan seraya berteriak histeris, "Leana gak mungkin ninggalin Aurel." Aurel memutar posisi badannya. Membawa langkah kakinya menghampiri pusara tempat Leana beristirahat untuk selama-lamanya.


Aurel fokus pada tujuan. Ia bahkan tak acuh pada tatapan orang yang sedang menatapnya prihatin.


"Aurel!" Marta, ibunya Leana menghampiri Aurel. Keduanya saling berpelukan sambil melepaskan kesedihan lewat tangis. Keduanya memang sering bertemu, terlebih lagi karena Leana sering mengajak Aurel berkunjung ke rumahnya. Marta telah menganggap Aurel sebagai putri kandungnya sendiri, begitu pun sebaliknya. Aurel menganggap Marta sebagai ibu kandungnya.


"Kamu yang tabah ya sayang. Leana udah bahagia di sana!" Marta memaksakan senyum. Ia hanya tak mau terlihat rapuh di depan orang banyak. Dibilang sedih pastinya iya, lagi pula orangtua mana yang tak sakit melihat anaknya pergi untuk selama-lamanya?


Aurel manggut-manggut, "Maafin Aurel Tan, belum bisa jadi sahabat yang baik untuk Leana." Aurel menunduk tak berani menatap lawan bicaranya.


Salah satu tangan Marta mengudara mengelap air mata yang masih mengucur deras membasahi pangkal hidung Aurel. "Jangan ngomong gitu sayang, selama ini Aurel udah bikin Leana bahagia kok. Tante yakin, Leana pasti udah bahagia di sana."


Aurel meninggalkan Marta. Gadis itu lalu mendekati tempat peristirahatan terakhir sahabatnya. Ia menatap nanar nisan bertuliskan nama Leana sebelum tubuhnya yang lemah terjatuh akibat dari melemahnya pijakan kakinya.


"An, gue bahkan belum minta maaf sama lo! Tapi kenapa lo malah ninggalin gue?" semua orang di tempat itu menatap haru. Aurel bahkan tak memiliki ikatan darah dengan Leana, tetapi sikapnya seolah-olah kehilangan saudari kandungnya sendiri.


"An. Gue bahkan rela kalo lo musuhin gue. Tapi tolong jangan ninggalin gue!" Aurel manumpahkan kesedihannya. Ia tidak peduli dengan penilaian orang yang mungkin saja mencapnya berlebihan. Ia juga tak peduli dengan pakaiannya yang telah dipenuhi bercak kecoklatan karena tubuhnya yang saling bertautan dengan tanah. Aurel tak peduli pada apapun.


"Istigfar sayang!" Sarah memeluk putrinya.


"Ma, Leana udah gak ada," suara Aurel semakin melemah, energinya terkuras banyak.


Sarah mengangguk, "Iya sayang, Leana udah pergi."


"Kamu harus tabah sayang. Anak ayah pasti kuat!" celetuk Akash mencoba menghibur putrinya. Sekuat tenaga Akash membantu putrinya berdiri. Akash segera menenggelamkan putrinya ke dalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


Aurel merasa ada denyutan kencang di sekitaran pelipisnya. Dampak dari rasa sakit itu membuat matanya berkunang-kunang. Di detik berikutnya Aurel sudah tak sadarkan diri. Gadis itu pingsan dalam pelukan sang ayah.


...~To be Continued~...


__ADS_2