MENDADAK INDIGO

MENDADAK INDIGO
47. ENDING SCENE?


__ADS_3

...ENDING SCENE?...


...(ADEGAN BERAKHIR?)...


...●...


...●...


...●...


DANIAL mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru parkiran. Tadi pagi lebih tepatnya, Leana menyuruh pria itu untuk menunggunya. Katanya ada hal penting yang hendak dibicarakan saat pelajaran hari ini berakhir.


Tentu saja Danial penasaran terkait dengan apa yang hendak dikatakan oleh Leana. Terlebih karena Leana menggunakan embel-embel penting yang membuat Danial semakin larut dalam rasa penasaran.


Cukup lama Danial berdiri di sisi motornya seraya bergumam tidak jelas menunggu kedatangan Leana. Mungkin sekitar lima menitan menunggu, Leana akhirnya datang menghampirinya.


"Maaf ya, gue baru aja dari lantai atas."


Danial memberi anggukan, ia memaklumi keterlambatan Leana.


"Ngomong-ngomong apa yang mau lo sampein ke gue?" Danial bertanya bersamaan dengan hadirnya lipatan-lipatan kecil di sekitar dahinya.


Saat ia mengadu matanya dengan figur di hadapannya, Danial jelas menemukan raut kekhawatiran sedang tergambar di wajah gadis itu. Kalau dipaksa menebak, sepertinya Leana agak ragu mengungkapkan sesuatu kepada Danial.


Seiring waktu berjalan, Danial makin yakin saja dengan asumsi yang dibuat kepalanya. Apalagi saat kedua bola matanya menemukan gestur aneh sedang diperlihatkan lawan bicaranya. Leana baru saja meneguk ludahnya susah payah, ia juga menggaruk tengkuk dilanjutkan dengan pergerakan merapikan poni yang sedikit menghalangi pandangan.


"Gue suka sama lo, Danial." Leana berhasil menyampaikan perasaan yang selama ini coba ia pendam. Sesaat kemudian tatapan yang tadinya menjurus di muka Danial berakhir memandang rerumputan hijau tempat kakinya berpijak.


Refleks si pria mengambil langkah mundur. Ia mengerjap sebelum matanya membulat secara sempurna. Dibilang kaget, sudah pasti Danial akan mengakuinya.


"Lo kaget, kan?" posisi kepala Leana masih setengah menunduk saat sebuah pertanyaan terlontar dari bibir mungilnya. Tak seperti sebelumnya, saat ini Leana merasa berat untuk sekadar membalas adu mata yang dilakukan Danial.


"Lo cuma becanda kan An?" tanya Danial, memastikan.


Leana menggeleng tidak setuju, "Kenyataannya gue beneran suka sama lo! Suka atau tidak lo harus nerima fakta itu!"


"Maaf kalo kalimat gue bakal nyakitin lo. Tapi jujur, gue gak pernah sekalipun punya perasaan spesial untuk lo. Di mata gue, lo gak lebih dari seorang teman." Danial berbicara jujur mengenyampingkan kemungkinan Leana akan sakit hati saat mendengarnya. "Gue emang suka sama seseorang, tapi bukan lo. Gue suka sama..."


"Aurel," Leana memotong sebelum Danial menyempurnakan kalimatnya.


"Maaf, tapi gue enggak bermaksud ngerusak hubungan pertemanan kalian. Dan ya, gue juga baru tahu hari ini kalo lo suka sama gue."


"Tapi tenang aja, sekarang udah enggak kok."


"Maksudnya?" bingung Danial. Kalau memang Leana tak memiliki perasaan lagi kepadanya, lalu untuk apa dia mengatakannya.


"Sepertinya hubungan lo sama Aurel gak berjalan mulus," tebak Leana. Tanpa sadar ia mengganti topik pembicaraan.


"Aurel nolak gue."


"Lo nyerah gitu aja," sambung Leana tak kalah cepat.


"Bukan gue yang nyerah, tapi dia yang nolak." Danial merasa bingung dengan orang-orang yang menimpahkan kesalahan terhadapnya. Kejadian saat Davina menyalahkannya bahkan masih membekas dalam memorinya, dan sekarang Leana pun ikut menyalahkannya.

__ADS_1


Danial merasa dirinya telah berjuang keras—bahkan sampai bernegosiasi demi untuk tetap dekat dengan Aurel. Jangankan diterima sebagai pacar, bahkan dengan label sahabat pun menjadi tabu bagi Aurel.


"Maaf tapi gue gak punya waktu untuk ngebahas masalah kagak penting." Danial menyunggingkan senyum miring. Air mukanya berubah menyeramkan saat rahangnya mulai mengeras.


"Aurel nolak lo karena dia tahu kalau gue juga suka sama lo!"


Danial yang telah membalikkan arah badan terpaksa memutar kembali tumitnya. Ia menatap Leana. Ia berharap gadis itu akan menjelaskan lebih lanjut terkait perasaan Aurel kepadanya.


Tatapan Danial perlahan meredup, "Lo gak main-main kan?"


Alih-alih dengan sepatah kata, Leana justru mengangguk lambat sebagai jawaban atas pertanyaan Danial.


"Karena gak mau bikin gue sedih, Aurel terpaksa nolak lo!" lebih lanjut Leana menjelaskan apa yang ia ketahui.


Danial terdiam merapatkan kedua sisi bibirnya. Ternyata, ada alasan yang membuat Aurel mematahkan hatinya waktu itu.


...●●●●●...


DANIAL terus fokus kepada layar ponselnya yang menampilkan nama Aurel. Ada keraguan untuk menelpon. Rasa takut membuatnya menimbang-nimbang. Apa yang disampaikan Leana waktu di sekolah membuat Danial memiliki secercah harapan. Namun rasa gengsi membuat jemarinya enggan untuk lebih dulu menghubungi Aurel.


"Telepon gak ya?" gumam pria itu. Tetapi pada akhirnya ia menangkupkan kembali ponselnya ke atas meja.


Sebuah desahan panjang tanda frustasi terdengar, Danial juga sempat menyapu permukaan wajahnya. Kemudian setelah itu ia mengambil kembali minuman yang tadinya ia ambil dari dalam freezer. Ia menenggaknya sampai habis.


"Kak Danial!" Davina sekalinya datang ke dapur langsung membuat kakaknya tersentak kaget. Tanpa alasan yang jelas ia berteriak seenaknya.


"Apaan sih bikin kaget aja," tatapan sinis diterima oleh Davina.


"Lah, kok malah kakak yang marah-marah."


"Gimana gak ngagetin, kakak baru aja habisin minuman Davina," ungkapnya menggunakan nada kesal. Ia bahkan mengucapkannya dengan penuh penegasan.


Danial mengambil kembali ponselnya, "Nanti digantiin," enteng Danial nyaris tanpa rasa bersalah setelah menenggak minuman adiknya sampai habis. "Lagian heboh bener, minuman dengan rasa aneh kayak gitu aja didebatin," gelengan-gelengan tanda tak habis pikir diperlihatkannya.


"Sebelum diminum, lebih baik dibaca dulu kemasannya! Gimana rasanya gak aneh, minuman itukan obat untuk nyeri haid."


"Serius?" Danial menoleh kaget. Terlihat pergerakan jakunnya saat menelan salivanya.


"Iyalah, makanya dibaca dulu kemasannya!"


"Oh, shit!" tentu saja umpatannya terlepas setelah mengudarakan botol bekas dalam genggamannya. "Gak masalah kan kalo diminum sama cowok? Enggak sampai ikut menstruasi, kan?" cecar pria itu. Tergambar raut khawatir di wajahnya. Bibirnya terlihat pucat seakan ada gincu berwarna putih yang melapisi permukaannya.


Davina mengedikkan bahu. Terlintas dalam benaknya untuk menjahili kakanya, "Jangan salahin Davina ya, kalo Kakak tiba-tiba haid."


"Jangan nakutin woi!" tegur Danial.


"Dih siapa juga yang nakutin. Lagipula kan minuman itu berfungsi memperlancar haid sekaligus mengurangi nyeri di perut."


"Kualat loh becandain kakaknya sendiri."


Davina tak menjawab karena perhatiannya diambil oleh dering ponselnya.


"Telepon dari siapa?" tanya Danial.

__ADS_1


"Dari mama."


Davina menekan tombol hijau membawa benda pipih tersebut ke depan telinganya. "Iya Mah ada apa? Oh gitu, ntar Davina yang bantu ambilin deh," begitu selesai dengan urusannya, sambungan telepon  terputus.


"Mama kenapa?" kepo Danial.


"Katanya bakal pulang agak larut soalnya ada acara makan-makan di rumah klien Papa. Mama juga minta tolong angkatin jemuran di rooftop!"


"Terus ngapain lu nge-cosplay jadi patung bukannya ngambil jemuran?"


"Kak Danial makin hari makin ganteng aja," pujinya kedengaran dipaksakan, "Apalagi pas udah selesai ngangkat jemuran, pasti kegantengannya makin nambah."


"Dih kalau ada maunya, baru deh dipuji-puji kakaknya," cibir Danial menatap adiknya lewat mata meredup sementara bibirnya sedang tertarik ke samping, mempersembahkan senyuman remeh.


...●●●●●...


DENGAN cekatan Danial mengumpulkan pakaian dari jemuran besi yang memang tiap hari ada di rooftop. Terlihat pria itu terburu-buru karena sebenarnya ia merasa aura negatif sedang menghantam tubuhnya.


Angin malam berembus kencang dari arah selatan, menghadirkan hawa dingin yang serasa menusuk sampai ke tulang-tulang. Saat semua pakaian diambil Danial dari jemuran. Pria itu tak punya alasan lagi untuk mengulur-ulur waktu.


Baru ketika badannya berbalik membelakangi jemuran, pria dengan rahang kuat itu disambut oleh sosok hantu.


Semua pakaian dalam pelukannya terjatuh ke lantai. Tentu saja rasa kaget dalam dirinya menjadi alibi dari gerakan refleksnya membuka tangan.


Danial tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mungkin tak terkejut jika yang disaksikannya adalah sosok kepala buntung yang memang mendiami rooftop-nya. Akan tetapi sosok yang berjumpa dengan matanya saat ini sangatlah mirip dengan gadis yang membuatnya nyaman.


Danial tidak sebodoh itu, ia bisa membedakan sosok manusia dengan sosok yang datangnya dari dimensi yang berbeda.


"Bilang kalo gue sedang mimpi!" suruh Danial. Sempat pria itu mengucek-ucek matanya, tetapi sosok Aurel dalam bentuk arwah masih berdiri di depannya dengan seulas senyuman manis.


"Rel! Gue salah liat, kan?" tanya Danial lebih lanjut. Tak perlu ditanya lagi, tangisnya telah pecah membasahi permukaan wajahnya.


"Aurel!" Danial kembali menyerukan nama gadis itu, kali ini nadanya naik setengah oktaf dibanding sebelumnya. Sementara itu Aurel hanya bergeming.


"Lo masih hidup kan Rel?"


Gadis yang merupakan objek dari pertanyaan itu menggerakkan kepalanya. Ke kanan, lalu ke kiri. Gesturnya menggambarkan bahwa dia tidak setuju dengan hasil terkaan Danial yang berpikir kalau Aurel masih hidup.


"Enggak. Lo masih hidup!" Danial bersikeras pada kemauannya. Tak peduli bahwa ia menentang keinginan semesta sekalipun.


Sesaat setelah menggeleng, sosok gadis itu menghilang seperti gumpalan asap yang terbang ke langit.


"Aurel," panik Danial. Pria yang tampak frustasi itu mulai mendongakkan kepala, menghadap langit malam tak berbintang, ia ingin sosok tadi kembali dan menjelaskan bahwa dia bukanlah Aurel.


"Ini pasti cuma mimpi," Danial berusaha menanamkan itu dalam kepalanya. Padahal saat ia menjambak rambutnya, ia jelas merasakan sakit yang mempertegas bahwa saat ini ia sedang tidak bermimpi.


Pria itu meninggalkan rooftop dengan sangat terburu-buru. Ia ingin mengunjungi kediaman Aurel, setidaknya untuk memeriksa bahwa kondisi gadis itu sedang baik-baik saja.


"Kakak kenapa, kok panik gitu?" tak kalah panik Davina menghampiri kakaknya yang baru saja sampai ke lantai dasar. Kedua bola matanya menjamah permukaan wajah kakaknya yang telah basah karena peluh. "Ada masalah apa?"


"Kakak lagi buru-buru, pengin ngecek sesuatu! Lo jangan ke mana-mana, pintu jangan lupa dikunci sampai mama dan papa pulang!" Danial memasang jaket yang diambilnya dari sandaran kursi, ia juga mengambil kunci motor dari atas meja.


"Tapi kenapa, Kak?" sejauh ini Davina masih membuntuti kakaknya sampai di depan garasi, ia memperhatikan kakaknya sedang terburu-buru menunggangi motornya.

__ADS_1


"Entar kakak jelasin!" Danial membungkus kepalanya dengan sebuah helm berjenis full face. Dengan laju lumayan cepat, motor yang ditunggangi Danial melesat meninggakkan pelataran rumah.


...~To be Continued~...


__ADS_2