
...AMONG THEM "PART 2"...
...(DIANTARA MEREKA "BAGIAN 2"...
...●...
...●...
...●...
"SUMPAH YA. GUE BENERAN GEDEK SAMA KELAKUAN SI BULE CELUP?" bukannya menjawab rasa penasaran Aurel, Leana malah menambah kadar penasaran itu dengan mengeluarkan keluh kesahnya yang ditujukan untuk Maurine. Aurel sudah tahu bahwa tidak ada orang lain selain Maurine yang mendapat gelar 'bule celup,' dari sahabatnya.
"Bule celup?" ulang Danial. Meski dengan volume yang cukup pelan, namun suaranya berhasil diterima oleh indra pendengaran milik Leana. "Maksud lo Maurine, ya, An?"
"Iyalah. Siapa lagi coba manusia yang bisa bikin gue emosi selain mantan lo yang super nyebelin itu," sambung Leana menyampaikannya dengan nada penuh emosi.
Masih dengan kernyitan di kening, Danial berkata, "Lo sama Maurine ada masalah apa emangnya?"
Leana memperlihatkan ponselnya yang menampilkan wajah Maurine dan Haris ke hadapan Aurel dan Danial.
"Padahal baru kemarin loh kalian putusnya. Tapi lihat gimana genitnya dia ke Haris. Kayaknya gak berlebihan kalau gue nyebut dia pakek embel-embel 'cabe,'" katanya dengan nada tak segan.
"Lihat deh tangannya Maurine, An!" bukan bermaksud memanaskan suasana yang memang sudah panas. Aurel hanya memberitahu kejanggalan yang ditemukan bola matanya sewaktu melihat ke layar ponsel milik Leana.
"Udahlah, tujuan kita berkumpul di sini bukan untuk nge-ghibah. Tapi buat lanjutin tugas yang harus dikumpul besok." Danial bersuara.
"Kenapa? Lo ngerasa gak enak hati setelah gue ngatain mantan lo?" tuduh Leana dengan mata menyipit dan alis berkedut.
"Gue gak marah bahkan setelah lo ngatain Maurine. Dan ingat, hubungan gue sama dia udah berakhir. Gue sama Maurine udah gak punya urusan apa-apa sekarang." yang diungkapkan oleh Danial saat ini lebih kepada untuk mengingatkan saja mengenai tujuan mereka berkumpul di tempat ini. Sedikit pun tak dirasakannya perasaan marah seperti yang dituduhkan oleh Leana padanya.
"Alasan. Bilang aja kalau lo gak suka mantan lo dijelek-jelekin," cibir Aurel. Meski menggunakan suara pelan seperti sedang berbisik, namun nyatanya suara itu berhasil membuat perubahan di wajah Danial.
"Apaan sih lu, karet gelang nasi padang, main nyerocos aja," maki Danial tentu tanpa lupa memasang raut muka tak sedap.
"Terserah gue dong. Mulut-mulut gue kok, kenapa lu yang kepanasan?"
"Kelihatannya lo seneng banget sama kabar Maurine putus sama gue. Bilang aja kalau lu masih suka sama gue dan berharap kita balikan, kan?" tanya Danial namun kesannya seperti sedang memaksakan kehendaknya pada Aurel.
"Kalau ngomong tuh difilter dulu."
__ADS_1
"Lah, emang bener kan?"
"Enak aja. Lo kali yang masih punya harapan buat balikan sama gue!" elaknya membantah tuduhan yang Danial lontarkan padanya.
"Dih, najis!" balas Danial.
"Etdah malah adu mulut lagi lo pade," Leana menceletuk merasa tidak habis pikir sama tingkah Danial dan Aurel.
Aurel menggunakan dagunya menunjuk ke arah Danial. Ia lantas berkata, "Jangan salahin gue, salahin dia noh."
"Kok gue?" tentu saja Danial tidak terima. Ia merasa tidak patut dipersalahkan karena yang memulai perdebatan ini adalah Aurel, bukan dirinya. "Kan lo duluan yang mulai, gimana sih. Cantik doang, hobinya playing victim!"
"Ya udah, debat aja terus sampai subuh, gue mah jadi tim nonton aja."
"Janganlah. Gue aja udah ninggalin tongkrongan gue demi datang ke sini. Ya kali gue cuma buang-buang waktu doang di sini."
"Makanya jangan berantem melulu!" seru Leana. "Gue saranin mending kalian berdua lupain dulu masalah diem-dieman kalian demi kelancaran tugas kita." Leana memberi imbauan. "Terserah, besok pagi kalian mau kembali saling diem-dieman atau gimana. Yang jelas malam ini kalian harus baikan dulu."
"Gue setuju," sambung Aurel.
"Ya sudah, gue juga setuju," Danial mengatakannya.
"Sebelum kita mulai ngerjain tugasnya, mendingan kita minum dulu keburu cair es batunya."
"Apaan?"
"Gue minta susu lo!" ujar Danial dengan tampang yang nyaris biasa-biasa saja.
Uhuk!
Leana adalah orang yang baru saja terbatuk. Tentu saja dia merasa kaget karena pertanyaan tak terduga yang baru saja keluar dari bibir Danial.
Keterkejutan bukan hanya terlukis jelas di wajah Leana. Bahkan Aurel pun sama. Ia juga memasang tampang terkejut dengan penegasan berupa mata yang membulat nyaris sempurna.
Sempat Aurel dan Leana saling menatap dalam rentan waktu beberapa detik sebelum akhirnya Aurel memokuskan perhatian di wajah Danial. "Cabul banget sih jadi manusia," murka Aurel. Ia menutup area dadanya sebagai bentuk refleks.
"Hah?! Cabul?" ulang Danial membagikan tuduhan dari gadis di hadapannya. Seiring berjalannya waktu, kerutan yang tergambar di dahi pria itu makin kentara. "Perasaan gue gak ngapa-ngapain, kok lo malah ngatain gue cabul?"
"Gak usah pura-pura bego Danial! Gue denger pakek kuping sendiri permintaan cabul lo!"
__ADS_1
"Permintaan cabul?!" ulang Danial, "Gue gak ngerti maksud lo apaan!" saat ini Danial sedang memaksa otaknya untuk berpikir.
"Gue juga denger kok," Leana menceletuk.
"Oh..." Danial membawa kepalanya manggut-manggut. "Soal gue minta susu?"
Kini giliran Aurel yang membuat kepalanya bergerak naik-turun-naik-turun, mengangguk.
Danial tertawa saat itu juga. Baru setelah tawanya reda, dia pun berkata, "Gue tuh mintanya susu kental manis yang ada di dapur, bukan susu gantung yang lo punya," jelas Danial dengan sedikit frontal.
Aurel dan Leana hanya saling memandang. Mereka sama-sama memperlihatkan raut muka malu karena sudah salah paham dengan permintaan Danial.
"Gue minta susu karena boba yang dikasih sama Leana kurang manis, makanya pengin gue tambahin susu. Dan ya... gue rasa otak kalian juga bermasalah karena terlalu cepat ngarahinnya ke hal-hal nyeleneh," diiringi gelengan tak habis pikir Danial mengatakannya.
"Lo juga ngomongnya kurang lengkap, makanya kita sebagai pendengar jadi ambigu," balas Aurel seakan ia mencari celah untuk membela dirinya sendiri.
"Terserah," balas Danial acuh tak acuh, "Lagian kan emang kodratnya wanita gak mau salah. Gue sebagai cowok cuma bisa ngalah aja."
...●●●●●●...
DANIAL melepaskan sebuah decakan yang lebih mengarah pada rasa kekesalan yang memuncak saat membawa kepalanya mendongak.
Bagaimana tidak? Di langit telah terlukis kilatan cahaya yang disusul oleh bunyi dor-doran gemuruh petir.
"Mana gue lupa bawa jas hujan lagi," eluhnya sambil memukul pelan jok motornya.
Gerimis yang turun berubah jadi deras seiring berjalannya waktu. Danial yang sudah berdiri di sebelah motornya terpaksa membawa kakinya tuk berlari menuju ke beranda rumah milik Aurel. "Sialan, kenapa hujannya gak datang pas gue nyampe rumah aja sih," keluhan demi keluhan terlepas dari bibir milik pria itu. Tak puas hanya mengeluh, dia juga mengacak rambutnya perlahan.
Klik.
Pintu rumah terbuka, Aurel adalah orang yang membukanya. Gadis itu menghampiri Danial. "Nih, pakek jas hujan gue aja," tawaran itu tergulir dari bibir Aurel bersamaan dengan tangan terulurnya yang menggenggam jas hujan.
"Pink?" meski kenyataannya menerima pemberian Aurel, namun pria itu tetap saja mengeluarkan kata yang membuat Aurel dongkol.
"Ya udah kalau gak mau pakai jas hujan warna pink," Aurel hendak mengambilnya kembali, tetapi Danial lebih dulu menjauhkan tangannya
"Ya sudah gue pakek jas hujan ini aja," pasrah Danial. "Besok gue balikin ini di sekolah," lanjutnya sambil memasang jas hujan itu di tubuhnya.
...●●●●●...
__ADS_1
...Gak mau tahu, pokoknya kalian wajib ramehin kolom KOMENTAR!!!...
......-To be Continued-......