Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 19


__ADS_3

Kenapa perasaanku tiba-tiba saja tidak enak... Batin Bella memasukkan bahan makanan yang di butuhkan, sedangkan Daniel hanya mengekor sambil membawa keranjang belanjaan. Hingga sebuah sapaan membuat Bella menoleh cepat bersama Daniel.


"Bella.." Sapa Kenan. Bella menarik nafas panjang dan memasang wajah malas.


"Siapa?" Tanya Daniel lirih.


"Kita pergi saja." Bella menarik tangan Daniel yang sejak tadi masih menggenggamnya. Tapi Kenan lagi lagi menghentikan langkahnya dengan berdiri di hadapan keduanya.


"Bella.."


"Apa?" Jawab Bella ketus." Kenapa kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan berada di depanku seperti ini!" Kenan selalu melakukannya. Berdiri menghadang langkah Bella, seperti saat ini.


Namun celotehan itu tidak membuat Kenan bergeming. Matanya tengah fokus menatap tangan Bella dan Daniel yang saling bergandengan.


"Siapa dia?" Tanya Kenan tersulut api cemburu.


"Aku kekasihnya." Sahut Daniel menurunkan sedikit maskernya." Apa dia temanmu sayang?" Tanya Daniel menatap fokus ke Kenan yang terlihat dewasa dan tidak pantas di sebut anak SMA.


"Bukan." Jawab Bella singkat.


"Bukankah kau anti berpacaran?" Kenan beralih menatap Bella.


"Aku terpesona olehnya dan kita langsung jadian. Simpel kan! Jangan mengurus hidupku." Bella akan beranjak namun Kenan kembali menghadang. Daniel tidak rela jika Bella harus berdekatan dengan Kenan, sehingga dia melangkah lebih dekat dengan Kenan.


"Bukankah Kakakmu baru saja meninggal?" Bella terdiam dan tidak bersuara. Kenan sedikit keterlaluan dengan berkata hal yang tidak seharusnya di bahas.


"Apa itu menganggu hidupmu?" Tatap Daniel tajam.


"Aku menyukainya sudah sejak lama, dan ketika Kakaknya sudah meninggal, kau dengan mudah mendapatkannya."


plaaaaaakkkkkk!!


Bella menampar wajah Kenan dengan ekspresi geram. Tentu dia merasa kesal mendengar perkataan Kenan. Apalagi sebenarnya Bella masih berusaha menerima semuanya. Dan kini Kenan muncul tiba-tiba lalu berkata sesuatu yang tidak seharusnya terucap.


"Apa maksudmu!!" Bella mendorong kasar pundak Kenan yang lebih tinggi darinya." Jika tidak tahu apapun! Tutup mulut itu lebih baik daripada kau berkata macam-macam seperti itu!!" Daniel menghalau perdebatan dengan menurunkan tangan Bella yang tengah menunjuk Kenan.


"Dia milikku sekarang." Imbuh Daniel menimpali." Jangan pernah menyebut itu cinta atau suka, jika nyatanya kamu menyakitinya dengan ucapan seperti yang kamu lakukan. Itu bukan cinta, tapi sebuah n*fsu dan keegoisan. Kita pergi sayang." Sejak dulu hingga sekarang, Daniel selalu menyelesaikan semuanya dengan damai. Bukan tidak mampu atau merasa takut, tapi Daniel tidak menyukai perdebatan atau kekerasan.


"Tempat ini milikku!!" Sahut Kenan saat Daniel akan menggiring Bella pergi." Aku bukan seorang bocah Bella. Aku berjanji akan membahagiakanmu." Bella terkekeh mendengar itu.


"Kau bicara apa?"


"Tempat ini milikku, aku akan membuka cabang baru di luar kota. Bukankah ini hebat? Aku bahkan memakai mobil spot dan bukan motor butut lagi. Jika kau ingin aku mengganti mobilku dengan yang..."


"Stop." Sahut Bella mengangkat jari telunjuknya." Aku sangat tidak mengerti maksudmu Kenan. Kenapa kau membicarakan kekayaanmu padaku? Kau fikir aku perduli? Tidak!" Kenan melangkah lebih dekat namun Daniel menghalangi.


"Bukankah kau menyukai lelaki kaya?" Daniel menarik nafas panjang, sebab dia merasa tersinggung dengan ucapan Kenan.

__ADS_1


"Kau dengar dari siapa?" Bella cukup bingung dengan tebakan Kenan tentangnya. Dia merasa tidak pernah mengatakan jika dia menyukai lelaki kaya.


"Beberapa kali aku melihatmu di antar oleh mobil mewah. Apa itu alasan kau menghindar dariku?" Bella kembali terkekeh, apalagi melihat wajah Kenan yang kebingungan.


"Meski kau kaya tapi nyatanya kau masih bocah."


"Aku bisa dewasa untukmu."


"Apa ini yang kau sebut dewasa? Dan lagi, aku tidak berminat untuk berpacaran."


"Lalu dia?" Menunjuk ke arah Daniel.


"Dia Kakak angkatku. Ayo Kak, tidak perlu mengurusnya." Bella menggiring Daniel menuju kasir. Kenan masih tidak terima sehingga dia mengikutinya.


"Gratiskan semua belanjaannya." Pinta Kenan.


"Tidak. Aku mampu membayarnya." Daniel mengeluarkan kartu dan memberikannya pada kasir. Kenan mengambil kartu itu cepat dan menyodorkannya pada Daniel.


"Sudah saya bilang ini gratis." Kenan yang menganggap jika Daniel adalah Kakak Bella, membuatnya melembutkan suaranya seperti sekarang.


"Tidak perlu." Daniel mengambil kartu lalu memberikannya pada kasir dan Kenan mengambilnya lagi.


"Tidak. Saya senang bisa membantu."


"Saya tidak membutuhkan bantuan." Jawab Daniel tegas. Dia meraih kartunya namun terlambat, sebab Bella sudah membayar belanjaan dengan uang cash.


"Kau menganggu sekali." Tutur Bella merasa muak dengan Kenan.


"Aku membantumu."


"Menganggu!!" Jawab Bella ketus." Ambil kembaliannya." Daniel mengambil belanjaan dan segera pergi bersama Bella.


"Agh!!! Kenapa ada wanita secuek dia!" Eluh Kenan menatap lemah Bella. Pandangannya beralih pada kasir yang akan memasukkan uang dari Bella ke dalam laci." Kenapa kau terima uangnya!!" Tunjuk Kenan menatap tajam si kasir.


"Saya bingung harus bagaimana Pak." Jawabnya tertunduk.


"Bodoh!!!" Umpat Kenan semakin merasa kesal, karena Bella semakin membuatnya merasa bingung dan tidak mengerti." Apa sikapku mirip bocah? Aku ingin membuatnya terkesima tapi nyatanya sikapnya malah seperti itu!!" Gerutu Kenan masuk ke dalam ruangannya lagi untuk menenangkan perasaannya.


****************


"Itu tadi temanmu sayang?" Tanya Daniel lemah. Dia merasa jika Kenan lebih bisa memberikan kehidupan layak daripada dia.


"Dia sedikit gila dan sangat menganggu."


"Tapi penampilannya terlihat dewasa dan kaya." Bella menoleh cepat dan tersenyum saat membaca wajah lesu Daniel.


"Cemburu?" Tanya Bella. Daniel membalas tatapan Bella seraya tersenyum.

__ADS_1


"Iya, tentu saja. Sudah ku katakan jika aku menyukaimu sejak awal apalagi sekarang.." Bella berpaling, merasakan wajah hangatnya. Dia tidak ingin Daniel melihat itu, hingga menghancurkan keinginannya untuk bisa lulus dengan nilai terbaik.


"Kenapa tidak menyukai wanita dewasa saja Kak?"


"Aku belum pernah jatuh cinta."


"Lalu jatuh cinta pada bocah?" Bella melirik dan tersenyum melihat mata Daniel yang menyipit.


"Aku juga merasa aneh. Tapi aku ingin sepanjang waktu bersamamu."


"Tuhan memberikannya."


"Seharusnya tidak secepat ini dan rasanya aku sangat bahagia meski aku tidak memiliki apapun."


"Kamu memilikiku." Jawab Bella lirih. Wajahnya terasa panas ketika ucapan itu terlontar begitu saja.


"Apa sayang?" Tanya Daniel tidak mendengar secara jelas.


"Kita bungkus ayam krispi untuk makan malam. Kak Daniel mau menu lain?" Jawab Bella mengganti topik pembicaraan.


"Tidak sayang. Aku juga menyukainya."


"Kita bungkus tiga. Untukku dua dan untuk Kak Daniel satu." Bella kembali tersenyum, melihat mata Daniel menyipit lagi. Entah kenapa dia mulai menyukai saat Daniel tersenyum lembut seperti itu. Di tambah dengan suaranya yang merdu, membelai telinga Bella seolah Daniel tengah melantunkan lagu padahal nyatanya dia sedang berbicara.


Baru saja, keduanya memasuki restoran. Suara bunyi ponsel milik Daniel membuat mereka berhenti melangkah.


"Sebentar sayang." Daniel meletakkan belanjaan lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Tangannya tetap menggenggam jemari Bella erat, sambil menerima panggilan dari Lucas.


"Ya.


"Rumah Nona Bella kebakaran Tuan. Semuanya habis tidak tersisa.


Bagaimana mungkin...


Daniel beralih menatap lemah ke arah Bella. Dia sedang berfikir di mana dia akan tinggal jika rumah Bella terbakar.


Jika mungkin perusahaan masih di tangan, mungkin ini semua tidak sesulit ini. Dia akan ketakutan tinggal di rumah Tua itu.. Aku bisa saja merenovasinya sekarang tapi aku membutuhkan suntikan dana untuk pembangunan perusahaan..


"Tuan. Halo..


"Hm. Aku akan segera pulang.


Daniel mengakhiri panggilannya seraya menarik nafas begitu panjang. Dia meletakkan ponselnya lagi dan tersenyum pada Bella meski hatinya merasa binggung untuk memikirkan bagaimana caranya agar Bella tidak kesulitan hidup bersamanya.


Aku mohon Tuhan.. Gerakkan hati Joy, agar membaca email dariku..


~Riane

__ADS_1


__ADS_2