
Happy reading 🥰🥰
Bella malah mempercepat langkahnya ketika terdengar suara Daniel memanggil. Dia tidak ingin mempermalukannya, hingga dia memutuskan tidak ingin bertemu dengan Daniel sekarang.
Namun apa daya, kaki kecilnya tidak bisa mengalahkan langkah dari kaki panjang Daniel yang pasti bisa menyusulnya sebelum mencapai pintu Lobby.
"Sudah ku titipkan Putri." Jawab Bella tertunduk dengan hati yang mendadak sesak." Aku harus pulang. Ian sendirian di rumah. Semangat ya." Bella menjinjit dan memberikan kecupan singkat pada pipi kanan Daniel lalu akan beranjak. Namun Daniel tidak juga melepaskan genggaman tangannya.
"Mau kemana?" Tanya Daniel lembut. Dia tahu istrinya tengah kesal mengingat hubungan keduanya yang sudah mencapai satu tahun lebih.
"Pulang." Bella mencoba melepaskan tangan Daniel dari pergelangannya.
"Tidak rindu? Temani aku makan dulu." Pinta Daniel merajuk. Menunduk menatap Bella, tanpa peduli dengan sekitar.
"Aku mau pulang. Ian sendirian bersama Bik Minah."
"Dia calon lelaki, jangan terlalu di manjakan."
"Pokoknya aku mau pulang." Daniel sangat hafal, bagaimana deru nafas Bella ketika sedang merasa kesal, senang, bahkan mencapai klimmaksnya.
"Ahh Baby.. Apa yang terjadi, katakan." Daniel mendekap tubuh Bella erat, tanpa perduli dengan hiruk pikuk yang terjadi di Lobby.
"Lepas sayang." Pinta Bella lembut, mencoba mendorong tubuh Daniel untuk menjauh.
"Kenapa di lepas."
"Lihat dulu keadaanku seperti apa. Biarkan aku pulang agar aku tidak semakin mempermalukan mu." Daniel menddesah lembut mendengar alasan tidak penting yang sudah membuat Bella merasa kesal." Hiks.. Lepaskan aku. Aku mau pulang." Pinta Bella untuk kesekian kali.
"Baju yang kamu kenakan adalah seragam dari jabatan tertinggi yang kamu inginkan. Untuk apa aku merasa malu." Si resepsionis yang sempat melontarkan kata-kata itu merasa sangat menyesal. Dia asal bicara namun ternyata bisa memicu masalah.
"Seragam apa!! Lepaskan sayang!! Aku mau pulang." Celetuk Bella tentu tidak akan mudah menghilangkan rasa kesalnya karena merasa sudah mempermalukan Daniel.
"Hm.." Daniel melepaskan dekapannya dan memberikan kotak makan pada Bella." Bawa saja ini." Imbuhnya menemukan cara menyakinkan jika dia tidak pernah malu.
"Itu untukmu sayang. Aku yang memasaknya."
"Pasti rasanya tidak enak sebab kamu kesal padaku."
"Aku tidak kesal padamu."
"Padahal kamu masih paling cantik di mataku." Daniel cukup lantang mengatakan itu hingga perlahan membuat Bella tersenyum sedikit." Aku tidak perduli dengan apa yang kamu pakai, asal memakai baju sayang." Bella melirik malas dengan wajah mulai memerah.
__ADS_1
"Kamu bilang apa sayang." Tanya Bella lirih.
"Kamu tahu kelemahan ku kan?" Daniel mendekatkan wajahnya lalu menempelkan hidung mancungnya pada hidung Bella." Jangan marah, jangan kesal. Aku selalu kebingungan mencari cara untuk merajuk. Sebab aku bukan orang yang pandai merayu dan kemarahan mu selalu jadi PR paling buruk sepanjang sejarah." Para staf yang mendengar itu tertawa juga berdecak kagum. Sikap Daniel sekarang, lebih baik dari sebuah rayuan yang akan sanggup meluluh lantakkan jenis wanita seperti apapun.
"Sudah sayang, jangan lakukan ini." Bella menjauhkan wajah Daniel. Rasa malunya kembali seperti dulu, semenjak Demian sudah terlahir di dunia. Dia tidak suka melakukan sentuhan fisik di tempat umum seperti apa yang di lakukan Daniel." Aku harus pulang. Ian nanti menangis." Daniel merasakan jika rasa kesal Bella belum menghilang sepenuhnya.
"Hm kita pulang." Daniel merangkul kedua pundak Bella dan mengiringinya keluar tanpa memperdulikan sapaan dari para staf.
"Pertemuannya?"
"Ada Lucas, dia sudah ku berikan kuasa untuk mengsetujui proyek."
"Tidak trauma?" Daniel tersenyum seraya mengangguk-angguk, dia menjadi teringat apa yang tengah Joy lakukan untuk melindungi orang terkasihnya.
"Biar Lucas mengambil semua perusahaan, asal kamu tidak di ambil dan tetap bersamaku." Daniel membukakan pintu mobil." Silahkan masuk Nyonya Daniel." Bella terkekeh seraya memukul perut Daniel lembut.
Bugh!
"Ach!! Pukulan cinta dari mu sungguh luar biasa. I love you baby.. Balas dengan memanggilku Kak." Bella mendengus seraya tersenyum.
"Aneh! Kenapa malah senang di panggil Kak."
"Aku suka sayang." Daniel menutup pintu lalu masuk lewat sisi lainnya." Aku sangat suka saat kau memanggilku dengan sebutan Kak Daniel." Imbuhnya tersenyum hangat.
"Semua orang bisa memanggil Kak, jika sayang kan hanya aku saja."
"I love you to Kak Daniel."
"I love you more and more, baby.. Sekarang suapi aku." Pinta Daniel melajukan mobilnya meninggalkan area perusahaan.
"Hm." Bella mengambil bekalnya lalu membukanya dan mulai menyuapi Daniel." Ini resep terbaruku. Enak Kak." Daniel menoleh saat mendengar Bella memanggilnya dengan sebutan itu.
"Masakan mu sangat sedap sayang. Tanganmu ajaib sekali. Demian akan jadi anak paling beruntung nanti."
"Berlebihan sekali."
"Iya, masakanmu memang berlebihan lezat nya." Puji Daniel lagi.
"Aku merindukan Abel. Kenapa tidak jadi menetap di Indonesia?" Gumam Bella kini memiliki rasa rindu pada Joy dan keluarganya.
"Joy tidak ingin terjadi sesuatu dengan keluarganya."
"Apa bedanya Kak? Bukankah kamu juga memiliki perusahaan yang hampir sama besarnya?"
__ADS_1
"Tentu berbeda sayang. Joy tidak segan-segan membunuh dan menjatuhkan lawan mainnya. Sementara aku hanya mengikuti alur yang akan membawaku kemana." Dan sekarang, para anak buah Joy malah di tugaskan menjagaku.. Dasar kurang kerjaan tapi aku menjadi tenang.. Terimakasih Joy...
"Padahal aku ingin tahu bagaimana serunya hidup berdampingan bersama mereka."
"Seru nya hanya sedikit tapi lebih menjurus ke mengerikan. Sudahlah jangan membahasnya, jika tidak sibuk. Kita berlibur ke Paris untuk mengunjungi Joy." Senyum Bella mengembang.
"Serius Kak Daniel."
"Iya. Tunggu proyek ini selesai ya."
"Hmm.."
Tidak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah hubungan yang saling mengerti dan melengkapi. Daniel membutuhkan sosok manja nan manis yang memiliki kesetiaan kuat, sementara Bella membutuhkan lelaki dewasa yang bisa mengayomi dirinya yang tidak lagi memiliki keluarga.
.
.
.
Malam harinya...
Sudah seminggu ini, Demian tidak lagi rewel seperti biasanya meski Bella masih beberapa kali memeriksa ke box bayi yang berukuran satu setengah meter itu.
Daniel merengkuhnya dari belakang, mengecupi tengkuk belakang Bella penuh hasrat. Keduanya lebih terlihat mesrah setelah melewati pertengkaran kecil nan manis seperti yang terjadi tadi siang.
Rasanya, pertengkaran itu bukan untuk memecah belah kan hubungan keduanya. Namun malah menyatukan, agar hubungan mereka semakin akrab dan hangat.
"Tidak boleh terulang lagi kejadian tadi siang. Kamu masih paling cantik sayang. Aku tidak suka kamu merendah diri seperti itu. Kamu milik ku! Milik Daniel! Pemilik perusahaan itu." Ucap Daniel menempelkan bibirnya pada pundak Bella dengan deru nafas berat.
"Tapi memang itu salahku Kak. Tapi aku tidak sengaja. Aku terlanjur memesan taksi tapi belum berganti baju." Dengus Bella lirih. Hatinya sudah membaik namun tidak kunjung melupakan kejadian tersebut.
"Suruh saja supirnya menunggu." Bella menarik nafas panjang dan membenarkan itu.
"Aku terlalu khawatir dengan Demian sehingga aku ingin cepat-cepat mengantarkan bekal dan pulang."
"Kamu masih kesal?"
"Sedikit."
"Biar ku hilangkan." Bella tersenyum dan tahu dari maksud Daniel yang mulai memberikan sentuhan lembut yang melenakan.
~Bersambung..
__ADS_1
Lanjut gag ya 😁
Terimakasih dukungannya 🥰🥰