
Daniel langsung memasang wajah datar, ketika melihat Fanny berdiri di belakang. Dia meletakkan belanjaannya dan menutup bagasi mobil lembut.
"Apa kamu mengenalku Nona?" Daniel terpaksa tersenyum, untuk mengelabuhi Fanny yang sebenarnya tidak ingin di lihatnya.
"Kau serius tidak mengenaliku?" Fanny melangkah mendekati Daniel. Menatapnya dengan sorot mata tidak percaya. Tangannya terulur ke atas dan hendak membuka masker, namun dengan cepat Daniel memundurkan tubuhnya seraya menurunkan maskernya.
Dia tetap saja tampan...
Tidak dapat di pungkiri, jika sekarang Fanny masih saja tersihir dengan paras tampan Daniel. Tapi, saat perlakuan Daniel yang di rasa tidak normal melintas, terdengar tarikan nafas panjang berhembus begitu saja.
Mungkin setelah lupa ingatan, dia bisa menyukaiku...
Fanny begitu gila hingga terlintas niat seperti itu. Seolah dia seorang pencinta lelaki, dia ingin serakah agar bisa mendapatkan perhatian semua lelaki yang ada di sekitarnya.
"Mungkin aku salah orang." Ucap Fanny dengan suara lembut. Tangannya kembali terulur seraya menatap wajah Daniel lekat." Aku Stefanny, kau?" Imbuh Fanny bertanya.
Aku baru sadar jika wanita ini memang sejenis siluman.. Untung saja aku tidak tertipu dengan wajah polosnya dulu..
Perubahan raut wajah Fanny, membuat Daniel tahu jika Fanny tidak pernah jujur dan selalu menutupi kebusukannya dengan wajah polosnya sekarang.
"Tapi namaku memang Daniel." Fanny menurunkan tangannya, sebab Daniel tidak membalas uluran tangannya.
"Kau mirip mantanku, jadi aku hanya menebaknya saja."
"Em begitu."
"Aku Fanny." Fanny kembali mengulurkan tangannya.
"Bukankah sudah ku sebutkan jika aku Daniel." Fanny mendengus seraya menurunkan tangannya lagi." Aku permisi Nona. Kekasihku sedang menunggu." Daniel berjalan melewati Fanny begitu saja.
"Cih! Kenapa dia masih menyebalkan!!" Umpat Fanny mengikuti langkah Daniel dari belakang.
Dia masih mengikutiku... Daniel merasa tidak nyaman. Dia menghampiri Bella dengan sajian yang sudah tersedia di meja. Biar saja.. Aku akan menganggap dia tidak ada..
"Lama sekali Kak."
"Iya maaf. Kenapa tidak di makan langsung?" Jawab Daniel duduk.
"Aku menunggu kamu."
"Makan saja langsung."
Bella menggeser nampannya cepat dan mulai makan, sementara Daniel kehilangan selera makannya ketika melihat Fanny juga duduk tidak jauh dari tempatnya.
Aku merasa mual berada di sekeliling mereka..
"Kak. Tidak makan?" Tawar Bella membuyarkan lamunannya.
"Hm iya. Ini makan." Daniel tersenyum dan mulai menyantap sajian di hadapannya." Bagaimana awal mula kamu menyukai ayam krispi sayang?" Tanya Daniel basa-basi. Dia ingin membuka obrolan yang mungkin bisa membuat fikirannya kembali baik.
"Kak Bastian yang mengenalkannya." Daniel mengangguk-angguk, dia menyadari jika sejak tadi Fanny fokus melihatnya, sehingga Daniel memutuskan berdiri dan pindah duduk di samping Bella." Kenapa?" Tanya Bella lirih.
"Tidak apa. Lalu? Kamu langsung suka?"
"Hm.." Jawab Bella mengangguk." Simpel, tapi rasanya tidak membosankan." Imbuhnya bergumam.
"Seperti kamu hehe." Sahut Daniel.
"Kenapa aku?" Bella menatap Daniel dengan mata bulatnya.
"Kamu terlihat simpel tapi tidak membosankan." Bella tertawa aneh namun raut wajahnya terlihat memerah.
"Entah kamu sedang merayu atau serius, tapi aku suka dengan pujiannya Kak Daniel." Bella yang sudah terbiasa, kembali fokus pada makanannya meski tidak dapat di pungkiri jika hatinya bergetar.
"Aku tidak mengerti cara merayu."
"Itu tadi sudah termasuk rayuan Kak."
"Aku hanya bicara tentang apa yang ku lihat dan ku rasa." Daniel menoleh, lalu tersenyum, melihat noda saus ada pada hidung Bella sehingga dia mengambil tisu untuk membersihkannya.
Tidak mungkin sekali? Bagaimana dia berubah manis? Apa kecelakaan itu sudah merubahnya?
Sikap manis Daniel yang di tunjukkan, membuat Fanny bertanya-tanya sebab dulu Daniel terasa membosankan dengan sifat kaku dan acuhnya.
Jangankan menyentuh Fanny, untuk tersenyum saja Daniel enggan melakukannya. Namun melihat kenyataan jika Daniel berubah manis, membuat Fanny kembali merasa tertarik.
Sangat tidak mungkin jika dia lebih tertarik pada gadis itu daripada aku..
Fanny yang tidak tahu malu, bergegas berdiri seraya membawa nampannya berjalan menghampiri Bella dan Daniel.
"Permisi..." Ucapnya ramah. Bella mendongak menatap Fanny yang memang sangat cantik dengan gaya dewasanya. Daniel tidak bergeming seolah tidak mendengar sapaan Fanny.
"Ya Kak." Jawab Bella sedikit merasa cemburu sebab dia merasa jika Fanny jauh lebih cantik darinya.
"Boleh aku gabung? Em aku tidak enak makan sendiri." Jawab Fanny beralasan.
"Oh.. Em.. Kakak tidak malu berkata itu?" Daniel tersenyum, mendengar ucapan polos Bella. Dia yakin jika Bella akan merasa cemburu, seperti saat bertemu Lisa.
"Malu?" Tanya Fanny mengulang.
"Iya malu. Tidak punya muka maksudku." Fanny mengerutkan keningnya, menatap Bella dengan mimik wajah tidak suka.
"Aku hanya mencari teman makan karena aku tidak biasa makan sendiri."
"Ya telefon saja temanmu Kak. Kenapa harus menganggu kita?"
"Aku mengenal dia." Fanny menunjuk Daniel sehingga membuat Bella menatap Daniel tajam.
"Benarkah Kak?" Tanya Bella cepat.
"Tidak sayang. Aku tidak mengenal dia." Bella beralih menatap Fanny.
"Sudah dengar kan Kak? Jangan mengaku! Dia tidak mengenalmu."
"Dia mirip mantanku." Fanny tidak ingin kalah dan semakin ingin memiliki Daniel. Tapi ketika Fanny menyebutkan nama mantan, membuat Bella bertanya, apakah wanita di hadapannya adalah mantan dari suaminya?
"Kamu salah orang Nona. Bukankah aku sudah menjawab itu tadi."
"Wajah dan suaramu sangat mirip. Apa kau habis kecelakaan hingga tidak mengenaliku." Daniel menatap Bella begitupun sebaliknya. Dia memberikan isyarat pada Bella seolah keduanya tengah berbicara lewat batin.
__ADS_1
"Iya memang pernah kecelakaan." Daniel menarik nafas panjang sebab bahasa isyaratnya tidak membuat Bella paham.
Apa dia mantan Kak Daniel?
"Nah. Aku mantannya, em sebenarnya kita belum sepenuhnya putus."
"Jika aku sudah tidak mengingatmu, berarti kita sudah putus." Daniel berdiri dan meraih pergelangan tangan Bella.
"Aku mencarimu Daniel." Rayu Fanny membuat hati Bella semakin memanas.
"Jangan bicara omong kosong Nona."
"Kamu tidak mengingat itu sebab kamu sedang amnesia." Bella akan merenggangkan rangkulan tangannya namun Daniel tidak membiarkan itu." Dulu kamu sangat mencintaiku, lalu sekarang kau bersama dengan gadis ingusan ini? Kamu harus sadar.." Fanny mencoba memegang lengan Daniel.
Tak!!!
Daniel menampisnya kasar dengan memperlihatkan wajah penuh amarah.
"Bukankah kau yang harusnya sadar Nona!! Dia kekasihku, kita sudah bertunangan." Jawab Daniel geram. Selama dua Minggu bersama, Bella tidak pernah melihat amarah Daniel seperti yang di perlihatkan nya sekarang.
"Itu karena kamu amnesia..."
"Lebih baik aku amnesia, daripada harus kembali ke masa lalu hanya untuk menyukai wanita sepertimu." Tunjuk Daniel kasar, dia mengambil dompetnya lalu membayar makanannya dan pergi.
"Tunangan! Kekasih!! Seleramu sangat buruk!!" Umpat Fanny akan pergi.
"Nona tunggu." Panggil kasir restoran.
"Ya? Apa?"
"Bayar dulu Nona."
Aku lupa... Fanny mengambil dompetnya dari tas dan membayar makanan yang bahkan belum di sentuh.
**************
Braaaakkkkk!!!
Marco menyingkirkan semua barang yang ada di meja, tidak terkecuali foto Daniel dan Bella yang berserakan di lantai.
Tarikan nafas berat berhembus, dia merasa sangat marah menerima kenyataan jika hubungan Bella dan Daniel semakin hangat.
"Bagaimana mungkin dia menyukai lelaki miskin itu!!" Jim hanya mampu terdiam dan menunduk." Apa yang mereka beli?" Imbuh Marco bertanya.
"Baju Tuan.."
"Kau yakin itu saja?" Jim mengangguk." Lalu sekarang mereka di mana?" Jim terdiam sejenak untuk merangkai kebohongan.
"Mereka makan lalu pulang." Sungguh keberuntungan untuk Jim sebab Daniel dan Bella memang melakukan hal itu.
Mobil Daniel bergegas meninggalkan area parkir, sementara Bella sendiri tengah mengendalikan rasa cemburu yang mulai memenuhi hati dan otaknya.
Kakak tadi cantik sekali.. Batin Bella kalut.
"Apa benar dia.."
"Iya sayang." Sahut Daniel cepat.
Daniel menghentikan laju mobilnya di bahu jalan taman kota. Dia ingin menjelaskannya, daripada harus berdebat di rumah hingga terdengar telinga Pak Salim.
"Apa yang kamu fikirkan sayang?" Daniel memutar tubuhnya, menatap ke Bella yang sejak tidak melihatnya.
"Kenapa Kak Daniel tidak menyukainya?"
"Tidak cinta." Jawab Daniel cepat. Dia sungguh takut jika sampai membuat Bella marah." Aku merasa aneh melihatmu begitu." Protes Daniel tidak membuat Bella melihat ke arahnya.
"Dia cantik dan sepertinya tulus pada Kak Daniel."
Daniel membuka pintu mobil, lalu berjalan keluar dan membuka pintu untuk Bella.
"Kita turun dulu." Rajuk Daniel menunduk.
"Untuk apa?" Tanya Bella dengan gaya kaku. Bella masih mencari-cari bagaimana mungkin Daniel tidak menyukai Fanny. Bisa jadi mereka hanya salah faham dan Kakak tadi tidak selingkuh..
"Untuk bicara."
"Aku mau pulang."
"Ada Ayah. Aku tidak ingin dia memarahiku karena membuatmu marah."
"Aku tidak marah." Bella terpaksa menoleh dan berharap Daniel yakin agar dia bisa segera pulang.
"Aku tahu kamu marah." Bella kembali berpaling dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya. Daniel duduk tepat di samping Kaki Bella, tepatnya di pinggiran mobil sebelah tempat duduk Bella." Aku tidak pernah menenangkan hati seseorang yang sedang cemburu sayang, sebab ini kali pertama untukku." Imbuh Daniel ingin lebih memahami bagaimana cara memperlakukan pasangan dengan baik
"Bukankah tadi mantanmu Kak."
"Dia selingkuh sayang dan aku tidak mencintainya." Jawab Daniel dengan suara di tekan.
"Jika tidak cinta, kenapa Kak Daniel kesal tadi?" Bella melirik dengan mata bulatnya.
"Marah apa?" Tanya Daniel benar-benar tidak mengerti.
"Tadi marah. Jika tidak cinta, biarkan saja. Kenapa harus marah?"
"Apa kalau marah berarti cinta? Begitu maksudmu?" Bella menarik nafas panjang, dia juga sulit membedakan karena hubungan dengan Daniel juga yang pertama untuknya." Lalu? Apa aku harus tersenyum saat berhadapan dengannya sayang?" Daniel menoleh, menatap raut wajah Bella yang binggung.
Benar juga... Ahhh... Bingung sekali...
"Ya jangan Kak.." Jawab Bella lirih.
"Lalu bagaimana sayang? Aku hanya masih merasa kesal melihat wanita itu."
"Jika kesal berarti Kak Daniel punya perasaan."
"Benci sayang maksudku."
"Benci itu beda tipis dengan cinta loh Kak."
"Terus, aku harus bagaimana bersikap?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu." Jawab Bella lirih." Aku tidak suka saja dan merasa buruk." Daniel kembali menoleh cepat.
"Buruk? Siapa yang buruk?"
"Aku. Kakak tadi cantik ya."
"Kenapa harus berfikiran seperti itu?"
"Terlintas begitu saja Kak." Daniel kembali berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Kita turun sambil mencari makan sekitar sini." Bella yang masih tidak bergeming, membuat Daniel harus memaksanya agar mau turun dari mobil." Kita makan di sana." Menunjuk sebuah tempat makan.
"Terserah Kak. Aku tidak mau tapi kau juga memaksaku." Kenapa aku sangat kesal ya? Menyadari kenyataan jika aku tidak sebanding dengan wanita seksi di luar sana.
Bella menatap ke arah dadanya yang jauh dengan milik Fanny yang terlihat besar.
Apa aku hanya di buat pelampiasan saja? Apa Kak Daniel hanya beralasan saat berkata jika dia menyukaiku sejak awal? Suka apanya sih? aku tidak menarik sama sekali..
Bella membuang nafas kasar, melirik malas ke arah Daniel yang belum juga beranjak dari tempatnya tadi.
Bukankah kemarin dia bisa mengatasi saat dengan Lisa, tapi kenapa sekarang begini?
"Kita duduk." Daniel merangkul pundak Bella dan duduk di salah satu tempat yang tidak jauh dari sana.
Daniel menurunkan maskernya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Bella yang sejak tadi masih tidak melihat ke arahnya.
"Dia sama halnya seperti Lisa sayang. Aku tidak menganggap mereka." Ucap Daniel berusaha merajuk.
"Lain cerita Kak. Kalau Kak Lisa kan bukan mantannya Kak Daniel."
"Mantan itu hanya julukan. Aku tidak mencintainya, bahkan hubungan kami tidak pernah baik."
Bella menggeser tubuhnya sedikit menjauh lalu menoleh ke arah Daniel.
"Apa saja yang sudah Kak Daniel lakukan bersamanya?" Daniel malah tersenyum, membalas tatapan mata bulat Bella." Aku serius, jangan tersenyum." Protes Bella tidak membuat Daniel berhenti tersenyum.
"Melakukan apa sayang? Aku tidak pernah melakukan apapun."
"Mustahil! Kakak tadi cantik." Bella tidak bisa menerima jawaban Daniel. Dia merasa sangat tidak mungkin jika Daniel tidak melakukan apapun bersama Fanny yang terlihat sangat menarik.
"Cantik?" Tangan kanannya terulur dan mulai memainkan anak rambut di sekitar dahi Bella." Cantik tapi hatiku tidak tersentuh." Bella melirik ke atas, menatap Daniel yang tengah fokus melihat ke dahinya.
"Itu mustahil. Bukankah tidak normal?" Daniel menggeser tubuhnya sedikit.
"Hm.. Dia sering menyebutku tidak normal." Tangan Daniel turun ke bagian tengah kepala dan mulai menekannya lembut lalu menempelkan bibirnya pada dahi Bella." Bagaimana menurutmu?" Daniel melepaskan tekanan kepalanya agar Bella bisa melihat ke arahnya.
"Itu aneh." Bella masih tidak percaya dan menganggap Daniel sedang membohonginya." Bilang saja jika memang Kak Daniel pernah menciumnya." Rasanya sungguh sakit ketika Bella melontarkan kalimat itu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, sebab hatinya terasa sangat sesak.
"Apa yang kamu fikirkan itu salah. Astaga, kenapa harus seperti ini." Daniel menggeser tubuhnya lagi agar lebih dekat lalu membenamkan kepala Bella pada dadanya." Pertemuan tadi di luar kuasa ku sayang. Maafkan aku." Bella mencoba melepaskan diri namun Daniel tidak membiarkannya.
"Ini tempat umum Kak. Lepaskan aku." Protes Bella lirih.
"Tidak akan ku lepaskan, jika kamu masih tidak percaya. Aku bersumpah demi Tuhan, aku hanya mencium mu saja. Hanya menyentuhmu, memanjakan mu. Aku tidak pernah melakukannya dengan wanita lain sekalipun dulu kita belum bertemu." Keduanya menjadi sorotan, sehingga membuat Bella semakin merasa malu.
"Iya, lepaskan aku dulu. Ini tempat umum Kak."
"Kita sudah syah secara agama dan negara. Aku tidak malu sayang, apalagi untuk menenangkan mu. Jangan marah, aku mohon. Rasanya aku ikut sakit melihat matamu yang mulai berkaca-kaca."
"Iya aku tidak marah." Bella terpaksa berkata itu agar Daniel melepaskannya.
"Aku tidak percaya, nafasmu masih terasa berat sayang. Astaga... Maafkan aku, hatimu pasti terasa sakit sekali." Bella menarik nafas panjang untuk mengendalikan perasaannya. Dia benar-benar merasa malu meski faktanya Daniel adalah suaminya.
"Sudah Kak. Lepaskan aku." Pinta Bella lagi.
Daniel tersenyum, dan meregangkan dekapannya namun belum juga melepaskan pundak Bella.
"Lakukan jika ingin ku lepaskan." Ucapnya menatap lekat Bella yang masih mencoba menghindari maniknya.
"Lakukan a apa?" Tanya Bella terbata.
"Jika kamu melakukannya, itu berarti kamu sudah tidak marah padaku."
"Di rumah saja!" Jawab Bella cepat. Dia tahu apa maksud Daniel sebab seringnya Daniel meminta itu.
"Di sini."
"Ramai Kak. Lihatlah sekitar."
"Hanya sebentar. Cup. Lalu selesai hehe." Wajah Bella memerah hanya dengan membayangkannya.
"Iya nanti di rumah."
"Tidak mau."
"Kekanak-kanakan sekali sih Kak."
"Aku maunya sekarang meskipun kamu menyebutku dengan sebutan itu." Bella mencium pipi Daniel dengan gerakan cepat.
"Sudah."
"Bibir, bukan pipi."
"Di rumah saja."
"Aku menunggu sayang.." Bella tahu jika Daniel tidak akan merubah keinginannya jika itu menyangkut sebuah ciuman.
"Kak Daniel ish!!!" Umpat Bella membuat Daniel terkekeh.
"Well. Lakukan sayang."
Bella mendongak sedikit, membalas tatapan manik Daniel yang sejak tadi belum teralih. Tarikan nafas berat berhembus, wajah tampan Daniel masih membuatnya berdebar.
Aku kesal hanya dengan membayangkannya saja..
Sesuai tebakan, Bella memang masih merasa kesal namun dia tidak kuasa menolak keinginan Daniel yang sudah menyentuh hatinya.
Kedua tangan Bella bertumpu pada paha Daniel lalu sedikit menjinjit dan menempelkan bibirnya. Dengan cepat Daniel mengalihkan pegangannya dan menekan tengkuk Bella lembut untuk memperdalam ciuman mereka.
Aku merasa gila.. Hingga melakukan hal ini di tempat umum. Tapi untuk menenangkan perasaannya, apapun akan aku lakukan..
__ADS_1
~Riane
Terimakasih dukungannya 🥰🥰