
Tidak seperti biasanya, Bella enggan turun ketika mobil sudah berhenti di depan gerbang sekolah. Dia terdiam dengan sorot mata menatap keluar kaca mobil.
"Tidak ingin turun?" Tanya Daniel mengulang.
"Ingin."
"Lalu?" Bella memutar tubuhnya menghadap ke Daniel.
"Setelah ini Kak Daniel ke mana?" Daniel tersenyum mendengar pertanyaan itu.
Dia bahagia tapi juga merasa binggung, gadis kecil di hadapannya belum juga percaya akan kesetiaannya. Itulah tebakan Daniel yang kini bersarang di hatinya.
Aku bicara apa sih? Bella mengambil tasnya di jok belakang lalu menggalungkan nya ke leher sebelum Daniel menjawab pertanyaannya tadi.
Dia meraih jemari Daniel dan mencium punggung tangannya, tidak lupa sebuah ciuman hangat di pipi untuk tambahan semangat yang selalu Daniel minta setiap paginya.
"Sampai jumpa nanti siang Kak." Bella berusaha membuka pintu tapi gagal. Dia menoleh pelan dan melihat tatapan Daniel penuh selidik." Buka Kak." Pintanya pelan.
"Aku belum menjawab pertanyaan tadi." Bella tersenyum aneh. Tangannya terangkat dan mulai menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Ke gudang kan." Jawab Bella lirih.
"Hm iya. Lalu, kenapa bertanya? Apa..."
"Aku percaya! 100 persen percaya!!" Jawab Bella cepat. Dia tidak ingin Daniel kembali menggoyangkan imannya seperti kemarin malam.
Daniel terkekeh menikmati wajah konyol dan polos Bella. Mata Bella membulat, ketika Daniel langsung menelungkup wajahnya dan menciumi sekitar wajahnya seperti biasa.
"Aku ke gudang setelah ini. Bukankah kamu tahu jika Lucas tidak ada." Bella hanya mampu mengangguk dan membisu." Aku akan setia, tenanglah, aku hanya mencintaimu." Daniel memiringkan kepalanya lalu mencium bibir mungil itu sedikit lama.
Sangat lembut, begitu lembut hingga mata Bella terpejam sesaat. Tanpa sadar bibir mungilnya terbuka, dia ingin ciuman lebih dalam dari ini. Namun, bibir yang membungkamnya tidak merespon keinginan.
Cup!
Daniel mengakhiri ciuman dengan kecupan pada keningnya. Dia duduk tegak lalu merapikan rambut Bella yang sedikit berantakan.
"Belajar yang rajin."
Dia menolakku.. Batin Bella berkecamuk. Keinginannya berciuman lebih lama tidak Daniel berikan. Menyedihkan sekali..
"Hm iya.." Jawabnya lemah. Tangan kanannya terulur dan membuka pintu mobil.
"Harus fokus belajar sayang. Nanti pulang sekolah akan ku berikan hehe." Bella menoleh dan tersenyum aneh. Dia paham dengan maksud ucapan Daniel.
"Aku tidak..." Terdengar suara pintu gerbang yang akan di tutup membuat Bella merasa panik." Bye Kak Daniel." Bella tidak dapat berprotes untuk menyangkal. Dia berlari kecil menuju gerbang sekolah dan masuk.
Tubuhnya kembali memutar, menatap ke mobil Daniel yang belum pergi. Hatinya masih saja bergetar, menyadari jika Daniel masih melihatnya.
Dia masih di sana...
Bella mengangkat tangan kanannya, membalas lambaian Daniel dari dalam mobil. Ingin rasanya Bella keluar, agar bisa selalu berdua dan tidak membiarkan adanya celah bagi wanita lain mendekati Daniel.
"Kenapa sih." Bella melambai untuk kesekian kali, lalu membalikkan badannya, berjalan menuju kelas meski rasanya sangat berat. Dia terus melawan otakknya, yang menyuruhnya untuk menoleh lagi.
Tidak. Jangan!! Bella membalikkan badannya lagi tapi mobil Daniel sudah tidak ada di sana. Sudah pergi... Ahh kenapa sih? Kenapa aku jadi malas sekolah seperti sekarang!!!
Raut wajah kecewa tergambar jelas. Rasanya sangat menyakitkan hingga membuat dadanya terasa begitu sesak.
Bella menarik nafas panjang, mengendalikan perasaannya yang bergemuruh.
"Bella.." Sapa Erin. Bella cepat-cepat mengusap sudut matanya yang mulai berair." Ada apa? Kau menangis?" Tanya Erin merasa khawatir.
"Tidak." Bella kembali menghembuskan nafas berat.
"Kak Daniel menyakitimu?"
Iya sakit! Sakit sekali saat berpisah dengannya tadi! Uhh! Kenapa aku jadi lemah seperti ini!! Bukankah setiap hari memang begini!!
"Heii." Erin menepuk lembut pundak Bella.
"Apa sih?" Celetuk Bella tentu malu untuk mengakui jika dia ingin selalu bersama Daniel.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Di mana Sari?"
"Dia tidak masuk sekolah, ada keperluan. Tadi aku ke rumahmu tapi mobil Kak Daniel sudah tidak ada. Jadi aku berangkat langsung." Bella mengangguk-angguk.
"Hm tadi ada keperluan. Emm.. Temani aku membuat akun Vesbook ya." Bella menarik pergelangan tangan Erin lembut dan mengiringinya duduk di salah satu bangku di taman sekolah.
"Kamu serius mau berjualan?"
"Iya lah. Hitung-hitung belajar berbisnis hehe." Bella mengeluarkan ponselnya.
"Unduh aplikasinya dulu."
"Iya ini ku lakukan." Bella mengunduh aplikasi dan mulai membuat akun Vesbook bersama Erin.
Karena produknya kosmetik, sebaiknya aku menjalin pertemanan dengan Ibu-Ibu rumah tangga juga para wanita..
Bella tersenyum, merasa sangat bersemangat, memainkan jari kecilnya ke layar ponsel miliknya.
Bukankah seharusnya dia mengeluh dengan hidupnya yang sekarang? Namun nyatanya, tidak pernah terlintas fikiran untuk mengeluh. Dia malah memikirkan, bagaimana caranya bisa meringankan beban berat Daniel.
"Selesai hehe.. Tinggal menunggu konfirmasi lalu aku bisa mulai berjualan." Bella kembali memasukkan ponselnya.
"Buat halaman juga Bell, biar jangkauannya semakin luas."
"Iya nanti aku buat. Masuk yuk." Bella berdiri, di ikuti oleh Erin.
Keduanya berjalan terpisah karena ruangan kelas yang berbeda. Baru saja Bella melangkah masuk, dia tersenyum tipis melihat keberadaan Kenan yang tengah duduk di salah satu bangku di kelasnya.
Syukurlah dia sadar..
Bella duduk tenang dan tiba-tiba saja Kenan sudah berdiri di sampingnya.
"Pagi Bella."
__ADS_1
"Pagi Kenan.. Astaga... Senang melihat otakmu sudah berjalan normal." Kenan menarik nafas panjang seraya memperlihatkan senyumannya.
"Agar aku bisa bertemu denganmu. Sekolah ini tidak penting! Yang terpenting adalah kamu.."
Huuuuuuuu..... Seisi kelas bersorak, mendengar rayuan gombal yang terlontar begitu lantang.
"Terserah saja. Aku sudah lelah menolakmu. Ini sudah tiga tahun Ken. Kenapa kamu belum sadar juga." Bella mengeluarkan bukunya lalu mulai membaca.
"Aku sadar jika aku begitu menginginkanmu."
Huuuuuuuu.... Untuk kesekian kali, temannya bersorak tapi tidak juga membuat Kenan malu.
Tiba-tiba saja seorang gadis berjalan masuk ke dalam kelas. Bella sempat melirik namun kembali fokus pada bukunya.
Gadis cantik itu berdiri tepat di depan Kenan yang masih tidak beranjak dari samping bangku Bella.
"Kak Kenan.." Sapanya tertahan. Bella mulai tertarik sehingga dia menoleh, melihat gadis di sampingnya tertunduk dengan membawa sebuah kotak berwarna biru.
"Ya ada apa?" Jawab Kenan belum mengalihkan pandangannya dari Bella.
"Katanya Kak Kenan suka kue kering jadi aku membuat itu." Ketua tangan gadis itu terulur untuk memberikan kotak biru yang di bawa.
"Aku tidak suka!" Tangan itu perlahan turun ke bawah.
Gadis itu bernama Monik, anak kelas 10A, yang menaruh hati pada Kenan.
"Bukannya kamu suka." Sahut Bella.
"Suka jika itu darimu."
Huuuuuuuu.. Bella menarik nafas panjang. Melirik ke Monik yang terlihat sangat cantik dengan kulit putihnya.
Cieeeee cinta segitiga ... Ledek salah satu murid.
"Tidak ada cinta segitiga! Cintaku hanya untuk Bella jadi tidak akan ada orang ketiga." Mata monik mulai berkaca-kaca, dia berjalan mundur kemudian pergi keluar dari kelas. Bella akan memanggilnya, tapi Monik sudah terlanjur pergi.
"Kau tidak kasihan dengan anak tadi?" Protes Bella.
"Kasihan? Kenapa harus kasihan. Aku sudah menolaknya beberapa kali tapi dia tidak berhenti." Jawab Kenan merasa muak pada Monik.
"Itu adalah cerminan dari dirimu." Bella menunjuk pundak Kenan dengan telunjuknya.
"Tidak. Itu beda. Aku lelaki sementara dia seorang gadis. Apa pantas menyatakan cinta duluan."
"Pantas saja. Memangnya apa bedanya? Sayang sekali, gadis secantik itu menyukai bocah gila seperti dirimu." Jawab Bella terkekeh.
"Aku lelaki Bella, bukan bocah!!" Jawab Kenan tidak terima.
"Sekali bocah ya tetap bocah!!"
Huuuuuuuu... Satu kelas kembali bersorak hingga guru pembimbing masuk.
"Kenan.. Duduk di tempatmu." Kenan mendengus lalu berjalan malas menuju bangkunya, melihat ke arah Bella yang masih saja mengacuhkannya.
*************
"Pak Andra sedang ada di kota ini Tuan." Perkataan Lucas sontak membuat Daniel begitu bersemangat.
"Saya tidak tahu. Saya hanya kebetulan berpapasan dengan beliau di lampu merah." Daniel mengambil ponsel juga kunci mobilnya.
"Aku akan pergi ke rumah lamanya untuk memastikan." Tanpa menunggu jawaban, Daniel melangkah keluar ruangannya. Dia masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir.
Setibanya di sana, harapannya pupus. Rumah Jonathan terlihat kosong, bahkan seorang penjaga juga tidak tampak.
"Apa Andra membeli rumah baru?" Gumamnya menatap lemah rumah yang lebih mirip sebuah istana.
Ketika Daniel akan masuk ke dalam mobil, sebuah sapaan menghentikan langkahnya.
"Pak Daniel.." Raut wajah Daniel terkejut, melihat Lisa berdiri tidak jauh darinya.
"Oh Lisa.." Jawab Daniel membalas sapaan Lisa. Raut wajah yang tadinya terkejut dalam sekejap mampu di rubah oleh Daniel.
"Jadi benar Pak Daniel?"
"Aku Dimas, bukan Daniel. Em aku baru saja membersihkan kumis juga jangkung ku jadi mungkin mirip seseorang yang kamu kenal." Imbuh Daniel beralasan.
"Serius.. Kamu bukan Pak Daniel?" Tanya Lisa pelan. Dia berjalan mendekat untuk menyakinkan.
"Memangnya siapa Pak Daniel?"
"Bos ku. Astaga mirip sekali." Daniel memundurkan tubuhnya, dia tidak ingin terlalu dekat karena merasa tidak nyaman.
"Hanya mirip. Em aku permisi." Daniel membuka pintu mobil dan akan masuk namun Lisa mencegah.
Perduli apa dia Pak Daniel atau bukan. Asal tampan saja, sudah membuatku bersemangat..
"Tunggu sebentar. Mumpung tidak ada Bella, bagaimana jika kita mengobrol sebentar." Tawar Lisa tidak ingin perduli tentang siapa yang berada di hadapannya.
"Maaf aku sibuk." Tolak Daniel ramah.
"Hanya sebentar. Kita ke Cafe atau tempat mengobrol yang enak."
"Aku benar-benar sibuk."
"Hanya sebentar." Tangan Lisa akan meraih lengan Daniel namun dengan raut wajah kesal Daniel menghindarinya.
"Tolong jangan memaksa!" Tatap Daniel geram.
Bergegas saja dia masuk mobil, lalu menatap tajam tangan Lisa yang masih memegang ujung pintu mobil.
Tak!
Daniel menyingkirkannya kasar lalu mulai melajukan mobilnya pergi meninggalkan lokasi.
"Cih! Untung saja tampan." Umpatnya tersenyum menatap kepergian mobil Daniel.
***************
__ADS_1
"Maaf Bella. Bapak tidak bisa membantu karena takut tersandung masalah." Ucap kepala sekolah pada Bella.
"Jadi saya tetap membayar penuh?" Dengan berat hati, kepala sekolah mengangguk pelan." Hm ya sudah Pak." Niat baik Samuel tidak bisa di kabulkan. Kepala sekolah sangat ketakutan dengan ancaman Marco yang akan mencabut semua pembiayaan pembangunan sekolah jika sampai memberikan keringanan untuk Bella." Besok saya kembali lagi Pak, uang saya kurang." Bella mengambil lagi kartu SPP nya.
Tarikan nafas berat terdengar berhembus. Si kepala sekolah merasa kasihan dengan Bella, mengingat musibah yang menimpanya tiga Minggu yang lalu.
"Maafkan Bapak."
"Hehe tidak masalah Pak. Saya permisi." Bella mengangguk sejenak kemudian berjalan keluar bersamaan dengan datangnya Marco yang hampir setiap hari datang ke sekolah hanya untuk memantau Bella.
Tanpa memberi salam, Bella melewatinya begitu saja. Manik Marco mengikuti langkah Bella, hingga tubuhnya memutar dan menghadap ke arah pintu.
Sebenarnya Pak Marco ada masalah apa dengan Bella hingga harus ke sini setiap hari.. Batin si kepala sekolah yang tentu binggung dengan sikap Marco.
Marco memutuskan kembali berjalan keluar, mengikuti Bella untuk kembali memberikan penawaran.
"Masih tidak merasa?" Tutur Marco sontak membuat Bella berhenti berjalan. Dia memutar tubuhnya menghadap Marco yang tentu sudah berdiri di belakangnya.
"Sikapmu tidak seperti orang yang terhormat." Jawab Bella membalas tatapan manik Marco.
"Untuk apa jadi terhormat jika tidak dapat memilikimu." Perkataan itu terdengar gila menusuk telinga. Bella yang sudah tahu Marco orang seperti apa, tentu merasa sangat muak bahkan jijik apalagi orang yang di curangi adalah suaminya.
"Omong kosong.." Senyuman tipis membingkai, hingga Bella memutuskan akan melangkah pergi.
"Hidupmu akan lebih buruk dari ini jika kamu melawan." Bella kembali menoleh.
"Sudah ku katakan lakukan sesukamu Tuan. Aku tidak takut!!" Tantang Bella sedikitpun tidak takut dengan ancaman Marco.
"Akan ku pastikan kau berlari ke arahku untuk memohon pertolongan suatu hari nanti."
"Silahkan berandai-andai." Bella tersenyum sinis, kemudian melangkah pergi meninggalkan Marco yang masih terpaku.
"Aku harus menekan hidupnya lebih dalam lagi." Tangan Marco mengepal, melihat kepergian Bella.
Sementara Bella sendiri langkahnya kembali berhenti, saat melihat pembullyan terjadi di sudut belakang sekolah. Matanya memicing, melihat Sisca dan Elena tengah berada di sana dengan beberapa siswa lelaki.
"Kau hanya anak baru! Bukankah sudah ku katakan jika Kenan adalah milikku!!" Ucap Sisca lantang. Tangan kanannya meraih rambut panjang Monik dan mendongakkan kepalanya ke arahnya." Kau merasa lebih cantik dariku hah!!" Imbuhnya seraya mengangkat tangannya dan akan melayangkan tamparan namun suara Bella menghentikannya.
"Sisca!!! Apa lagi ini?" Mata Bella membulat, melihat gadis yang di bully adalah siswi yang di jumpai nya tadi pagi.
"Kau tidak perlu ikut campur Bell. Ini urusanku dengannya, bukankah dia bukan temanmu?" Monik menangis terisak dengan baju compang-camping.
"Apa kau membully karena dia menyukai Kenan?" Tebak Bella sudah tahu kebiasaan buruk Sisca.
"Sebaiknya kau pergi saja." Sahut siswa berbadan besar yang kini sudah berdiri di depan Bella untuk menghalangi.
"Pergi?" Bella tersenyum tipis." Tanpa dia, aku tidak mau pergi." Tunjuk Bella pada Monik.
"Jangan jadi pahlawan kesiangan hei Bella."
"Aku tepat waktu. Tidak kesiangan. Minggir!!" Bella mendorong tubuh besar yang ada di hadapannya, namun tubuh kecil Bella tidak cukup kuat untuk menggesernya.
"Pergi saja. Aku tidak mau memukul seorang gadis."
"Lalu dia?!!" Sahut Bella geram.
"Aku hanya mengawasinya saja." Jawabnya beralasan.
"Owh. Berarti kalian semacam kacung ya." Bella menunjuk satu persatu tiga siswa yang ada di sana.
"Jangan bicara sembarangan!!" Sahut salah satunya tidak terima.
"Lalu bagaimana? Bukankah tugas kacung itu seperti kalian ini!!" Bella menunjuk kasar tanpa merasa takut sedikitpun." Sadarlah! Kalian itu hanya di manfaatkan oleh Sisca." Imbuhnya tersenyum sinis.
"Jangan bicara sembarangan Bell. Mereka ikhlas membantu." Sahut Sisca tidak ingin kedoknya terbongkar jika sebenarnya dia memang manfaatkan para siswa yang menyukainya.
"Ikhlas haha. Dia menjanjikan apa padamu?"
"Kami adalah teman Sisca jadi sudah seharusnya kami membantunya." Ketiga siswa berbadan besar itu sudah di bayar oleh Sisca sehingga mereka menjawab pertanyaan Bella dengan begitu santai.
"Kau dengar sendiri kan."
"Hm oke. Biarkan dia pergi bersamaku." Bella masih tidak ingin meninggalkan tempat sebelum bisa membawa Monik.
"Jika tidak bisa?"
"Harus bisa. Aku bukan orang yang mudah menyerah dengan tujuanku." Sisca memberi isyarat pada ketiga siswa untuk memberikan sedikit pelajaran pada Bella.
Baru saja mereka akan menyentuh Bella, Samuel datang untuk membantu.
"Apa ini!!" Sahut Samuel berdiri menghalangi." Apa kau sudah gila Sisca!!" Imbuhnya ikut merasa geram." Bubar! Atau ku panggil guru BK ke sini!!" Ancam Samuel mengangkat ponselnya.
Sisca, Elena dan ketiga siswa terpaksa pergi daripada harus berurusan dengan guru BK yang akan berbuntut panjang.
"Kamu baik-baik saja." Monik meraih uluran tangan Bella.
"Terimakasih Kak. Aku baik-baik saja." Ucapnya lirih.
"Hindari mereka dan jangan berjalan sendirian agar kamu tidak di bawa ke sini lagi." Bella menepuk-nepuk seragam Monik yang kotor.
"Iya Kak."
"Terimakasih Sam."
"Sama-sama. Untung aku lewat tadi. Lain kali, jangan bertindak sendirian seperti tadi. Akan lebih baik kamu melapor pada guru." Jawab Samuel masih sangat merasa perduli meski tahu jika Bella sudah memiliki pasangan.
"Aku takut dia di keroyok. Ku antarkan ke kelas." Bella merangkul akrab pundak Monik." Duluan Sam." Bella tersenyum sejenak kemudian berlalu pergi.
"Bagaimana aku tidak kagum padamu Bella. Gadis seperti mu sangat jarang ku temui. Sayangnya.. Kamu sudah milik orang hehe. Asal kamu bahagia saja." Samuel melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan kepala sekolah. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk setelah mendengar perbincangan kepala sekolah dengan Marco yang tengah membahas soal Bella.
Riane
Maaf telat update 😭
Otornya sedang tidak enak badan..
Entah masuk angin atau angin masuk tapi benar-benar nggak bisa mikir tadi😭
__ADS_1
Terimakasih dukungannya..
Jika besok nggak bisa update berarti masih sakit ya teman-teman 🙏🙏