
🥰Happy reading 🥰
"Tidak sayang." Tolak Daniel lembut.
"Kenapa tidak Kak?"
"Terlalu dini untuk mengerti hal itu." Senyuman lembut dan suara hangat kembali Daniel suguhkan.
"Aku tahu Kak. Aku sering mempelajarinya ketika Kak Bas masih sekolah dulu." Jawab Bella sedikit memaksa. Tujuannya tidak lain hanya ingin membantu Daniel.
Daniel menoleh lalu memiringkan tubuhnya. Tangannya terangkat, membelai rambut Bella naik turun seraya memandanginya.
"Aku tahu niatmu baik sayang. Maksudku terlalu dini itu bukan dari sisi pengetahuan mu. Tapi, kamu masih kecil. Aku tidak mau menganggu waktu belajarmu." Daniel menggiring kepala Bella agar bisa bermanja di dadanya.
"Ya sudah jika tidak ingin ku bantu." Jawab Bella tidak mempermasalahkannya.
"Terimakasih atas niatnya."
"Hanya niat Kak."
"Itu sudah sangat baik sayang." Daniel kembali mengecup puncak kepala Bella." Aku hanya meminta kamu sedikit bersabar saja. Maaf sudah menempatkanmu pada posisi sulit sayang. Aku berjanji tidak akan mengecewakan Bastian yang sudah memilih aku untuk menjagamu." Tangan Daniel meraih jemari Bella dan meremasnya lembut hingga terdengar tarikan nafas panjang keluar dari bibir Bella." Kenapa? Apa jantungmu berpacu cepat?" Tanya Daniel lirih.
"Hmm." Bella mengangguk pelan.
"Aku juga."
"Apa itu artinya aku sudah mencintaimu?"
"Mungkin iya, mungkin juga karena kita saling berdekatan seperti sekarang."
"Apa seseorang yang tidak saling mencintai bisa hidup bersama Kak." Daniel tersenyum mendengar pertanyaan yang Bella lontarkan.
"Mungkin bisa, asal kita saling menyayangi."
"Apa bedanya cinta dan sayang?" Daniel terkekeh karena merasa gemas. Bella duduk tegak dan menatap ke Daniel yang tengah menertawakannya.
"Kamu lucu sekali." Tangan Daniel terangkat dan mengusap pipi Bella sebentar.
"Lalu apa jawabannya Kak?" Bella sangat penasaran dengan arti dari cinta itu apa sejak pernikahan mendadaknya dengan Daniel.
"Ku rasa sayang lebih besar daripada cinta." Bella mengangguk-angguk." Apa kamu sudah menyanyangi ku sayang?" Imbuh Daniel ingin tahu tentang apa yang ada di dalam hati Bella.
"Rasanya sudah tapi masih seperti saat aku menyanyangi Kak Bastian." Jawaban dari Bella sangat membuat Daniel senang. Dia merasa itu permulaan yang bagus untuk awal dari hubungan mereka.
"Hm anggap aku Kakakmu, teman, pacar, dan suami.."
Entah aku menganggap Kak Daniel sebagai apa? Yang pasti aku nyaman bersamanya..
*************
Erin membawa rantang keluar dari rumahnya, dia berbelok ke rumah Sari yang hanya berbatas dua rumah. Kedatangan Erin langsung di sambut Sari, karena keduanya memang sudah lebih dulu membuat janji lewat pesan singkat.
"Akan lebih lengkap jika memakai kerupuk." Imbuh Erin tersenyum. Mamanya menyuruh memberikan masakan untuk Bella dan dia mengajak Sari untuk mengantarkan masakan tersebut.
"Beli di Bu Ratih saja kerupuknya."
"Hm kita mampir sebentar." Keduanya berbelok ke pedagang sayur dan bumbu dapur yang bernama Ratih.
Kedua bola mata mereka saling melirik ketika tidak sengaja terdengar gosip tentang Bella yang tengah di bicarakan Ibu-ibu.
"Kabarnya sudah berumur 28 masa tidak punya istri?
Erin dan Sari mengulur waktu membeli kerupuk dengan berpura-pura memilih kerupuk.
"Katanya sih masih singel.
"Walaupun singel. Bukankah seharusnya tidak tinggal satu rumah Bu.
"Bella kan masih sekolah Bu. Jadi tidak memiliki uang, apalagi semua harta peninggalan Bastian habis.
"Eh kemarin Pak Ahmad sudah memberikan uang buat bantuan kok. Kabar lainnya, bantuan itu akan di berikan setiap bulannya. Bukankah itu cukup untuk menyewa tempat tinggal.
"Mungkin buat membayar sekolah.
"Bella itu pintar. Pasti dapat beasiswa. Mungkin Bella mau jadi sugar baby buat Pak Daniel.
Erin dan Sari langsung membayar kerupuk dan pergi. Keduanya merasa risih mendengar gosip tentang Bella yang belum pasti kebenarannya.
"Uang dari Bella masih ada?" Tanya Erin pelan.
"Kita berikan saja pada Bella daripada harus ada gosip seperti itu. Astaga Rin, kasihan Bella. Ibu-ibu itu tidak ada perkerjaan lain ya kecuali mengosip." Runtuk Sari ikut merasa sakit hati karena persahabatan mereka yang terjalin sejak kecil.
"Tapi aku tidak menyalahkan mereka sebab Bella tidak seharusnya tinggal bersama Kak Daniel."
"Kita bicarakan nanti dengannya." Erin mempercepat langkahnya, begitupun Sari. Mereka tidak sabar bertemu Bella untuk membahas itu, sementara Bella sendiri tengah tertidur di pangkuan Daniel.
Daniel mengehentikan gerakan usapannya pada dahi Bella saat mendengar suara Erin dan Sari yang memanggil nama Bella.
"Apa mereka sudah janjian?" Daniel mengangkat kepala Bella perlahan dan meletakkannya agar tidur Bella tidak terganggu. Dia berjalan ke depan untuk menemui Erin dan Sari yang sudah berdiri di depan pagar." Sebentar." Daniel tersenyum ramah dan membuka pintu pagar untuk keduanya.
"Bella di mana Kak?" Tanya Erin.
"Dia tidur. Mari masuk, dia tidur di ruang tengah." Erin melirik ke Sari seraya mengangguk. Keduanya ingin menghilangkan perasaan takutnya hanya untuk memperingatkan Bella soal gosip tadi.
"Ingin masuk atau tidak?" Tanya Daniel mengulang.
"Iya Kak. Em ini dari Mama." Erin memberikan rantang dan kerupuk pada Daniel.
__ADS_1
"Astaga merepotkan. Titip salam buat Mama ya, terimakasih."
"Sama-sama Kak."
Ada rasa ragu meski Erin dan Sari terpaksa harus masuk. Keduanya terpekik kaget saat Daniel menutup pintu sedikit keras karena dorongan angin.
"Hehe angin maaf." Tutur Daniel tersenyum membuat Erin dan Sari tersenyum aneh." Mari masuk." Keduanya mengekor dan tersenyum saat mendapati Bella masih berbaring di sofa depan televisi.
"Astaga..." Gumam Erin.
"Aku letakkan ini dulu." Ucap Daniel seraya mengangkat rantang.
"Iya Kak." Ketakutan sedikit terkikis ketika keduanya melihat Bella tidur dengan pulas." Tidak seburuk bayangan kita ya Sar." Imbuh Erin duduk di karpet yang ada di bawah sofa.
"Iya. Buktinya Bella bisa tidur sepulas ini." Sari tersenyum dan duduk di samping Erin seraya melihat acara televisi.
"Astaga, kenapa duduk bawah."
"Tidak apa Kak di sini saja."
"Aku tidak memiliki apapun." Daniel meletakkan nampan yang berisi minuman ringan juga setoples cemilan.
"Ini saja sudah cukup." Daniel tersenyum dan ikut duduk di bawah menemani Erin dan Sari.
"Ada perlu?"
"Hanya mengantarkan makanan Kak tapi juga ingin main. Sudah lama kita tidak main ke tempat Bella." Daniel mengangguk-angguk seraya memperlihatkannya senyum dengan mata sipitnya.
Sumpah! Kak Daniel tampan sekali.
"Apa perlu ku bangunkan?"
"Tidak perlu Kak. Kita tidak terburu-buru Kok."
"Jika ingin ke sini jangan sungkan. Anggap seperti rumah Bella sendiri."
Obrolan ketiganya, membuat Bella terjaga. Dia menyipitkan matanya menatap ke rambut Erin dan Sari yang tepat berada di hadapannya. Matanya kembali tertutup ketika Bella menyangka jika itu semua hanya mimpi. Namun, ketika Daniel, Sari dan Erin tertawa membuatnya sadar jika semuanya nyata.
"Aku fikir sedang bermimpi." Gumamnya seraya menguap." Tumben tidak takut masuk ke rumah." Bella menurunkan kakinya dan ikut duduk di bawah.
"Takut apa?" Tanya Daniel.
"Kata mereka rumah Kak Daniel berhantu. Mereka yang selalu mempengaruhiku." Erin dan Sari tersenyum aneh karena merasa sungkan.
"Maaf Kak Daniel. Efek terlalu sering melihat film horor."
"Tidak masalah. Em jika ingin mengobrol silahkan. Aku akan memeriksa sesuatu dulu." Daniel sempat mengusap puncak kepala Bella kemudian berdiri dan masuk ke dalam kamar. Dia tidak ingin menganggu acara bergosip yang mungkin ingin di lakukan ketiga gadis yang masih sangat belia.
"Aku ingin merasakannya." Tutur Erin lirih dan mengikuti gaya Daniel saat dia mengusap puncak kepala Bella.
"Kapan kita punya pacar hehe."
"Sudahlah. Berhenti membahas. Ada perlu apa?" Tanya Bella masih merasa canggung membahas hubungannya dengan Daniel.
Sari dan Erin saling melihat, kemudian menoleh ke arah kamar yang di masuki Daniel dan beralih menatap ke arah Bella.
"Bukankah sebaiknya kamu kost saja Bell." Ucap Erin lirih. Bella terdiam sejenak kemudian menarik nafas panjang dan mulai melontarkan pertanyaan.
"Kenapa berkata begitu?" Tanya Bella pelan.
"Waktu aku membeli kerupuk di Bu Ratih, Ibu-ibu..."
"Membicarakan aku.." Erin dan Sari mengangguk.
"Tapi aku juga merasa begitu Bell. Bukannya aku tidak mendukung tapi.."
"Berjanjilah untuk tutup mulut." Sahut Bella lagi. Dia yakin kedua temannya bisa menjaga rahasia sehingga Bella ingin berkata jujur dan mengakui jika Daniel adalah Suaminya.
Aku sungguh malu mengungkap ini.. Tapi aku aku tidak mau terus berbohong pada mereka. Paling tidak, mereka bisa jadi tempat keluh kesah ku nanti ...
"Sebentar." Bella beranjak dari tempatnya sekarang lalu masuk ke dalam kamar yang sama dengan Daniel. Erin dan Sari melongok melihat itu. Keduanya saling melihat tapi masih sabar menunggu jawaban dari Bella.
Sementara di dalam kamar, Bella membuka laci meja di mana Daniel sedang sibuk dengan laptopnya.
"Mencari apa?" Tanya Daniel memutuskan untuk menutup laptopnya.
"Ini Kak." Bella menunjukkan buku nikah.
"Untuk apa? Bukankah kamu ingin merahasiakannya."
"Aku rasa tidak bisa jika dengan mereka." Jawab Bella pelan." Menyebalkan sekali jika harus terus menerus berbohong pada mereka." Daniel tersenyum, tangannya meraih kedua jemari Bella lalu mencium punggung tangannya.
"Lakukan apa yang menurutmu benar. Tidak masalah berbohong untuk kebaikan, paling tidak sampai kamu lulus SMA."
"Kecuali pada mereka. Mereka sahabatku. Aku akan terus berbohong jika tidak jujur karena gosip itu sudah mulai menyebar."
"Jadi karena gosip itu?" Bella mengangguk pelan.
"Biarkan saja. Yang pasti kamu istriku dan pernikahan kita resmi."
"Aku tidak perduli pada mereka tapi sahabatku harus tahu."
"Hm oke. Katakan jika begitu. Emm mau ku temani?"
"Tidak!" Jawab Bella cepat.
"Kenapa tidak?"
__ADS_1
"Aku malah malu nanti."
"Kenapa malu?" Tangan Daniel terangkat dan mengusap pipi Bella lembut.
"Pokoknya tetap di sini!!" Bella menurunkan tangan Daniel dan berjalan keluar kamar.
"Istriku yang manis." Daniel tersenyum dan kembali membuka laptopnya. Dia ingin memberi ruang bagi Bella agar ketiganya bisa bicara dengan baik.
Bella berjalan pelan, lalu duduk dengan kedua tangan menggenggam erat buku nikah. Perlahan, dia menunjukkan buku tersebut di hadapan Erin dan Sari yang masih kebingungan dengan maksud Bella.
"Buku nikah siapa Bell?" Tanya Erin langsung mengambilnya satu lalu membukanya. Erin melongok, melihat foto Bella terpampang di sana bersama Daniel." Kau?" Erin mengangkat kepalanya menatap ke arah Bella yang tersenyum aneh.
"Apa sih?" Sari mengambil buku dari tangan Erin dan memasang wajah yang sama.
Bella mengangkat jari telunjuknya lalu menempelkan ujungnya ke bibirnya untuk memberi isyarat Erin dan Sari tidak berteriak kaget.
"Serius atau hanya editan." Tanya Erin memastikan.
"Serius. Mana bisa di edit." Jawab Bella pelan.
"Jadi kau sudah menikah dan melakukan malam pertama." Bella langsung membungkam bibir Sari dengan tangannya agar tidak asal bicara. Itu membuat Erin dan Sari tertawa cekikikan begitupun Bella.
"Sial!!! Otak kalian sangat kotor!!" Umpat Bella pelan dengan raut wajah memerah karena menahan malu.
"Jadi sudah?" Tanya Sari mengulang.
"Sudah apa?"
"Itu..."
"Tidak!" Jawab Bella cepat." Aku mau lulus dengan nilai baik." Imbuh Bella menjelaskan keinginannya.
"Astaga Bella, aku tidak percaya ini. Ratu anti pacaran ternyata bisa mengemban mahkotanya hingga menikah." Ledek Erin yang sebenarnya merasa lega dan tidak lagi memikirkan soal gosip murahan tadi.
"Itu wasiat Kak Daniel."
"Aku juga mau di berikan wasiat jika begitu." Jawab Erin.
"Aku serius. Rahasiakan ini, aku ingin lulus sekolah dulu."
"Iya..." Erin memeluk Bella erat." Astaga. Meskipun aku terkejut tapi ini membuatku lega Bell." Ucapnya lirih.
"Aku juga. Ku fikir kamu sudah luluh dengan Kak Daniel sehingga melupakan janjimu sendiri untuk tidak berpacaran."
"Awalnya memang terpaksa, tapi dia dapat mengerti keinginanku jadi ya sudah. Semua berjalan sesuai keinginanku."
Erin melepaskan pelukannya dan menelungkup wajah Bella.
"Selamat ya. Walau sedikit aneh, aku turut bahagia."
"Aku juga." Ketiganya saling berpelukan setelah mencium pipi Bella bersama-sama.
"Aku minta kalian mengabaikan gosip itu." Tutur Bella pelan.
"Tentu saja. Rahasia terjamin aman. Iya kan Sar?" Sari mengangguk sebentar lalu tersenyum.
Paling tidak mereka tidak membenarkan gosip orang-orang tentangku. Aku harus mengabaikan gosip itu hingga lulus SMA. Tinggal enam bulan lagi. Setelah ujian, aku bisa mengatakan kebenaran jika aku sudah menikah...
****************
"Saran ku. Carilah orang kepercayaan." Fanny sudah mengucapkan itu beberapa kali meski Marco masih saja tidak perduli.
"Tidak ada orang yang bisa di percaya."
"Pasti ada." Jawab Fanny lembut. Dia berdiri di belakang Marco lalu mengalungkan kedua tangannya mesrah.
Aku akan mengelabuhimu...
"Ada tapi sulit."
"Daripada kamu tidak ada waktu untukku?"
Aku ingin meninggalkan wanita sialan ini!!
"Jangan bahas lagi. Itu membosankan." Fanny tersenyum kecut lalu berubah menjadi senyuman menawan ketika tubuhnya berjalan menghadap Marco.
"Serius bosan?"
"Hm.." Tiba-tiba saja, tubuh Marco terasa panas. Tangan kanannya mengendurkan dasi seraya mengusap keringatnya.
Fanny tersenyum, dia merasa senang karena obat perangsang sudah berkerja dengan baik. Dia sengaja mencampurkan obat tersebut pada minuman Marco agar Marco mau menyentuhnya di depan kamera tersembunyi yang terletak di tas Fanny.
"Kenapa sayang." Fanny berdiri di hadapan Marco yang tengah menahan hasratnya.
"Panas sekali."
"Biar ku bantu." Fanny membuka satu persatu kancing kemeja Marco lalu mengusap dada bidangnya lembut.
"Kau beri apa aku? Rasanya seperti obat perangsang." Marco yang sudah tidak tahan, langsung menarik tubuh Fanny cepat dan mencium bibirnya dengan kasar.
Dengan kasar, dia melucuti baju milik Fanny dan segera mencumbu nya dengan nafas memburu.
Fanny menyukai itu, dia sangat merindukan sentuhan Marco sehingga suara erangan kenikmatan menggema memenuhi ruangan.
Akan ku buat rekaman ini sebagai senjata untuk mengikatmu..
~Riane
__ADS_1