
Happy reading 🥰
Fanny membanting pintu mobil kasar, melihat kobaran api besar melahap rumah Marco. Pemadam kebakaran mencoba menjinakkan api, namun gagal sebab ledakan beberapa kali terjadi di dalam.
"Marco bangun!!" Teriak Fanny kasar. Tubuh Marco di goyang-goyang dengan tatapan nanar ke arah api yang terlihat semakin membesar.
Pemadam kebakaran tidak berani terlalu mendekat karena ledakan tersebut. Mereka hanya mampu menguyur rumah dari jarak aman dan tidak ingin membahayakan nyawanya sendiri.
"Marco bangun!!!" Kata Fanny untuk kesekian kali dan akhirnya perlahan Marco mulai membuka mata dengan wajah lebamnya." Rumah kebakaran! Surat-surat tanah, surat rumah hangus semua!!" Wajah Marco cenderung biasa sebab dia belum sepenuhnya sadar. Dia hanya menatap lemah ke arah Fanny hingga sebuah tamparan Fanny hadiahkan.
Plaaak!!!!
"Sialan!! Kau menamparku!!!" Umpat Marco akan membalas tapi suara ledakan kembali terdengar dan membuatnya sadar jika rumahnya di lalap si jago merah." Rumahku..!!" Teriaknya berjalan keluar mobil. Marco berniat menerobos api untuk mengambil surat-surat penting tapi petugas menghalaunya.
"Jangan Pak, bisa berbahaya." Ujarnya.
"Surat rumahku, surat tanah ku."
"Bisa di urus itu Pak, asal milik Bapak sendiri." Jawab si petugas seolah tengah menyindir.
"Apa maksudmu dengan milikku sendiri!! Kau berfikir jika ini bukan milikku!!"
"Kenapa Bapak se marah itu?!!"
"Kau berbicara sembarangan!!"
"Jika tidak melakukannya, kenapa harus marah?" Marco menghembus nafas berat, menatap ke arah api yang belum bisa di jinakkan. Bagaimana bisa di jinakkan, jika anak buah Joy sudah menaruh beberapa tabung gas di sana. Ledakan yang terjadi akibat tabung tersebut hingga api dengan sempurna merobohkan bangunan kokoh itu.
****************
Erin, Sari, Samuel, Kenan dan Sisca, duduk berjajar menikmati sajian sederhana yang di suguhkan Daniel. Mereka sengaja datang ke rumah untuk menjenguk Bella namun tanggapan Bella sangat tidak menyenangkan apalagi melihat sikap berlebihan Sisca.
"Kalian lihat aku baik-baik saja, jadi kalian boleh pulang." Daniel menarik nafas panjang mendengar itu.
"Tidak boleh begitu." Tuturnya berbisik.
"Mereka memaksa Bell maaf." Sahut Erin tertunduk.
"Aku tidak sengaja mendengar saat Erin berkata pada Bu Erna dan lagi, kunci ku belum kamu kembalikan."
"Kak, ambilkan tas sekolahku." Pinta Bella lirih. Daniel beranjak untuk mengambilkan tas sekolah Bella yang ada di kamar.
"Kak Daniel kelihatan tampan sekali ya, padahal sedang berantakan." Ucap Sisca tidak perduli dengan tatapan tajam mata Bella yang menusuk.
"Ini sayang.." Sisca melongok mendengar itu, sementara Kenan dan Samuel hatinya langsung teriris, menerima kenyataan jika Daniel benar-benar kekasih Bella.
Erin dan Sari tersenyum aneh, melihat Bella tidak berekspresi saat panggilan itu di lontarkan Daniel padanya.
"Nih." Bella melemparkan kunci ke arah Samuel." Aku ingin beristirahat, terimakasih sudah berkunjung." Imbuhnya berusaha mengusir.
"Tunggu! Em kalian serius berpacaran?" Tanya Sisca terbata.
"Apa perlu membahas itu Nona Sisca? Sangat tidak penting sesekali. Aku berpacaran atau tidak, bukankah itu bukan urusanmu."
"Kalian tinggal bersama dan berpacaran? Ku fikir kau bercanda Bella."
"Mana pernah aku bercanda dan berserah gurau denganmu. Melihatmu saja aku sudah muak!!" Daniel tersenyum, mendengar bagaimana tajamnya lidah Bella ketika sedang mengumpat.
"Biasanya orang ketiga setan loh. Kalau berduaan dengan lawan jenis di dalam satu ruangan." Bella tersenyum tipis, menatap ke Sisca tajam.
"Kau setannya!!" Samuel terkekeh di ikuti oleh Kenan dan Erin.
"Aku mengingatkanmu Bella."
"Tidak perlu di ingatkan! Meskipun nantinya aku hamil di luar nikah, apa itu menganggu hidupmu?"
"Itu mempermalukan sekolah kita Bell." Ucap Sisca tidak sepenuhnya salah, namun tujuannya yang salah. Sebab sebenarnya, dia merasa iri dengan Bella yang bisa mendapatkan lelaki dewasa seperti Daniel.
"Kau tenang saja. Aku akan keluar sekolah jika itu sampai terjadi."
"Jangan seperti itu Bella." Sahut Samuel." Kamu harus lulus, sayang dengan prestasimu." Imbuhnya mengingatkan.
"Bella akan lulus dengan nilai terbaik." Ucap Daniel menimpali. Bella meraih tangan kekar itu dengan kedua tangannya. Dia benar-benar sudah tidak memikirkan soal bagaimana jadinya jika seluruh sekolah tahu akan pernikahannya.
"Tidak untuk nilai terbaik. Aku ingin lulus saja dan selesai." Jawab Bella masih merasa lemah padahal sebelumnya fisiknya selalu kuat.
"Yang penting, jangan putus sekolah sayang."
Gleg...
Samuel dan Kenan tersenyum aneh, melihat kenyataan singa betina di sekolah yang menyandang gelar anti berpacaran bisa mengeluarkan suara selembut sutra. Apalagi si singa itu melakukannya di depan umum seperti sekarang. Membuat jiwa jomblo semakin meronta tidak terima.
"Sepertinya kita harus pergi." Ucap Samuel merasa sungkan.
"Iya. Sakit sekali." Jawab Kenan bergumam." Aku tidak sanggup melihatnya." Kenan beranjak lalu berjalan keluar.
"Hm pergilah, aku mau istirahat." Samuel meneguk sisa sirup.
"Sirup ku masih banyak." Sahut Sisca tidak ingin pulang. Jiwa pelakornya membuat dia tidak perduli dengan hubungan Bella dan Daniel.
"Pulang!" Samuel menarik kasar tubuh Sisca agar berdiri, di ikuti oleh Erin dan Sari.
"Kalian tetap duduk." Tunjuk Bella pada kedua sahabatnya.
"Di makan ya Bell, semoga cepat sembuh."
"Aku tidak mau pulang." Sisca meronta namun Samuel tidak melepas pergelangan tangannya.
"Iya terimakasih." Jawab bella singkat.
"Permisi Kak, Bell." Samuel menyeret paksa Sisca keluar. Sementara Erin dan Sari kembali duduk.
"Mereka memaksa ikut. Samuel mendengar saat aku mengizinkan mu pada Bu Erna." Ucap Erin lirih.
"Hm. Bawa pulang makanannya." Pinta Bella.
"Tidak Bella, ini untukmu."
"Aku masih banyak di kulkas, siapa yang makan." Sari dan Erin saling melihat lalu tersenyum menatap cake mahal dan buah segar berada di atas meja.
"Agar kamu cepat sembuh, harus makan yang banyak." Tolak Sari.
"Serius, Sar. Di kulkas banyak. Berikan itu pada adik-adik kalian."
"Wah, mereka pasti senang Sar." Bella tersenyum, memandang kedua sahabatnya yang selalu berbagi meski keduanya masih sangat kekurangan. Itu kenapa dia begitu membela kedua sahabatnya jika sedang tersandung masalah. Mereka begitu baik padanya meski hanya mampu memberikan bantuan sederhana seperti sarapan, baju bekas, tapi ketulusan hati keduanya membuat Bella merasa memiliki saudara perempuan.
"Maka dari itu bawalah."
"Terimakasih ya Bell, sering-sering saja seperti ini hehe."
"Iya Bell. Em bagaimana keadaanmu?" Tanya Sari melihat wajah Bella yang masih pucat.
"Aku masih lemas, entahlah, rasanya lemas sekali." Eluhnya merasa aneh dengan perubahan daya tahan tubuhnya.
"Mau kita belikan vitamin?" Tawar Erin merasa kasihan melihat wajah pucat Bella.
"Sudah di belikan." Jawab Bella berbohong. Dia tidak ingin menyusahkan kedua temannya lagi.
"Em ya sudah, kita permisi ya Bell. Maaf tadi."
"Hm tidak apa."
"Cepat sembuh, nanti ketinggalan pelajaran."
"Iya iya."
"Permisi Kak Daniel."
"Iya hati-hati di jalan." Erin dan Sari melangkah pergi dengan membawa bawaan yang di berikan Samuel dan Kenan.
"Mereka juga pintar seperti kamu sayang?" Tanya Daniel tersenyum, merasakan persahabatan ketiganya yang terasa dekat.
"Hmm.. Erin peringkat 4 dan Sari 2, itu kenapa mereka mendapatkan beasiswa dan bisa masuk ke sekolah favorit itu. Mereka saudaraku."
__ADS_1
"Kapan aku bisa menjalin persahabatan seperti itu."
"Sulit Kak menemukan orang yang tulus."
"Kamu benar."
"Mereka teman kecilku hingga sekarang."
"Menyenangkan sekali."
"Iya, menyenangkan sekali." Bella bersandar lemah di pundak Daniel, merasakan kantuk dan rasa lemas bercampur aduk.
"Aku sudah menyuruh Lucas membeli vitamin. Sebentar, biar ku tutup pintu." Bella melepaskan pegangannya, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Daniel yang tidak juga menutup pintu. Manik Daniel terlihat fokus menatap ke arah luar dengan senyuman yang sulit di artikan.
"Jo Jonathan." Bella melebarkan matanya, mendengar nama yang di sebutkan oleh Daniel. Rasa lemas langsung menghilang, dia berdiri cepat dan berjalan menghampiri Daniel dan melihat sebuah keluarga kecil keluar dari mobil mewahnya bersama Andra.
Apa dia Nona Nara? Cantik sekali.. Batin Bella berkecamuk. Dia merasa kagum juga cemburu, melihat wanita dewasa dengan balutan dress mewah itu begitu terlihat cantik meski tanpa riasan.
"Astaga. Aku tidak mengerti kenapa kau pindah ke tempat buruk ini!!" Umpat Joy masih juga sama seperti dulu, begitu kasar namun memiliki sisi baik di dalamnya.
"Sayang!" Protes Nara melirik malas ke arah Joy yang tengah menggendong Abel.
"Maaf, aku lepas kendali." Andra tersenyum, merasa sangat bahagia, bisa menikmati pertengkaran kecil namun manis yang ada di hadapannya.
"Mommy, itu Daniel Oppa." Ucap Abel menunjuk ke arah Daniel.
"Kak Daniel." Sapa Nara malah tertarik pada wanita kecil yang berdiri di samping Daniel." Owh,, Adikku." Nara mempercepat langkahnya dan langsung menyerbu Bella dengan pelukan hangat." Astaga, kamu cantik sekali." Bella melebarkan matanya sesaat, kemudian tersenyum merasakan kehangatan rasa tulus Nara dengan sapaannya.
"Selamat datang Joy." Daniel tersenyum hangat sementara Joy meliriknya malas. Daniel tidak perduli dan langsung memeluk Joy yang tengah menggendong Abel." Aku menghubungimu tapi kau tidak membalas emailku." Langsung saja Joy mendorong kasar tubuh Daniel karena merasa berlebihan.
"Jika ingin sukses! Jangan bersikap payah seperti yang kau tunjukkan!!"
"Itu kelemahan ku Joy. Em siapa dia?" Mencubit pipi Abel lembut.
"Dia keponakanmu Kak." Jawab Nara.
"Daniel Oppa tampan sekali." Joy menurunkan Abel sehingga membuat Daniel duduk berjongkok.
"Kamu cantik sekali. Siapa namamu."
"Aku Isabelle, panggil saja Abel."
"Wah mirip namaku. Aku Isabella." Abel mendongak, menatap ke arah Bella.
"Apa dia pacar Daniel Oppa?" Menunjuk ke arah Bella.
"Hei kamu masih kecil tapi tahu hal seperti itu." Daniel terkekeh melihat raut wajah polos yang Abel tunjukkan.
"Aku tidak mengajarkannya Kak, dia tahu dari temannya."
"Jika Daniel Oppa sudah memiliki pacar, Abel bersama Justin saja."
"Ambil dia sebagai pacarmu Abel." Sahut Bella juga merasa gemas.
"No, no, no. Abel tidak mau, kalian harus seperti Daddy dan Mommy." Daniel mengangkat tubuh Abel dan menggendongnya.
"Silakan masuk." Ucap Daniel mempersilahkan.
Nara dan Joy saling melihat, seraya menatap rumah yang terlihat tua dan buruk. Lalu pandangan Nara kembali tertarik pada istri kecil Daniel yang mampu menerima itu meski keadaan Daniel seperti yang terlihat.
"Gadis kecil yang baik." Gumam Nara tidak langsung masuk sementara Daniel dan Bella sudah lebih dulu masuk bersama Abel.
"Sulit menemukan seseorang yang tulus seperti Nona Bella." Sahut Andra menimpali.
"Bagaimana perintahku?" Tanya Joy menatap ke arah Andra.
"Sesuai rencana Tuan. Dans grup sudah berada di tangan juga surat rumah dan properti lainnya." Nara melongok mendengar itu.
"Maksudnya apa Kak Andra?"
"Tuan Joy meminta saya untuk merebut kembali Dans grup dan menghanguskan rumah milik Pak Daniel agar penghianat itu merasakan karmanya." Nara tersenyum, menatap ke arah Joy tidak percaya.
"Aku tidak seburuk kelihatannya sayang. Aku tahu diri dan bukan orang yang tidak tahu balas budi. Apalagi, orang yang ku jatuhkan hanya seorang penghianat, itu malah mempermudah semuanya."
"Apapun hanya untukmu." Tanpa rasa sungkan, Joy melahap bibir Nara seperti yang dulu mereka lakukan. Andra tersenyum, menikmatinya, dia merasa rindu melihat itu. Menjadi pelayan bagi Joy, yang tetap di anggapnya sebagai Tuan.
.
.
.
"Hampir satu bulan." Jawab Daniel pelan.
"Payah sekali. Kenapa tidak kau jebloskan saja ke penjara?"
"Aku tidak ingin terlibat masalah dengan mereka lagi. Jadi aku berencana membangun semuanya dari Nol." Joy menarik nafas panjang, dia tahu bagaimana sikap Daniel sebab keduanya cukup lama saling mengenal apalagi keadaan menyuruh mereka untuk akrab.
"Penjilat! Penghianat itu tidak layak untuk hidup. Aku tidak ingin basa basi dalam bertindak. Katakan! Apa yang ingin kau perbuat untuk orang sialan itu! Kau bunuh dengan tanganmu sendiri atau perlu aku yang melakukan? Aku sudah lama tidak melakukan itu." Ucap Joy menawarkan.
"Biarkan dia hidup. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah. Aku hanya ingin kamu membuatnya menyesal dan sadar akan kesalahannya." Andra tersenyum. Dia tahu jika Daniel akan berkata demikian dan Joy lebih dulu melangkah untuk melakukannya.
"Oh tentu saja. Berikan padanya." Andra membuka tasnya lalu mengambil map dari sana dan menyodorkannya pada Daniel." Hadiah pernikahanmu." Imbuh Joy yang kental dengan nada kasar.
Perlahan, Daniel meraih map tersebut dan hampir ingin menangis saat membukanya. Surat kuasa atas perusahaan, kembali ada di tangan Daniel lengkap dengan surat rumah dan beberapa hektar tanah.
"Terimakasih Joy. Aku tahu kamu akan mudah melakukan ini." Daniel memeluk tubuh Joy erat. Ingin rasanya Joy membalasnya namun dia terlalu angkuh untuk melakukannya.
"Singkirkan tubuhmu!! Aku tidak ingin istriku menduga macam-macam padaku." Jawab Joy seraya mendorong tubuh Daniel menjauh.
"Iya maaf. Aku sebenarnya tidak membutuhkan ini. Aku hanya perlu bantuan membuatnya jera. Aku sudah mengikhlaskannya.."
"Itu milikmu hei Daniel!" Sahut Joy ingin membuat Daniel tidak terlalu kasihan pada orang yang mungkin bisa menjadi bumerang untuk hidupnya sendiri." Kau susah payah membangunnya dan harus kau lepas begitu saja?" Imbuhnya tidak habis fikir dengan pola fikir Daniel.
"Aku hanya ingin hidup tenang.
"Kau akan mendapatkannya. Anak buahku akan terus memantau mu agar jika kau melakukan kebodohan, mereka bisa mengingatkanmu." Andra tersenyum tipis, mendengar obrolan antara lelaki berhati keras dan lembut yang baru pertama kali bertemu lagi setelah beberapa tahun berpisah.
Mereka akan jadi sahabat yang sangat kental.
"Hehe aku memang lemah dalam menyingkirkan seseorang."
"Bukan lemah Pak tapi hanya kurang ada niat." Sahut Andra menerima laporan Roy soal kejadian Daniel yang tengah memukul Marco hingga pingsan.
Sementara di kamar, Bella tengah berbincang akrab dengan Nara seraya menemani Abel bermain. Rasa cemburu Bella terpatahkan sebab ternyata Nara seorang wanita yang begitu hangat dan ramah. Dia bahkan tidak percaya jika wanita di hadapannya merupakan psikopat seperti apa yang di jelaskan Daniel tempo hari.
"Jadi kalian belum berpesta?" Tanya Nara.
"Belum Kak. Mungkin setelah lulus baru bisa."
"Aku hanya satu bulan di sini Bella."
"Mungkin hanya resepsi sederhana Kak, untuk menandai saja."
"No! Tidak! Harus pesta besar. Itu satu kali seumur hidup." Bella hanya tersenyum menjawabnya. Dia memperhatikan Nara dari atas sampai bawah berulang kali. Dia merasa kagum dengan kerendahan hati Nara yang mau duduk di tempat lusuh seperti ranjangnya dengan gaun mewahnya." Apa yang kamu fikirkan." Tanya Nara mengusap pipi Bella lembut.
"Gaunmu nanti kotor Kak."
"Asal jangan hatinya yang kotor. Kak Daniel lelaki yang baik, dia pasti akan memberikan hidup yang layak padamu sebentar lagi."
"Aku beruntung ada dia Kak. Jika mungkin Kak Daniel tidak menjadi tetanggaku, aku tidak tahu harus hidup dengan siapa."
"Aku bertemu Joy saat berada di puncak kesulitan hingga bisa hidup layak seperti sekarang. Sikapmu dewasa sekali, tidak sesuai dengan umurmu." Puji Nara ingin mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin melihat Bella bersedih atau merasa rendah dengan dirinya sendiri.
"Hehe tidak juga Kak. Em berapa umur Abel?"
"Tanya sendiri padanya." Nara meraih tubuh kecil Abel lalu memangkunya.
"Umur berapa kamu Abel?"
"Empat tahun."
"Wah. Sudah sekolah."
"Sudah. Aku anak paling nakal di sekolah." Bella terkekeh mendengar itu." Kak Bella tahu, jika sebentar lagi aku akan memiliki adik laki-laki." Mata Bella membulat seraya menatap Nara.
__ADS_1
"Benarkah Kak?"
"Jika di izinkan."
"Abel punya adik dong."
"Iya. Tapi Abel ingin adik perempuan. Abel tidak suka adik laki-laki."
"Kenapa begitu?"
"Abel tidak suka main bola dan motor, Abel lebih suka main masak-masakan agar Abel bisa memasak dan tidak seperti Mommy." Nara terkekeh mendengar itu. Dia memang jarang memasak karena masakannya tidak pernah terasa sedap.
"Abel mau Kak Bella masakkan sesuatu?"
"Apa Kak Bella pintar memasak?"
"Tidak pintar tapi bisa."
"Nanti tidak enak." Celetuk Abel yang memang cenderung mirip Joy jika sedang berbicara.
"Coba dulu. Apa makanan kesukaanmu?"
"Kami selalu membeli nasi goreng untuk sarapan. Aku menyukainya karena ada sosis dan baksonya." Jawab Abel polos.
"Kita bisa membelinya sayang."
"Tidak Kak. Biar ku masakkan."
"Kamu terlihat pucat Bella?"
"Aku habis sakit." Jawab Bella lirih dengan wajah memerah. Bayangan ketika Daniel mencumbunya langsung membuat wajahnya terasa hangat.
"Jika sakit tidak perlu."
"Aku sudah lebih baik kok. Yuk Abel." Bella berdiri, Nara menurunkan Abel sehingga Abel langsung meraih jemari kecil Bella.
"Kalau tidak enak, aku tidak mau makan Kak."
"Iya oke." Bella sempat tersenyum sejenak saat melintas di ruang tengah lalu berjalan menuju dapur.
"Aku tidak tahu jika kau seorang pedofil." Joy yang sangat hafal tentang seluk beluk wanita, sudah bisa menilai jika Bella masih sangat belia.
"Hm mungkin."
"Jangan di dengarkan Kak." Sahut Nara duduk di samping Joy." Bisakah kamu bicara sedikit baik sayang?" Protes Nara.
"Aku memang merasa aneh dengan seleraku Nona. Tapi, aku mencintainya."
"Bukankah malah mirip menjaga anak sendiri." Nara menarik nafas panjang mendengar itu.
"Tidak masalah Joy. Apa cinta bisa memilih dan melihat? Aku bahkan masih ingat bagaimana besarnya cintamu untuk Nona Nara." Joy menghembuskan nafas berat, menyadari jika cinta memang tidak memiliki mata.
"Mungkin aku lebih parah darimu. Cintaku memang sangat luar biasa untuknya." Joy merangkul pundak Nara erat dan mencium keningnya sejenak.
"Aku mulai merasakan itu."
"Bella gadis yang dewasa." Sahut Nara menimpali.
"Hm itu didikan dari almarhum Kakaknya."
Tiba-tiba aroma sedap menusuk hidung Daniel, Joy, Nara dan Andra. Keempatnya saling melihat seraya menghirup aroma masakan itu kuat-kuat.
"Ahh.. Sedap sekali. Aku langsung lapar." Nara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur." Baunya membuat perutku meronta Bella." Imbuh Nara melihat nasi goreng seraya menelan salivanya kasar.
"Itu untukku Mommy."
"Mommy minta sedikit."
"Tidak. Aku sudah request untuk menambah sosisnya."
"Ini cukup untuk dua orang Abel, tenanglah." Sahut Bella masih memasak.
"Tidak. Ini hanya untuk Abel."
"Kamu tidak akan habis sayang." Protes Nara selalu tidak ingin kalah jika menyangkut makanan.
"Abel akan habiskan." Bella mulai menuang nasi goreng di baskom dan meletakkannya di atas meja makan.
"Kenapa membuat sedikit sekali sayang?" Tanya Daniel berdiri di ambang pintu dapur.
"Nasinya hanya sedikit Kak. Em aku baru memasaknya lagi." Menunjuk ke arah penanak nasi.
"Yang lain biar pesan Bell." Nara mengambil dua piring dan mendudukan Abel di kursi sampingnya. Sementara Joy, menarik nafas panjang melihat itu. Kedua perempuannya selalu saja berebut makanan apalagi jika makanannya cocok di lidah mereka." Bagaimana sayang?" Tanya Nara meminta pendapat si pengeritik makanan yang berumur empat tahun itu.
"Woaaa sedap sekali. Abel suka." Nara menjadi tidak sabar dan melahap satu sendok penuh.
"Perutku langsung meleleh. Ini enak sekali." Bella tersenyum dan duduk untuk melihat. Daniel menghampirinya dan berdiri di belakang Bella.
"Kamu baik-baik saja Kan?" Tanyanya tentu merasa khawatir.
"Iya Kak."
"Tadi dia yang memaksa Kak bukan aku." Sahut Nara menikmati nasi goreng.
"Aku sudah lebih baik." Daniel menyeka keringat yang ada di dahi Bella seraya tersenyum. Joy yang melihat itu, turut merasa bahagia meskipun bibirnya terus saja berkata kasar pada Daniel.
"Kalian harus pindah dari sini. Sayang, apa rumah untuk Kak Daniel sudah siap?" Tanya Nara seraya mengunyah.
"Itu masalah gampang sayang."
"Aku tidak ingin pindah." Jawab Bella cepat.
"Kenapa Bella?" Tanya Nara menatap ke arah Bella.
"Meskipun rumahku sudah hangus. Aku ingin mendirikan rumah lagi di sana. Terlalu banyak kenangan Kak jadi, aku tidak ingin pindah dari sini." Nara mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Hm biar di urus suamiku."
"Tidak Nona." Sahut Daniel." Bantuan ini sudah lebih dari cukup. Bella istriku, tanggung jawabku jadi biarkan aku sendiri yang mengurus semuanya." Wajah Bella memerah mendengar itu.
"Itu kado pernikahan Kak." Jawab Nara.
"Joy sudah mengembalikan perusahaanku, itu kado paling indah yang pernah ku dapatkan."
"Benarkah?" Sahut Bella tidak percaya. Dia mendongak menatap ke arah Daniel. Tentu saja dia merasa bahagia, sebab setelah ini, dia tidak akan lagi melihat Daniel merasa terpuruk dan bersedih.
"Sudah ku katakan, jika Joy datang. Semua masalah akan selesai."
"Terimakasih Tuan Joy." Ucap Bella menatap ke arah Joy.
"Panggil aku Kak saja." Protes Joy begitu ketus meski di dalam hatinya tidak sekeras ucapannya.
"Terimakasih Kak Joy."
"Hm sama-sama. Aku hanya tidak ingin istriku selalu merengek untuk memberikan bantuan pada Suamimu itu." Nara mencubit perut Joy dengan sangat keras." Aaaagh!!! Sakit sayang." Pekik Joy kaget.
"Katakan lagi dengan kasar!!"
"Daddy benar-benar buruk." Bella malah terkekeh begitupun Daniel. Mendengar celetukan bicara Abel yang sangat mengemaskan.
"Terus saja kasar!! Jangan harap malam ini kau dapat jatah!!" Joy membulatkan matanya mendengar itu.
"Itu tidak ada hubungannya sayang." Rajuk Joy memang tidak bisa mengendalikan mulutnya.
"Jika aku bilang ada, kau bisa apa Joy." Bella memandang keduanya secara bergantian.
Aku masih tidak percaya jika Kak Nara psikopat!! Kak Daniel benar, mereka baik sekali meski Kak Joy nada bicaranya cenderung kasar.. Berikan balasan yang setimpal dengan kebaikan mereka Tuhan. Mereka telah mengangkat kesedihan suamiku..
~Riane
Sesuai request, ceritanya aku lanjutkan dengan konflik yang ringan saja.. Semoga tidak bosan😩 biar akunya semangat buat nulis..
Sebenarnya aku sudah punya pandangan buat cerita baru tapi sudah tidak ada hubungannya dengan mereka. Tapi, ya sudah, aku panjangin dikit ceritanya.. Biar tingkat kehaluan nya semakin cetar🤣🤣
Terimakasih dukungannya 🥰
__ADS_1