
Detak jantung yang semakin berpacu hebat, membuat Bella cepat-cepat mengangkat kepalanya dan mendorong tubuh Daniel agar menjauhinya.
"Jangan dekat-dekat!!" Protes Bella memperingatkan. Dia tidak ingin lagi tergoda hingga membuatnya kehilangan ketidakwarasannya.
"Bagaimana mungkin." Daniel menggeser tubuhnya dan kembali mendekap tubuh Bella.
"Lepaskan Kak! Aku akan berteriak!!" Daniel malah terkekeh.
"Teriak saja agar semua orang tahu jika kamu istriku." Jawab Daniel santai.
"Aku akan gila jika terus berdekatan seperti ini." Bella masih berusaha melepaskan diri tapi tentu saja tidak bisa. Meskipun dia adalah penyandang sabuk hitam. Tapi, di lihat dari segi postur tubuh, Bella akan kalah dengan penguncian tubuh yang di lakukan Daniel sekarang.
"Jika kamu menggila biar aku yang mengendalikannya." Goda Daniel masih tidak ingin melepaskan kunciannya.
Gerakan Bella melambat, dia merasa tidak berguna dan memilih pasrah seraya mengatur nafasnya. Seluruh tenaga sudah Bella kerahkan tapi tidak membuat pertahanan Daniel goyah.
"Aku lelah Kak, punggungku rasanya gatal karena berkeringat." Eluh Bella pelan.
"Maka dari itu jangan melawan."
"Anggap saja tadi tidak terjadi." Daniel tersenyum dan perlahan merenggangkan kunciannya.
"Itu wajar, aku juga merasakannya." Dengan santainya Daniel berkata itu. Padahal adegan tadi sempat membuat Bella lupa diri.
Mungkin karena aku kurang berisi seperti wanita dewasa lain, jadi dia tidak berselera denganku..
"Mungkin aku terlalu kecil sementara Kak Daniel terlalu besar." Lagi lagi Daniel terkekeh mendengar jawaban konyol dari Bella. Itu sangat menghibur, sehingga beban berat yang ada di pundaknya tidak lagi terasa.
"Apa maksud dari terlalu kecil dan terlalu besar?" Bella menelan salivanya kasar seraya tersenyum aneh. Pikirannya mulai melayang entah kemana dan membayangkan sesuatu yang lain ketika pertanyaan itu di lontarkan Daniel.
"Maksudku tubuhnya Kak hehe."
"Lalu bagaimana?"
"Em tubuhku kan terlalu kecil jadi Kak Daniel tidak berselera."
"Bukankah sudah ku bilang jika aku ingin.." Sahut Daniel menyelah.
"Kak Daniel tidak terlihat ingin."
"Jika di perlihatkan, siapa yang akan mengendalikan mu ketika menggila." Daniel mengecup dahi Bella sejenak lalu menelungkup wajahnya agar Bella melihat ke arahnya." Ketertarikan dan rasa sayang, tidak perlu di buktikan dengan sentuhan fisik seperti tadi sayang. Semuanya ada pada hati kita, tersimpan di sana sangat rapi. Aku sangat tertarik padamu, ingin menyentuhmu seperti yang kamu rasakan." Bella menarik nafas panjang dan mengerti maksud dari pembicaraan Daniel.
"Maaf Kak, aku janji tidak akan seperti tadi, aku masih ingin lulus paling tidak lulus SMA." Jawab Bella pelan.
"Jangan berhenti dan berkata maaf. Aku suka saat kamu memintanya padaku hehe. Ingin rasanya aku melakukannya sekarang tapi, rasa sayangku lebih besar dari sekedar itu." Bella tersenyum dan semakin kagum dengan sikap lelaki dewasa yang kini tengah mendekapnya.
"Apa itu alasan, kenapa Kak Bastian tidak memperbolehkanku berpacaran?"
"Hm mungkin iya. Sudah ku katakan jika berpacaran banyak sisi negatifnya. Ya sudah, sekarang tidur, ini sudah malam." Bella membalas pelukan Daniel dan merasa satu langkah lebih dekat.
Sikap lembut dan dewasa yang Daniel tunjukkan sungguh membuatnya begitu nyaman.
Aku sangat beruntung Tuhan. Dia lebih baik daripada Kak Bastian. Dia lebih dewasa dari lelaki manapun..
"Selamat malam Kak." Bella mencium pipi kanan Daniel sebentar kemudian memejamkan mata dan berusaha untuk tidur.
"Selamat malam juga sayang, jika belum tidur jangan memejamkan mata agar aku tahu." Bella membuka matanya dan tersenyum.
"Aku berusaha untuk tidur."
"Lihat aku saja. Agar aku bisa memastikan jika kamu benar-benar tidur."
"Iya.." Jawab Bella menatap dada Daniel yang tepat berada di hadapannya.
Keduanya terdiam, menikmati irama detak jantung yang berpacu cepat.
"Berapa banyak siswa yang menyukaimu di sekolah?" Tanya Daniel tiba-tiba.
"Tidak tahu."
"Kamu pasti populer karena kamu pintar."
"Tidak tahu." Daniel tersenyum mendengar itu.
"Kenapa tidak tahu?"
"Apa itu penting? Aku tidak pernah memikirkannya."
"Bukankah jadi populer itu menyenangkan?"
"Ish Kak Daniel!" Protes Bella mendongakkan kepalanya membalas tatapan manik Daniel." Bagaimana bisa aku tidur jika Kak Daniel terus bicara?" Kedua mata Daniel kembali menyipit sebab kini dia kembali tertawa.
"Iya maaf sayang. Rasanya aneh jika berdiam jadi aku mengajakmu bicara. Astaga lucu sekali, aku menyanyangi mu." Daniel mencium kening Bella sedikit lama lalu menenggelamkan wajah Bella pada dada bidangnya. Tangan kanannya mengusap lembut punggung Bella dengan nyanyian lirih yang keluar dari bibirnya.
Selayaknya seorang Ayah yang menidurkan putrinya, Daniel bersenandung lirih hingga terdengar dengkuran halus dari Bella. Daniel menunduk untuk memastikan dan benar, Bella sudah menutup matanya dengan bibir setengah terbuka.
Daniel mengusap bibir Bella lembut lalu memberikannya kecupan beberapa kali. Setelah itu, Daniel kembali menegakkan kepalanya, memandangi langit-langit rumah dan ikut memejamkan mata.
.
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya...
Seperti hari sebelumnya, Bella telat bangun sehingga Erin dan Sari meninggalkannya sementara dia di antarkan Daniel ke sekolah. Bella kembali sarapan di dalam mobil dengan sajian sederhana yang di sediakan Daniel.
"Maaf Kak. Aku buruk sekali." Eluh Bella sambil mengunyah makanannya.
"Buruk apa?"
"Bangun siang. Seumur hidup aku tidak pernah bangun pagi."
"Aku tidak mempermasalahkan itu jika memang kamu tidak bersekolah."
"Iya Kak. Dulu Mama sering mengomel ketika membangunkan aku."
"Jika kita niat, pasti bisa bangun." Bella membulatkan matanya seraya menatap Daniel.
"Aku sudah niat tapi tidak bisa jika bukan karena kemauanku sendiri."
"Niatnya harus sungguh-sungguh."
"Bagaimana cara membedakan niat dengan sungguh-sungguh dan tidak sungguh-sungguh?" Daniel terkekeh begitupun Bella." Sulit Kak. Perasaan aku selalu berniat dengan sungguh-sungguh tapi tetap saja tidak bisa bangun pagi." Imbuh Bella menimpali.
"Aku niat bangun pagi agar bisa memasakkan suamiku tersayang. Mungkin begitu caranya." Gelak tawa Bella semakin renyah mendengar jawaban Daniel. Aku dapat hiburan untuk memulai hari..
"Kak Daniel nih.."
"Aku serius. Cobalah niat seperti itu." Daniel menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah.
"Iya nanti ku coba." Bella memiringkan tubuhnya untuk mengambil tas di belakang lalu mengalungkannya." Aku pergi Kak." Tangannya meraih jemari Daniel dan mencium punggung tangannya tanpa melihat ke arah Daniel.
"Kamu lupa sesuatu." Ucap Daniel tidak melepaskan pegangan tangan Bella.
"Aku takut lupa diri Kak." Jawab Bella tahu dengan maksud Daniel.
"Biar aku yang mengingatkan. Beri aku semangat." Imbuh Daniel menunjuk pipinya.
"Hm oke. Harus semangat." Tidak ingin banyak bicara, Bella langsung mencium pipi Daniel dan kembali duduk tegak.
"Tentu saja bersemangat." Daniel melepaskan tangan Bella dan beralih menelungkup wajahnya untuk memberikan banyak ciuman pada wajahnya dan berakhir pada ciuman singkat pada bibir." Ingat untuk tidak nakal." Tutur Daniel lembut.
"Iya. Bye Kak." Bella membuka pintu dan langsung menutupnya sementara Daniel baru melajukan mobilnya ketika Bella sudah benar-benar masuk.
Bella mempercepat langkah sebab ingin segera sampai di kelas. Namun langkah terhalang dua siswa jurusan IPS yang terkenal nakal. Sebelumnya Bella tidak pernah terlibat dengan mereka, sehingga Bella hanya mengerutkan keningnya menatap siswa yang memiliki tubuh besar tersebut.
"Ada apa?" Tanya Bella ketus.
"Mengenal?"
"Iya menjadi teman?"
"Tidak. Minggir, aku mau lewat." Bella akan melanjutkan langkahnya namun kembali di hadang.
"Sombong sekali sih!"
"Memang?! Terus kenapa jika sombong?" Tanya Bella sama sekali tidak merasa takut. Dia malah menatap tajam manik siswa bertubuh besar itu." Kau punya masalah denganku?" Imbuhnya merasa aneh dengan kehadiran siswa tersebut.
"Aku hanya mau mengenalmu itu saja. Apa salah?"
"Salah!!" Jawab Bella cepat tapi tidak membuat mereka pergi." Kenapa tidak pergi, bukankah aku sudah menjawabnya?" Jawab Bella semakin ketus sebab emosinya tersulut.
"Kau tahu kan aku siapa!!"
"Tahu!!" Ketiganya menjadi sorotan meski tidak berani mendekat sebab siswa yang berurusan dengan Bella terkenal sangat badung dan nakal." Aku tidak takut dengan siswa seperti dirimu." Bella menyentuh pundak si siswa dengan telunjuknya." Minggir! Biarkan aku lewat!!" Imbuh Bella lantang.
"Biarkan dia lewat." Sahut Fransisca tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang. Bella membalikkan badan dan semakin muak melihat wajah Sisca.
"Apa itu orang suruhan mu!!"
"Kenapa kamu berkata begitu sih Bell, aku berusaha menolong mu." Jawab Sisca dengan suara di buat-buat.
"Astaga drama lagi! Mirip di film Korea. Sebaiknya kau urus ini dan jangan pernah menyuruh mereka mengangguku lagi!!" Bella menarik kasar pergelangan Sisca dan mengiringinya ke depan siswa bertubuh besar itu sementara dia langsung pergi begitu saja.
Elena yang melihat itu sempat tersenyum. Dia tahu jika akan berakhir seperti ini. Bella tidak mudah di tindas atau di bodohi seperti siswa yang lain. Sehingga kegagalan demi kegagalan selalu Sisca dapatkan seperti sekarang.
"Bodoh!! Akting kalian kurang matang!!" Umpat Sisca kesal.
"Bagaimana jika Bella ku bully saja."
"Percuma, Bella itu kuat. Mana mungkin mempan di bully. Kau ingat waktu dia di guyur air kubangan. Tidak ada yang tahu hal itu kerena Bella pintar melarikan diri." Sahut Elena menimpali.
"Lalu bagaimana?" Tatap Sisca tajam bersamaan dengan bunyi bell sekolah.
"Kita masuk. Fikirkan nanti." Sisca mendengus sementara Elena menertawakannya dalam hati.
***********
Fanny yang baru saja datang ke ruangan Marco, langsung terkesima melihat penampilan baru Marco sekarang. Rambutnya di rapikan, dengan baju formal namun terlihat santai. Itu membuat Marco terlihat lebih muda daripada umurnya yang sudah menginjak 25 tahun.
__ADS_1
"Astaga tampan sekali." Fanny memeluk Marco, namun dengan kasar Marco mendorong tubuh Fanny.
"Kau masih saja berani datang setelah kemarin aku mengusirmu!!" Umpat Marco merasa kesal dengan kejadian kemarin malam. Fanny sengaja mencampurkan obat perangsang hanya karena ingin menyentuhnya, sementara Marco sendiri sudah kehilangan selera terhadap Fanny, apalagi setelah pertemuannya dengan Bella kemarin malam.
"Kau berdandan untuk siapa jika bukan untukku?" Umpat Fanny kesal dengan sikap Marco yang sudah mirip Daniel.
"Bukan urusanmu!"
"Apa kau memiliki wanita lain Marco!!" Teriak Fanny geram. Dia merasa Marco tidak tahu diri setelah dia membantunya untuk bisa berada di posisinya sekarang.
"Tidak!"
"Lalu kenapa sikapmu berubah?"
"Kau tidak sadar?! Kau sendiri yang membuat aku berubah!!"
"Aku?" Fanny tertawa renyah seraya duduk tepat di hadapan Marco." Apa karena aku boros dan kau keberatan!! Apa itu maksudmu?" Imbuh Fanny merasakan perubahan Marco saat dia kerapkali meminta uang dan uang untuk berbelanja.
"Ya! Kau hanya bisa meminta uang dan tidak memakai otakmu itu. Sebaiknya kita putus! Aku akan memberikan bagian harta untukmu." Fanny melebarkan matanya mendengar itu. Dia tidak akan setuju sebab dia bukan hanya berniat menguasai harta Marco, tapi dia juga ingin membuat Marco menyesal sudah mengabaikannya.
"Perusahaan cabang mana yang akan kamu berikan?"
"Tidak untuk perusahaan! Aku akan memberikanmu bagian sepuluh milyar."
"Tidak! Itu sedikit sekali!!"
"Terima atau tidak, itu yang akan ku berikan."
"Oke. Aku akan menyebarkan video kita kemarin. Bukankah kau tahu jika sebagian relasi Daniel mengenalku sebagai pacarnya? Jika mereka tahu video itu? Apa yang akan terjadi? Aku yakin kau akan kehilangan relasi terpenting mu!" Fanny berdiri sementara Marco menatapnya tajam.
Dasar wanita siluman!!
"Fikirkan Marco. Harta ini itu milik kita berdua jadi kau jangan serakah!! Jika kau memutuskan aku, aku akan menghancurkan sesuatu yang sudah kau raih agar kita sama-sama hancur! Aku beri waktu sampai besok. Tetap bersamaku atau hahahaha..." Fanny berjalan melenggang keluar. Meninggalkan Marco yang sudah kebakaran jengot karena ancaman tersebut.
Enak saja! Selama aku belum mendapatkan kuasa penuh, kau tidak boleh pergi dariku Marco hahahaha..
"Dasar siluman!! Aku baru sadar jika dia selicik itu!! Sebaiknya aku menemui Bella dulu" Gumam Marco seraya berdiri.
Marco berniat bertemu dengan Bella secara langsung. Dia ingin mendapatkan hati Bella dulu agar rencana selanjutnya bisa berjalan lancar. Bella tidak tahu, jika beasiswa yang Bella dapatkan berasal dari perusahaan Daniel yang sudah di kuasai Marco. Sehingga Marco bisa dengan mudah mendapatkan izin untuk datang ke sekolah dan berdalih ingin mengadakan kunjungan dari pusat.
Bella sendiri tengah makan di kantin bersama Erin dan Sari. Selera makannya tiba-tiba menghilang ketika melihat Sisca duduk di hadapannya bersama Elena.
"Boleh gabung?" Erin, Sari dan Bella saling melihat karena merasa aneh dengan kedatangan Sisca." Tidak ada tempat kosong." Imbuh Sisca saat melihat sorot mata Bella yang tajam.
"Apa yang ingin kau incar?" Tanya Bella dengan gamblang. Dia hafal dengan kelakuan Sisca.
"Tidak ada Bella, kenapa bertanya itu?"
"Dapat laporan apa dari cecungukmu?" Imbuh Bella lagi. Sisca menarik nafas panjang mendengar itu.
"Aku dengar kau bersama Kakakmu datang ke sini lusa kemarin." Bella tersenyum tipis mendengar itu.
"Dia pacarku, bukan Kakakku."
"Jangan berbohong. Kalian tinggal serumah Kan."
Pasti Kenan yang berkata ini!! Tebak Bella dalam hati.
"Hm ya. Meskipun Kakak, aku tidak ingat memiliki ipar selicik dirimu." Erin dan Sari tersenyum tipis seraya terus fokus makan.
"Astaga Bella, kok begitu sih? Namanya manusia kan pernah salah." Jawab Sisca berusaha merajuk.
"Aku baru tahu jika kau manusia, ku fikir siluman." Sisca mendengus kesal mendengar itu.
"Bella." Suara Samuel memecah perdebatan kecil sehingga membuat Bella menoleh." Pak kepsek memanggilmu." Imbuhnya memandangi raut wajah Bella sekarang.
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu. Dia hanya menyuruhku itu."
"Hm ya. Terimakasih ya."
"Sama-sama." Bella berdiri di ikuti oleh Erin dan Sari." Hanya Bella." Imbuh Samuel mengingatkan.
"Kita ke kelas saja hehe." Jawab Erin tentu tidak ingin bersama Fanny yang sering membully nya.
"Hm ayo." Bella merangkul kedua temannya dan berjalan bersama.
"Rencana apa yang akan kamu buat Sisca?" Ucap Samuel tersenyum miring.
"Tidak ada rencana."
"Aku mengenalmu dengan baik tapi ya sudah, lakukan. Itu bukan urusanku." Samuel tersenyum lalu beranjak pergi.
"Aku tidak akan menyerah!" Elena kembali memasang wajah tidak suka. Melihat kenyataan jika Sisca belum ingin menyerah.
~Riane
Kalau nggak sibuk, aku usahain update dua kali sehari😄
Tapi kalau sibuk, aku harap kalian sabar menanti🥰😍😍
__ADS_1
I love you all, terimakasih dukungannya 🥰
Salam sayang Riane 🥰