Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 44


__ADS_3

"Setahu saya dia mengincar Nona Bella Tuan." Bella kaget mendengar tebakan yang di lontarkan Lucas.


"Mengincar apa Kak?" Sahut Bella cepat.


"Tuan Marco sudah menawarkan perkerjaan untuk Nona sejak kematian Pak Bastian."


"Apa itu bisa di sebut mengincar?" Jawab Bella tidak sependapat sebab dia tidak tahu bagaimana busuknya Marco.


"Itu ancaman sayang." Daniel meraih jemari Bella dan menggenggamnya erat." Dia ingin mencari pengganti Bastian tapi rasanya dia juga ingin mengambil hatimu." Imbuh Daniel memasang wajah khawatir. Lucas menarik nafas panjang dan merasa kasihan dengan Daniel.


"Kak Daniel bilang apa sih." Daniel hanya tersenyum menjawab pertanyaan Bella.


"Saya akan bantu mencari tahu Tuan."


"Kamu fokus saja pada perusahaan." Cegah Daniel." Biar ini jadi urusanku." Daniel merasa terlalu merepotkan Lucas sehingga dia menolak bantuan tersebut.


"Hm baiklah Tuan. Saya permisi, ini sudah malam." Lucas meminum sisa tehnya lalu berdiri dan pergi.


"Sebentar. Aku tutup pintunya." Daniel mencium punggung tangan Bella sejenak kemudian melangkah ke arah pintu untuk menutupnya. Tidak lupa, Daniel memeriksa jendela lalu kembali duduk setelah memastikan semuanya sudah terkunci." Sudah mengantuk?" Tanya Daniel mengulurkan tangannya. Bella menyambutnya dan berdiri.


"Belum Kak, masih jam setengah delapan."


"Hm kita menonton televisi setengah jam. Lalu tidur." Keduanya duduk berjajar di sofa dan menyalakan televisi dengan fikiran mengambang.


"Kenapa masalahnya terasa begitu berat ya Kak?" Tanya Bella pelan.


"Tidak perlu ikut memikirkannya sayang. Aku hanya berpesan padamu untuk menjauhi Marco meski dia ingin mendekatimu di lingkungan sekolah."


"Aku sudah melakukan itu."


"Dia tidak akan berhenti, apalagi setelah tahu kamu bersamaku sekarang." Daniel kembali menggenggam jemari Bella erat.


Jika mungkin aku memiliki uang banyak. Akan ku suruh beberapa orang untuk menjaganya.. Tarikan nafas berat berhembus mengiringi ketakutan akan kehilangan Bella, istrinya. Aku tidak sedang menyerah Tuhan. Tapi aku tidak punya daya untuk melawan. Aku serahkan semuanya padamu, dengan segala upaya yang bisa ku lakukan nanti untuk bisa selalu bersamanya..


"Aku bukan anak kecil Kak. Aku bisa menjaga diri, jadi jangan terlalu khawatir."


"Dia boleh mengambil semuanya tapi tidak untuk kamu. Aku sudah berjanji pada Bastian untuk menjagamu. Akan ku lakukan hingga titik darah terakhir." Bella menoleh cepat, dia tidak setuju dengan ucapan Daniel.


"Jangan bicara begitu. Tidak akan ada pertumpahan darah lagi." Setelah kematian yang merenggut Bastian. Bella sangat takut kehilangan Daniel yang bisa saja meninggalkannya tiba-tiba seperti yang di lakukan Bastian.


"Itu hanya kiasan sayang."


"Meskipun kiasan. Aku tidak suka mendengar Kak Daniel berkata itu."


"Iya maaf." Aku benar-benar akan melakukan itu sayang. Jika dia ingin mengambilmu, maka langkahi dulu mayatku.


"Aku takut Kak Daniel pergi dengan tiba-tiba seperti Kak Bas. Apa orang akan meninggal itu ada rasanya Kak?" Tanya Bella tiba-tiba saja merasa penasaran.


"Apa maksud pertanyaanmu sayang?"


"Kenapa Kak Bastian sudah menyiapkan surat wasiat dan tabungan sebanyak itu."


"Dia hanya ingin berjaga-jaga saja sayang."


"Meskipun tahu sakit jantung, bukankah manusia tidak mengetahui kapan akan meninggal?" Daniel mengeluarkan sesuatu dari laci meja dan memberikannya pada Bella.


Bella membaca hasil pemeriksaan Bastian yang sempat tertinggal. Dengan membaca surat itu, Bella menjadi tahu jika kemungkinan kakaknya hidup itu hanyalah satu persen.


"Aku tidak pernah tahu soal ini. Dia begitu rapi menyembunyikan semuanya." Mata Bella mulai berkaca-kaca sehingga Daniel langsung mengambil surat itu lalu menyimpannya.


"Rasanya Kakakmu memang menunggu seseorang yang tepat agar dia bisa pergi dengan tenang." Daniel merangkul pundak Bella lalu mengiring kepalanya untuk bersandar di dadanya." Aku sempat kaget saat dia memintaku untuk menjagamu. Dia begitu yakin padaku padahal kita baru bertatap muka beberapa hari saja." Bella merasa beruntung karena pilihan kakaknya sangat tepat.


"Katanya Kak Daniel baik."


"Bastian bilang begitu?"


"Iya. Dia sering berkata itu padaku. Itu aneh, tapi aku tidak bisa menolak. Sekalipun aku tidak pernah menolak perintahnya meski aku melakukannya dengan hati kesal." Bella tersenyum dengan sudut mata berair." Aku tidak bisa bebas seperti teman-teman yang lain. Kemanapun harus laporan, interogasi bahkan meminta bukti. Dulu aku menganggap itu gila dan keterlaluan tapi sekarang... Aku paham maksud Kak Bastian menerapkan peraturan yang begitu ketat dan menyebalkan." Daniel mengambil tisu lalu mengangkat dagu Bella untuk membersihkan sedikit air mata yang keluar.


"Bukankah aku pernah bilang jika itu demi kebaikanmu."


"Iya aku sadar jika itu baik." Bella menarik nafas begitu panjang." Apa jadinya jika aku bebas bergaul. Bukankah itu membahayakan Kak." Adegan ciuman manis yang di lakukan tadi sore kembali melintas dan membuat Bella sadar, jika ternyata dirinya sangat mudah terbuai dengan sentuhan fisik seperti itu.


"Kamu selalu lupa diri hanya dengan berciuman."


"Aku baru merasakannya."


"Begitupun aku." Bella mengangkat kepalanya dan duduk tegak.


"Ah Kak Daniel bercanda, bukankah Kak Daniel memiliki pacar sebelumnya?"


"Iya memang." Daniel mengangkat tangan kanannya dan mengusap pipi Bella lembut seraya memainkan anak rambutnya.


"Ketahuan berbohong ya."

__ADS_1


"Tidak sayang. Aku tidak pernah melakukan itu bersamanya."


"Kenapa?"


"Tidak berselera dan aku tidak membenarkan pacaran dengan sentuhan fisik kecuali gaya pacaran seperti kita hehe." Bella tidak bisa menerima jawaban itu. Sikap Daniel begitu tenang saat berciuman seolah dia sudah biasa melakukan itu dan dapat mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Aku tidak percaya."


"Ayo katakan. Kenapa tidak percaya." Daniel tersenyum dengan mata sipitnya.


"Ekspresi Kak Daniel terlalu biasa saja ketika melakukan ciuman. Itu berarti Kak Daniel sering melakukan itu."


"Hm aku buktikan." Tanpa aba-aba, Daniel menindih tubuh Bella di sofa yang berukuran kecil itu.


Bella terpekik kaget namun tidak sanggup berbuat apapun karena gerakan Daniel yang begitu cepat.


"Kak lepaskan." Tangan Bella terkunci dengan jemari besar Daniel


"Katamu ingin bukti, aku buktikan dengan senang hati sayang."


Daniel melahap habis bibir Bella dengan sedikit kasar dan deru nafas memburu. Dia hanya berhenti sesekali untuk memberikan ruang bagi Bella agar bisa bernafas tanpa sanggup berbicara.


Hanya sebentar tangan Bella berusaha memberontak, sebab Daniel sudah sanggup menguasai permainannya dan membuat tangan Bella melemah bahkan menggalung lembut di lehernya.


Rasanya sungguh luar biasa, aku suka ekspresi Kak Daniel yang seperti ini...


Ciuman terus berlanjut hingga lenguhan terdengar keluar dari bibir Bella saat Daniel sengaja mengusap pahanya. Menggoda Bella dengan sentuhan tangannya tanpa melepaskan permainan bibirnya.


"Hhhhpppmmmttt.. Ti tidak Kak." Ucap Bella ketika merasakan sesuatu yang aneh terasa mendorong ingin keluar pada bagian bawah tubuhnya.


"Kenapa tidak? Bukankah kamu tidak percaya padaku?" Usapan tangan Daniel semakin ke atas hingga dress Bella tersingkap sementara bibirnya kini mulai turun seiring dengan kalungan tangan Bella yang semakin erat.


"Kak ada yang aneh." Daniel tersenyum dalam hati melihat ekspresi wajah konyol Bella sekarang.


"Ahh sayang... Belum saatnya kita begini." Daniel berhenti begitu saja. Dia melepaskan kalungan tangan Bella lalu duduk tegak." Maaf." Daniel menutup dress Bella yang tersingkap lalu membantu Bella duduk.


"Ada yang mau keluar dan rasanya sungguh aneh." Daniel terkekeh dan paham dengan apa maksud Bella.


"Lupakan itu."


"Bagaimana bisa di lupakan. Kenapa Kak Daniel lebih parah dariku." Tanya Bella masih merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh bagian bawah.


"Itu yang ingin ku lakukan denganmu tapi aku berusaha menahannya." Wajah Daniel berubah tenang saat menatap wajah polos Bella.


"Bagaimana mungkin Kak Daniel bisa menahan itu?"


"Hm iya." Bella mencengkram pergelangan Daniel erat sebab merasa aneh dengan miliknya yang terasa mengeluarkan cairan." Sekarang antar aku ke belakang. Rasanya ada yang terjadi di bawah sana." Tidak perlu meminta dua kali, Daniel berdiri dan segera mengantarkan Bella ke kamar mandi untuk membersihkan miliknya yang pasti sudah basah.


*************


"Aku sudah memikirkan ini matang-matang Yah." Ucap Kenan tegas. Dia memutuskan untuk berhenti sekolah agar bisa fokus mengurus perkerjaan dan Bella.


Kenan begitu gila hingga harus memutuskan itu. Dia ingin terlihat dewasa di mata Bella yang hingga sekarang hanya menganggapnya anak ingusan.


"Ini sudah kelas tiga Ken. Sayang sekali jika berhenti. Kalau memang kamu tidak ingin kuliah, Ayah tidak melarang, tapi paling tidak kamu lulus SMA dulu."


"Tidak Yah. Aku malas."


"Bilang pada Ayah. Kenapa kamu tiba-tiba ingin berhenti sekolah."


"Aku menyukai seorang gadis dan dia membenci anak SMA." Ayah Kenan menarik nafas panjang mendengar alasan sepele itu.


"Tidak baik begitu Ken. Jika memang dia tidak suka, jangan di paksa. Cari gadis lain."


"Aku hanya mau dia. Titik. Dia tidak munafik seperti gadis lain. Dia tipeku Yah, aku tidak mau kehilangan dia."


"Ahh terserah saja." Ayah Kenan berdiri dan mengiyakan saja permintaan Kenan yang memang keras kepala." Ayah harap suatu saat kamu menyesal dan bisa bersekolah lagi. Ayah istirahat dulu." Kenan tersenyum penuh semangat. Menatap keluar jendela dan mulai merencanakan mengubah penampilannya besok.


Aku akan menjerat hatimu dengan pesonaku Bella hehe..


************


Sisca dan Elena tiba di depan rumah Bella pukul sembilan malam. Elena sengaja berpura-pura lupa lokasi rumah Bella karena tidak ingin Sisca menemui Daniel.


Rasa suka yang semakin membesar, membuat Elena ingin egois dan berjuang untuk dirinya sendiri daripada harus menuruti apapun kemauan Sisca yang gila.


"Ini sangat dekat dengan sekolah! Kenapa kau mengajakku berputar-putar?" Umpat Sisca membetulkan make-up yang sudah luntur.


"Bukankah sudah ku katakan jika aku lupa." Jawab Elena ketus.


"Makeup ku jadi luntur karena kau!"


Ish! Itu makeup apa tepung terigu sih? Kenapa Sisca wajahnya malah terlihat mengerikan...

__ADS_1


Elena melirik malas, seraya terus mengumpat dalam hati. Dia tidak pernah merasakan perasaan sebesar ini pada seseorang. Biasanya elena selalu mengalah pada Sisca jika memang dia menyukai seseorang yang di sukai. Tapi kali ini, Elena seolah tidak rela jika Daniel di rebut oleh Sisca.


"Aku pulang ya." Sisca mencegah Elena dengan menarik pergelangan tangannya.


"Kok pergi. Antar aku masuk."


"Ini sudah malam Sisca. Pintunya juga sudah tertutup, aku tidak mau menganggu."


"Kita coba ketuk pintunya, mungkin saja belum tidur."


"Aku tidak mau. Aku mau pulang, ini sudah malam. Jika kau ingin ke sana silahkan. Aku takut terlambat sekolah besok pagi. Bye." Elena melepaskan pegangan tangan Sisca lalu berjalan menuju gang seraya memesan taksi.


Sisca kesal namun keinginannya sudah menggebu-gebu sehingga dia memutuskan untuk tetap melangkah.


Apa benar ini rumahnya?


Rumah tua Daniel semakin terlihat menyeramkan ketika malam hari. Sisca sedikit bergidik ngeri meski saat ini dia sudah berdiri di depan pagar berkarat depan rumah.


"Apa Elena menggerjaiku, seram sekali ya rumahnya tapi itu mobilnya Kak Daniel." Tangan kanannya terulur dan akan membuka pintu pagar namun sebuah tepukan lembut membuat Sisca menoleh." Aaaaaaaaaaaaaaa hantu......" Teriak Sisca lari terbirit-birit.


"Aduh malah takut..." Gumam Pak Imran tetangga Bella seraya menurunkan sarung yang di pakainya menutupi kepalanya.


Jeritan itu sontak membuat Daniel dan Bella keluar rumah untuk memeriksa.


"Ada apa ya Pak?" Tanya Daniel berjalan menghampiri Pak Imran.


"Tadi ada seorang gadis, sepertinya mau bertamu. Mungkin takut sama Bapak jadi dia lari sambil teriak. Maaf ya Pak Daniel, jadi menganggu padahal niat saya baik loh." Daniel dan Bella saling melihat kemudian tersenyum.


"Tidak apa-apa Pak, saya pikir ada maling."


"Kalau masalah maling, kompleks sini aman kok Pak Daniel. Saya sering ronda sendiri kalau malam-malam begini. Oh iya, tadi siang ada lelaki datang ke rumah, saya juga dapat cerita dari Pak Ahmad. Dia mencari Pak Daniel tapi saat di tanya Pak Ahmad keperluannya. Dia bilang hanya mampir."


Marco ...


Langsung saja fikiran Daniel tertuju pada nama itu. Belum ada yang tahu soal rumah Daniel kecuali teman-teman Bella dan Lucas.


Jika mungkin tadi teman Bella, pasti Pak Ahmad tidak akan berkata seorang lelaki..


"Kok malah melamun Pak, silahkan di lanjut istirahatnya."


"Iya Pak ini tadi sudah mau tidur."


"Untuk nak Bella, jangan terpengaruh gosip tetangga ya. Biarkan saja mereka bilang soal nak Bella macam-macam. Yang penting nak Bella dan Pak Daniel tidak berbuat macam-macam. Bapak akan tutup mulut sampai Nak Bella bilang sendiri soal pernikahan itu." Pak Imran berkata demikian karena mendapatkan laporan dari istrinya tentang gosip terpanas soal Bella.


"Iya Pak saya tidak apa-apa kok. Itu sudah resikonya."


"Syukurlah jika nak Bella baik-baik saja. Nyonya takut kalau nak Bella terganggu."


"Hehe tidak Pak. Terimakasih ya Pak."


"Iya Nak sama-sama."


"Mari Pak." Daniel tersenyum sejenak kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


"Pengantin kecil, sudah pasti jadi gosip terpanas. Ibu-ibu itu juga kenapa suka mengurus hidup orang lain. Suka bicara asal-asalan tanpa tahu kenyataannya. Dasar Ibu-ibu kurang kerjaan." Gumam Pak Imran melanjutkan ronda malamnya.


"Kita tidur sayang.." Daniel mematikan televisi dan baru sadar jika sudah pukul sembilan malam. Karena keasyikan mengobrol, mereka jadi lupa waktu jika tidak mendengar jeritan dari Sisca tadi.


"Kira-kira siapa ya Kak."


"Aku tidak tahu sayang. Apa Erin atau Sari?"


"Bukan Kak, Pak Imran kenal mereka kok."


"Tidak perlu di fikirkan." Daniel menutup pintu kamar dan menguncinya.


Bella melirik Daniel yang kembali mengambil krim untuk punggungnya yang katanya harus di habiskan.


"Aku sudah sembuh Kak." Protes Bella.


"Tinggal malam ini sayang. Kata dokter bisa untuk pencegahan." Bella mengangguk-angguk pelan kemudian duduk di pinggiran tempat tidur di ikuti oleh Daniel." Cepat buka." Pinta Daniel lembut.


Bella menoleh dan melihat Daniel masih membuka matanya.


"Tutup mata dulu Kak."


"Tidak sayang, aku tidak mau menutup mata lagi." Bella memasang wajah panik seraya memutar tubuhnya ke arah Daniel.


"Kok gitu sih Kak."


"Bukankah tadi pagi aku sudah melihatnya? Jadi untuk apa menutup mata?"


~Riane

__ADS_1


Kalau gag sibuk aku update dua kali ya🤭Kalau sibuk maaf cuma bisa satu kali..


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2