
Tok..Tok..Tok...
"Masuk." Ucap kepala sekolah mempersilahkan.
Gagang pintu bergerak lalu pintu terbuka dan memperlihatkan Bella keluar dari balik pintu.
"Permisi Pak." Bella tersenyum seraya mengangguk melihat sebentar ke arah Marco yang duduk di sebelah kepala sekolah.
Dari dekat lebih cantik. Puji Marco dalam hati.
"Duduk dulu Bella."
"Hm, baik Pak." Bella duduk di sofa terpisah." Apa ada masalah Pak?" Tanya Bella ingin tahu keperluan kepala sekolah memanggilnya.
"Tidak ada Bella. Donatur sekolah kita hanya ingin bertemu siswi penerima beasiswa."
"Oh?" Bella melihat sekitar, dia merasa aneh sebab bukan hanya dirinya saja yang menerima beasiswa, tapi kenapa hanya dia yang di panggil." Hanya saya Pak?" Tanya Bella memegang dadanya sendiri.
"Iya karena kau yang sering menerima penghargaan. Kenalkan ini Pak Marco, pemilik Dans grup. Perusahaan yang sudah memberikan banyak bantuan pada siswa berprestasi."
Bella membulatkan matanya, menatap ke arah Marco. Nama yang di sebut Daniel tadi malam.
Marco? Bella menatap tajam Marco dari atas sampai bawah. Itu membuat Marco berfikir jika Bella tertarik padanya.
"Aku sudah tahu bagaimana luar biasanya prestasimu." Ucap Marco mengulurkan tangannya. Bella terpaksa menyambutnya sebentar lalu melepaskannya cepat.
"Hm iya Pak, itu saya lakukan untuk sekolah ini."
"Bagus sekali."
"Pak Marco ingin menawarkan pekerjaan di perusahaannya setelah kamu lulus. Bagaimana Bella?" Sahut si kepala sekolah.
"Saya tidak berniat berkerja Pak, saya akan menikah setelah lulus." Jawab Bella tegas.
"Tapi Bella. Beasiswa akan di cabut jika kamu tidak mau menjadi bagian dari perusahaannya itu."
"Atau kamu ingin kuliah?" Tanya Marco menimpali.
"Tidak Pak. Em jika memang itu aturannya. Silahkan cabut beasiswa saya." Entahlah.. Aku merasa ikut kesal dan ingin menghantam wajah lelaki ini!!
"Sayang sekali jika kepintaranmu berhenti begitu saja." Gumam Marco pelan. Bella yang merasa geram, tidak merespon ucapan itu.
"Saya pergi jika tidak ada keperluan lain. Permisi." Bella berdiri lalu melangkah keluar tanpa peduli jika nantinya kepala sekolah menyebutnya tidak sopan.
"Mungkin ingin merekrut siswi yang lain?" Tawar kepala sekolah.
"Tidak. Saya mau dia." Marco berdiri." Saya akan merajuknya." Marco berjalan mengikuti Bella.
"Aneh-aneh saja. Ujian saja belum berlangsung sudah mau merekrut karyawan untuk perusahaannya." Kepala sekolah juga merasa aneh mendengar permintaan Marco meski wajib di lakukan.
"Bella tunggu." Bella menoleh lalu melanjutkan berjalan sehingga Marco harus mempercepat langkahnya." Tunggu dulu." Ucap Marco saat sudah berjalan di samping Bella.
"Ada apa Pak? Jika ingin mencabut beasiswa, cabut saja. Saya tidak suka terikat dengan perjanjian." Jawab Bella terus berjalan.
"Aku tidak akan mencabutnya meskipun kamu tidak mau berkerja di sana."
"Ya sudah, lakukan Pak. Kenapa mengikuti saya?" Protes Bella ketus.
"Panggil aku Kak, aku belum menikah." Bella berhenti dan menatap tajam Marco.
"Astaga.. Tidak sopan sekali." Marco malah terkekeh mendengar itu. Dia merasa gadis di hadapannya begitu lucu dan menggemaskan." Bukankah anda orang penting? Kenapa berkata demikian dengan siswa SMA seperti saya? Maksud anda apa berkata pada saya jika anda belum menikah?" Imbuh Bella begitu muak melihat wajah Marco.
"Kamu tidak takut berkata dengan orang yang berpengaruh sepertiku?"
"Tidak! Cabut saja. Awas! Jangan mengikuti saya." Bella menunjuk Marco dari jauh sebelum akhirnya berjalan pergi.
"Sifatnya berbanding terbalik dengan Fanny. Dia pintar juga tidak murahan, sementara Fanny? Astaga.. Bagaimana caranya aku bisa terlepas dari wanita siluman itu." Marco beranjak pergi setelah Bella menghilang dari pandangannya. Dia kembali ke ruangan kepala sekolah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
"Jadi beasiswa Bella di cabut Pak?" Tanya kepala sekolah ingin tahu. Dia merasa kasihan jika itu terjadi karena Bella adalah siswa yang teladan.
"Tidak Pak. Saya hanya bercanda saja. Dia tidak perlu membayar SPP untuk bulan depan hingga lulus." Marco mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu nama." Ini kartu nama saya. Jika ada keperluan menyangkut apapun tentang Bella, segera hubungi saya. Terimakasih atas sambutannya, saya permisi." Marco menjabat tangan kepala sekolah lalu pergi.
"Bella benar-benar anak emas. Dia malah tidak harus membayar SPP dan mendapatkan fasilitas lain." Gumam kepala sekolah menarik laci dan menyimpan kartu nama Marco di sana.
Sekolah Bella termasuk sekolahan elite sehingga SPP untuk satu bulannya begitu besar. Sejak SMA kelas satu, Bella sudah mendapatkan beasiswa tersebut dan hanya membayar SPP 50 persen. 50 persen lainnya di tanggung oleh perusahaan Dans grup. Daniel memang tidak tahu menahu soal itu, sebab pengajuan proposal di terima oleh Marco. Sehingga sampai saat ini pun Daniel tidak tahu, jika Marco bisa saja datang seperti tadi ke sekolah untuk berusaha merebut Bella.
************
Daniel tersenyum, melihat usaha kecilnya sudah mulai berjalan. Dari ruangannya, dia melihat para pekerja sudah bisa memproduksi barang meski dalam jumlah kecil.
"Bagaimana dengan nama produknya Tuan?" Tanya Lucas." Agar saya bisa memesan lebelnya." Imbuhnya ikut merasa senang.
"Isabella, Isabella.." Gumam Daniel masih memikirkan label untuk produknya." Pakai saja nama BELL'S." Imbuh Daniel sudah memutuskan.
"Tolong tulis untuk pengerjaannya Tuan, agar saya tidak salah nanti." Daniel mengambil bulpen dan menulis kata BELL'S di kertas tersebut." Jika pembungkus sudah jadi, saya bisa segera pasarkan produknya." Lucas mengambil kertas tersebut dan menyimpannya ke dalam map.
"Aku berharap produk kita laku keras."
"Saya akan memasarkannya semaksimal mungkin." Daniel tersenyum begitupun Lucas. Keduanya kembali menatap jendela ruangan seraya menatap para pekerja.
**************
Sepanjang pelajaran, Bella menjadi tidak fokus setelah pertemuannya dengan Marco tadi. Rasanya ada yang aneh dari sikap Marco hingga harus berucap perkataan yang tidak pantas.
Meskipun hasil merebut, kenapa dia harus mengejar ku seperti tadi lalu berkata jika dia masih singel! Apa maksud dari semua itu!!
Teeeeeeettttt...
__ADS_1
Bel pelajaran usai pun berbunyi, Bella membereskan buku dan alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia sempat melirik ke arah bangku Kenan yang kosong, sebelum akhirnya pergi untuk menghampiri Erin dan Sari.
"Tadi kenapa di panggil Bell?" Tanya Erin ingin tahu.
"Tidak ada. Hanya masalah buku." Bella merasa jika kejadian tadi sangat tidak penting sehingga kedua sahabatnya tidak harus tahu. Aku juga akan merahasiakan ini dari Kak Daniel. Aku tidak ingin dia merasa khawatir nanti..
"Hai Bella, barengan yuk ke depan." Sapa Sisca tiba-tiba saja muncul.
"Kau lagi!" Elena hanya mampu diam seraya menatap sinis ke Sisca.
"Kenalkan aku dengan Kakakmu." Pinta Sisca ketika melihat Daniel sudah menunggu Bella di samping mobilnya.
"Bukankah kau semakin terlihat tidak waras."
"Kamu akan banyak keuntungan jika bisa menjadi Adik ipar ku." Erin terkekeh karena tidak sanggup lagi menahan tawanya begitupun Sari." Dasar cupu!" Gumam Sisca mengumpat.
"Hei, mereka temanku!" Protes Bella tidak terima.
"Mereka menertawakan ku."
"Kau memang konyol! Mana mungkin aku mau memiliki saudara seperti dirimu!" Sisca melirik postur tubuh Daniel yang sempurna.
"Ayolah Bella.."
"Kak ada yang mau berkenalan denganmu dan ingin menjadikanmu pacarmu." Ucap Bella ketika baru saja sampai.
"Jangan bicara omong kosong." Daniel membuka pintu mobil untuk Bella. Sementara Sari dan Erin langsung masuk ke jog belakang." Masuk. Menunggu apa?" Imbuh Daniel meraih ujung jemari Bella.
"Aku serius. Mereka ingin mengenalmu." Menunjuk ke arah Sisca dan Elena.
"Aku tidak." Jawab Daniel cepat. Bella menjulurkan lidahnya ke arah Sisca dan masuk. Sisca merasa tidak sabar dan langsung menghampiri Daniel ketika dia sudah menutup pintu mobilnya.
"Kak. Aku menyukaimu."
"Aku tidak suka wanita." Daniel tersenyum simpul dan melewati Sisca begitu saja.
"Ti tidak suka wanita?" Gumam Sisca melihat mobil Daniel sudah melaju pergi.
"Maksudnya dia gay?" Sahut Elena.
"Dia pasti berbohong."
"Jika benar bagaimana? Bukankah sia-sia? Sebaiknya kau cari target lain." Tujuan Elena berkata demikian agar Sisca mau mundur sehingga dia bisa maju. Elena tidak percaya dengan kenyataan yang di lontarkan Daniel tadi, sehingga dia masih berharap bisa mengenal Daniel setelah Sisca mundur.
Sementara di mobil, Daniel tidak bergeming dan hanya menatap Bella berulang kali. Bella yang merasa aneh, lebih memilih diam begitupun Erin dan Sari.
"Terimakasih Kak."
"Ya sama-sama." Erin dan Sari segera turun dan seperti biasa, Daniel melajukan mobilnya masuk ke pekarangan rumah.
Daniel mematikan mesin, memiringkan tubuhnya dan menatap fokus ke arah Bella yang merasa salah tingkah. Beberapa saat seperti itu, Bella merasa sangat aneh dan memutuskan untuk membalas tatapan manik Daniel sekarang.
"Kamu tidak sakit melakukan tadi?" Tanya Daniel dengan wajah datar namun suaranya terdengar lembut.
"Melakukan apa?"
"Apa kamu mau aku berkenalan dengan temanmu tadi lalu menjadikannya pacarnya? Katakan?" Bella tertunduk mendengar itu. Dia baru menyadari jika Daniel tersinggung dengan ucapannya tadi.
"Tidak Kak."
"Lalu sayang?"
"Kak Daniel marah?"
"Mana mungkin aku bisa marah padamu."
"Lalu sekarang?" Bella menoleh dan kembali membalas tatapan manik Daniel padanya.
"Kamu milikku dan begitulah sebaliknya."
"Iya maaf."
"Maaf tidak di terima." Sahut Daniel cepat.
"Terus.." Daniel mendekatkan wajahnya.
"Cium baru di terima."
"Akal-akalan Kak Daniel ya." Jawab Bella melirik malas.
"Aku menunggu." Daniel memejamkan mata seraya menunjuk bibir. Bella yang mulai terbiasa, mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya di sana.
Daniel membalasnya dengan lembut, sehingga Bella kembali terbawa suasana dan membiarkan bibir Daniel bermain sebentar di sana.
"Maaf sudah di terima." Daniel duduk tegak di ikuti Bella.
"Iya Kak."
"Lain kali jangan menawarkan aku dengan wanita lain sayang. Jika aku berniat, aku sudah melakukannya jauh sebelum kita bertemu. Okay sayang. Bisa di pahami?"
"Hm paham." Daniel tersenyum lalu keduanya pun turun.
"Bagaimana di sekolah tadi?"
"Seperti biasa." Jawab Bella tidak menceritakan pertemuannya dengan Marco." Kak Daniel sendiri?" Tanya Bella balik.
"Semua berjalan baik. Jika labelnya selesai, akan segera di pasarkan."
__ADS_1
"Wahhh bisa beli ayam dong." Daniel terkekeh seraya membuka pintu.
"Jika hanya membeli ayam, kita beli sekarang. Tidak perlu menunggu produk terjual."
"Cucianku banyak Kak."
"Biar ku cuci."
"Ada itu.. Jadi jangan." Cegah Bella merasa malu jika Daniel mencuci bra dan celananya.
"Ya sudah, ganti bajumu." Daniel menutup pintu kamar lalu duduk memunggungi Bella seraya menatap laptop.
"Kamu sudah makan siang Kak?" Bella menanggalkan baju seragamnya lalu menggantinya dengan dress rumahan.
"Belum. Aku ingin kita makan bersama."
"Ini sudah sangat siang Kak." Bella berdiri di samping Daniel setelah menggantung bajunya.
Daniel menggeser kursinya, kepalanya sedikit mendongak menatap Bella yang terlihat cantik dengan dress rumahan yang di pakainya.
"Kita pesan saja untuk makan siang. Bagaimana?" Tawar Daniel merasa kasihan pada Bella jika harus memasak
"Ada bahan segar di kulkas. Biar ku buatkan sesuatu. Ayo Kak." Bella meraih pergelangan tangan Daniel dan menggiringnya ke dapur.
"Sebaiknya kita pesan saja sayang, nanti malam kita beli ayam krispi setelah kamu beristirahat sebentar. Pulang sekolah pasti melelahkan." Protes Daniel seraya duduk di kursi makan, melihat Bella yang mulai membuka kulkas untuk mengambil bahan.
Ini lebih hemat Kak...
"Kak Bastian selalu menyuruhku jadi aku sudah terbiasa." Daniel beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di samping Bella.
"Oke. Biar ku bantu."
"Cuci ini." Bella menggeser baskom yang berisi beberapa potong ikan.
"Siap sayang." Daniel menyalakan keran dan mencuci ikan dengan air mengalir.
"Makanan kesukaan Kak Daniel apa?"
"Aku suka makanan berbumbu yang pedas tapi sekarang sudah berbeda selera." Bella menoleh dengan wajah bertanya.
"Lalu sekarang?"
"Aku suka semua masakanmu." Daniel meletakan baskom seraya memperlihatkan senyum khasnya." Apapun yang akan kamu sajikan pasti aku makan." Bella beralih menatap bumbu yang sudah di kupas sebab wajahnya sudah terasa panas.
"Apa jadinya jika masakanku tidak enak."
"Tetap ku makan. Apalagi yang bisa ku bantu sayang?"
"Kak Daniel duduk saja." Jawab Bella mulai salah tingkah. Jantungnya tentu kembali berkerja keras dengan perkataan yang di ucapkan Daniel padanya. Tutur kata yang lembut membelai telinga di tambah dengan tatapan manik yang hangat membuat Bella terkadang lupa diri hingga memperlihatkan kebodohannya seperti kemarin malam.
"Aku tunggu di sini, mungkin kamu butuh bantuan ku." Daniel membalikkan badan, lalu menempelkan sedikit bokongnya ke samping tempat pencucian. Tatapannya fokus ke arah tangan kecil Bella yang sudah sangat lihai dalam meracik bumbu.
"Em Kak, aku baru mengingat sesuatu."
"Apa katakan?"
"Mungkin bulan ini aku sudah tidak dapat beasiswa. Jadi, SPP nya harus membayar penuh." Daniel mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Hm lalu? Apa masalahnya?"
"Itu mahal." Jawab Bella pelan. Ada sesal kenapa dia berkata seperti itu tadi di sekolah. Namun, dia juga tidak ingin terikat perjanjian yang mengharuskannya berkerja di perusahaan milik Marco, orang yang paling di benci Daniel.
"Tidak apa. Kamu tidak perlu ikut memikirkannya."
Aku merasa beruntung ada Kak Daniel. Tapi, bagaimana dengan Kak Daniel sendiri? Rasanya aku hanya menambah beban saja..
"Apa sudah mendapatkan kartunya?"
"Belum. Aku hanya berbicara ini agar Kak Daniel tidak kaget."
"Sudah ku bilang itu tanggung jawabku."
Oh Tuhan... Dia pasti ikut memikirkan itu.. Batin Daniel bergejolak, membaca raut wajah Bella yang memperlihatkan kecemasan. Dia kembali merasa payah, meski tidak bisa di tunjukkan ke hadapan Bella.
Daniel beranjak, lalu berdiri di belakang Bella. Mengalungkan tangan kanannya ke leher Bella lembut seraya mengecup sebentar puncak kepalanya.
"Ini terakhir ku ucapkan padamu sayang. Semua kebutuhanmu itu tanggung jawabku. Kamu tidak perlu ikut memikirkannya apalagi merasa sungkan untuk meminta sesuatu. Jika mampu akan ku berikan. Jika tidak, aku minta kamu sedikit bersabar. Jika kamu terus bersikap seperti sekarang, rasanya aku belum membuatmu nyaman bersamaku."
"Aku nyaman kok." Sahut Bella cepat.
"Kenapa merasa canggung mengatakan itu." Bella terdiam sebab membenarkan itu.
"Iya lain kali tidak. Singkirkan tanganmu. Bagaimana aku bisa memasak jika begini." Protes Bella yang hatinya mulai meledak.
"Sudah." Daniel menurunkan tangannya namun tetap pada posisi yang sama. Kedua tangannya bahkan berada di samping Bella dengan kepala tertunduk.
"Sudah apa?"
"Sudah ku turunkan." Jawab Daniel tersenyum.
"Aku serius Kak."
"Aku juga." Daniel mengecup pundak Bella berulang-ulang sehingga membuat kewarasan Bella kembali di obrak-abrik.
Meskipun masih terhalang baju, tapi perlakuan Daniel sekarang membuatnya mematung dengan tarikan nafas berat.
Aku tidak boleh lupa diri dan berkata sesuatu yang memalukan seperti kemarin..
__ADS_1
~Riane