
Bella mendorong dada Daniel lembut dengan wajah memerah. Dia langsung berdiri karena merasa sangat malu setelah ciuman yang mereka lakukan di tempat umum.
"Kita bisa terkena undang-undang pornografi Kak." Umpat Bella lirih. Tubuhnya terasa sedikit menegang karena sorotan mata sekitar.
"Jika tidak ingin begitu, jangan marah denganku lagi. Kita makan atau..."
"Kita pulang!" Bella menarik lengan Daniel cepat dan menggiringnya ke mobil." Bagaimana mungkin Kak Daniel bisa makan setelah melakukan tadi." Umpat Bella bergumam.
Bella tidak habis pikir dengan lelaki dewasa di hadapannya. Seharusnya, bukankah dia tahu, jika apa yang di lakukannya tadi sangatlah ekstrim dan gila.
"Itu syah saja, kita suami istri." Mata Bella membulat, merasa heran dengan sifat tenang Daniel yang di perlihatkan.
"Tapi tidak di tempat umum juga Kak." Bibir mungilnya berprotes dan itu sudah biasa terdengar, hingga senyuman tipis membingkai menghiasi bibir Daniel.
"Aku tidak mengerti harus bagaimana lagi sayang. Jika berciuman, bukankah hatimu menjadi tenang?" Bella melirik malas ke arah Daniel yang mulai melajukan mobilnya.
Raut wajahnya terlihat binggung. Bella tidak sanggup menerima alasan yang kerapkali di lontarkan Daniel.
"Kak Daniel semakin gila saja."
"Hanya denganmu. Aku tidak selera terhadap wanita manapun. Aku suka gadis kecil seperti mu. Kadang-kadang aku juga merasa aneh. Apa aku seorang pedofil hehe."
Kepalanya kembali menoleh cepat. Menatap wajah tampan itu dari samping. Yang mulai mewarnai hari-hari nya meski terkadang warnanya terlalu terang seperti sekarang.
"Menjijikkan sekali jika memang kamu pedofil Kak." Gelak tawa kembali terdengar dan membuat kedua bola mata Daniel menghilang.
"Asal kamu tidak menyebutku menyukai wanita itu. Aku tidak masalah jika di sebut menjijikkan." Tidak ada gunanya bergeming. Bella mulai hafal dengan jawaban santai dari Daniel." Jangan kesal lagi padaku, aku takut Ayah marah." Tarikan nafas berat berhembus, Bella tidak kuasa menolak jika itu menyangkut orang tua.
"Iya.." Bella memunggungi Daniel. Menatap keluar jendela, seraya memikirkan kekhawatirannya yang tidak beralasan. Sesekali dia menunduk, melihat ke arah dadanya yang tidak seberapa besar.
Entah apa tujuannya. Meskipun aku hanya di jadikan pelampiasan! Yang pasti Kak Daniel sekarang adalah suamiku..
Tiba-tiba saja, wajah Bella berubah menegang, saat merasakan cairan keluar dari miliknya yang ada di bawah sana. Dia melupakan sesuatu yang akan datang setiap bulannya.
Gawat! Ini tanggal berapa? Aku melupakan itu!!
"Kak.." Panggilnya lirih kembali menatap Daniel, dengan bibir terbuka lalu tertutup. Rasanya sungguh berat, melontarkan kejadian yang di rasa memalukan.
"Hmm.." Bella duduk tegak seraya menatap Daniel dengan wajah gelisah." Ada apa katakan?" Imbuh Daniel sesekali menoleh.
Ahh tidak! Keluar lagi. Jika begini akan tembus ke celana.. Bella merapatkan kedua kakinya tanpa menjawab pertanyaan Daniel. Ingin sekali dia bungkam namun cairan itu tidak bisa di ajak kompromi.
"Sayang.." Daniel merasa khawatir dengan mimik wajah yang di perlihatkan Bella. Dia berfikir jika Bella masih marah padanya sehingga dia terpaksa memanggilnya dengan suara lembut.
"Itu Kak anu... Berhenti di mini market." Keringat dingin mulai keluar, rasa malu yang berlebihan, membuat Bella tertunduk pasrah.
Meski berbagai pertanyaan bersarang di hati, Daniel tetap melakukan perintah dari gadis kecil di sampingnya.
Mobilnya terparkir lembut di depan mini market dan mulai menatap penuh tanya pada Bella yang duduk menegang.
"Ingin membeli sesuatu?" Tanya Daniel ingin tahu.
"Sebentar. Kak Daniel jangan melihat ke sini dulu."
"Oke.." Tanpa banyak bertanya, tubuhnya di putar cepat, agar dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Tangan kirinya turun, lalu mengusap celana bawahnya yang memang sudah basah akibat noda darah.
"Ahh tembus.." Gumamnya pelan seraya kembali mengangkat tangannya.
"Apa yang terjadi sayang?" Tanya Daniel masih pada posisi yang sama." Apa aku boleh melihat?" Imbuhnya mulai merasa khawatir.
Bella yang tidak fokus, malah melihat ke arah kasir mini market yang kebetulan seorang lelaki. Dengan terpaksa Daniel memutar tubuhnya untuk memeriksa tanpa menunggu persetujuan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Daniel mengulang.
Bella tidak bergeming, ingin sekali dia berjalan keluar untuk membeli sesuatu yang di butuhkan nya sendiri, tapi celananya pasti sangat kotor.
"Itu Kak.." Cairan keluar untuk kesekian kali. Keringat semakin membanjiri wajah, dan akhirnya Bella harus menekan rasa malunya." Belikan tisu dan pem pembalut." Imbuhnya pelan. Sangat pelan namun telinga Daniel bisa mendengarnya dengan jelas.
"Pembalut? Apa kamu..."
"Iya. Celanaku sudah kotor, jika aku membeli sendiri, ini akan memalukan." Bella tertunduk, seraya menelan rasa malunya bulat-bulat.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Daniel melepas sabuk pengaman." Apa nama merk nya sayang." Imbuh Daniel bertanya tanpa banyak berkomentar.
"Terserah Kak. Asal pembalut." Maaf."
"Hehe tidak apa. Sebentar." Tanpa ragu, Daniel keluar mobil dan masuk ke dalam mini market. Dia langsung menuju kasir untuk bertanya tanpa rasa malu." Saya mau membeli pembalut tapi tidak tahu letakkan." Ucapnya ramah.
"Lorong nomer dua Kak, dekat tisu."
"Oh begitu. Em apa ada pegawai wanita sekarang?"
"Untuk apa Kak."
"Untuk membantu saya memilihnya."
"Ada kok. Sebentar." Pegawai lelaki itu masuk ke ruangan dan kembali bersama pegawai wanita.
"Ada yang bisa saya bantu Kak."
"Saya mau membeli pembalut untuk istri saya."
"Oh begitu. Mari Kak." Pegawai wanita itu berjalan di ikuti oleh Daniel." Memangnya istrinya kemana Kak?" Tanya si pegawai ramah.
"Di mobil. Celananya kotor jadi dia tidak bisa ke sini."
"Em ini semua pembalut Kak." Menunjuk ke rak yang penuh dengan pembalut.
"Banyak sekali."
"Saya rekomendasikan yang ini." Pegawai itu membawa sebuah pembalut.
"Ya sudah. Saya ambil yang itu sekalian dengan tisunya."
"Hmm.." Pegawai itu mengambil tisu lalu kembali berjalan." Jika perjalanannya masih jauh, di sini ada toilet Kak. Mungkin saja mau berganti celana?" Tawar si pegawai ramah.
__ADS_1
"Ini sudah dekat. Hanya saja, tidak ada stok pembalut di rumah."
"Em begitu." Pegawai itu meletakkan pembalut pada meja kasir." Permisi Kak, di tunggu dulu ya." Ucapnya berlalu pergi.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Daniel segera masuk mobil dan meletakkannya pada paha Bella. Dia kembali menyetir dengan senyuman yang selalu di perlihatkan.
"Coba cek." Pinta Daniel takut salah.
"Tidak perlu di cek Kak. Ayo pulang.." Rengek Bella merasa risih dengan keadaan yang di bawah.
"Iya.." Daniel mulai melajukan mobilnya menuju rumah yang jaraknya dekat dari sana.
Sepuluh menit kemudian, mobil Daniel sudah terparkir. Dia segara turun di ikuti oleh Bella.
Sweater yang di pakai di lepas, lalu di lilitkan pada pinggang kecil Bella saat dia tahu mobil Lucas terparkir di samping mobilnya.
Bella hanya diam dan pasrah. Dia memang membutuhkan itu untuk menutup noda pada celananya.
Tanpa aba-aba, Daniel mengangkat tubuhnya untuk memudahkannya menuju kamar mandi.
"Aku bisa Kak.." Bella tidak sepenuhnya menolak, membuat ucapannya lirih terdengar.
"Agar cepat sayang."
Kepalanya di sembunyikan pada leher Daniel, dengan senyum dan rasa berdebar yang sulit berhenti.
"Ada Ayah, aku malu." Bisiknya mengeratkan kalungan tangannya.
"Ayah pasti masih tidur."
"Tidur apa? Pintunya saja terbuka." Daniel terkekeh lagi. Dia tidak perduli dengan celotehan Bella dan berjalan masuk.
"Apa yang terjadi?" Tanya Pak Salim tentu merasa panik.
Bella mengeratkan kalungannya hingga bibirnya menyentuh leher kanan Daniel. Dia ingin menyembunyikan wajahnya dan berpura-pura tidur untuk menekan rasa malunya.
"Kak cepat! Ish! Nanti saja di jawab! Aku takut menetes." Bisik Bella membelai telinga.
Daniel merasakan sensasi luar biasa dari sentuhan bibir Bella yang kembali menempel pada area sensitifnya. Hasratnya langsung menjalar meski dia mampu menahan semuanya dengan sangat sempurna.
"Tidak ada Yah. Dia hanya sedang ingin di manja." Jawab Daniel asal. Bella mendengus meski dia tidak mampu berceloteh.
Kak Daniel kenapa bicara begitu sih!!! Kan semakin malu jadinya!!
"Aku ke dalam dulu." Daniel melanjutkan langkahnya sementara Pak Salim kembali duduk.
" Ini lebih membahagiakan dari apapun." Gumam Pak Salim.
"Itu kenapa aku tidak mau tinggal di sini. Aku takut menganggu kebersamaan mereka." Jawab Lucas juga turut merasa senang.
Dia tahu Tuannya sulit untuk jatuh cinta. Dengan paras yang sempurna, tentunya seharusnya Daniel sangat mudah mencari pasangan. Tapi nyatanya, dia bertahan dengan kesendiriannya hingga berpuluh-puluh tahu lamanya.
Penolakan selalu Daniel lontarkan. Dia tidak perduli dengan umpatan para wanita yang menyebutnya tidak normal. Mereka merasa aneh dengan sikap kaku Daniel yang di tunjukkan. Tidak dingin namun terasa keras.
Bujuk rayu dan pujian tidak membuatnya melunak, hingga Daniel menjadi terkenal di kalangan wanita kelas atas sebagai lelaki tidak normal.
*************
"Biasa .. Belanja, dan terjebak macet." Fanny duduk lemah dan melirik ke arah Jim. Tampan sih! Tapi lebih tampan Daniel!! Ahh kenapa sih aku harus menyukainya lagi!!
Pertemuan dengan Daniel hari ini, membuat hatinya kembali menggelora, menggebu-gebu, seperti saat awal pertemuannya.
"Aku tidak melihat barang belanjaan di tanganmu sayang." Fanny melirik malas seraya menatap tajam Jim. Dia membandingkan wajah Jim yang tidak ada apa-apanya dengan paras tampan Daniel.
"Berarti tidak ada yang cocok jadi aku tidak berbelanja." Jawab Fanny kasar. Dia muak dan merasa cemburu dengan Bella. Fanny merasa jika seharusnya dia yang ada di samping Daniel, bukan gadis lain.
"Kenapa sih? Ada yang membuatmu kesal?" Jim membalas tatapan manik Fanny dengan tajam.
"Aku lelah. Aku akan pulang saja, aku ke sini hanya untuk mengambil power bank."
Tarikan kasar tangan Daniel menghentikan langkah Fanny yang akan beranjak pergi. Dia merasa tidak berselera dan ingin pulang untuk menenangkan perasaannya. Matanya melirik malas ke arah power bank yang berhasil di rebut Jim.
"Aku menunggumu sejak tadi, tapi kenapa kamu malah akan pergi?"
"Sudah ku katakan aku lelah!" Fanny kembali merebut power bank dari tangan Jim.
Perangai buruk Fanny sudah terlihat, dia akan bersikap kasar seperti sekarang jika sudah tidak berselera dengan pasangannya. Dia mudah bosan, mudah jenuh sehingga rasanya dia bukan tipe seorang wanita yang akan puas dengan satu nama.
Braaaakkkkk!!!
Jim dengan kasar menutup kembali kamar apartemen. Dia menarik pergelangan Fanny lalu menggiringnya dan menghempasnya di atas tempat tidur.
"Kau mau mempermainkan aku Fanny?" Ucap Jim geram. Matanya menyala dengan mimik wajah yang tidak pernah Fanny lihat sebelumnya.
"Mempermainkan apa? Aku mau pulang!" Fanny tidak merasa takut dengan kemarahan Jim. Dia mengira jika Jim hanya berusaha untuk marah dan bertujuan menakutinya.
Plaaaaaakkkkkk!!!.
Tamparan keras mendarat pada pipi Fanny hingga membuat tubuhnya terhempas lagi. Belum sempat Fanny mendongak, Jim dengan kasar melucuti dress yang di pakainya. Dia menindih tubuh kecil itu, menghimpitnya hingga Fanny sulit untuk bergerak.
"Jangan pernah meninggikan suara seperti itu padaku!!" Jim memasang wajah garang dan mulai mencumbu tubuh Fanny kasar.
"Lepaskan!! Sial!!!" Umpat Fanny sama sekali tidak di dengarkan oleh Jim.
"Kau milikku Fanny! Kau sudah menarik perhatianku, itu berarti kau adalah milikku."
Fanny tidak tahu, jika Jim memiliki gangguan mental ketika dia sudah menyukai seseorang. Sudah banyak korban berjatuhan akibat kegilaannya. Bukan hanya akan melukai, sebab semua wanita yang menjadi korbannya tidak di ketahui keberadaannya sampai sekarang.
"Jangan Jim.." Teriak Fanny menendang-nendang tubuh Jim yang akan berusaha menggagahinya.
Bugh!!!!
Jim semakin geram dan memukul bagian wajah Fanny hingga tidak sadarkan diri. Dia turun dari ranjang, tersenyum mengerikan, menatap wajah polos itu dengan luka lebam di wajah.
"Bukankah kita punya mimpi indah sayang. Kau bilang menyukaiku kan? Kau juga berkerja sama untuk merebut harta dari Marco? Lalu kenapa kamu jadi melawan seperti sekarang? Sehingga aku harus melumpuhkan mu dengan cara menyakitkan." Jim terkekeh lalu berjongkok dan menggeser sebuah peti yang terletak di bawa tempat tidur.
Jim membuka peti itu lalu mengambil tali dan lakban. Dia mengikat Fanny di atas ranjang dengan posisi terlentang tanpa mengenakannya baju terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jika kamu menurut, aku akan melepaskan mu sayang. Jika tidak, mungkin kau harus ku hilangkan dari dunia ini." Gumam Jim seraya mengikat." Aku tidak ingin kamu di miliki siapapun kecuali aku jadi akan lebih baik jika kamu musnah dari dunia ini daripada tidak dapat ku miliki." Setelah lakban terpasang, dia duduk santai di sofa seraya menikmati satu batang rokok di tangannya.
*************
Bella keluar dengan handuk kimono dan sebuah ember di tangannya. Dia tidak ingin noda darahnya membekas sehingga dia langsung mencucinya.
Daniel yang sejak tadi menunggu, langsung menyerbunya dengan berdiri di hadapannya.
"Biar aku yang jemur, kamu ganti baju saja." Ucap Daniel dengan cepat merebut ember dari tangan Bella.
"Tidak Kak, biar aku." Sahut Bella pelan. Dia tidak ingin Pak Salim mendengar perdebatan manis mereka.
"Cepat ganti baju sayang. Ada Lucas di depan, aku tidak ingin dia melihatmu dengan keadaan mu sekarang." Jawab Daniel menelan salivanya kasar. Menatap sendu Bella dengan rambut setengah basahnya, setelah sentuhan bibir yang terasa menempel hingga sekarang.
"Aku akan cepat menjemur itu."
"Hm baik." Daniel meletakkan ember lalu melenggang keluar. Meskipun sudah terbiasa, Bella masih takut jika harus ke belakang sendiri untuk menjemur baju. Apalagi sekarang sudah petang, sementara di belakang minim penerangan.
"Kak.." Bella menahan kepergian Daniel dengan genggaman kedua tangan kecilnya.
"Katanya mau di jemur sendiri."
"Maksudku tanganku yang melakukan, bukan sendirian pergi ke sana." Eluh Bella pelan." Antarkan aku." Imbuhnya memohon.
"Biar aku saja." Daniel masih bersih kukuh agar Bella cepat mengganti bajunya.
"Tapi di sini ada..." Daniel meraih kembali ember lalu berjalan ke belakang melewati Bella.
"Aku akan marah jika kamu tidak berganti baju sekarang." Ucap Daniel terdengar cukup jelas untuk Bella.
"Bukankah sudah ku katakan jika aku masih malu kalau dia menyentuh baju dalam ku." Umpat Bella bergumam. Tidak ada lagi yang bisa di lakukan selain cepat-cepat mengganti bajunya agar Daniel tidak marah padanya.
Rasa ketergantungan dan kecanduan mulai menjalar cepat. Bella terbuai dengan sikap lembut dan manis Daniel yang selalu di perlihatkan. Itu membuatnya begitu takut kehilangan, meski nyatanya Daniel adalah Suaminya.
"Ada apa Nak Bell?" Sahut Pak Salim. Entah sejak kapan Pak Salim berdiri di sana.
"Tidak ada Yah.. Em itu, biasa... Aku akan berganti baju." Bella mengangguk sebentar kemudian berjalan keluar dapur. Sementara Pak Salim terus berjalan untuk mencari keberadaan Daniel.
"Ayah langsung kembali malam ini." Ucap Pak Salim berjalan mendekat saat Daniel baru saja selesai menjemur.
"Bukannya besok Yah?" Jawab Daniel seraya membawa ember kosongnya.
"Ayah lupa jika besok akan ada penyuluhan untuk para petani."
"Apa tidak lelah nanti di jalan?"
"Bagaimana lagi Nak. Ayah tidak ingin melewatkannya untuk menambah pengetahuan juga." Daniel mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Biar di antar Lucas. Jika nanti terlalu malam untuk kembali, biarkan Lucas tidur di sana."
"Lalu gudangnya?"
"Aku akan mampir ke gudang, sebelum mengantarkan Bella sekolah." Pak Salim melirik baju Bella yang tergantung di belakang.
Apa karena hal itu Bella mengumpat? Batin Pak Salim bertanya-tanya.
"Jangan sering menggodanya." Ucap Pak Salim mulai berjalan di ikuti oleh Daniel.
"Aku mendapatkan hiburan dari sana Yah. Rasanya menyenangkan saat membuatnya kesal tapi aku berjanji untuk tidak keterlaluan."
"Dia masih sangat belia, kamu harus ekstra sabar jika memang dia susah di atur..."
"Tidak, Ayah salah.." Sahut Daniel cepat." Umurnya memang masih sangat belia tapi dia bukan gadis yang susah di atur." Pak Salim semakin senang mendengar itu.
"Ayah senang mendengarnya. Ayah akan berkemas dulu." Daniel berhenti dan meletakkan ember yang di bawa. Dia berjalan menuju kamar yang tidak tertutup sempurna.
"Sayang?" Panggil Daniel sebelum masuk.
"Aku sudah selesai Kak." Teriak Bella dari dalam. Daniel membuka pintu dan mendapati Bella tengah menyisir rambutnya.
"Biar ku bantu." Dia menutup pintu lalu berdiri tepat di belakang Bella. Tangannya merebut sisir dan mulai menyisir. Rasanya begitu serius hingga Daniel memperlihatkan senyum ketika melakukannya. Sesekali keduanya saling menatap dari pantulan cermin, meski Bella mencoba menghindar, karena rasa kesalnya yang belum juga meredah.
"Wajahmu mengemaskan ketika sedang kesal seperti itu." Ucap Daniel fokus menyisir.
"Kak Daniel selalu melanggar janji."
"Janji apa?"
"Tidak menyentuh itu..." Jawab Bella pelan.
"Aku ingin menghilangkan semua rasa canggung mu." Daniel meletakkan sisir di meja lalu membalikkan badan Bella, sehingga keduanya berdiri saling berhadapan.
"Iya tapi katanya pelan-pelan."
"Kamu terlalu pelan jadi aku merasa tidak sabar." Bella mengerutkan keningnya.
"Ahh selalu saja. Kak Daniel tidak pernah tersambung jika berbicara." Daniel terkekeh mendengar protes dari Bella.
"Bukankah kamu membahas kata pelan?"
"Ish dasar!" Bella memukul lembut dada bidang Daniel.
"Semua pukulan terasa sakit kecuali pukulan mu." Rayu Daniel membuat Bella kembali mengingat pertemuannya dengan Fanny tadi sore.
"Ya! Apa Kak Daniel juga merayu wanita tadi seperti sekarang?" Daniel menarik nafas lembut karena tidak selera dengan topik pembicaraannya. Jangankan merayu, untuk melihat saja Daniel malas melakukannya.
"Ayah akan pulang malam ini." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Wah bagus sekali. Kita selesaikan masalah tadi malam ini ya Kak." Bella berjalan melewati Daniel begitu saja, meninggalkan Daniel dengan raut wajah kebingungan.
"Masalah apa? Bukankah tadi sudah selesai?" Tanya Daniel memelankan suaranya. Bella tidak bergeming dan terus saja berjalan ke depan." Aku menyesal ingin melihatnya cemburu." Gumam Daniel menutup pintu dan mengikuti langkah Bella untuk ke depan.
~Riane
Aku hanya mau bilang 😁 Nikmati alurnya jika memang suka😙 Author juga gag sembarangan bikin cerita. Semua akan ada jawabannya di akhir cerita🥰Jangan bertanya dulu, dan menyimpulkan cerita ini dengan pandangan pribadi kalian 😁 Karena pemikiran orang berbeda, jadi mari saling menghargai 🥰🥰
Terimakasih dukungannya 🥰
__ADS_1
Love you all 😍😍