Mengejar Cinta, Istri Kecilku..

Mengejar Cinta, Istri Kecilku..
Bagian 30


__ADS_3

Daniel menarik nafas panjang, melihat kenyataan jika harga bahan pokok untuk perusahaan barunya begitu tinggi. Itu karena, Daniel tidak sanggup membeli bahan dalam jumlah besar sehingga potongan untuk pembelian tidak seberapa.


Apa cukup.. Eluhnya meraih ponsel dan kembali mengecek email. Joy belum juga membaca pesanku.. Apa aku harus menemui Andra? Aku bahkan tidak tahu tempat tinggalnya..


Tak!!


Daniel meletakkan begitu saja ponselnya hingga menimbulkan bunyi. Bella bergumam membuat Daniel menoleh dan baru sadar jika istrinya tengah tidur.


Untung saja tidak bangun... Kegusarannya kembali teralihkan, melihat wajah polos Bella dengan bibir setengah terbuka. Perlahan, Daniel beranjak dari tempat duduknya dan mendekati ranjang berukuran minim itu.


Kamu benar-benar semangatku sayang.. Kenapa bisa, perasaanku langsung membaik hanya dengan melihat wajahmu...


Tok...Tok...Tok...


Daniel menoleh cepat, dan segera keluar untuk membuka pintu. Dia takut suara ketukan akan di dengar oleh Bella dan menganggu istirahatnya.


Pintu kamar di biarkan terbuka, Daniel mengganjalnya dengan sesuatu agar pintu tidak tertutup sendiri ketika terkena angin dari jendela samping.


Cklek ..


"Masuk." Lucas tersenyum lalu masuk.


"Saya hanya sebentar Tuan." Ucap Lucas berdiri menghadap Daniel.


"Kenapa begitu?"


"Saya akan tinggal di gudang saja. Di sana cukup bersih dan lagi, saya merasa tidak enak jika harus tinggal di sini sementara Tuan sudah memiliki istri." Jawab Lucas menjelaskan.


"Tidak masalah. Lebih baik kamu tinggal di sini sebab aku butuh laptop mu."


"Tuan pakai saja. Saya akan membeli sendiri nanti."


"Aku merasa tidak enak jika begini."


"Sudahlah Tuan. Selain ingin mengambil baju, saya mau melaporkan jika besok akan ada mekanik yang mulai mencoba mengoperasikan mesin." Daniel tersenyum mendengar itu, tentu dia merasa senang karena lowongan cepat di respon.


"Awal yang bagus."


"Hm Tuan. Dia juga mau menerima upah minimum yang Tuan bisa berikan tapi, dia belum memiliki pengalaman berkerja."


"Tidak masalah." Lucas tersenyum seraya mengangguk-angguk." Aku akan datang besok pagi setelah mengantarkan Bella sekolah." Imbuh Daniel begitu bersemangat.


"Iya Tuan. Em, saya harus membereskan baju. Permisi.." Lucas mengangguk sebentar lalu berjalan melewati Daniel yang masih tersenyum penuh semangat.


Semoga semua bisa berjalan lancar...


Braaaakkkkk!!!!


"Kak Danieeeeeel!!!" Daniel bergegas melangkah masuk dan melihat pintu kamar tertutup, sebab pengganjal tidak cukup kuat menahan angin yang berhembus dari jendela samping.

__ADS_1


Daniel mendapati Bella yang meringkuk di atas tempat tidur tanpa berani bergerak. Setelah melihat kedatangan Daniel, Bella segera berdiri lalu menyerbu Daniel dengan pelukan erat.


"Jahat sekali!! Kamu mengingkari janjimu Kak! Sudah ku katakan, bangunkan jika ingin pergi." Gerutu Bella menumpukan kepalanya pada dada bidang Daniel.


"Maaf. Aku tadi pergi sebentar untuk membuka pintu tapi lupa karena Lucas mengajakku berbicara." Daniel membalas pelukan dengan tangan terangkat, mengelus rambut tebal Bella dan sesekali menghirup aroma rambutnya kuat.


"Menyebalkan!!" Runtuk Bella mengangkat kepalanya namun Daniel mencegahnya.


"Tetap begitu. Astaga... Ini nyaman sekali sayang.." Senyum Daniel membingkai, menekan lembut kepala Bella agar terus berada di dadanya.


"Aku benar-benar takut. Aku tidak berbohong.."


"Aku tidak menyebutmu berbohong."


"Kamu lihat kan Kak, kalau pintunya tertutup sendiri tadi."


"Itu karena angin. Jangan berfikiran macam-macam."


"Jika bukan angin." Bella mendongak, menatap wajah Daniel dan langsung sanggup menggetarkan hatinya. Aku memeluknya..


Perlahan, kedua tangan Bella turun ke bawah dengan kepala di tundukkan. Dia baru menyadari jika tengah berada di posisi yang tidak aman.


"Angin sayang.. Kenapa di turunkan." Daniel kembali menuntun kedua tangan Bella agar memeluknya.


"Ini tidak aman Kak. Kau tahu?" Jawab Bella lirih.


"Tidak aman." Bella mendorong dada Daniel lembut dan akhirnya dia dapat terlepas meski keduanya masih berdiri saling berhadapan.


"Tidur lagi?" Daniel melangkah lebih maju tapi Bella mundur.


"Tidak bisa tidur lagi?"


"Ku temani jika tidak bisa." Goda Daniel melangkah maju sementara Bella sudah tidak bisa mundur, sebab punggungnya membentur tembok.


"Aku sudah tidak mengantuk. Bisakah kita menjaga jarak Kak." Protes Bella menyilakan kedua tangannya pada dadanya.


"Kamu istriku, bagaimana bisa menjaga jarak."


Tubuh Daniel kembali menghimpit, hanya kedua tangan Bella yang jadi penghalang. Namun, mata Daniel menangkap sesuatu yang langsung membuatnya panik. Dress pendek terusan yang Bella kenakan terlalu longgar, hingga Daniel bisa melihat punggung atas Bella memerah.


"Kenapa ini?" Tanya Daniel langsung menyentuhnya.


"Gatal Kak." Eluh Bella menyingkirkan tangan Daniel.


"Coba ku lihat."


"Tidak perlu." Tolak Bella tidak ingin Daniel tahu jika sejak tadi sekujur tubuhnya terasa gatal.


"Aku tidak berniat apapun. Sebentar." Perlahan, Daniel menurunkan kerah dress pendek tersebut dan melihat sekujur tubuh Bella memerah." Ini iritasi sayang." Imbuh Daniel bergumam.

__ADS_1


"Besok juga hilang."


"Tidak. Kita harus ke dokter." Daniel kembali mengusap jenis kain dress yang di kenakan Bella." Kenapa di paksa jika tidak nyaman." Daniel beranjak lalu berjalan menuju lemari dan mengambil satu kaos miliknya." Ganti bajumu. Kita ke dokter." Bella tidak bergeming dan hanya memandangi kaos yang Daniel berikan padanya.


"Apa perlu aku yang mengganti?" Tawar Daniel lembut.


"Aku benar-benar tidak apa-apa."


"Ganti atau aku yang mengganti?" Selah Daniel.


"Hm... Tutup pintu dan berbalik seperti kemarin." Daniel tersenyum sejenak dan melakukan perintah dari Bella.


Ahh menyebalkan! Aku berniat menghemat dengan membeli baju murah tapi harus berakhir ke dokter.


"Beli bedak saja Kak."


"Tidak sayang. Sudah?"


"Hm..." Daniel berbalik badan dan mengambil kunci mobilnya. Dia merangkul pundak Bella erat lalu mengiringinya keluar kamar.


************


"Menurut kamu, apa sih spesialnya si Bella itu!" Tutur Siska ketus.


"Mungkin karena Bella pintar." Jawab Elena seraya menikmati perawatan wajah yang setiap bulan mereka lakukan.


"Pintar saja! Aku merasa jika Bella itu sok tidak perduli tapi kenyataannya perusak hubungan orang."


"Oh iya. Aku ingin memperlihatkan sesuatu." Elena mengambil ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto saat Bella bersama Daniel di kantin." Ini lelaki dewasa yang bersama Bella di kantin. Berarti Ina tidak berbohong. Lelaki ini benar-benar sempurna." Sisca semakin merasa iri melihat kenyataan jika apa yang di bicarakan teman-temannya hari ini adalah benar.


"Mungkin Kakaknya."


"Katanya sih begitu. Wah kalau Kakaknya, aku mau kok jadi Kakak ipar Bella." Sisca langsung mencubit keras paha Elena." Apaan sih!! Sakit!!" Runtuk Elena mengusap pahanya sendiri.


"Cari info dulu, apa benar itu Kakaknya? Setahuku, Bella hanya punya Kakak satu dan sudah mati. Terus itu Kakak dari mana?" Elena mengangguk-angguk dan membenarkan ucapan Sisca.


"Apa iya pacarnya?"


"Malah tidak mungkin!!" Celetuk Sisca merasa iri.


"Mungkin saja."


"Kita buntuti dia besok. Bagaimana?"


"Ide bagus."


"Hmm..." Tarikan nafas panjang terdengar berhembus. Kebencian semakin memenuhi hati Sisca apalagi saat dia melihat jika lelaki dewasa di samping Bella begitu menawan. Namun, ketika dia memikirkan jika lelaki itu Kakak Bella. Membuatnya memiliki fikiran sama seperti apa yang Elena fikirkan. Jika memang dia Kakak Bella. Aku akan mendekati Bella agar Bella mau mengenalkan aku padanya.. Foto itu bahkan terlihat buram tapi ketampanannya sudah sangat terlihat. Aku tidak sabar bagaimana bentuk lelaki itu di dunia nyata...


~Riane..

__ADS_1


__ADS_2