
"Tidak!!" Bella dengan cepat meloloskan diri dari rongga bawah tangan Daniel, dia tidak ingin lupa diri seperti kemarin. Daniel terkekeh melihat itu sementara Bella menatapnya dengan wajah tegang." Kak Daniel lebih membahayakan dari Kak Bastian!!" Runtuk Bella kesal.
"Aku sudah jinak sayang. Come here Baby.." Bella tidak bergerak seraya mengendalikan perasaannya." Aku lapar, kamu tidak kasihan?" Imbuh Daniel merajuk.
"Minggir dulu baru aku lanjutkan." Jawab Bella lebih memilih duduk di kursi makan.
"Sudah sayang." Daniel menggeser tubuhnya sedikit.
"Aku tidak sedang bermain-main Kak. Setelah ini aku mau mencuci."
"Aku juga tidak sedang bermain dan sudah menggeser tubuhku."
"Itu hanya beberapa senti." Daniel kembali terkekeh, dia memang sengaja melakukan itu untuk mendapatkan hiburan.
"Iya ini sudah." Daniel menggeser tubuhnya sedikit jauh. Bella berdiri lalu melanjutkan meracik bumbu." Masak apa sayang?" Tanya Daniel mendekat.
"Jangan menganggu aku, agar cepat selesai." Tatapan tajam Bella membuat Daniel mengurungkan niatnya untuk mendekat lagi.
"Hanya di sini."
"Hm. Tetap di situ atau Kak Daniel duduk saja daripada terus menganggu ku."
"Aku akan tetap di sini."
Bella kembali fokus pada perkerjaannya, sementara Daniel memilih berdiri menunggu seraya sesekali melihat gadis kecil di sampingnya.
**************
Sebuah mobil berhenti tepat di bahu jalan rumah Marco. Tanpa di duga, Andra dan Ella turun dari sana. Perut Ella terlihat membesar, karena saat ini Ella tengah hamil lima bulan.
Andra ingin mengunjungi Daniel, setelah beberapa tahun berpisah. Ada rasa yang mendorongnya untuk mengunjungi kota kelahirannya yang penuh kenangan manis dan pahit itu, sehingga Andra menyempatkan waktu untuk berlibur dan melihat bagaimana kabar Daniel sekarang.
"Astaga rumah Pak Daniel besar sekali." Gumam Andra tersenyum. Lokasi rumah Daniel memang sama, meski dulunya hanya berbentuk lahan kosong. Tapi, melihat rumah mewah yang sudah berdiri kokoh di atasnya, membuat Andra yakin jika sekarang Daniel sudah sukses.
"Sudah ada janji Pak?" Tanya penjaga rumah.
"Apa benar ini rumah Pak Daniel?"
"Iya benar. Tapi beliau sedang tidak ada di tempat." Penjaga yang tidak tahu jika rumahnya sudah kuasai Marco. Mengatakan itu karena menganggap Daniel hanya pergi untuk masalah bisnis.
"Oh begitu ya Pak. Jadi tidak ada siapapun di rumah?"
"Ada Tuan Marco di dalam."
"Marco?"
"Orang kepercayaan Tuan Daniel."
Bukankah Lucas?
"Ohh.." bukankah seharusnya orang kepercayaan selalu ikut? Ahh sudahlah, aku ingin mengenal siapa orang kepercayaan Daniel agar jika nanti Daniel kembali bisa memberiku kabar..
"Boleh saya masuk."
"Sebentar Tuan." Penjaga rumah masuk untuk meminta izin pada Marco.
Plaaaaaakkkkkk!!!
Tamparan keras, di layangkan Marco pada lelaki separuh baya yang tidak lain si penjaga rumah.
"Kau lancang sekali berkata itu!!" Ucap Marco geram.
Ya Tuhan, seumur hidup aku ikut Pak Daniel. Aku tidak pernah di marahi seperti ini, bukankah yang ku katakan sudah benar?
"Saya hanya menjawab apa adanya Tuan."
"Jika tidak ada Daniel berarti ini rumahku!!" Penjaga rumah melebarkan matanya seraya tertunduk. Dia tidak mengerti kenapa Marco berucap perkataan yang tidak pantas seperti sekarang.
"Hm baik. Saya akan mengatakannya Tuan." Marco menarik kerah belakang penjaga rumah dan menghempasnya.
"Mereka akan menganggap aku buruk! Dasar! Lakukan lagi jika kau sudah tidak betah berkerja di sini."
"Ampun Tuan. Jangan pecat saya." Jawabnya memohon.
"Suruh mereka masuk."
"Baik Tuan." Penjaga rumah berdiri dengan terhuyung dan menghampiri Andra dan Ella yang masih menunggu.
Mata Andra memincing, melihat perbedaaan raut wajah penjaga rumah yang berubah ketakutan.
"Silahkan masuk Tuan." Ucapnya membukakan pintu pagar.
"Terimakasih ya Pak."
"Sama-sama." Andra berjalan bersama Ella lalu masuk ke dalam mobil.
"Ada apa sayang?" Tanya Ella menatap sorot wajah Andra yang berbeda.
"Tidak ada." Andra melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah dan luas lalu memarkir mobilnya tepat di depan pintu utama.
Marco keluar dari balik pintu menyambut kedatangan Andra dengan senyuman hangat.
"Astaga ada tamu."
"Tuan Marco."
"Iya saya." Andra mengulurkan tangannya dan di sambut akrab oleh Marco." Mari masuk." Marco mengiring Andra masuk dan duduk di dalam.
"Maaf saya terkejut ketika mendengar nama anda di sebut oleh penjaga rumah. Sebab setahu saya, kaki tangan Pak Daniel bernama Lucas."
__ADS_1
"Em.. Saya baru saja bergabung Tuan." Andra mengangguk-angguk seraya tersenyum.
Oh mungkin Lucas yang ikut bersama Daniel keluar kota..
"Saya tidak pernah melihat Tuan sebelumnya."
"Hm saya pindah ke Palembang sebab kantor pusat di pindahkan ke sana. Maklum, saya mencari lahan yang luas dan di sana sangat banyak lahan luas yang tidak terpakai." Marco tidak tahu menahu soal siapa Andra. Dia memang baru ikut dengan Daniel setelah kepergian Lucas untuk membantu Pak Salim. Sehingga Marco memang tidak tahu dengan siapa saja Daniel berkerja sama dulu.
"Apa nama perusahaan anda."
"ASIAN GRUP."
Asian Grup? Marco melongok mendengar itu. Dia tahu jika Asian Grup merupakan perusahaan yang terbesar se-Asia meski produksi barang yang mereka hasilkan berbeda.
"Jabatan anda sebagai apa di sana?" Tanya Marco tentu ingin tahu.
"Saya hanya kaki tangannya saja. Pemilik sebelumnya sudah pindah ke luar negri karena suatu hal. Tapi, saya memegang kendali penuh dengan perusahaan sehingga bisa di bilang saya pemiliknya untuk sementara waktu." Jawab Andra menjelaskan. Meskipun Jonathan berkata jangan pernah menyebut namanya lagi. Namun, Andra tidak pernah melakukan itu. Andra selalu saja berkata pada relasinya jika Jonathan adalah pemiliknya, bukan dia.
Andra tidak seperti Marco. Dia merasa tahu diri, meski Jonathan sudah menyerahkan perusahaan besarnya untuknya. Bakti yang di berikan pada Jonathan begitu kukuh. Dia sadar jika dia bukanlah siapa-siapa jika atas bantuan Jonathan. Sehingga Andra sudah cukup bersyukur dengan hidupnya sekarang tanpa mengambil harta yang menurutnya bukan hak nya.
"Sama jika seperti itu." Jawab Marco menutupi perbuatan busuknya.
"Oh. Tuan Daniel juga begitu?"
"Hm ya. Saya di beri kuasa penuh di perusahaan." Andra mengangguk-angguk mendengar itu. Tidak ada alasan untuk tidak percaya, Andra tidak menaruh curiga apalagi sambutan Marco sekarang begitu ramah.
"Sekarang, di mana beliau?" Tanya Andra seraya menikmati cemilan di hadapannya.
"Sedang berlibur."
"Jika boleh tahu kapan pulangnya?"
Kenapa semua orang yang berhubungan dengan Daniel sangat menyebalkan!!
"Saya tidak tahu Tuan."
"Padahal saya menyempatkan waktu untuk datang ke sini tapi Pak Daniel malah tidak ada di tempat. Saya juga mencoba mengirim pesan pada email-nya namun tidak terkirim."
Terang saja tidak terkirim! Aku sudah menghapus akun email Daniel.
"Jika masalah itu, saya tidak tahu Tuan."
Andra mengangguk seraya tersenyum, dia meminum sisa sirup dan memutuskan untuk berpamitan pulang karena Andra merasa sungkan dengan Marco.
"Tidak jadi berlibur?" Tanya Ella saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Kita tunggu satu Minggu, jika Pak Daniel belum juga kembali. Kita pulang. Maaf sudah merepotkan karena kekhawatiran ku." Andra mengusap perut besar Ella lembut.
"Jangan berkata itu sayang. Aku kuat kok."
"Hmm.. Kita ke rumah lama." Bukan hanya firasat, tapi Andra sempat bermimpi buruk soal Daniel. Namun rasanya kekhawatirannya tidak berarti setelah mengetahui fakta jika Daniel sudah sukses sekarang.
***************
Bella merasa senang dengan kejutan kecil yang di berikan Daniel untuknya. Dua kotak ayam krispi berada di hadapannya sehingga sangat membuatnya senang.
Daniel sengaja memesan itu diam-diam. Dia merasa kasihan dengan Bella yang tidak pernah makan banyak jika memakan masakannya sendiri.
"Astaga.. Terimakasih Kak Daniel.." Ucap Bella seraya tersenyum manis.
"Terimakasih juga sudah memasakkan untukku sayang."
"Itu kewajiban." Jawab Bella singkat.
"Siapa yang memberi tahu mu, jika kewajiban istri itu memasak?"
"Kak Bastian. Seorang gadis itu harus bisa memasak dan mengurus rumah agar bisa jadi istri yang baik kelak." Bella menirukan suara Bastian dan gayanya berbicara sehingga Daniel kembali merasa terhibur." Dia selalu mengatakan itu ketika menyuruhku." Imbuhnya mulai membuka kotak ayam krispi.
"Mungkin tujuan Bastian mengatakan itu agar kamu tidak malas."
"Aku tidak tahu Kak. Tapi aku selalu mengingat itu." Jawab Bella polos.
"Jangan jadikan itu kewajiban sayang. Perkerjaan rumah itu bukan tanggung jawab seorang istri. Jika lelah, sebaiknya tidak di lakukan. Kita bisa melakukannya bersama terutama untuk memasak. Kalau kamu memang lelah, kita beli saja. Oke." Bella mengangguk dan mengerti dengan penjelasan Daniel.
Aku hanya merasa jika itu lebih hemat..
"Lalu tanggung jawab istri itu apa?" Tanya Bella penasaran. Dia selalu ingin tahu dengan hal-hal baru.
"Hanya suami yang memikul tanggung jawab. Perkerjaan istri itu hanya membuat suaminya bahagia hehe." Daniel merasa senang melihat Bella makan dengan lahapnya.
"Em berarti aku tidak boleh membuatmu bersedih?" Tanya Bella memang tidak tahu menahu soal itu selain dari ucapan Bastian.
"Itu benar."
"Itu saja?" Ucap Bella melongok menatap Daniel.
"Hm itu saja."
"Mudah sekali Kak."
"Syukurlah jika kamu menganggap itu mudah. Jadi setelah ini jangan buat aku kecewa ya."
"Iya." Bella mengangguk seraya mengunyah.
"Seperti tadi..." Bella menoleh saat mendengar lanjutan dari ucapan Daniel.
"Tadi kapan?" Tanyanya pelan.
"Saat di dapur. Kamu tidak boleh menghindar, itu melukaiku sayang."
__ADS_1
"Tapi kan ada waktunya Kak, jangan saat memasak."
"Oh berarti ada waktunya. Jadi kapan?" Daniel menumpukan kedua tangannya di atas meja dan menatap Bella dengan senyuman khasnya.
Gleg..
Bella menelan makanannya kasar, dia tidak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan yang di lontarkan Daniel. Wajahnya berubah tegang sehingga Daniel kembali terkekeh di buatnya.
"Aku bercanda sayang. Astaga.. Tapi untuk membahagiakan ku itu tidak bercanda. Meski aku tidak tahu kapan bisa membuatmu bahagia."
"Kenapa berkata itu Kak?"
"Lihat sendiri keadaannya."
"Aku bahagia." Sahut Bella cepat.
"Berpura-pura bahagia?" Tebak Daniel.
"Tidak. Aku tidak pernah berpura-pura. Aku benar-benar bahagia jadi jangan mengeluh lagi. Aku tidak suka mendengar lelaki dewasa mengeluh."
"Aku selalu bersemangat karenamu." Jawab Daniel melanjutkan makannya.
"Kita saling membahagiakan." Daniel menarik nafas panjang mendengar itu. Dia merasa sangat bahagia merasakan pengertian yang Bella suguhkan untuknya.
"Hm itu harus." Daniel menggeser piringnya lalu mengambil kotak ayam milik Bella." Aku suapi." Untuk sekarang aku hanya bisa memberikan perhatian ini untukmu..
"Kak Daniel makan sendiri saja." Tolak Bella.
"Aku sudah selesai." Bella melirik piring Daniel yang sudah kosong.
"Tidak nambah?"
"Nanti saja. Aku tidak berselera makan merasakan kebahagiaan yang kamu berikan." Daniel mulai menyendokkan makanan untuk Bella.
"Aku tidak mengerti Kak." Bella melahap makanan itu tanpa berprotes meski jantungnya berpacu cepat. Bella mulai terbiasa, bahkan sudah mulai menikmati hidupnya sekarang.
"Bukankah sudah jelas. Jika aku bahagia bersamamu." Daniel menunduk dan mencium pipi Bella sebentar.
"Apa itu semacam strategi untuk bisa menciumku." Tanya Bella melirik malas.
"Tidak ada strategi, pertemuan kita bahkan tidak terduga. Aku menyukaimu dalam satu kali tatap dan aku mencium mu saat aku ingin saja." Bella mendengus kesal tapi tidak untuk hatinya yang juga merasa sangat bahagia.
"Berarti sekarang ingin?"
"Hm aku ingin melakukannya seumur hidup. Aaaaa buka lagi." Daniel kembali menyendokkan makanan ke mulut Bella.
Tok...Tok...Tok...
Daniel dan Bella saling melihat kemudian beranjak untuk membuka pintu. Terlihat pegawai asuransi berdiri di balik pintu dengan tas hitamnya.
"Selamat siang. Saya tadi ke sana tapi rumahnya sudah hangus sehingga tetangga Nona menyuruh saya ke sini." Ucapnya menjelaskan.
"Silahkan masuk Pak." Jawab Daniel ramah.
"Terimakasih Pak."
Ketiganya duduk di ruang tamu. Bella tersenyum dan merasa senang karena setelah ini akan menerima uang dari asuransi milik Bastian.
"Saya tadi sudah menghubungi lewat ponsel tapi tidak bisa."
"Ponsel saya ikut terbakar Pak."
"Em begitu. Dananya sudah cair Nona. Besok bisa Nona ambil di kantor atau di transfer melalui ATM."
"Saya ambil langsung saja." Daniel hanya diam dan tidak bergeming, dia tahu jika dananya tidak mungkin bisa di ambil tanpa kartu yang juga sudah terbakar.
"Em begitu. Baik. Nona besok ke kantor dengan membawa kartu asuransi milik Pak Bastian." Bella menatap Daniel lemah.
"Bapak kan tahu rumah saya kebakaran. Apa tidak bisa di cairkan langsung."
"Tidak bisa Nona. Kantor juga tidak bisa sembarangan mencairkan dana jika tidak ada bukti."
"Kartunya sudah hilang jadi abu, mana mungkin bisa di bawa."
"Itu masalah gampang. Besok Nona datang ke perusahaan tempat Pak Bastian berkerja untuk membuat laporan itu agar kantor bisa membuatkan kartu baru." Ucap pegawai asuransi menjelaskan.
Berarti harus ke Dan's Grup?
"Apa tidak ada cara lain?"
"Tidak ada Nona. Baik saya permisi. Saya hanya mengabari itu karena nomer Nona tidak bisa di hubungi. Permisi.." Bella tidak merespon ucapan si pegawai asuransi. Dia malah melihat ke arah Daniel dengan tatapan bingung.
"Bagaimana Kak?" Tanya Bella lirih." Dia takut menyinggung perasaan Daniel mengingat perusahaan Dans grup dulu adalah miliknya.
"Apa kamu ingin mengambilnya?" Tanya Daniel menatap lembut Bella.
"Itu kan lumayan Kak."
"Hm ku antarkan ke sana." Di luar dugaan Daniel tidak merasa keberatan dengan permintaan Bella.
"Kak Daniel tunggu di mobil."
"Aku ikut bersamamu."
"Katanya Kak Daniel menyamar."
"Hm aku akan menyamar besok agar mereka tidak tahu itu aku." Aku tidak ingin menghalanginya lagi. Meskipun nantinya aku tidak akan mengambil uang itu sepeserpun dari uang itu. Tapi paling tidak, Bella percaya jika ATM milik Bastian benar-benar lenyap..
~Riane
__ADS_1