
Putri kembali dengan wajah lusuh, teman-teman langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan padanya. Kinerja Marco yang sangat buruk membuat omset penjualan menurun drastis. Banyak dari relasinya memutuskan kerjasama karena merasa di rugikan.
Para pegawai sendiri, tidak perduli lagi jika akhirnya perusahaan tempatnya berkerja akan bangkrut. Mereka tetap berkerja seperti biasa dan bersantai seperti sekarang karena tidak adanya perkerjaan.
"Pak Marco mana?" Tanya Lisa berbisik.
"Ke neraka!!" Umpat Putri seraya duduk.
"Serius? Apa dia di ruangannya."
"Kata satpam depan dia tidak ke sini, bukankah itu berarti dia pulang."
"Wah bisa santai lagi kita."
Tappp!!!
Putri meletakan bukti pembayaran rumah sakit pada meja.
"Pantungan pokoknya! Aku tidak mau membayarnya sendiri." Lisa mengambil selembar kertas tersebut lalu membacanya.
"Kau yang membayar Put?" Tanya Lisa penasaran.
"Ya! Sudah jahat, dompetnya kosong lagi. Pokoknya patungan! Aku tidak mau terlibat dengan Pak Marco apalagi meminta uang rumah sakit ini." Lisa terkekeh di ikuti dengan pegawai lain sementara Bu Eka memasang wajah datar.
"Aku lagi tidak ada uang Put. Kamu kan tahu anakku ada empat." Ucap Bu Eka lemah.
"Yang lain bagaimana? Paling tidak kembalikan uangku. Aku tidak mau meminta tagihan ini ke Pak Marco! Tidak salah saja di bentak! Apalagi salah."
"Bisa di sembur kamu Put." Sahut pegawai lain.
"Halah uang segitu doang. Nih." Lisa mengambil dompetnya dan mengganti uang Putri.
"Wah terimakasih." Wajah Putri langsung senang. Cepat-cepat dia mengambil uang tersebut dan memasukkannya ke dompet.
"Kita lanjutkan gosipnya." Ucap Lisa bersemangat.
"Gosip apa?" Tanya Putri memang tidak tahu apa-apa.
"Kata Lisa, orang yang memukul Pak Marco itu adik Bastian. Nah terus, orang yang bersama Bella kemarin yang mengaku bernama Dimas itu mirip dengan Pak Daniel." Putri melongok mendengar itu.
"Amin." Sahut Putri menginginkan Pak Daniel bisa menjadi Bosnya lagi.
"Kok amin Put?"
"Ya semoga saja itu Pak Daniel agar perusahaan ini kembali berjalan seperti dulu."
"Belum tentu." Sahut Bu Eka masih belum yakin.
"Mirip sekali Bu sumpah. Suaranya, tampannya, aku saja langsung jatuh cinta." Bu Eka melirik malas ke arah Lisa.
"Kau kan memang gampangan Lis, jadi begitu."
"Aku bicara serius Bu Eka. Jangan di dengar soal jatuh cintanya." Jawab Lisa tersenyum.
"Kalau Pak Daniel di kota ini, terus kenapa Pak Marco yang memimpin?" Sahut lainnya.
"Mungkin perusahaannya sudah di serahkan sama Marco."
"Itu tidak masuk akal. Mana mungkin begitu." Jawab Bu Eka tidak setuju dengan pendapat tersebut." Banyak dari para relasi menanyakan keberadaan Pak Daniel. Jika memang sudah di serahkan dengan resmi. Pasti Pak Daniel akan ke sini sesekali dan kenapa juga harus menyamar menjadi Dimas. Kau juga Lis! Kalau memberi info itu yang akurat." Imbuh Bu Eka tegas.
"Kalau tidak percaya, sepulang kerja kita ke rumah Bella."
"Apa tidak aneh jika ke sana tanpa ada keperluan?" Tolak Bu Eka.
"Bilang saja akan memberikan bantuan karena rumah Bella kan terbakar."
"Oke lah." Jawab Bu Eka setuju.
"Aku juga ikut ya. Kangen juga sama senyum Pak Daniel."
"Aku juga kalau begitu."
"Aku sekertarisnya jadi bolehlah ikut."
"Tidak!!!" Ucap Bu Eka lantang." Jika semuanya ikut malah jadi aneh! Biar aku dan Lisa yang ke sana." Semuanya tidak bergeming ketika Bu Eka sudah mengeluarkan jurusnya. Tidak ada yang berani pada Bu Eka yang notabenenya seorang wanita perkerja keras, tegas, jujur dan jahat. Dia sudah sangat terkenal namun juga di segani. Itu karena, Bu Eka tidak pernah bermain-main dan selalu serius dalam berkerja." Sebaiknya kalian bubar! Jika Pak Marco ke sini. Aku tidak mau terkena masalah." Semua pegawai yang berkumpul, langsung menurut dan berjalan menuju ruangannya masing-masing.
****************
Bella dan Daniel yang memang baru pertama kalinya melakukan mandi berdua. Merasa canggung dan memutuskan untuk saling membelakangi satu sama lain.
Itu atas perintah Bella, padahal Daniel sudah sangat bersemangat meski sebenarnya dia juga belum siap dan takut lepas kendali.
"Jika perusahaan bisa ku bangun lagi. Kamu harus kuliah sayang." Ucap Daniel tersenyum, membiarkan air shower menguyur separuh tubuhnya.
"Aku tidak mau Kak."
"Why?" Tanya Daniel cepat." Aku tidak ingin cita-cita mu terhenti." Imbuhnya menyemangati. Melihat prestasi Bella, membuat Daniel menyayangkannya keputusan Bella untuk berhenti sekolah.
"Cita-citaku jadi istrimu.."
"Kamu mendapatkannya sayang. Tidak ada salahnya jika kamu melanjutkan kuliah sekalipun kamu sudah hamil nanti." Bella tersenyum dengan wajah memerah. Ingin rasanya dia segera mendapatkan itu, mengingat umur Daniel yang sudah sangat pantas menjadi seorang Ayah.
"Sukses tidak harus berijazah tinggi." Jawab Bella lirih. Daniel mengangguk-angguk dan membenarkan itu. Dia melupakan kepintaran Bella yang berada di atas rata-rata.
"Aku tidak ingin kamu sukses. Paling tidak, raih cita-cita mu jika memang ingin lulus kuliah. Setelah itu terserah, jika kamu mau berdiam diri di rumah dan mengurus anak-anak kita." Pipi Bella semakin merona merah, membayangkan jika itu segera terjadi pada pernikahannya.
Keinginan itu lebih besar dari apapun juga...
"Sudah ku katakan. Aku bercita-cita meraih kedudukan tertinggi di dunia ini. Itu terdengar lebih menyenangkan daripada harus menghabiskan waktuku di bangku kuliah." Dan lagi, aku merasa sudah kuliah karena terlalu sering membaca buku kuliah Kak Bas. Aku ingin mengembangkan bisnis online ku. Sekarang, aku masih memiliki 10 pelanggan, bagaimana jika satu tahun ke depan? Aku akan tetap merahasiakan itu. Aku takut Kak Daniel nanti melarang ku...
"Oke sayang. Keputusanmu aku hormati. Bagaimana? Sudah selesai?" Tanya Daniel seraya meraih handuk tanpa melirik sedikitpun ke arah tubuh polos Bella. Dia segera melilitkan handuknya ke pinggang sementara Bella kesulitan mengambil handuk kimononya.
Daniel tersenyum, seraya melirik tangan Bella yang tidak bisa menjangkau. Tanpa perintah, Daniel meraih handuk itu dengan cepat dan memberikan pada Bella masih pada posisi saling membelakangi.
"Terimakasih Kak." Tanpa berlama-lama, Bella memakai handuk kimononya meski rambutnya terlihat masih sangat basah.
"Sudah?"
"Hmm.." Keduanya saling berbalik namun Bella langsung menunduk, melihat kenyataan jika Daniel bertelanjang dada.
"Rambutmu masih sangat basah." Daniel meraih handuk kecil. Dia melangkah lebih dekat lalu mengeringkan rambut Bella yang bertambah panjang.
Entah sengaja atau tidak, tapi beberapa kali Bella hampir membentur dada bidang Daniel saat melakukan aktivitasnya sekarang.
Ahhh ini surga dunia hehe... Bagaimana mungkin aku ingin kuliah jika berada di samping Kak Daniel terasa lebih menyenangkan dari apapun...
Niat kotor Bella melintas. Ingin sekali dia memeluk tubuh itu erat dan merasakan ototnya dengan jemari kecilnya.
Greppp!!!
Tiba-tiba saja Daniel memeluknya sehingga wajah Bella benar-benar menempel pada dada berotot itu. Matanya melebar seraya berusaha menghindar namun pelukan tangan kekar Daniel menguncinya.
"Ini milikmu.." Ucap Daniel tersenyum. Detak jantung Bella semakin terasa dan Daniel menikmatinya dengan memejamkan mata.
"Iya Kak tapi.."
"Kamu masih canggung sebab kamu menunduk tadi."
"Butuh waktu untuk membiasakan diri."
Greppp!!
Daniel semakin mengeratkan pelukannya, membuat Bella semakin menegang di buatnya.
"Ini milikmu. Jadi, biasakanlah."
"Iya. Sedang loading...." Daniel terkekeh mendengar jawaban konyol Bella. Segera saja dia mengangkat tubuh kecil itu sehingga membuat Bella terpekik." Duuuh Kak!!!!" Umpatnya memukul pundak Daniel lembut.
"Kenapa?" Tanya Daniel berpura-pura bodoh. Dia sangat suka mendengar celotehan Bella yang juga mulai menjadi candu untuknya.
__ADS_1
"Izin dulu kek. Main angkat saja! Kaget ish!!"
"Aku takut, jika pakai izin nanti loading nya lama." Bella tersenyum begitupun Daniel.
Tubuh Bella di turunkan di depan lemari, keduanya kembali saling memunggungi untuk berganti baju.
"Kapan kamu bersih sayang?" Tanya Daniel lembut.
"Biasanya dua hari lagi Kak." Jawab Bella polos.
"Sudah siap?"
"Iya. Bukankah sudah ku katakan kemarin."
"Hm.. Aku takut menyakitimu nanti." Bella menoleh cepat. Dia berfikir jika malam pertama akan terasa nyaman seperti pelepasan yang sering di dapatkannya. Bella bahkan belum menyadari, jika melakukan malam pertama, selalu menjadi momok spesial bagi sebagian wanita.
"Sakit apa Kak?" Tanyanya tidak memahami.
"Bukankah kamu anak IPA sayang. Seharusnya kamu tahu tentang pelajaran biologi."
"Iya. Tapi di biologi tidak ada pembahasan tentang malam pertama." Daniel kembali terkekeh. Dia tidak mengerti harus menjelaskannya seperti apa, sebab dia juga belum pernah melakukan itu sebelumnya." Kak Daniel selalu tertawa seperti itu." Daniel mengiring Bella duduk lalu mulai menyisir rambut panjangnya.
"Cari tahu di internet kalau perlu. Aku ingin malam pertama kita berjalan sempurna." Bella mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Iya Kak." Jawab Bella menggampangkan perintah Daniel." Ahh Kak sakit!"
Deg!!!
Pekikan Bella, langsung menyentuh hasrat Daniel. Dia mulai berfantasi liar jika akan mendengarkan rintihan itu dua hari lagi.
"Pelan-pelan Kak."
"Ini sudah pelan sayang. Kalau pertama memang terasa sakit." Jawab Daniel seraya mencengkram erat sisir di tangannya. Rasanya akal sehatnya sudah sering lepas kendali, karena merasakan hasrat yang kian tidak bisa tertahankan.
Gerakan tubuh Bella, bahasa tubuhnya, serta lenguhan yang terjadi saat percintaan berlangsung, membuatnya lepas kendali hingga ingin segera memasukkan miliknya.
"Apa Kak?" Sontak Bella merasa binggung dengan jawaban Daniel." Aku selalu menyisir rambut, ini bukan pertama kalinya." Daniel tersenyum tipis seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Hehe maaf. Aku tidak sadar bicara hal yang tidak-tidak." Daniel kembali menyisir rambut panjang Bella dengan lembut.
Pasti kecil dan memiliki bulu-bulu lembut.. Astaga Tuhan.. Kenapa aku semakin ingin melakukan itu!! Hasratku terkoyak hanya dengan membayangkannya saja. Bagaimana? Bagaimana jadinya jika milikku yang masuk ke miliknya. Aku ingin tahu rintihan apa yang bisa ku dengar saat itu terjadi..
"Biar ku sisir sendiri." Bella merebut cepat sisir dari tangan Daniel ketika tiba-tiba Daniel mematung tanpa sebab.
"Tidak sayang. Maaf untuk kedua kalinya." Daniel kembali merebut sisir itu dari tangan Bella." Katanya sulit jika panjang." Imbuh Daniel kembali membicarakan hal yang membuat otakknya kembali keruh.
"Memang sulit Kak. Itu kenapa aku tidak suka panjang."
"Kau akan suka yang panjang dua hari lagi."
Gleg!!!
Bella berdiri cepat lalu menoleh ke arah Daniel. Sementara Daniel sendiri lagi lagi terkekeh dengan otak kotornya yang menyuruhnya berkata macam-macam seperti tadi.
"Kau bicara apa sih Kak." Protes Bella menatap gugup ke arah Daniel.
Dua hari lagi? Panjang??
Bella menatap bagian bawah perut Daniel dan melihat sesuatu yang menyembul keluar.
"Lupakan itu sayang. Maafkan aku." Daniel menyadari sorot mata Bella yang tengah menatap miliknya.
"Apa milikmu panjang Kak?" Gumam Bella tidak sadar dengan apa yang di ucapkan. Daniel terkekeh sejadi-jadinya, melihat wajah polos Bella dengan raut wajah menegang.
Aku harus mencari info di internet segera!!!! Batin Bella ingin tahu lebih lanjut soal apa itu malam pertama.
*****************
Setelah mendapatkan kabar dari Andra, senyum Nara mengembang. Apalagi mengetahui jika Daniel sekarang sudah menikah dengan seorang gadis SMA membuat Nara semakin ingin bertemu dengan Daniel.
"Kita ke Korea saja jika memang Daniel baik-baik saja." Kekhawatiran Joy semakin terlihat, dia masih saja cemburu dan lebih memilih ke Korea dan bertemu dengan Eun Wo asli daripada Daniel, lelaki tampan yang mungkin akan merebut hati Abel juga.
"Maka dari itu, kita ke Korea saja."
"Tidak. Abel juga ingin bertemu Pak Daniel dan Kakak perempuannya."
"Andra akan menyelesaikan masalahnya sayang. Lalu, aku tidak suka jika kamu terlalu mempengaruhi Abel untuk menaruh obsesinya pada Daniel." Nara menoleh cepat mendengar itu.
"Ohhh.. Tidak suka..?" Tanya Nara pelan.
"Aku cemburu.." Jawab Joy lemah saat membaca raut wajah Nara yang berubah.
"Jadi sekarang sudah tidak suka padaku?"
"Not Baby. You misunderstood."
"Salah faham? Kau mengatakan itu sendiri tadi!!" Nara beranjak bangun dengan tubuh polosnya membuat Joy menggelengkan kepalanya saat melihatnya.
Aku suka saat dia seperti itu...
Joy duduk dan tersenyum menatap Nara yang sedang mengambil handuk kimono lalu memakainya.
"Kenapa di pakai? Bukankah akan kita lakukan semalaman?"
"Lakukan dengan wanita yang kau sukai." Jawab Nara ketus.
"Only you." Joy berdiri dan merengkuh tubuh Nara dari belakang. Bibirnya bermain bebas pada pundak Nara namun wajah Nara tidak juga terlihat baik." Aku tidak ingin cinta kalian terbagi." Imbuh Joy lembut.
"Itu fikiran buruk mu sendiri Joy!!" Suara ketus Nara menandakan jika dia benar-benar merasa tersinggung." Aku menganggapnya saudara! Bukan orang lain?!" Imbuhnya semakin membuat fikiran Joy kalut.
"Jangan stres, kasihan dia." Joy mengusap perut Nara yang masih terlihat rata.
"Kamu yang membuat aku stres!! Kau masih saja mempermasalahkan ini padahal besok kita sudah akan berangkat ke sana! Jika memang keberatan, biar aku dan Abel yang akan berangkat!!"
"Rantai belenggu di lehermu masih berlaku sayang. Bagaimana mungkin aku membiarkan mu pergi dengan buah cinta kita.."
"Berhenti berprotes atau aku akan kabur dari sini." Ancam Nara langsung menyulut kekhawatiran Joy.
"Oke baik sayang. Aku berjanji ini terakhir kalinya. Kita berangkat besok dan jangan pernah berfikir untuk kabur untuk menemui lelaki sialan itu." Joy berdiri di hadapan Nara dengan wajah memohon.
"Awas ya!!"
"Hm iya. Kita tidur atau..?" Joy menunduk lalu mulai mencumbu leher Nara dengan lembut. Nara yang memang sudah sama gilanya, langsung merespon cumbuan tersebut dan menanggalkan handuknya begitu saja.
"Kita tidur setelah menidurkan milikmu." Joy menggalungkan kedua tangannya dan menekan tengkuk Joy seraya sesekali melenguh. Menikmati cumbuan hangat bibir Joy yang menjadi candunya.
Joy mengangkat tubuhnya membuat kedua kakinya melilit erat pada pinggang Joy dengan kedua bibir saling melahap dengan kasar.
Tidak perlu terlalu banyak pemanasan, Joy selalu saja merasa tidak tahan dan memasukkan miliknya lalu menggerakkannya lembut.
"Lagi Joy.." Nara menekan-nekan pinggang Joy yang bergerak melambat.
"Ada calon anak kita sayang.." Tolak Joy tidak ingin menyakiti janin yang ada di dalam rahim Nara.
"Hentikan jika seperti ini." Pinta Nara.
"Aku juga ingin tapi..."
"Faster Joy, please.." Joy menjadi gelap mata dan menggerakkan miliknya dengan brutal hingga bunyi penyatuan keduanya menggema memenuhi ruangan.
***************
Bella yang berdalih akan belajar, membulatkan matanya melihat keterangan di internet tentang perihal malam pertama. Bukan hanya satu keterangan yang Bella baca. Tapi beberapa opini sehingga membuatnya menelan salivanya kasar.
Sakit? Robek? Batinnya fokus pada layar ponselnya sementara Daniel tengah berbincang dengan Lucas di ruang tamu.
"Seperti apa rasanya kalau robeknya sampai berdarah." Gumamnya melunturkan niatnya untuk melakukannya ketika sudah bersih." Aku tidak tahu jika akan menyakitkan, apalagi melihat bentuknya tadi..." Bella segera mengeklik ponselnya agar keluar dari menu. Dia meletakkan ponselnya di meja dan memutuskan untuk menonton televisi berharap bisa melupakan opini yang di bacanya tadi.
Kenapa aku jadi takut sih...
__ADS_1
Sementara Bella tengah membayangkan hal yang tidak-tidak, Lisa dan Bu Eka terlihat sudah berdiri di ambang pintu. Bu Eka melongok, melihat kenyataan yang di katakan Lisa benar adanya.
"Pak.. Pak Daniel." Ucap Bu Eka membuat Daniel dan Lucas menoleh bersama.
Sejak kapan mereka di sana... Batin Daniel sedikit kaget dengan kehadiran Lisa dan Bu Eka di rumahnya.
"Ini benar Pak Daniel?" Tanya Bu Eka memastikan.
"Apa keperluan kalian?" Daniel berdiri lalu menghampiri keduanya.
"Aku benar kan Bu." Ucap Lisa dengan mata berbinar-binar, menatap ke arah Daniel.
"Su suaranya juga sama." Jawab Bu Eka terbata.
"Perusahaan itu sudah ku berikan pada Marco, jadi aku bukan Bos kalian lagi." Daniel tidak lagi takut. Karena percuma saja dia mengaku amnesia, jika nyatanya Marco masih saja mengincarnya dan berada di sekitarnya.
"Katanya kamu Dimas." Tanya Lisa. Daniel menarik nafas panjang karena ketahuan berbohong.
"Sekarang kalian sudah tahu bukan. Tidak perlu mencari info lagi. Aku memang Daniel tapi sudah bukan lagi pemilik Dans grup." Jawab Daniel santai.
"Apa yang terjadi Pak?" Tanya Bu Eka tentu ingin tahu. Mengingat perusahaan yang semakin berantakan karena kepemimpinan Marco yang payah.
Astaga... Ternyata dia memang Pak Daniel, cinta pertamaku... Batin Lisa bergejolak. Sejak lama Daniel menjadi favoritnya meski sulit untuk terjangkau tangan karena dia hanya staf biasa.
"Aku tidak mau banyak bicara Bu. Yang pasti, Dans grup bukan lagi perusahaan saya."
"Saya membutuhkan Pak Daniel, eh maksud saya, kami membutuhkan Pak Daniel." Bu Eka melirik malas ke arah Lisa yang mulai pasang aksi dan gaya untuk bisa menggoda Daniel.
Suara Lisa membuat Bella langsung keluar untuk memeriksa. Saat melihat kenyataan jika Lisa berada di ambang pintu, langsung saja Bella berjalan menghampiri dan berdiri di samping Daniel.
"Haiii Bella." Sapa Lisa sok ramah.
"Kenapa kau jadi mirip Sisca Kak." Jawab Bella menjawab sapaan Lisa.
"Siapa Sisca?"
"Wanita gatal yang ada di sekolahku." Daniel tersenyum, begitupun Bu Eka dan Lucas sementara Lisa memasang senyum aneh.
"Aku tidak seperti itu Bella. Aku serius ingin kita berteman karena Bastian adalah mantan kekasihku dulu."
"Lalu kau sekarang mengincar dia." Menunjuk ke arah Daniel.
"Dia Pak Daniel, Bos ku. Jadi apa salahnya jika aku juga turut membantumu melewati kesulitan hidupmu."
"Oh sudah terungkap, dia Bos mu." Bella menunjuk lagi ke arah Daniel.
"Iya Bos ku dan aku sangat menghormatinya."
"Dia suami ku dan berarti kau harus menghormati ku juga." Lisa tertawa renyah. Dia menganggap jika Bella sedang mengada-ada.
"Aku juga sama seperti kamu Bella. Kita sama tapi tidak separah kamu yang harus mengatakan soal khayalan kita pada dunia nyata. Kamu bahkan masih bersekolah jadi itu khayalan yang bagus tapi sedikit aneh." Jawab Lisa jelas merasa tidak suka.
"Dia memang istriku." Sahut Daniel menimpali. Dia ingin mengikuti alur cerita yang di katakan Bella tadi.
"Pak Daniel bercanda." Tanya Lisa terbata.
"Tidak Kak. Dia suamiku dan aku tidak sedang berkhayal." Bella meraih lengan Daniel dan menggenggamnya erat.
"Tapi.."
"Kau melupakan tujuan kita Lis." Bisik Bu Eka merasa tidak enak jika harus membicarakan urusan pribadi.
"Ya masa gadis SMA..." Menunjuk ke Bella dengan raut wajah binggung.
"Kak Lisa silahkan pergi, jangan ganggu hidup kami apalagi melamar menjadi pelakor."
"Maaf Nona." Jawab Bu Eka kini menghormati Bella sebagai istri atasannya meski dia tahu jika Bella masih SMA.
"Aku belum percaya." Ucap Lisa bimbang.
"Aku tidak mungkin tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan Kak." Bu Eka mencubit perut samping Lisa sebab dia sangat percaya setelah mendengar Daniel angkat bicara.
"Agh! Bu sakit sekali!!!" Eluh Lisa.
"Kita pulang! Jangan membuat onar!!" Bu Eka tersenyum teduh menatap Daniel." Apa Pak Daniel sudah membangun perusahaan baru? Jika sudah, apa Pak Daniel berkenan memperkerjakan saya lagi? Saya sudah tidak betah berkerja bersama Pak Marco." Imbuhnya seraya memegang kedua tangan Lisa erat.
"Sayangnya belum Bu."
"Sudah ada kok, aku tahu." Sahut Lisa.
"Sudah terbakar." Jawab Daniel.
"Tidak mungkin, baru beberapa hari lalu aku melihat Pak daniel ke sana." Sangkal Lisa dengan bahasa yang belepotan.
"Kak Lisa menguntit!!" Daniel menarik nafas panjang begitupun Bu Eka yang sungguh merasa sungkan atas sikap Lisa sekarang.
"Aku hanya mengawasi dari jauh saja."
"Silahkan pergi!!" Usir Bella tegas." Jika aku melihat Kak Lisa berada di sekitar Kak Daniel! Akan ku patahkan kakimu!!" Bella menendang kaki kanan Lisa hingga dia hampir jatuh jika tidak berpegangan pada Bu Eka.
"Agh!! Kau jahat sekali sih Bell." Eluh Lisa berpura-pura sakit.
"Ya aku jahat! Apalagi pada wanita seperti mu! Mau nambah!!" Bella mengedepankan kakinya lagi membuat Lisa langsung berdiri tegak daripada harus kembali di tendang.
"Berhenti Lisa!!!" Umpat Bu Eka.
"Dia yang mulai!!"
"Berhentilah jadi wanita gatal dan mempermalukan ku!"
"Kok aku yang di salahi sih Bu." Bu Eka kembali tersenyum ke arah Daniel.
"Saya permisi jika begitu Pak. Em jika Pak Daniel sudah membangun perusahaan lagi. Tolong terima saya sebagai staf, saya merasa sudah terlalu tua untuk melamar pekerjaan baru." Tentu Daniel merasa iba mendengar itu. Lucas yang mengerti bahasa isyarat yang di berikan Daniel, langsung mengambil sebuah kartu nama dan memberikannya pada Bu Eka.
"Itu kartu nama saya Bu. Jika nanti Tuan Daniel sudah membangun perusahaan baru, saya akan menghubungi Ibu untuk memberikan perkerjaan."
"Oh terimakasih Pak. Nanti segera saya hubungi nomernya." Jawab Bu Eka merasa sangat senang.
"Saya permisi Pak Daniel. Maaf menganggu, ayo Lis!!" Bu Eka tersenyum sejenak kemudian menyeret paksa Lisa yang sebenarnya masih ingin berada di sana.
"Menyenangkan sekali." Bella langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan Daniel seraya memundurkan tubuhnya.
"Apa yang menyenangkan."
"Berada di hadapan wanita dewasa. Hmm.." Daniel mengangkat tangannya dan akan mengusap rambut Bella tapi dia menghindar." Jika aku tidak dengar sendiri tadi. Pasti kau akan menikmatinya Kak." Imbuh Bella dengan tatapan tajam.
"Aku tidak menikmati apapun sayang." Rajuk Daniel.
"Bagaimana tidak menikmati!! Kak Lisa kan seksi, senang kan!!" Jawab Bella seraya berlalu pergi. Lucas tertawa kecil, sementara Daniel tersenyum aneh karena harus kembali merajuk.
"Maklum Tuan, masih gadis SMA." Daniel memutar tubuhnya menghadap ke arah Lucas.
"Dia sudah marah seperti itu entah berapa kali."
"Jika tidak suka di marahi! Menikah saja dengan wanita dewasa yang sabar!!!" Sahut Bella dari dalam.
"Sebaiknya saya pergi. Saya cukup senang mendengar kedatangan Pak Andra."
"Kita lanjutkan pembicaraannya besok." Daniel memberikan isyarat Lucas agar cepat pergi sehingga Lucas mengangguk sebentar lalu berjalan keluar menuju mobilnya.
Daniel menutup pintu dan menguncinya. Ada tarikan nafas panjang saat melangkah masuk, karena dia harus memikirkan bagaimana caranya merajuk istri kecilnya lagi.
~Riane..
Apa Bella benar-benar marah? atau itu alasannya saja untuk memasang strategi agar terhindar dari malam pertama🤣🤣🤣
Kalau viewer ku sudah banyak, akan lebih seru jika tebakannya berhadiah😂Sayangnya masih sedikit hehe😭
Tapi tetep semangat donk, demi kalian🥰meski belum bisa berbagi 😁😁
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰🥰